
#NadyaPOV
Pagi itu aku tergesa-gesa. Semalam aku menonton drama korea favoritku di metube sampai larut malam, akhirnya aku bangun kesiangan. Memang belakangan ini sikap si bos sudah baik, tapi jika aku terlambat, tidak menutup kemungkinan dia pasti akan marah dan memberiku tugas yang tidak masuk akal. Aku sudah mulai terbiasa dengan sikap Bintang yang suka berubah-ubah.
Beruntung, aku bisa sampai ke kantor lima menit sebelum jam kerja di mulai. Saatnya mengatur nafasku sebelum masuk ke ruang kerja. Pasti di dalam Bintang sudah duduk manis di kursinya, lalu saat masuk nanti dia akan menatapku dengan tatapan horor, ngeri. Dia memang selalu seperti itu, menatapku dengan tatapan aneh sudah menjadi makananku sehari-hari.
Pelan-pelan aku membuka pintu ruanganku yang juga ruang kerja bintang. Mataku membulat, aku tidak percaya dengan apa yang aku lihat. Rasanya aku merasa datang di saat yang salah. dengan segera aku berbalik badan dan keluar secepat mungkin.
"Maaf!"
Brak!
Spontan ku tutup pintu ruangan itu, lebih tepatnya aku membantingnya. Aku sangat terkejut, Bintang dan seorang wanita sedang ciuman. Siapa dia? kekasih bintang? Siapapun dia tidak seharusnya ciuman di jam masuk kantor begini. Aku merasa seperti sial karena harus melihatnya. setelah menciumku, dia juga mencium wanita lain. Apa dia buaya darat?
Selang beberapa menit wanita itu keluar. Dia melirikku dengan tatapan aneh, lalu pergi begitu saja. Wanita misterius. Lalu aku masuk ke dalam ruangan tanpa melirik Bintang sedikitpun. Ternyata dia mencium semua wanita. tidak kusangka aku telah menjadi korbannya.
"Maaf,tadi yang kamu lihat bukan kenyataannya. jangan salah paham," ujar Bintang, memecah kesunyian di antara kami berdua. Sesungguhnya klarifikasinya itu tidak lantas membuatku merubah anggapanku tentangnya.
"Tidak usah di jelaskan, Pak. Itu urusan pribadi anda." Aku memaksakan senyum. Rasanya kaku. Aku seperti berada dalam lingkaran situasi yang tidak bisa di jelaskan.
"Aku takut kamu mengira aku lelaki murahan," Katanya lagi. Kali ini tawaku hampir pecah. Mengapa sampai dia menduga-duga seperti itu? hmm... tetapi aku tidak menyangkal, kalau aku memang menganggapnya sebagai pemain cinta.
"saya tidak pernah berfikir sejauh itu, pak. lagi pula bapak bos saya, bukan seorang ******."
Sahutku. Bintang terkekeh. Padahal sama sekali tidak lucu.
__ADS_1
"Sepulang kantor, kamu ada acara?" Sesaat sikapnya kembali serius. Ya, bosku seajaib itu, sebentar-sebentar sikapnya selalu berubah.
"Tidak ada pak."Jawabku singkat. Acaraku pulang dari kantor hanya tiduran di rumah, tidak ada hal yang lain.
"Mau temani saya makan di warteg ujung jalan?" tanyanya lagi. Kemarin ke kedai es krim, hari ini ke warteg, meskipun wakil direktur ternyata Bintang orang yang rendah hati. Seleranya cukup unik, tetapi makan di tempat biasa tentunya membuat aku merasa tidak terlalu canggung.
"Kenapa nggak pergi dengan pacar bapak saja?" aku tidak tahu apakah kalimat ini benar untuk di tanyakan, tetapi bukankah ia lebih baik pergi dengan kekasihnya daripada denganku yang bukan siapa-siapa ini?
"Dia tidak akan perduli jika diajak makan di tempat biasa. Dia hanya suka tempat yang mewah," aku tahu sekarang, kenapa dia selalu mengajak aku keluar setelah jam pulang kantor. Takutnya kalau sampai dicap sebagai pelakor. Bagaimanapun, jika itu sampai terjadi, hancurlah reputasiku sebagai wanita baik-baik.
"Baik pak, saya bersedia menemani bapak makan," tukasku cepat. Aku takut menolaknya akan membuat dia sedih. Bintang tampak sangat menginginkannya.
"Terimakasih, Nadya. Lanjutkan pekerjaan, usahakan jangan sampai lembur," Bintang tersenyum padaku. Apakah itu sebuah semangat untukku? Aku harus menepis harapan itu jauh-jauh. Bosku ini sudah mempunyai calon yang pantas dan sebanding.
Aku kembali tenggelam dalam tugas. Bersyukur sekarang tugas yang di berikan Bintang wajar untuk di kerjakan. Aku mulai merasa betah bekerja sebagai asistennya. Baru di awal kerja, aku sudah membayangkan gaji pertamaku untuk apa.
Entah angin apa yang menyerangku, tiba-tiba saja aku mengecek aplikasi media sosialku dan iseng mencari nama Bintang di sana. Ternyata muncul. Baru saja dia post sebuah foto dirinya tersenyum dengan caption:
Setiap senyumannya adalah keindahan.
Hanya mampu memandang tanpa memiliki.
Senyumku mengembang saat dia bersamaku.
Bunga impian...
__ADS_1
Ternyata Bintang puitis juga. Pasti dia membuat story tentang kekasihnya yang tadi. Aku akui dia yang dingin ternyata romantis. Tanpa sadar aku tersenyum seorang diri.
#BintangPOV
Pagi-pagi aku sudah standby di kantor. Akhir-akhir ini aku sangat semangat. Aku sadari sejak kehadiran Nadya sebagai sekertarisku membawakan dampak yang positif. Dia gadis enerjik yang menularkan semangatnya padaku. Aku selalu ingin berangkat lebih pagi dari biasanya dan pulang terlambat untuk bisa berlama-lama berada satu ruangan dengan dia.
Aku gelisah saat melihat jam masuk kantor sepuluh menit lagi, dan dia belum juga muncul. Awas saja kalau dia sampai telat, pasti akan ku beri hukuman yang lumayan berat. Sudah lama juga aku tidak melihatnya kesal karena kejahilanku. Setiap melihatnya marah, aku selalu ingin tersenyum. Sepertinya memang ada yang salah dengan diriku.
Saat pintu di buka ternyata bukan dia, aku terlalu berharap. wanita itu Ruby, kekasihku. Meskipun dia pacarku, tapi aku tidak merasa senang ketika ia datang ke kantor. Sudah bisa di pastikan, dia datang karena ada maunya, tidak mungkin salah.
Kalau saja ini bukan karena bisnis ayah, aku pasti sudah memutuskannya.Ayah memaksaku untuk pacaran dan menikah dengan Ruby, padahal sebenarnya aku tidak cocok dengannya. Bukan hanya aku, Ruby juga pernah bilang kalau semuanya ia lakukan sebagai formalitas antar perusahaan.
Meskipun dia cantik, tapi dia kolot, sangat manja, terlalu sibuk sendiri, dan bahkan tidak pernah memperdulikan aku. Aku tahu, dia juga sebenarnya tidak nyaman menjalani hubungan ini. Bahkan aku tahu Ruby juga sudah memiliki pacar selain aku. Dia secara terang-terangan mengakuinya di hadapanku.
Pagi ini dia datang hanya mengajakku belanja. Ajakan yang sangat tidak penting. Dia memanfaatkan keluarga kami untuk memerasku. Salah satu sifat buruknya, materialistis. Agar urusannya cepat selesai, aku segera mengiyakan permintaannya. meskipun sebenarnya aku sudah cukup lelah dengan sandiwara ini.
Tiba-tiba saja saat rubi berjalan mendekat ke kursiku, kakinya tersandung dan kami berdua terjatuh ke kursk dengan posisi berciuman dan kejadian itu terjadi saat Nadya masuk ke ruangan. Aku yakin, gadis itu pasti salah paham dengan apa yang terjadi antara aku dan Ruby.
Spontan dia minta maaf dan menutup pintunya kembali. beberapa saat, Ruby pergi meninggalkanku. Baru setelah itu Nadya masuk. Wajahnya menampilkan perasaan bersalah, ia juga tampak sangat canggung di hadapanku. Aku segera menjelaskan padanya sebelum salah paham ini semakin berlanjut.
Setelah cukup lama kami berbincang membahas hal tadi, aku janjian mengajaknya makan ke warteg. Aku sudah berulang kali mengajak Ruby, tapi dia selalu menolak. Dulu aku tidak terlalu dekat dengan sekertasisku seperti dengan Nadya. Jujur, aku merasa nyaman setiap berdekatan dengannya.
Kami berbincang kesana-kemari, dengan waktu yang lama. Dia sangat supel dan menyenangkan.
"Kalau saja ruby bisa seperti Nadya, tapi sepertinya tidak mungkin..."Keluhku dalam hati.
__ADS_1