Si Tampan Pemikat

Si Tampan Pemikat
07. Rencana Bintang


__ADS_3

#NadyaPOV


"Pergi ke luar kota, pak? Apa saya wajib ikut?" Aku terkejut mendengar Kalimat dari mulut Bintang kalau dia ingin mengajakku tugas di luar kota. Sejurus kemudian, aku ingat statusku sebagai sekertaris pribadi Bintang. tentu saja aku harus mengikuti kemana ia ada keperluan kerja.


"Nona Nadya, anda sekertarisku, tentu saja aku akan membawamu ikut, atau kamu mau aku mencari sekertaris baru?" Bintang mengancamku. Dasar bos licik, sedikit saja sudah mengancam. Mau atau tidak, aku tidak ada pilihan selain menerima tawaran darinya.


"Jangan pecat saya, pak. Baiklah, saya akan ikut ke luar kota," Kataku pelan. Sebenarnya ingin sekali mengumpatnya, tapi aku sangat membutuhkan pekerjaan ini.


"Keputusan yang bagus," Katanya singkat. Lalu pergi meninggalkanku tanpa perduli dengan perasaan yang kurasa saat ini. Bos tengil.


Bintang kembali ke tempat duduknya. fokus dengan laptopnya sambil menikmati secangkir kopi buatanku. Aku heran, kenapa wajahnya yang tampan itu membuatku kesal sejak awal bertemu. Mungkin, aku tidak akan pernah benar-benar menyukai pria seperti dia.


"Terlalu kagum dengan ketampananku?" Aku terkesiap. baru saja aku melihatnya terlalu lama. Apa mungkin dia menyadarinya?


"Bapak. Jangan berpikir terlalu jauh, saya tidak mungkin suka dengan orang yang sudah punya pacar." Aku coba menyangkal. Wajah tampannya memang mempesona, tapi sifat jahilnya yang membuatku risih.


"Jadi pacar keduaku juga tidak ada ruginya," Dia meledekku.


"Pria memang jarang yang setia. Baru pacaran saja sudah mendua. Bagaimana kalau sudah menikah?"


Aku menggerutu kesal. Bintang hanya tersenyum mendengarkan ocehanku.


"Meskipun aku mempunyai banyak pacar, aku hanya akan menikah sekali saja. Jangan ragu untuk menjadi pacar keduaku, siapa tahu kamu beruntung," Bintang terus menggodaku. Lama-lama risih juga mendengarnya.


"Pak, saya mau lanjut kerja," Aku beralasan menghindar.


"Jangan lupa, nanti jam tujuh malam aku menjemputmu sekalian meminta izin." ujar bintang sambil mengetik sesuatu di laptopnya.


"Izin sama orangtua saya pak?" Aku mengoreksi maksud kalimat Bintang.


"Iyalah, saya kan mau bawa anak gadis orang, kalau tanpa izin saya tidak akan tenang," kata Bintang tegas. Matanya masih fokus ke laptopnya.


"B-baik pak. Kita perginya lama pak?" Tanyaku lagi.


"Satu minggu di lokasi. Kalau kamu suka renang, bawa baju renang juga."

__ADS_1


"Maksud bapak Bikini? Itu terlalu vulgar pak..." Kataku pelan.


"Saya kan tidak bilang bikini, kenapa kamu berfikiran mesum. Saya bilang baju renang, kan ada yang tertutup. Sebenarnya apa yang ada di fikiran kamu?" Bintang tertawa kecil. Aku malu, pasti dia sudah berfikir kalau diriku mengkhayal yang tidak-tidak dan juga mesum.


"M-maaf pak..."


Sepulang kerja, aku cepat-cepat bersiap. Takutnya saat Bintang datang dia harus menunggu lama. Ini pertama kalinya aku pergi jauh dari rumah dengan seorang cowok. Sayangnya dia sudah punya pacar. Kalau saja Bintang jomblo, pasti sangat berkesan sekali.


"Siapin koper mau kemana, Nad?" Mama yang kebetulan lewat di depan kamarku penasaran melihatku memasukkan beberapa baju ke dalam koper.


"Aku ada tugas ke luar kota sama si bos, mah." Aku menjelaskan pada mama sambil sibuk menata barang bawaanmu.


"Bosmu laki-laki?" Tanya mama.


"Iya, Ma. Kenapa?" Aku balik bertanya.


"Sudah tua atau masih muda?" Tanya mama lagi. Sepertinya penasaran sekali dengan sosok Bosku itu.


"Muda, Ma. Masih umur tigapuluhan gitu, deh. Emang kenapa sih?" Aku jadi penasaran apa maksud pertanyaan mama.


"Wah, pas. Masih muda, karirnya bagus. Kenapa nggak kamu deketin, aja. Siapa tau kalian berjodoh," Mama tampak kegirangan. Ternyata itu, toh maksud dari pertanyaannya.


"Baru pacar, langkahnya masih jauh, kamu masih bisa salip dan comot dia," Mama mulai ngompori lagi.


"Nggak, nggak. Aku nggak mau jadi pelakor. ih, mama nih ngajarin yang aneh-aneh aja deh." Aku tertawa kecil sambil geleng-geleng kepala.


"Mama pengen kamu cepet nikah. Temen mama semua sudah gendong cucu. Mama ngiri sama mereka, Nad."


Keluh mama. Memang benar sih, rata-rata temen mama sudah punya cucu.


"Nanti Nadia pasti nikah kok, kalau udah saatnya," Jawabku pelan. Aku sebenarnya juga punya keinginan untuk menikah. Tapi sama siapa? Pacar pun aku tidak punya.


"Selalu itu jawaban kamu, saatnya itu kapan..." Mama keluar dari kamarku. Jangan di tanya kapannya ma, Aku sendiri juga belum tahu, kapan datangnya saat itu.


Tepat jam tujuh malam...

__ADS_1


Aku dan kedua orangtuaku sedang duduk santai di ruang tamu. Aku memang sudah memberitahukan kepada mereka kalau Bintang akan datang menjemputku.


"Tok..Tok.." Suara pintu rumah kami di ketuk.


"Biar aku saja yang buka, pah, mah. Mungkin itu pak Bintang yang datang." Aku bergegas membuka pintu.


Aku terpana dengan penampilan bosku. Ternyata di saat santai penampilannya sangat keren. Ia memakai kaos panjang berwarna abu-abu, celana jeans dengan warna senada, juga sepatu kets kekinian. Dia juga membawa sekeranjang buah. Seperti sedang apel saja.


"Ba..pak. Silahkan masuk pak," Aku mempersilahkan dia masuk ke dalam rumah.


"Gimana penampilanku? Keren kan?" Bisiknya. Lagi-lagi Bintang Bersikap jahil. Tapi aku mengakui kalau penampilannya malam ini sangat keren.


"Bapak sangat tampan," Bisikku. Berhasil, pipinya memerah. Imutnya.


"Silahkan duduk, nak." Kata papaku ramah. Aku ke dapur menyiapkan minum untuk Bintang.


Orang setampan Bintang memang sangat cocok dengan Ruby. Rasanya jadi berandai-andai punya pacar seperti dia. Ramah, supel, tampan, mapan, walaupun sedikit jahil, tapi dia sosok laki-laki sempurna.


Nadya, sadar! Antara kamu dan Bintang hanyalah bos dan karyawan. Tidak akan berubah, omelku dalam hati.


"Jadi bagaimana hasil kerja Nadia selama ini, nak Bintang?" Tanya papaku padanya, aku jelas mendengarnya, karena sekarang aku sedang menyuguhkan minum untuk Bintang.


"Bagus pak, Nadia orangnya rajin dan cekatan. Saya suka." Jawabnya. Benar begitu? Atau hanya karena di depan orangtuaku saja? Apapun, tapi aku merasa berbunga-bunga mendengarnya.


"Nadia ini masih jomblo nak Bintang, teman-temannya sudah menikah, dia pacar saja belum punya," celetuk mama. Ih, aku kan jadi malu. Bintang langsung tersenyum memandangku.


"Nadia cantik, sederhana dan juga baik. Pasti Ada, seorang cowok keren yang akan melamarnya suatu hari nanti, bu." Bintang tersenyum. Manisnya. Aku sampai tidak berkedip memandangnya.


Setelah cukup lama berbincang, aku dan Bintang pun pamit pergi. Malam ini juga kami berangkat ke kota S untuk keperluan kerja.Sepanjang perjalanan kami bercanda ria. Entah sejak kapan, kali ini keakraban kami seperti teman. Nyaman dan Asyik.


" Memangnya beneran, kamu masih jomblo?" Tanyanya padaku.


"Beneran, mas. terakhir sudah mau bertunangan, pada akhirnya batal. Calon suami saya selingkuh." Jelasku. saat di luar kantor aku memanggilnya mas. sesuai permintaannya saat itu.


"Maaf, aku tidak bermaksud mengingatkanmu pada peristiwa itu," Bintang merasa tidak enak.

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Aku merasa, mungkin kami belum berjodoh. Mas Bintang, kapan akan menikah sama Mbak Ruby?" Selidikku. Bintang malah tertawa.


"Aku dan Ruby hanya hubungan politik. Baik dia ataupun aku, tidak ada yang serius." Keterangan Bintang membuat aku tercengang. Aku tidak menyangka kalau ternyata hubungan mereka seperti itu.


__ADS_2