
"Kekecewaan yang kamu rasakan, akan ku bayar berkali lipat," ujar Leonardo dengan berbisik di telinga istrinya.
"Dengan cara apa kamu ingin membayarnya?" tanya Michelle.
"Aku akan memberimu sesuatu," jawab Leonardo dengan senyum.
Setelah dua jam kemudian.
L.V Hotel.
Leonardo mengambil sesuatu dari laci meja kerjanya.
Sementara Michelle sedang melihat pemandangan luar dari ruangan kantor suaminya.
"Michelle," panggil Leonardo yang menghampiri istrinya.
"Iya," sahut Michelle.
"Tanda tangan dokumen ini!" kata Leonardo yang menyerahkan dokumen pada istrinya.
"Ini dokumen apa?" tanya Michelle menerima dokumen itu.
Saat Michelle membaca isi dokumen itu, ia membulatkan mata besarnya.
"Pindah nama?" tanya Michelle.
"Iya, mulai hari ini L.V Hotel adalah milikmu seutuhnya," jawab Leonardo.
"Leonardo, aku tidak mengerti, kenapa harus menganti namaku? hotel ini adalah milikmu dan aku cukup sebagai pengurus saja."
"Posisi pengurus sudah aku serahkan pada Kelvin, kamu tidak bisa menolak lagi. dan harus menerimanya. dan kamu harus tanda tangan penerus selanjutnya!"
"Kenapa kamu melakukan ini? L.V Hotel adalah hasil keringatmu, kenapa harus menyerahkan padaku?"
"Michelle, ini adalah hadiahku untukmu, untuk istriku. dan aku ingin kamu menerimanya. aku tidak pernah meragukanmu," jawab Leonardo dengan senyum.
"Tapi, ini bukan hadiah kecil, aku tidak bisa menerimanya. aku sudah sangat berterima kasih padamu karna aku diberi posisi tinggi di sana. mengenai dokumen ini...aku tidak bisa tanda tangan," ucap Michelle.
"Kita sudah menikah, bukankah kamu ingin menjadi istri baik?"
"Iya!"
"Bukankah kamu mengatakan kalau urusan kerja aku adalah atasanmu dan di rumah adalah suamimu?"
"Iya!"
"Lalu, kenapa kamu membantah lagi dan menolak? ini adalah untukmu. sebagai atasan dan juga suamimu aku menyerahkan hotel ini padamu sebagai hadiah pernikahan kita," kata Leonardo.
"Tapi, ini terlalu berlebihan," kata Michelle.
"Michelle, kamu adalah istriku, aku memberimu salah satu asetku itu karena kamu layak memilikinya. jangan menolakku. terimalah!"
"Baiklah, terima kasih, aku akan menjaganya dengan baik. ini adalah hadiah besar darimu. aku akan sangat berhati-hati menjalankan bisnis hotel ini," ucap Michelle.
"Ini baru istriku yang patuh," kata Leonardo yang mencium istrinya.
"Kapan aku bisa kembali bekerja?" tanya Michelle.
__ADS_1
"Kamu bisa kembali kapanpun, dan aku akan menemanimu," jawab Leonardo dengan senyum
"Aku sudah bisa mulai bekerja?" tanya Michelle.
"Iya, aku bukannya tidak tahu sifatmu, kalau kamu tidak bekerja kamu akan merasa bosan," jawab Leonardo.
"Terima kasih," ucap Michelle yang mencium wajah suaminya.
"Apakah kamu bahagia?" tanya Leonardo yang mencubit dagu istrinya.
"Iya, aku sangat bahagia," jawab Michelle dengan senyum.
"Kebahagianmu sangat berharga bagiku," ujar Leonardo yang mencium bibir istrinya.
L.V Hotel.
Sebuah mobil mewah berhenti di depan hotel.
Seorang pria paruh baya keluar dari mobilnya dan melangkah masuk ke dalam hotel tersebut. pria itu seorang pengusaha yang datang dari swedia untuk menjumpai putranya yang tinggal di hotel mewah itu.
Setelah beberapa menit kemudian.
"Apa yang terjadi, kenapa Leonardo Valentino menolak?" tanya pria paruh baya itu yang adalah ayah dari Victor.
"Pa, semua ini adalah salahku. aku akan mencari perusahaan lain," ucap Victor.
"L.V Group adalah perusahaan yang memiliki dana paling kuat, hanya bekerja sama dengan mereka kita baru ada kesempatan untuk bangkit."
"Pa, aku...."
"Papa ingin menjumpai Leonardo Valentino secara langsung, dan membahas apa kekurangan kita sehingga dia menolak. walau kita ditolak setidaknya papa ingin tahu apa alasannya," kata ayahnya Victor..
Di sisi lain Leonardo dan Michelle tiba di depan hotel.
"Michelle, kamu masuk dulu, aku ingin menghubungi Kian dulu, ada lupa pesan sesuatu tadi," ujar Leonardo.
"Baiklah," jawab Michelle.
Michelle menuju ke dalam hotel dan disambut oleh beberapa karyawan di sana.
"Direktur...," sapa mereka dengan hormat.
Michelle membalas dengan senyuman ramah terhadap mereka semua.
"Apakah mereka sudah tahu kalau aku menjadi Direktur?" kenapa bisa tahu?" batin Michelle.
Saat Michelle berjalan di salah satu koridor yang ingin menuju ke ruang kantornya, ia menghentikan langkahnya karena bertemu dengan ayahnya Victor, Peter Fernandez.
"Tidak sangka sekian lama tidak bertemu, kita malah bertemu di sini," ujar Peter dengan melirik tajam.
"Paman," sapa Michelle.
"Apakah tujuanmu ingin menemui Victor?" tanya Peter.
"Tentu saja, tidak!" jawab Michelle.
"Kebanyakan orang tidak akan mengaku kalau berniat melakukan kesalahan yang sama," sindir Peter.
__ADS_1
"Salah? apakah aku melakukan kesalahan hanya karena datang ke tempat sendiri?"
"Tempat sendiri? sangat lucu. apakah hotel terkenal ini adalah milikmu? siapa yang tidak kenal dengan pemilik L.V Hotel. jangan mengatakan bahwa kau tidak tahu putraku di sini!"
"Tuan Fernandez, jangan terlalu yakin dengan ucapan sendiri, untuk apa aku mencari putramu sedangkan kami tidak ada hubungan apapun," kata Michele.
"Banyak wanita yang sedang antri menunggunya, dan untuk kamu tidak ada kesempatan menjadi menantu keluarga kami."
"Tuan Fernandez, aku tidak berminat dengan putramu, dan aku juga tidak akan ikut mengantri melakukan perkara yang bodoh dan tidak bermanfaat," jawab Michelle
"Kau adalah gadis yang sombong, untung saja putraku tidak bersamamu di saat itu, ayah dan anak sama saja," ketus Peter.
"Sepertinya Andalah yang sombong dan angkuh. suka mengunakan cara keji untuk mendapatkan sesuatu. aku malah sangat berterima kasih pada papaku yang saat itu melarang aku bersama dengan Victor. karena aku sudah mendapatkan yang jauh lebih baik dari putramu," kata Michelle.
"Kau menganggap dirimu sangat istimewa, kau sama sekali bukan apa-apa dibandingkan dengan wanita lain!"
"Tuan Fernandez, aku mendengar kabar bahwa perusahaanmu sedang mengalami masalah, dan sekarang kalian sedang mencari bantuan," kata Michelle.
"Tidak perlu merendahkanku!" ucap Peter dengan sedikit kesal.
"Tuan Fernandez, kalau ingin meminta bantuan maka jangan bersikap angkuh, buang egomu itu. mungkin ada orang yang akan menerima tawaranmu," ujar Michelle.
"Wanita sia.lan," ketus Peter.
"Michelle," panggil Leonardo yang menghampiri istrinya.
"Tuan Valentino," sapa Peter.
"Tuan Fernandez, tidak sangka bisa bertemu di sini," balas Leonardo.
"Tujuan saya adalah ingin bertemu dengan Anda, untuk membahas kerja sama," jawab Peter.
"Saya yakin putra Anda pasti sudah memberitahu padamu bahwa saya sudah menolak," kata Leonardo.
"Apa alasannya, Anda menolak?"
"Apakah putra Anda tidak memberitahu?" tanya Leonardo.
"Tidak ada!" jawab Peter.
"Michelle, kamu kembali dulu ke kantor dan aku akan menyusul," ucap Leonardo dengan senyum.
"Iya!" jawab Michelle yang kemudian melangkah pergi.
"Tuan Fernandez, sepertinya tadi saya mendengarmu sedang merendahkan Michelle, apakah aku salah dengar?" tanya Leonardo dengan sengaja.
"Saya dan gadis itu hanya...sebenarnya tidak masalah, apakah dia adalah karyawan di sini?"
"Dia bukan karyawan di sini, tapi Michelle adalah Direktur hotel ini," jawab Leonardo.
"Direktur?" tanya Peter hampir tidak percaya.
"Benar!"
"Kenapa...."
"Karena dia adalah pekerja keras, dan yang paling penting adalah dia istriku. oleh karena itu, sampaikan pada putramu untuk tidak menghubungi istriku lagi," kata Leonardo dengan tegas.
__ADS_1
"Michelle adalah istrimu?"
"Tidak percaya? wanita yang kamu rendahkan tadi adalah wanita yang kucintai. jangan salahkan aku menolak bekerja sama. aku tidak suka kalau ada pria yang tidak tahu diri menganggu istriku," kata Leonardo.