Six Bestfriend

Six Bestfriend
Eps. 16


__ADS_3

“ Diamlah Ray! Jika kau teriak seperti itu… Mungkin akan ada yang mendengar dan datang kemari! Jika mereka tau pohon ini ada buahnya maka cadangan makananku akan habis”,ucap Gita sambil menutup mulut Ray dengan telapak tangannya.


“ Hei! Kalian berdua! Keluarlah! Aku tau kalian di atas pohon itu!!! Jika kalian keluar maka aku tidak memberikan kalian hukuman!”


“(Gawat kalau sampai ketahuan aku ada di atas pohon ini mungkin Kak Harry tidak akan memaafkanku)”,batin Gita.


“(Tangan Gita lembut sekali!!! Gawattt… Aku tidak bisa bernapas…)”,batin Ray dengan peluh yang menghiasi wajahnya.


“ Baiklah aku hitung sampai 3 jika kalian tidak keluar maka aku akan menghukum kalian yaaa!!! Satuuu….. Duaaa…. Tiii… Dua setengah… Tigaaaa…. Huft… Kalian tidak keluar juga yaaa? Hmm… Padahal aku bawa makanan kesukaan kalian lho!”


Cuittt…. Cuittt….


“ Ahaaa… Kalian ketemuuu… Hehe… Karena kalian lambat keluar maka aku tidak akan berikan buah ini!”,ucap Anak tahun pertama yang bernama Tyas Wendiana pada 2 burung peliharaan yang ia bebaskan tapi masih ia rawat dengan baik.


Cuittt… Cuiittt…


“ Hahaha… Baiklah… Aku akan memberikan kalian buah ini kok! Tenang saja… Hmm? Sepertinya sudah waktunya untuk masuk kelas yah? Kalau begitu sampai jumpa lagi Charp dan Chirp… Makan buah itu yaaa”,ucap Tyas sambil berlari menuruni anak tangga menuju koridor sekolah.

__ADS_1


“(Huft… Untung saja aman! Ku kira anak itu tau aku ada di sini!)”,batin Gita sambil menghela nafas lega.


“ Gi… Gita lepaskan tanganmuu… Aku hampir mati karena tak bisa bernapas tau!”,omel Ray.


“ Baik-baik! Kau ini baru begitu saja sudah mau mati! Hahaha… Dasar bodoh!”,ejek Gita dengan senyum yang manis sekali.


“….”,Ray terpesona dengan senyum Gita yang begitu tulus hingga ia tidak dapat berkata-kata.


“ Hei? Ray? Bodoh? Sudah waktunya masuk kelas! Ayo kita ke kelas!”,ajak Gita sambil membereskan alat lukisnya dan bersiap untuk lompat ke bawah.


“ Eh? Gita kau akan melompat? Kenapa harus melompat?”,tanya Ray ketakutan.


“ Eh… Tunggu Gita…”,teriak Ray.


“(Aduhh… Kenapa harus lompat sih? Oke. Aku harus berani!)”,batin Ray gugup.


Brukkk….

__ADS_1


Ray jatuh dari atas pohon. Ia mengaduh pelan. Gita mendatangi Ray yang sedang memegang kakinya yang terkilir.


“ Sakit? Baiklah… Besok kita melukis di bawah pohon saja! Kau ini merepotkan saja… Cepat buka sepatumu! Mau ku obati atau tidak?”,ucap Gita sambil membuka tali sepatu Ray.


“ Eh? Bukannya kau suka melukis di atas pohon? Aku tidak apa-apa! Hanya jatuh dengan tiba-tiba saja… Tidak sakit kok!”,kata Ray sambil membantu Gita membuka Sepatunya.


“ Ohhh… Benarkah tidak sakit? Hehehe…”,tawa Gita dengan jahil.


Krakkk…


“ Aduuhhh… Sakittt… Gita apa yang kau lakukan? Kenapa tiba-tiba begitu?”,ucap Ray dengan raut wajah yang sedang menahan sakit.


“ Kau bilang tidak sakit kan? Makanya aku langsung saja…”,jawab Gita santai.


“ Tapi setidaknya berikan aku aba-aba dulu!”,ucap Ray dengan kesal.


Gita tidak memperdulikan apa yang Ray katakan. Ia terus melangkah ke arah tangga menuju koridor sekolah. Sambil menggendong tas kesayangannya tersebut.

__ADS_1


Gita dan Ray berjalan beriringan menuju kelas. Ray ingin sekali bertanya tentang siapa yang menemui Gita di Kafe kemarin. Tapi ia terlalu malu untuk menanyakannya. Dan Gita hanya berjalan sambil memainkan Hp-nya.


__ADS_2