
RESTORAN
“ Hei! Nona! Apa anda tidak bisa melihat?”, ucap seorang kaya yang makan di Restoran malam itu.
“ Maaf. Saya akan mengambilkan yang baru untuk anda”, jawab Gita dengan tatapan datar yang membuat orang kaya itu makin kesal
“ Apa? Apa kau tidak lihat? Minuman itu membuat kotor bajuku!”, kesal orang kaya tersebut yang makin kesal dengan Gita yang langsung membalikkan badannya dengan tatapan datar.
“ Hei!!!”, teriak wanita kaya tersebut.
Plak…
Pipi Gita yang tertampar oleh tangan wanita kaya tersebut makin memerah. Gita hanya memberi tatapan yang sama pada wanita itu (tatapan datar). Wanita itu makin kesal dengan tingkah Gita.
Ia mulai mengangkat tangannya lagi. Tangan itu menuju pipi Gita lagi. Tapi ditangkis oleh seseorang.
“ Gita? Kau tidak apa-apa?”, ucap seorang lelaki yang lebih tua 5 tahun dari Gita. Ia melihat bekas tamparan wanita kaya tadi yang mulai memerah.
Gita menangkis tangan lelaki tersebut. Dan mulai berjalan ke Dapur Restoran dan tentu saja dengan tatapan datarnya itu.
“ Kau tidak apa-apa?”
“ Aku tidak apa-apa. Aku akan pulang waktu bagianku sudah habis. Sampai jumpa”
“ Ta.. Tapi memar di wajahmu? Hei! Siella Gita!!!”
“ Aku bisa menjaga diriku. Kau kerjalah yang baik!”, ucap Gita dengan satu kedipan mata yang ia berikan untuk menyemangati teman dekatnya di Restoran itu—Haris Wilton.
__ADS_1
Gita mengemudikan mobilnya kembali ke rumah. Ia membeli beberapa alat lukis di supermarket di tengah perjalanannya ke rumah.
RUMAH GITA
“ Aku pulang”
“ Oh! Kau sudah pulang? Tunggu! Ada apa dengan wajahmu itu?”
“ Hanya digigit nyamuk Ayah”
“ Benarkah? Apa bisa begitu?”
Gita langsung ke dapur dan mengambil beberapa es batu dari kulkas. Ia mulai mengompres bekas tamparannya itu. Ayah hanya melihat sekilas kea rah Gita lalu kembali focus dengan laptop di depannya.
“ Ayah rasa kau harus membeli beberapa lotion untuk menghindari nyamuk”
“ Hahaha… Sepertinya darah milikmu sangat manis yah?”
Gita hanya tersenyum sambil menonton televisi di depannya. Dengan tangan yang memegang es batu ia sempatkan tangan satunya untuk bergantian lalu mengambil ponsel.
“ Ayah akan ke luar negeri lagi”
“ Berapa lama?”
“ Mungkin satu minggu”
“ Aku sudah di terima di salah satu Universitas yang ayah sarankan”
__ADS_1
“ Benarkah? Baguslah kalau begitu. Ayah dengar tadi Gatha kemari?”
“ Yah. Dia hanya bermain dengan Rere”
“ Apakah ia tidak ingin bermain denganmu?”
“ Tidak lagi”
Mereka berbincang-bincang lama sekali. Dan tertawa bersama. Sampai akhirnya Gita pamit untuk tidur ke kamar pada ayahnya.
~Kamar Gita~
Gita merasa sangat lelah lalu langsung terlelap dalam mimpinya itu.
Esok paginya Gita pergi jogging dengan Rere.
Sebenarnya Gita malas sekali jogging. Tapi Rere mengajaknya untuk jogging. Jadi yah apa boleh buat ia pun mengikuti apa yang Rere inginkan.
Saat jogging pun Gita masih memegang ponselnya. Dan Rere juga sudah terbiasa dengan itu. Mungkin bagi orang lain itu sangat aneh. Tapi itu sudah biasa bagi Rere.
Baru setengah perjalanan Gita meminta Rere untuk melanjutkannya sendiri. Karena Gita ingin duduk di Lapangan Basket dekat rumahnya.
Ia duduk di sana sekian lama sambil memperhatikan ponselnya. Lalu tibalah seseorang yang bermain basket.
Dan kebetulan bola itu menggelinding ke arah Gita. Dan tentu saja seseorang itu meminta Gita untuk mengambilnya. Tapi Gita masih asyik dengan Handphonenya.
" Hei Nona ... Bisa tolong ambilkan bola basketnya?"
__ADS_1