Standing Man

Standing Man
Sekolah


__ADS_3

Di pagi hari yang cerah ada seorang bernama Park Jihoon merasa jantungnya berdebar-debar ketika ia melangkahkan kakinya melewati gerbang Sekolah Menengah Sejati yang impos. Udara pagi yang segar dan langit biru yang cerah menjadi kontras dengan perasaannya yang gugup. Ia adalah murid pindahan yang baru saja tiba di sekolah ini, dan semuanya terasa begitu asing.


Sekolah ini bukan sekolah biasa. Sebuah sistem yang aneh berlaku di dalamnya. Jihoon telah mendengar cerita-cerita tentang itu sebelumnya, tetapi sekarang, dia harus menghadapinya sendiri. Di Sekolah Menengah Sejati, yang lemah adalah target empuk bagi para "penguasa." Siapa pun yang dianggap lemah akan menjadi sasaran bully, sementara yang kuat akan berkuasa.


Mendekati pintu masuk utama, Jihoon merasa pandangan tajam dari beberapa siswa yang berdiri di sana. Mereka memperhatikannya dengan ekspresi meremehkan. Jihoon mencoba untuk tidak menunjukkan rasa takutnya, tetapi hatinya berdegup lebih kencang ketika salah satu dari mereka, seorang pemuda besar dengan jaket kulit hitam, mendekatinya.


"Kau baru, bukan?" kata pemuda itu sambil menyeringai. "Nama apa, pindahan?"


Jihoon menelan ludahnya sejenak sebelum menjawab dengan suara mantap, "Iya, aku Park Jihoon, murid pindahan dari Seoul."


Pemuda besar itu tertawa dengan keras, mengundang tawa orang-orang di sekitarnya. "Jadi Jihoon, kau tahu apa yang berlaku di sini, bukan? Di sini, yang lemah harus menurut yang kuat. Aturan sekolah kami."


Jihoon merasa kebingungan, tetapi dia tidak akan membiarkan ketakutannya merayap ke wajahnya. "Apa yang kau maksud?"


Pemuda besar itu mendekat lebih dekat dan merendahkan suaranya, "Kau akan segera tahu. Semoga kau tidak terlalu lemah."


Dengan itu, pemuda itu pergi, meninggalkan Jihoon dengan pertanyaan yang berputar-putar di dalam kepalanya. Apa yang dia alami di sekolah ini? Dan bagaimana dia akan bertahan di dunia yang begitu berantakan ini?

__ADS_1


Jihoon merasa bahwa perjalanan barunya di Sekolah Menengah Sejati akan penuh dengan tantangan dan misteri yang belum terungkap. Dia harus segera memahami aturan main di sekolah ini jika dia ingin melindungi dirinya sendiri dan mungkin, suatu hari, mengubah sistem yang berlaku.


Setelah pertemuan pertamanya dengan pemuda besar di pintu masuk, Jihoon merasa tertekan. Ia menghela nafas panjang saat melangkah lebih dalam ke dalam koridor sekolah yang luas. Walaupun ia telah berpindah sekolah beberapa kali sebelumnya, Sekolah Menengah Sejati terasa berbeda. Atmosfer yang menegangkan dan sistem kekuasaan yang ada di sini membuatnya merasa seperti di dunia yang sepenuhnya berbeda.


Saat berjalan melalui koridor, Jihoon melihat banyak siswa yang berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil. Mereka bercakap-cakap dengan suara keras dan terkadang tertawa dengan keras. Jihoon tahu bahwa berada di sekolah baru selalu sulit, tetapi ini adalah tantangan yang benar-benar berbeda. Di sini, dia harus memperhatikan setiap tindakan dan kata-katanya.


Kemudian, dia melihat seorang siswi yang duduk sendirian di bangku di sudut koridor. Matanya yang cokelat gelap tampak khawatir, dan dia tampaknya sibuk dengan buku-buku yang tersebar di sekitarnya. Jihoon mendekati gadis itu dengan hati-hati.


"Permisi," kata Jihoon dengan sopan. "Apa kamu tahu di mana ruangan 203?"


Jihoon mengangguk, berterima kasih pada gadis itu, dan melanjutkan perjalanannya ke ruang kelasnya. Selama beberapa hari berikutnya, Jihoon mencoba mengikuti aturan yang tidak tertulis di sekolah ini. Dia berusaha tidak menarik perhatian siapa pun dan berbicara sebaik mungkin dengan siswa lain. Namun, dia juga menyadari bahwa banyak siswa yang berusaha menunjukkan dominasinya, terutama terhadap mereka yang dianggap lemah.


Suatu hari, ketika Jihoon sedang berada di kantin, dia melihat sekelompok siswa yang mengeroyok seorang siswa lain. Mereka tampaknya menuntut uang dari siswa yang menjadi korban. Jihoon merasa marah dan ingin melakukan sesuatu, tetapi dia masih tidak yakin apa yang seharusnya dia lakukan. Dia mencari cara untuk membantu tanpa terlalu menonjol.


Saat itu, seorang gadis berambut panjang dengan poni yang menutupi sebagian wajahnya mendekati Jihoon. "Kamu melihat apa yang sedang terjadi, bukan?" tanyanya dengan suara pelan.


Jihoon mengangguk. "Ya, tapi aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan."

__ADS_1


Gadis itu tersenyum tipis. "Aku tahu apa yang kamu rasakan. Jangan khawatir, aku akan membantumu." Tanpa memberi tahu Jihoon lebih lanjut, gadis itu melangkah menuju kelompok siswa yang sedang mengganggu, dengan langkah tegas.


Dia berbicara dengan tegas kepada para siswa tersebut, mengingatkan mereka tentang aturan-aturan di sekolah ini dan konsekuensinya jika mereka terus berbuat jahat. Jihoon memperhatikan bahwa wajah-wajah para siswa yang mengganggu itu berubah menjadi cemas. Mereka akhirnya melepaskan siswa yang menjadi korban dan melarikan diri.


Gadis itu kembali mendekati Jihoon dengan senyuman ramah. "Namaku Yoojin. Aku melihat kau mencoba beradaptasi di sini. Jangan ragu untuk meminta bantuan jika kamu membutuhkannya."


Jihoon merasa lega dan bersyukur kepada Yoojin. Mereka menjadi teman dekat setelah insiden itu dan Yoojin membantu Jihoon memahami lebih banyak tentang dinamika di Sekolah Menengah Sejati. Dia juga memberi tahu Jihoon tentang berbagai karakter dan kekuatan yang ada di sekolah ini.


Dalam beberapa minggu berikutnya, Jihoon semakin sadar akan kekuatan yang ada di sekolah ini. Ada beberapa kelompok kecil yang memiliki pengaruh besar, dan mereka memanfaatkan kekuasaan mereka untuk mendominasi siswa-siswa lain. Namun, Jihoon juga mulai menyadari bahwa ada beberapa siswa lain yang merasa tidak puas dengan sistem ini.


Dengan bantuan Yoojin, Jihoon mulai memahami bahwa untuk mengubah sistem yang berlaku, mereka perlu memiliki keberanian untuk berdiri melawan ketidakadilan. Tetapi pertanyaannya adalah, bagaimana mereka bisa melakukannya tanpa mengungkapkan identitas mereka? Jihoon masih belum siap untuk menghadapi semua risiko yang mungkin timbul jika dia terlalu menonjol.


Sementara itu, keberanian Jihoon diuji ketika dia melihat seorang teman sekelas yang bernama Minho menjadi korban bully oleh salah satu kelompok dominan di sekolah. Minho adalah seorang siswa yang pendiam dan tidak suka menarik perhatian. Jihoon merasa bahwa dia harus melakukan sesuatu.


Bersama dengan Yoojin dan beberapa siswa lain yang tidak puas dengan sistem ini, Jihoon merencanakan tindakan untuk membantu Minho. Mereka tahu bahwa mereka harus melawan ketidakadilan meskipun risikonya besar.


Maka dimulailah sebuah perjalanan yang akan mengubah takdir Sekolah Menengah Sejati. Jihoon dan teman-temannya harus berani berdiri sebagai penentang sistem yang tidak adil ini, bahkan jika itu berarti mereka harus menyembunyikan identitas mereka dan menjadi pahlawan tak terduga dalam dunia yang penuh teka-teki ini.

__ADS_1


__ADS_2