
Setelah pertemuan dengan Death Eye dan sosok ber mantel merah, Jihoon merasa semakin yakin bahwa dia harus mengembangkan kemampuan fisiknya untuk menghadapi semua tantangan yang mungkin datang. Dia tahu bahwa kekuatan bukanlah segalanya, tetapi itu adalah salah satu aspek penting dalam melindungi dirinya dan orang-orang yang ia cintai.
Malam itu, ketika dia duduk di kamarnya, dia mulai mencari informasi tentang tempat-tempat di sekitar sekolah yang menawarkan pelatihan bela diri. Dia ingin memilih suatu gaya yang akan membantunya menjadi lebih kuat dan terampil.
Setelah beberapa penelitian, Jihoon memutuskan untuk mencoba Taekwondo ITF. Gaya ini menarik perhatiannya karena kombinasi teknik tendangan dan pukulan yang kuat, serta fokus pada disiplin dan etika. Dia yakin bahwa pelatihan Taekwondo ITF akan membantunya mengembangkan kekuatan dan keterampilan yang dia butuhkan.
Pagi-pagi, dia pergi ke sebuah dojo Taekwondo ITF yang terletak tidak jauh dari sekolahnya. Ketika dia tiba di sana, dia bertemu dengan Master Kim, seorang instruktur berpengalaman yang memimpin dojo tersebut.
Master Kim adalah sosok yang bijaksana dan disiplin. Dia menerima Jihoon dengan hangat dan bertanya, "Apa yang membawamu ke sini, Jihoon?"
Jihoon menjelaskan bahwa dia ingin belajar Taekwondo ITF untuk mengembangkan kekuatannya dan menjadi lebih kuat. Dia juga membagikan cerita tentang Klub Perubahan dan pertemuannya dengan Death Eye.
Master Kim tampak terkesan dengan tekad Jihoon. "Pelatihan bela diri bukan hanya tentang kekuatan fisik, tetapi juga tentang kebijaksanaan dan tanggung jawab. Aku akan membantumu mencapai tujuanmu, Jihoon."
__ADS_1
Jihoon memulai pelatihan Taekwondo ITF dengan penuh semangat. Setiap hari setelah jam pelajaran, dia pergi ke dojo dan berlatih teknik-teknik tendangan dan pukulan. Master Kim adalah instruktur yang teliti dan tegas, dan dia membantu Jihoon mengembangkan keterampilan bela dirinya dengan cepat.
Pertama-tama, Jihoon merasa canggung dan tidak terkoordinasi dalam gerakan-gerakan yang diajarkan oleh Master Kim. Namun, dia tidak pernah menyerah. Dia berlatih keras setiap hari, mengejar keterampilan dan kekuatan yang lebih baik.
Selama berbulan-bulan, Jihoon terus berlatih dengan tekun. Dia merasa bahwa pelatihan Taekwondo ITF telah memberinya kekuatan fisik yang lebih besar, tetapi yang lebih penting, itu juga mengajarkannya tentang disiplin, ketabahan, dan rasa hormat kepada orang lain.
Selama perjalanannya dalam Taekwondo ITF, Jihoon juga menjalin hubungan dengan rekan-rekan latihannya. Dia bertemu dengan berbagai siswa dari berbagai latar belakang yang memiliki tujuan yang sama: menjadi lebih kuat dan lebih terampil dalam bela diri. Mereka berbagi pengalaman dan dukungan satu sama lain, membentuk ikatan yang kuat di dojo.
Pada suatu hari, Jihoon bertemu dengan seorang rekannya yang bernama Seojin, seorang siswi yang memiliki kemampuan bela diri yang luar biasa. Seojin adalah seorang atlet Taekwondo ITF yang berbakat dan sangat berdedikasi untuk pengembangan diri. Jihoon merasa terinspirasi oleh kemampuan dan semangat Seojin.
Pada suatu hari, Jihoon dan Seojin mendapat tawaran untuk berpartisipasi dalam sebuah turnamen Taekwondo ITF tingkat regional. Ini adalah kesempatan bagi mereka untuk menguji keterampilan mereka dan menghadapi kompetisi yang lebih keras. Mereka menerima tantangan ini dengan penuh semangat.
Persiapan untuk turnamen itu tidaklah mudah. Mereka berlatih lebih keras dari sebelumnya, mempertajam teknik-teknik mereka, dan memperkuat fisik mereka. Selama beberapa minggu, mereka melibatkan diri dalam persiapan yang intensif, sering berlatih hingga larut malam.
__ADS_1
Ketika hari turnamen tiba, Jihoon dan Seojin merasa gugup, tetapi mereka juga siap. Mereka mengenakan seragam Taekwondo ITF mereka dengan bangga dan memasuki arena dengan sikap percaya diri.
Turnamen itu berlangsung dengan sengit. Jihoon dan Seojin berjuang keras dalam setiap pertandingan, menghadapi pesaing-pesaing yang tangguh dari berbagai daerah. Mereka tidak hanya mengandalk
an kekuatan fisik, tetapi juga strategi dan keterampilan yang telah mereka pelajari selama berlatih bersama.
Saat akhirnya tiba pada pertandingan final, Jihoon dan Seojin harus menghadapi dua lawan tangguh. Pertandingan itu berlangsung sengit, dengan pukulan dan tendangan yang cepat dan kuat. Namun, Jihoon dan Seojin tidak pernah menyerah. Mereka berdua memberikan yang terbaik, menggunakan semua yang telah mereka pelajari selama perjalanan mereka dalam Taekwondo ITF.
Akhirnya, Jihoon dan Seojin keluar sebagai pemenang dalam turnamen itu. Mereka berdua merasa bangga dengan prestasi mereka, tetapi yang lebih penting, mereka merasa bahwa mereka telah tumbuh menjadi lebih kuat dan lebih percaya diri dalam perjalanan mereka.
Ketika mereka kembali ke dojo mereka dengan medali emas mereka, Master Kim menyambut mereka dengan senyuman bangga. Dia tahu bahwa Jihoon dan Seojin telah mengatasi banyak rintangan dan telah menjadi siswa Taekwondo ITF yang luar biasa.
Pelatihan bela diri telah memberikan Jihoon lebih dari sekadar kekuatan fisik. Itu telah mengajarkannya tentang tekad, ketekunan, dan arti sejati dari kekuatan. Jihoon merasa bahwa dia siap untuk menghadapi semua tantangan yang akan datang, baik di dalam dojo maupun di luar sekolah.
__ADS_1
Dalam perjalanan panjangnya menuju kekuatan, Jihoon telah menemukan banyak hal tentang dirinya sendiri dan dunia di sekitarnya. Dia tahu bahwa perjalanan ini masih berlanjut, dan dia tidak sabar untuk melangkah maju dalam perjuangannya untuk keadilan dan perubahan yang positif di Sekolah Menengah Sejati.