
Setelah perjalanan panjang dan berbahayanya dalam kompetisi The Shadows, Jihoon akhirnya kembali ke sekolahnya. Dia merasa sangat senang bisa melihat teman-temannya yang sudah lama tidak ditemui.
Saat Jihoon tiba di sekolah, dia merasa terkejut. Banyak teman-temannya tampak sangat lelah dan penuh bekas luka. Jihoon segera bertanya kepada salah satu temannya tentang apa yang terjadi.
"Tidak tahu kau, Jihoon?" kata temannya dengan mata yang lelah. "Sekolah kita sedang dalam pertarungan besar dengan sekolah lain."
Jihoon merasa sangat kaget mendengar berita itu. Dia tidak pernah menduga bahwa sekolahnya akan terlibat dalam konflik seperti ini. Dia ingin tahu lebih banyak tentang situasinya.
Dia pergi ke kantor kepala sekolah untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kepala sekolah memberitahu Jihoon bahwa sekolah mereka telah terlibat dalam persaingan sengit dengan sekolah lain untuk mendapatkan reputasi dan pengakuan.
Sekolah lain telah mencoba untuk merendahkan sekolah Jihoon dengan cara yang tidak adil, dan siswa-siswa sekolah Jihoon harus bertahan dengan sekuat tenaga. Jihoon merasa marah dan kecewa mendengar hal ini.
Meskipun Jihoon telah mengalami banyak pertarungan dalam kompetisi The Shadows, dia tidak ingin melihat teman-temannya di sekolahnya menderita. Dia ingin membantu mereka dan memastikan bahwa sekolahnya dapat melewati konflik ini dengan baik.
Jihoon mulai berkumpul dengan teman-temannya dan memberikan semangat kepada mereka. Dia mengajak mereka untuk bekerja sama dan menunjukkan kepada sekolah lain bahwa mereka tidak akan mudah dikalahkan.
Saat hari-hari berlalu, Jihoon dan teman-temannya bekerja keras bersama-sama. Mereka melatih strategi dan taktik, dan mereka tidak membiarkan diri mereka terjebak dalam permainan kotor yang dilakukan sekolah lain.
__ADS_1
Jihoon juga membantu teman-temannya untuk membangkitkan semangat dan kepercayaan diri. Dia berbagi pengalaman dan pelajaran yang telah dia pelajari selama perjalanannya, yang menginspirasi teman-temannya untuk tetap berjuang.
Akhirnya, pertarungan besar antara sekolah mereka dan sekolah lawan pun tiba. Jihoon dan teman-temannya bersiap untuk menghadapi tantangan ini dengan tekad yang kuat.
Pertarungan itu berlangsung dengan sengit, tetapi berkat kerja sama dan semangat yang tinggi, sekolah Jihoon berhasil memenangkan pertarungan. Mereka membuktikan bahwa kekuatan tim dan persatuan adalah kunci untuk mengatasi rintangan apa pun.
Setelah kemenangan itu, suasana di sekolah Jihoon menjadi lebih baik. Mereka merasa bangga dan bahagia atas prestasi mereka, dan mereka tahu bahwa mereka dapat mengatasi tantangan apa pun jika mereka bersatu.
Jihoon merasa puas bahwa dia telah dapat membantu sekolahnya dalam saat-saat sulit ini. Dia merasa bahwa perjalanan dan pengalaman yang telah dia alami telah membantunya menjadi lebih kuat dan bijaksana.
Meskipun perjalanan mereka dalam kompetisi The Shadows telah berakhir, petualangan Jihoon, Master Kim, dan Soo Jin masih akan terus berlanjut. Mereka tahu bahwa ada banyak misteri lain yang menunggu untuk diungkap, dan mereka siap untuk menghadapinya bersama-sama.
Jihoon pulang dari sekolah seperti biasa, tak menyadari bahwa hari ini akan menjadi salah satu hari yang paling berbahaya dalam hidupnya. Ketika dia berjalan melewati jembatan sempit yang menghubungkan sekolahnya dengan daerah perumahan, dia tiba-tiba dihadapkan oleh sekelompok anak muda yang mencurigakan.
Ada sekitar 30 orang di bawah jembatan itu, dan mereka tampaknya sudah merencanakan sesuatu. Mereka semua tersenyum dengan licik ketika melihat Jihoon mendekat. Jihoon merasa sesuatu yang tidak beres dan berusaha untuk tetap waspada.
Ketika Jihoon berada di tengah-tengah mereka, salah satu dari mereka, pemimpin kelompok, berbicara dengan suara mengancam. "Kau pikir kau bisa keluar dari sini tanpa memberikan sesuatu pada kami?"
__ADS_1
Jihoon merasa marah dan frustrasi. Dia tidak suka diintimidasi oleh orang lain, dan dia tidak akan membiarkan dirinya menjadi korban. Namun, dia juga tahu bahwa jumlah orang ini jauh lebih besar daripada dirinya.
Dengan tenang, Jihoon mengeluarkan penggaris besi dari tasnya. Seolah-olah penggaris itu adalah tongkat sihir yang muncul dari dalam koper Harry Potter, semua orang di sekitarnya mulai tertawa dengan keras. Mereka merasa Jihoon tidak serius dan menganggapnya bercanda.
Namun, Jihoon tidak berbicara. Dia tahu bahwa dia harus bertindak cepat. Dengan gerakan yang begitu cepat sehingga mata mereka hampir tidak bisa mengikutinya, Jihoon mulai melancarkan serangan dengan penggaris besinya.
Penggaris besi tersebut menjadi senjata yang mematikan dalam tangan Jihoon. Dia memukul dengan presisi yang sempurna, mengenai titik lemah lawannya. Mereka mulai jatuh satu per satu, terkejut oleh kemampuan Jihoon yang luar biasa.
Dalam waktu singkat, 30 orang itu berubah menjadi kacau. Mereka tidak tahu bagaimana menghadapi serangan tak terduga ini, dan mereka mulai panik. Jihoon terus mengambil keuntungan dari situasi ini, menjatuhkan mereka satu per satu.
Beberapa orang mencoba melarikan diri, yang lain mencoba melawan, tetapi penggaris besi Jihoon adalah senjata yang tidak terkalahkan dalam tangan yang terampil. Dia bergerak seperti tornado, mengalahkan mereka dengan cepat dan tanpa ampun.
Akhirnya, semua orang di bawah jembatan itu terkapar di tanah, merasakan rasa sakit yang tak terhingga. Mereka menyesali keputusan mereka untuk menghadang Jihoon, dan mereka tidak akan pernah melupakan kekuatan dan keterampilan Jihoon dengan penggaris besinya.
Jihoon melihat sekelilingnya, memastikan bahwa semua orang sudah tak berdaya sebelum dia melanjutkan perjalanan pulang. Dia merasa puas bahwa dia berhasil mengatasi situasi yang sangat berbahaya tanpa harus melukai serius siapa pun.
Ketika dia tiba di rumah, dia merasa sekaligus lega dan terkejut oleh apa yang baru saja terjadi. Dia tidak pernah mengharapkan bahwa penggaris besi yang biasa digunakan untuk mengukur dan menggambar bisa menjadi senjata yang begitu efektif dalam situasi darurat.
__ADS_1
Dia memutuskan untuk menyimpan penggaris besi itu dengan baik sebagai senjata rahasia yang selalu siap digunakan jika dia berhadapan dengan bahaya di masa depan. Jihoon tahu bahwa dunia di luar sana bisa sangat tidak terduga, dan dia harus selalu waspada dan siap menghadapinya.
Dengan penggaris besi sebagai pengingat bahwa dia dapat mengatasi rintangan apa pun yang mungkin muncul di jalannya, Jihoon bersiap untuk menghadapi masa depan yang penuh petualangan dan tantangan. Dia adalah "Standing Man" yang siap berdiri tegak dalam menghadapi apapun yang datang.