
Jihoon terus berusaha mengungkap misteri di balik The Shadows dan Death Eye. Setelah pengalaman yang intens dengan aktivasi Death Eye-nya, dia merasa semakin kuat dan siap untuk menghadapi apa pun yang mungkin ada di depannya.
Suatu hari, ketika Jihoon sedang berlatih di dojo Taekwondo ITF-nya, dia mendengar percakapan siswa lain yang berbicara tentang sesuatu yang menarik perhatiannya. Mereka berbicara tentang audisi pertarungan misterius yang akan diadakan oleh The Shadows.
Audisi tersebut dikabarkan sebagai kesempatan untuk menguji kemampuan pertarungan seseorang. The Shadows mencari individu yang kuat dan berbakat untuk mengikutinya, meskipun tujuan akhir mereka tetap menjadi misteri.
Jihoon merasa bahwa audisi ini bisa menjadi kesempatan baginya untuk mendapatkan wawasan lebih dalam tentang The Shadows. Dia ingin tahu apa yang mereka cari, dan bagaimana audisi ini terhubung dengan rencana kelompok tersebut.
Namun, ada satu syarat untuk mengikuti audisi ini yang membuat Jihoon terpaku. Setiap peserta harus memiliki seorang manajer yang akan menemani mereka selama audisi. Ini adalah syarat yang tidak biasa, dan Jihoon tidak memiliki seorang manajer.
Dia tahu bahwa dia tidak bisa mengikuti audisi ini sendirian. Dia perlu seorang manajer yang akan mendukungnya dan membantunya selama pertarungan. Tetapi pertanyaannya adalah, di mana dia bisa menemukan seseorang yang bersedia menjadi manajernya?
Jihoon mulai memikirkan teman-temannya dan siapa yang mungkin bersedia membantunya. Dia ingin memilih seseorang yang bisa diandalkan dan memiliki keberanian yang cukup untuk menghadapi audisi ini bersamanya.
Salah satu temannya, Soo Jin, adalah orang pertama yang datang dalam pikiran Jihoon. Soo Jin adalah seorang siswi yang cerdas dan berani. Mereka telah menjadi teman baik sejak lama, dan Jihoon tahu bahwa dia bisa mempercayainya.
Jihoon mendekati Soo Jin dengan rencananya. Dia menjelaskan tentang audisi pertarungan The Shadows dan apa yang ingin dia capai dengan mengikutinya. Soo Jin awalnya agak terkejut dengan permintaan Jihoon, tetapi setelah mendengarkan penjelasannya, dia setuju untuk menjadi manajer Jihoon dalam audisi tersebut.
Mereka berdua bersiap untuk audisi pertarungan yang akan datang. Jihoon terus berlatih keras untuk meningkatkan keterampilan bela dirinya, sementara Soo Jin membantu merancang strategi dan memahami lebih dalam tentang apa yang mereka hadapi.
Ketika hari audisi tiba, Jihoon dan Soo Jin tiba di lokasi yang telah ditentukan oleh The Shadows. Mereka melihat sejumlah peserta lain yang telah berkumpul di sana, semuanya tampak siap untuk mengikuti audisi yang misterius ini.
Jihoon merasa tegang dan penuh antisipasi. Dia tidak tahu apa yang akan dia hadapi di audisi ini, tetapi dia merasa bahwa ini adalah langkah penting dalam perjalanannya untuk mengungkap misteri di balik kelompok The Shadows.
Ketika audisi dimulai, Jihoon dan peserta lainnya dibawa ke sebuah arena pertarungan yang gelap. Mereka diberi instruksi untuk berduel satu lawan satu dengan peserta lainnya. Pertandingan tersebut akan menjadi ujian kemampuan mereka dalam pertarungan.
Soo Jin menemani Jihoon ke sisi arena pertarungan dan memberikan dukungan moral. Jihoon tahu bahwa dia tidak sendirian dalam pertarungan ini, dan itu memberinya kepercayaan diri.
__ADS_1
Pertandingan pertama dimulai, dan Jihoon segera menyadari bahwa peserta lain sangat terampil. Mereka menggunakan berbagai gaya pertarungan dan teknik yang berbeda. Namun, Jihoon juga telah berkembang dengan baik dalam bela diri, dan dia mampu menghadapi lawan-lawannya dengan baik.
Jihoon berhasil melewati beberapa pertandingan, tetapi dia merasa bahwa semakin dia maju, semakin kuat peserta-peserta yang dia hadapi. Mereka semakin menantang, dan dia harus menggunakan semua keterampilannya untuk bertahan.
Ketika audisi berlanjut, Jihoon merasa ada sesuatu yang tidak biasa. Dia merasa bahwa Death Eye-nya mulai aktif secara tidak sengaja. Mata merahnya bersinar, dan dia merasa kehilangan emosi dan belas kasihan.
Soo Jin melihat perubahan itu dan mencoba berkomunikasi dengan Jihoon. Namun, Jihoon tidak merespon. Dia menjadi seperti mesin pertarungan yang tanpa belas kasihan, menyerang lawan-lawannya dengan kekuatan dan kecepatan yang menakutkan.
Peserta audisi lainnya sangat terkejut melihat perubahan ini dalam Jihoon. Mereka mencoba untuk melawannya, tetapi tidak ada yang bisa menghentikannya. Jihoon seperti robot pertarungan yang tak terkalahkan, tanpa merasakan emosi atau kesakitan.
Pertarungan berlanjut dengan kekejaman yang mengerikan. Jihoon mengalahkan satu peserta setelah yang lainnya dengan cepat dan tanpa ampun. Dia tidak terkendali, dan Soo Jin merasa sangat khawatir tentang apa yang sedang terjadi.
Akhirnya, hanya satu peserta yang tersisa di hadapan Jihoon. Dia tampak ketakutan dan putus asa, melihat kekuatan Jihoon yang luar biasa. Namun, Jihoon tidak merasa belas kasihan. Dia terus menyerang dengan kekuatan Death Eye-nya, hingga akhirnya lawannya jatuh tak berdaya.
Saat pertandingan berakhir, Death Eye Jihoon secara tiba-tiba mati. Dia merasa seperti kembali ke dalam dirinya sendiri, tetapi dia juga merasa takut dengan apa yang baru saja terjadi.
Jihoon merasa tidak bisa menjelaskan apa yang baru saja terjadi. Dia tahu bahwa dia harus mencari tahu lebih banyak tentang Death Eye-nya dan bagaimana mengendalikannya. Namun, saat ini, dia juga tahu bahwa mereka telah berhasil melewati audisi pertarungan The Shadows.
Mereka meninggalkan arena pertarungan dengan pertanyaan yang tak terjawab. Apa tujuan sebenarnya dari audisi ini? Dan apa yang harus mereka hadapi selanjutnya dalam perjalanannya untuk mengungkap misteri di balik The Shadows dan Death Eye?
Setelah pengalaman yang intens di audisi pertarungan The Shadows, Jihoon dan Soo Jin kembali ke rumah dengan banyak pertanyaan yang belum terjawab. Jihoon tahu bahwa dia perlu mengendalikan Death Eye-nya, karena kemampuan itu sangat berbahaya, dan perubahan drastis dalam dirinya bisa merusaknya.
Dia mulai melakukan penelitian lebih lanjut tentang Death Eye dan mencoba mencari tahu cara mengendalikannya. Namun, informasi tentang Death Eye tetap sulit ditemukan, dan Jihoon merasa semakin frustrasi.
Salah satu hari, ketika dia berbicara dengan Master Kim, instruktur Taekwondo ITF-nya, Jihoon mendapatkan sedikit wawasan tentang kemampuan itu. Master Kim menjelaskan bahwa Death Eye adalah kemampuan yang sangat kuat, tetapi juga sangat berbahaya. Ini bisa membuat pengguna menjadi seperti mesin pertarungan yang tidak bisa dihentikan, tanpa belas kasihan dan tanpa emosi.
"Jihoon, kau harus tahu bahwa mengendalikan Death Eye adalah tugas yang sangat sulit," kata Master Kim dengan serius. "Ini adalah kekuatan yang luar biasa, tetapi jika kau tidak dapat mengendalikannya, itu akan menghancurkanmu."
__ADS_1
Jihoon merasa semakin bertekad untuk memahami dan mengendalikan Death Eye-nya. Dia tahu bahwa jika dia ingin berhasil mengungkap misteri di balik The Shadows, dia perlu menguasai kemampuan ini. Namun, dia juga tahu bahwa dia tidak boleh menggunakan Death Eye secara sembarangan.
Dia memutuskan untuk menjalani latihan khusus yang dirancang untuk membantu mengendalikan Death Eye-nya. Dia berlatih meditasi dan teknik relaksasi untuk menjaga emosinya tetap stabil. Dia juga berlatih mengaktifkan dan menonaktifkan Death Eye sesuai keinginannya.
Selama berlatih, Jihoon mulai memahami beberapa batasan dari Death Eye. Salah satunya adalah bahwa kekuatan ini hanya akan aktif jika Jihoon merasa bahwa musuhnya lebih kuat darinya. Ini adalah pengingat bahwa Death Eye tidak boleh digunakan secara sembarangan.
Namun, Jihoon juga mulai merasakan konsekuensi dari penggunaan Death Eye. Setiap kali dia mengaktifkannya, tubuhnya terasa terbebani dan melemah. Penggunaan berulang Death Eye mengakibatkan kelelahan fisik dan mental yang mendalam.
Pada suatu pagi, ketika Jihoon sedang berlatih di dojo, dia merasa perubahan aneh dalam tubuhnya saat dia mengaktifkan Death Eye. Mata merahnya bersinar, tetapi kali ini, dia merasakan sakit yang luar biasa di seluruh tubuhnya. Dia merasa energi vitalnya terkuras dengan cepat.
Soo Jin yang hadir bersama Jihoon saat itu sangat khawatir. "Jihoon, apa yang terjadi? Kau tampak sakit."
Jihoon mencoba menjelaskan apa yang dia rasakan, bahwa penggunaan Death Eye kali ini terasa sangat berat. Dia merasa lelah dan sakit, tetapi dia juga merasa bahwa dia harus terus berlatih untuk menguasai kekuatan ini.
Namun, Soo Jin tidak bisa hanya melihat Jihoon menderita. Dia menyarankan agar Jihoon beristirahat sejenak dan mencari bantuan lebih lanjut untuk memahami Death Eye-nya.
Jihoon akhirnya setuju, dan dia pergi untuk berkonsultasi dengan seorang ahli psikologi. Ahli tersebut memberikan wawasan tentang cara mengendalikan kekuatan mental, termasuk Death Eye. Dia mengajarkan teknik-teknik untuk menghindari kelelahan fisik dan mental yang disebabkan oleh penggunaan berulang kemampuan tersebut.
Jihoon juga mulai berbicara dengan Master Kim tentang penggunaan Death Eye. Master Kim memberinya beberapa nasihat tentang bagaimana mengendalikan emosi dan menjaga keseimbangan antara kekuatan dan kendali.
Selama berbulan-bulan, Jihoon terus berlatih dan mengembangkan kemampuannya dalam mengendalikan Death Eye-nya. Dia memahami bahwa kekuatan itu adalah pedang bermata dua, dan dia harus menggunakan dengan bijak.
Saat dia merasa lebih percaya diri dalam kemampuannya untuk mengendalikan Death Eye, Jihoon dan Soo Jin memutuskan untuk terus menyelidiki The Shadows dan mengungkap misteri di
balik kelompok tersebut.
Mereka mencari petunjuk lebih lanjut dan mencoba mencari tahu apa tujuan sebenarnya dari kelompok tersebut. Semakin dalam mereka menggali, semakin besar teka-teki yang harus mereka pecahkan.
__ADS_1
Saat matahari terbenam di Sekolah Menengah Sejati, Jihoon dan Soo Jin siap untuk melanjutkan perjalanan mereka yang berbahaya. Mereka tahu bahwa masih banyak rintangan dan bahaya yang mungkin menghadang, tetapi mereka juga tahu bahwa mereka tidak akan menyerah dalam upaya mereka untuk mengungkap kebenaran di balik The Shadows dan Death Eye.