Standing Man

Standing Man
Keajaiban Tubuh Dapa


__ADS_3

Dapa merasa seolah-olah dia tenggelam dalam kegelapan. Pertarungannya dengan Master Kim dan tindakan terakhirnya untuk membakar ruangan itu meninggalkan dirinya dalam kondisi fisik yang sangat buruk. Dia merasa lelah dan kelelahan yang begitu mendalam, seperti telah menghabiskan seluruh energinya dalam pertarungan itu.


Namun, tiba-tiba, sensasi lembut menyelimuti tubuhnya. Ketika Dapa mulai membuka mata, dia menyadari bahwa dia berada di sebuah ruangan yang terang dan bersih. Dia melihat Jihoon duduk di samping tempat tidurnya, dengan ekspresi keprihatinan di wajahnya.


"Dapa, kau baik-baik saja?" tanya Jihoon dengan cemas.


Dapa merasa bingung. Dia tidak ingat bagaimana dia bisa sampai ke sini setelah pertarungannya dengan Master Kim. Dia mencoba duduk, dan itu adalah saat dia menyadari bahwa dia tidak merasakan rasa sakit yang diharapkan setelah pertarungan sengit itu.


Jihoon menjawab pertanyaan yang belum sempat Dapa ajukan. "Kau mungkin bertanya-tanya bagaimana kau bisa selamat dari lantai tiga," kata Jihoon sambil tersenyum tipis. "Tapi dokter mengatakan bahwa tubuhmu sangat kuat dan tahan terhadap cedera. Bahkan tidak ada tulang yang retak."


Dapa masih merasa bingung. Itu bukanlah jawaban yang dia harapkan. Dia seharusnya merasakan rasa sakit yang luar biasa setelah melompat dari lantai tiga. Sesuatu yang aneh sedang terjadi, dan Dapa merasa bahwa ada sesuatu yang tidak dia ketahui.


Dokter datang ke ruangan itu untuk memeriksa kondisi Dapa. Setelah beberapa pemeriksaan, dokter mengangguk puas. "Tubuh Anda memang luar biasa," kata dokter itu. "Ketahanan fisik Anda jauh di luar rata-rata. Anda bahkan sembuh lebih cepat dari yang saya harapkan."

__ADS_1


Dokter menjelaskan bahwa beberapa orang memiliki keadaan fisik yang luar biasa. Tubuh Dapa mampu mengatasi cedera dan pemulihan dengan cara yang luar biasa. Dia tidak hanya tidak memiliki tulang yang retak, tetapi juga tidak memiliki luka parah meskipun pertarungan yang dia alami dengan Master Kim.


Dapa merasa semakin bingung. Kekuatan fisik seperti ini adalah sesuatu yang belum pernah dia ketahui sebelumnya. Dia tahu bahwa ada sesuatu yang tidak biasa dalam tubuhnya, tetapi dia tidak memiliki jawaban pasti.


Jihoon menatapnya dengan penuh pertanyaan di mata. "Dapa, apa yang terjadi di markas 9 Dragon? Apakah kau berhasil mengungkap sesuatu tentang kota yang hancur?"


Dapa menggelengkan kepala dengan lemah. "Aku belum tahu apa-apa," katanya. "Pertarungan dengan Master Kim adalah hal terakhir yang kuingat. Dan kemudian, aku tiba-tiba ada di sini."


Kabar tentang kematian Master Kim dengan cara yang begitu mengerikan, terkurung dalam ruangan yang terbakar dan kehabisan oksigen, segera menyebar ke seluruh muridnya, termasuk Jihoon. Mereka semua merasa kehilangan yang mendalam, dan suasana di antara mereka menjadi sangat muram.


Di tengah suasana duka yang mendalam, Dapa tiba-tiba membuat pernyataan yang mengejutkan. Dia berkata dengan suara yang tegar, "Akulah yang membuatnya mati."


Semua mata segera tertuju padanya. Jihoon dan murid-murid lainnya yang hadir tidak bisa mempercayai apa yang mereka dengar. Jihoon terjatuh tergeletak, tidak percaya bahwa Dapa, teman mereka, adalah orang yang bertanggung jawab atas kematian guru mereka.

__ADS_1


Dengan penuh keberanian, Dapa menjelaskan, "Aku membakar ruangan itu dan menghabiskan oksigen di dalamnya. Itu adalah satu-satunya cara untuk menghentikannya." Dia menatap tajam Jihoon dan melanjutkan, "Alasannya... mungkin suatu saat kau akan tahu."


Pernyataan Dapa itu menciptakan kebingungan yang besar di antara murid-murid lainnya. Mereka merasa bingung dan marah. Bagaimana mungkin Dapa, sahabat mereka, melakukan sesuatu yang begitu mengerikan terhadap guru mereka sendiri? Tapi Dapa tidak tampak bersalah atau menyesal atas tindakannya.


Beberapa murid dari sekolah itu, yang merasa bahwa mereka harus melindungi nama baik guru mereka, mencoba menyerang Dapa dengan marah. Namun, Dapa tidak seperti sebelumnya. Kekuatan dan ketahanannya luar biasa, dan dia dengan mudah mengalahkan mereka semua.


Jihoon, yang masih tergeletak di lantai, menatap Dapa dengan tatapan penuh kemarahan. Dia berkata dengan suara bergetar, "Kau akan kalah di tanganku suatu hari nanti, Dapa. Dan aku akan membalas kejadian ini, brengsek."


Dapa tidak memberikan reaksi apa pun terhadap ancaman Jihoon. Dia hanya mengangkat bahu dengan acuh tak acuh dan meninggalkan mereka semua tanpa rasa bersalah.


Saat Dapa pergi, murid-murid yang tersisa merasa bingung dan terluka. Mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara Dapa dan guru mereka, dan pertanyaan-pertanyaan itu akan tetap menghantui mereka.


Jihoon merasa dendam yang mendalam terhadap Dapa. Dia tidak hanya kehilangan guru yang dihormatinya, tetapi juga harus menerima kenyataan bahwa temannya sendiri adalah orang yang bertanggung jawab atas kematian itu. Rasa sakit dan kemarahan di dalam dirinya terus membara, dan dia bersumpah bahwa suatu hari nanti dia akan mendapatkan jawaban dan keadilan.

__ADS_1


__ADS_2