Story Si Jutek Tomboy

Story Si Jutek Tomboy
BAB 12


__ADS_3

Dan disinilah aku berdiri sekarang, didepan mesin uang dan melayani para pelanggan yang datang mampir ke coffe ada yang sekedar memesan minuman ada juga yang sekalian memesan makanan.


ALONA POV OFF}


💨💨💨💨


ALVARO POV}


Seperti yang kalian ketahui namaku adalah ananda alvaro pratama aku adalah anak kedua dari Bramantiyo pratama dan fara aditama.


Ayahku adalah seorang pengusaha besar yang ditakuti dan disegani oleh banyak orang tak sedikit pula yang berusaha melenyapkannya. Sedangkan ibuku adalah Queen dari gengster terkenal dengan kekejamannya yang tak segan membunuh lawan dengan tangannya sendiri.


Bagi musuh yang berani menyentuh keluarga fara Queen, maka bukan hanya harta benda kelurga tahta dan jabatan yang lenyap tapi juga nyawa!


Identitas keluargaku amat sangat disembunyikan dan dijaga. Ini demi keselamatan kami para anak anak nya. Media dan masa hanya mengetahui bahwa kelurga Bramantiyo pratama memiliki 3 anak laki laki tanpa mereka ketahui nama umur serta tempat yang mereka tinggali.


Aku mempunyai dua saudara laki laki yaitu kakak dan adiku. kakakku tinggal bersama orangtuaku dia ikut kemanapun orangtuaku pergi umurnya sudah menginjak 20 tahun dia dikenalkan dan dipubicasikan identitasnya pada relasi dan rekan kerja ayah ku. Diapun sudah diberi tanggung jawab mengurus salah satu cabang perusahaan di london. 


Sedangkan adikku umurnya baru menginjak 11 tahun. Ia amat manja namun kecerdasannya menuruni mamaku iQ yang tinggi menjadikannya anak emas bagi papaku. Tapi dia memilih tinggal bersama kakek aditama di jepang.


Lalu aku? Dulu aku amat sangat dekat dengan ibuku tapi setelah ia depresi aku seperti di asingkan dan dijauhkan darinya aku dikirim ke rumah nenek dari keluarga pratama. Setelah beberapa tahun aku memutuskan untuk pulang dan menetap di indonesia aku memilih tinggal sendiri dengan kesederhanaan namun tetap dengan pantauan dari papaku. Aku memilih sekolah yang sederhana agar tidak banyak yang bertanya dengan identitasku saat itu.

__ADS_1


Beberapa minggu kemudian aku bertemu dengan gadis kecil yang jutek dan pendiam dia bernama Alona. Selama bersekolah disitu, aku tida berinteraksi dengan banyak orang tapi aku merasa tertarik untuk mengajak gadis yang bernama Alona itu berkenalan.


Namun tidak sesuai dugaan ku dia malah menolak berkenalan denganku, berkali kali aku mencoba menawarkan jabatan tanganku padanya berkali kali pula ia menolaknya " Maniss " itulah kata kata yang pas untuk kujadikan julukan padanya.


Sampai akhirnya suatu ketika usahaku membuahkan hasil, perlahan dia mau menerimaku sebagai temannya bertahun tahun aku bertemandengannya hingga menjadi sahabat oh ya aku melupakan satu temanku namanya salma dia adalah kebalikan dari Lona dan aku seakan seperti pelengkap diantara kami bertiga.


Aku tidak pernah memberitahukan identitasku pada salma maupun lona apalagi latar belakang keluargaku, untung saja aku selalu bisa menghindar jika ada pertanyaan yang menjurus kearah sana.


Sampai sekarang aku masih selalu menemaninya kemanapun dia mau. Sepertinya aku jatuh terlalu dalam pada pesonanya aku mengetahui segala kesulitan yang dialaminya selama ini akau menjadi pendengar setia dari segala keluh kesahnya. Akupun tak pernah bosan memberi suport dan dukungan untuknya.


Tapi sepertinya dia tidak merasakan hal yang sama denganku. Atau mungkin dia tidak bisa mengartikan setiap perhatian yang kutunjukkan padanya?.


Siang ini sepulang sekolah seperti biasa aku mengantarnya ke coffee kak ririn. Ditengah perbincangan kami titiba tiba aku ingin sekali menggodanya.


" iya kenapa emang?" Jawabnua mulai penasaran. Kugantungkan ucapanku agar dia semakin penasaran dengan kelajutannya


" emhh tapi.... " lanjutku yang ku gantungkan kembali.      " tapi... bolehga aku seumur hidup sama kamu.... bwahahahah" lanjutku dengan tawa puas mengerjainya


" ih kamu bisa dieum gak si!" Ucapnya agak sewot


" dih apaan si mbul dari tadi coco dieum ko cuma lagi ngayuh sepeda aj..." ucapku terpotong oleh kata katanya yang membuatku terkejut

__ADS_1


" dieum di hatiku maksudnya... bwahahaha" balasnya  dengan tawa yang tak kalah meriah dengan tawaku tadi. Lama terdiam kata katanya menyadarkanku dari lamunan " tuh kan aku juga bisa gombal emang kamu doang blwee" ujarnya sambil menjulurkan lidah di pinggir telingaku


Takusangka niat hati menggodanya malah aku yang terbengong dengan gombalan recehnya itu. Untung saja aku menemukan masjid didepan sana,


ini kesempatanku untuk menetralkan debaran jantungku dulu. Kebetulan sudah masuk waktu dzuhur.


Setelah sholat hatiu sudah mulai tenang kembali ku teruskan perjalananku mengantar lona ke coffee kak ririn kebetulan hari ini lona sip sore jadi tidak akan terlambat saat sampai disana.


Setelah sampai aku berpamitan pulang pada lona dengan berbagai macam alasan tentunya aku tidak pulang ke rumah kecil dan sederhana yang kutinggali saat ini. tapi aku pulang kerumah papaku dijakarta karna aku mendapat pesan untuk segera pulang menghadap papaku disana.


Sepertinya akan ada hal serius yang ingin dibicarakan tak biasanya aku mendadak disuruh pulang ke jakarta.


Semua telah dipersiapkan oleh papaku aku hanya tinggal menunggu mobil pribadiku menjemput dan menuju jakarta. 


" Dimana?" tanyaku datar


"Mari tuan muda, tuan besar telah menunggu di dalam ruang pribadinya " ucap salah satu bodyguard yang menjaga pintu utama rumah besar ini.


aku telah sampai di jakarta sekitar 1 jam 45 menit yang lalu. pakaianpun sudah kuganti dengan baju yang dibawa bodyguard ku tadi di mobil.


asing rasanya pulang kerumah ini, rumah yang telah lama kutinggalkan. kulangkahkan dengan perlahan menuju ruangan pribadi ayahku, ruangannya berada dilantai 3 paling pojok rumah ini dilengkapi dengan lift di dalamnya sehingga memudahkan penghuninya turun naik lantai tanpa lelah.

__ADS_1


tapi sayang rumah ini terlalu megah dan mewah saking megahnya banyak penghuni yang lebih memilih tinggal terpisah dan hanya saat - saat tertentu saja bisa berkumpul layakny keluarga.


__ADS_2