
" Alona... tidak kah kamu merasa kasihan padaku, aku belum menyelesaikan tugasku sedikitpun? apa kau bersedia membagi otakmu itu sedikit saja untukku?." ucap salma memelas
" hmm apa kau bisa merubah kebiasaan mu itu sedikit saja. lain kali kau harus mau mendengarkan penjelasan dari guru karna nanti aku gidak mau membabtumu lagi " cercah alona memberi sedikit ancaman pada sahabatnya agar tak terus menerus bergantung padanya.
sahabat?
sejak kapan mereka menjadi sahabat?
ah entahlah tapi mereka sudah seperti sahabat yang sudah laman saling mengenal.
tak lama bel istirahat berbunyi. salma mengajak alona pergi ke kanti sekolah meski alona hanya berniat mengantar saja karna uang alona tidak cukup untuk membeli makanan dikantin.
sebenarnya bukan ta cukup hanya saja alona selalu menabung uangnya. alona bilang dia ingin menjadi sarjana tanpa menyusahkan bibinya dia juga ingin mendirikan toko yang besar dan menjadi atlet yang sukses.
sedari kecil ia sudah belajar mandiri dengan berjualan dan membantu orang setelahnya dia akan mendapatkan upah.
lelah?
pasti! tapi mau tak mau alona harus menjalankan takdirnya dan merubah masa depannya.
" Alona.. " panggil salma sambil melambai lambaikan tangannya di hadapan alona.
namun saat hendak berdiri ta sengaja lututnya bergesekan dengan meja
" awww "
" ada apa dengan lutut mu? " tanya salma pada alona.
karna saat menoleh ke arah alona salma melihat alona memegangi lututnya sambil meringis pelan namun masih terlihat dari ekpresinya.
" ah tidak papa yasudah ayo jalan katanya mau ke kantin kan?." ucapnya berbohong dan mengalihkan pembicaraan.
salma menatapnya sejenak dengan mata yang memicing salma merasa ada yang disemnunyikan oleh alona.
" untuk apa kau mellihat ku dengan tatapan mu itu? apa kau iri dengan kecantikan ku?. " goda alona pada salma.
" bisa saja kamu ini "
seperti biasa salma akan membeli berbagai jenis jajanan dengan jumlah yang banyak sehingga ibu penjaga kantinpun geleng kepala. bukan tanpa alasan bukan karna salma serakah pula tapi karna alona.
lona?
yah ALONA. nanti ketika salma sedang makan, salma akan merengek pada alona bak seorang anak bayi yang minta bantuan ibunya.
salma meminta lona membantunya menghabiskan jajanannya
karna salma ingin selalu membantu alona tanpa menyakiti hatinya ataupun mendapat penolakan darinya.
dan lona yang polos selalu mengikuti semua kemauan salma walau ada sedikit rasa enak ga enak.
enak ga enak?
enak nya adalah alona merasa bersyukur mendapat makanan gratis tapi disilain alona merasa heran kenapa alona harus selalu menghabiskan makanan yang dibeli salma kenapa salma tidak membeli makanan secukupnya untuk dia kenapa harus selalu jajan berlebih atau bisa juga dia bawa pulang sisanya untuk di rumah.
ah sudahlah lupakan.
" Hai .."
ucap sosok anak laki laki berparas tampan, menyapa salma dan alona. dengan segera anak itu duduk tepat dihadapan alona padahal tidak ada yang mempersilahkannya duduk.
" Eh hai kak"
ucap salma setelah lama hening dan saling tatap.
tentu saja yang bertatapan adalah Alvaro dan Alona.
salma merasa ta enak dengan suasana canggung ini sangat hening jadi ia berinisiatif membuka suara.
namun ternyata seperti biasa alona ta bergeming sedikitpun dari posisi duduknya. dia sedang pokus menghabiskan makanan yang ada di hadapannya dengan santay.
seolah ta ada lagi orang lain selain dirinya dan salma.
" aku ketoilet sebentar ya salma."
" awww.."
dan lagi lagi lututnya bergesekan dengan ujung meja
refleks seketika varo memegang pundaknya lona dan menariknya untuk duduk varo berlutut dihadapan alona dan memegang lutut alona.
jika hanya gesekan biasa maka lona tidak akan meringis tapi nyata nya dia meringis juga walau hanya ditekan.
varo berusaha berfikir apakah terjadi sesuatu pada alona? agar bisa memastikan hal itu artinya varo harus melihat lutut alona tapi...
alona memakai rok...
tidak mungkin jika harus varo yang buka.
" salma bantu aku ya tolong bawa alona ke uks"
" ngapain kak?"
" sudah bawa saja"
" tidak... tidak usah aku tidak papa aku mau ke kelas saja"
" dengar aku tidak suka penolakan!" ucap varo dingin
" siapa kau mengatur hidupku?" alona
" Kau Harus mau! " varo menekan kan setiap kata katanya.
__ADS_1
ahirnya untuk yang pertama kalinya alona mau mengikuti perintah dari nya walaupun dengan berbagai drama bujuk rayu dan adu ego.
salma mengantar alona masuk uks yang diikuti varo di belakangnya begitu sampai di depan pintu uks salma dan lona masuk.
terkecuali varo dia menunggu di luar ruangan.
setelah masuk salma bertemu dengan guru yang berjaga disana.
Alona merasa gugup dan bingung. alasan apa yang harus ia berikan atas pertanyaan dua orang yang ada di hadapannya saat ini.
saat ibu guru menaikkan rok alona terlihat laih kain yang membungkus kaki alona dengan darah yang sudah tembus keluar.
alangkah terkejutnya salma ketika melihat kaki aloan yang di bungkus kain bukan perban
" itu kenapa? "
hening seketika mereka hanya saling tatap tanpa suara alona ragu untuk menceritakan kejadian yang menimpanya kemarin.
ibu guru pun mencoba membuka kainnya dengan perlahan, saat sedikit demi sedikit kain itu dilepaskan ah bagai di sambar petir.
entah mengapa hati salma ikut sakit melihat keadaan sahabat barunya itu banyak pertanyaan yang muncul dipikirinnya
kenapa? adaapa? ko bisa?
salma menatap alona ta percaya kenapa luka se serius ini dia sembunyikan?.
" alona kamu harus dibawa kerumasakit! sekarang juga kaki mu sobek dan harus di jahit jika tidak maka akan lama untuk sembuh." ucap bu guru.
entah mengapa namun seakan rasa sakit yang dirasakan alona sekarang juga dirasakan salma.
meskipun alona tidak terlihat sakit sama sekali.
namun sebelum tangan salma menyentuh pintu alona menghentikan langkahnya.
" tunggu sal, aku ga punya uang " ucapnya menunduk mungkin juga menyembunyikan rasa sakit yang dirasakannya kini.
" Aku yang nanggung biaya nya " ucap salma singkat dan berlalu meninggalkan salma
sebelum ke rumah sakit buguru memberikan obat untuk luka alona dan memakaikan alkohol serta penempelkan perban untuk menahan darahnya agar ta banyak terbuang.
" bagai mana?. " tangan varo menahan salma yang terburu buru hingga salma lupa bahwa sedari tadi varo lah yang menyuruhnya untuk memaksa alona memeriksa lututnya.
" lututnya sobek. entah dia terjatuh dimana " ucap salma yang panik
" kita bawa kerumasakit, aku takut dia kenapa napa " ucap varo
" Yaudah ayo izin guru " ucap salma tanpa sadar menarik tangan alvaro.
setelah mendapat izin dari guru mereka berangkatlah mereka ke rumah sakit memakai mobil salma namun alona memberi syarat tidak ada yang boleh memberi tahu keluarga alona.
merekapun setuju asalkan sekarang
alona mau dibawa ke rumah sakit.
teriak Tesa di ambang pintu masuk mencari sang ibu yang tak nampak di hadapannya.
entahlah dia memang selalu merepotkan banyak orang hingga nenek nya keluar rumah dan menanyakan pada tesa mengapa harus selalu berteriak teriak saat sampai dirumah nya
tapi bagi tesa itu bukan pertanyaan tapi itu adalah sebuah ungkapan ketidak sukaan seseorang pada diri nya
" apa nenek tidak suka yasudah tidak usah di denger. " dengan nada tinggi tesa. tesa tak pernah merendah saat berbicara.
" Tesa! " bentak tara yang risih dengan saudari kembarnya itu.
" Apa..? "
" Serah .." tara meninggalkan tesa di depan teras rumah dan masuk ke kamarnya, nampaknya tara sudah mulai jengah dengan satu sikap saudarinya itu.
tara terlihat lebih sopan dan santun dibandingkan dengan tesa yang aga melenceng mungkin tesa lebih menuruni sifat ayah nya.
lalu tara? entahlah sikap tara tak menuruni keduanya baik ayah maupun ibunya.
" apa yang terjadi padamu alona. kenapa tidak membagi masalah mu denganku?. " ucap salma yang kini sedang duduk di atas tempat tidur yang ada di rumah sakit itu karna tubuh mereka kecil jadi muat untuk berdua. dimana varo?
alvaro berdiri di samping mereka
diam dan mendengarkan percakapan keduanya.
setelah di bujuk dan di paksa akhirnya alona mau bercerita tentang kejadian yang menimpanya kemarin.
" jadi gini, kemarin pulang dari pasar setelah aku membeli bahan untuk berjualan. aku berjalan melamun karna aku lalay dan ga liat liat pas nyebrang aku keserempet trus orang yang nyerempet akunya kabur kebetulan juga jalanan lagi sepi jadi yasudah aku bangkut sendiri aku menepi trus sedikut merobek bajuku. aku lilitkan lah ke kakiku ini, karna bahan daganganku hancur jadi aku ga jualan deh hari ini. lalu bagaimana sekarang aku tidak bisa membayar rumah sakit ini." ucap alona termenung merasakan kehawatiran yang berlebih.
" tidak papa aku sudah membayar nya." ucap varo memecah keheningan yang tercipta.
alona terdiam ta berkata dan tak bergeming.
alona menatap alvaro sekejap lalu menunduk
alona merasa malu padanya sudah berkali kali alona mengabaikannya tapi dia selalu bertingkah baik pada alona.
" ma.. makasih kak " ucapnya sambil tertunduk malu ta karuan.
" nih, obat sama salepnya juga sudah aku bayar dipake yang rutin yah biar cepet sembuh, jangan banyak gerak jangan ngelakuin yang berat berat juga takut bekas jaitannya kebuka belum kering soalnya. " ucap alvaro bercerita panjanglebar seolah menunjukkan rasa kekawatirannya yang sedari tadi terpendam dalam dada.
hanya dibalas anggukan kecil dari alona.
" kamu sudah boleh pulang ko jadi kalo mau pulang ayo aku antar"
diam...
iyah alona hanya diam, alona tak sadar akan apa yang di ucapkan varo tadi.
__ADS_1
sampai salma yang menyadarkan alona dari lamunannya dengan menepuk punggung lona
" Hey..."
" hah.."
" kak alvaro sedang bertanya padamu"
" maaf ka kakak nanya apa tadi alona tidak dengar hehe " ucap lona gelagapan.
" apa kau tidak ingin pulang?"
" oh tentu saja mau"
" yasudah kalo begitu kalian pulang naik mobil ku saja nanti ku antar" salma
mereka mengangguk alvaro menuntun dan memapah alona dengan lembut dan sangat hati hati karna sekarang alona mulai belajar berjalan dengan tongkat sebab kakinya tak boleh banyak bergerak.
seakan alona mulai melunak alona ta membantah sedikitpun dia hanya mengikuti semua arahan dari alvaro.
alvaro senang karna sekarang alona sudah mau berdekatan denganya ya.. walaupaun masih ta banyak bicara.
" Bentar yah mobilnya masih di parkiran, pegel ga? mau aku gendong " lirih varo yang masih memegangi alona dengan lembut.
" mang bantuin varo dong tolong gendongin alona masuk mobil soalnya dia ga bisa naek kakinya sakit " pinta varo pada mang jo
" tidak papa mang tidak perlu alona bisa sendiri ko"
" gapapa neng sini biar mamang bantu, maaf ya neng mamang pegang " ucap mang jo meminta izin untuk menyentuh alona.
selama perjalanan taada satupun kata yang terucap dari keduanya.
salma duduk di depan bersama supir. sedangkan alona dan lavaro di belakang.
alona nampak tertidur lelap mungkin dia kelelahan begitupun dengan salma. lalu alvaro?
alvaro sedang menikmati wajah sayu alona tanpa berkedip taada yang dia pikirkan pikirannya kosong dia hanya suka memandang alona.
" lona ... lonaaa... ALONAA...!
teriak tesa dari kamarnya.
sayangnya alona belum juga sampai di rumah alona masih dalam perjalanan pulang.
" Tesa! gausah teriak teriak mau apa?
tanya tara yang merasa terganggu oleh ulah saudarinya itu.
" apaan si orang aku manggil si alona juga ish ko yang muncul malah abang"
" gaada lona belum pulang, kenapa?"
" aku mau minum suruh nenek ambilin!!
ucapnya tanpa beban.
angkuh keras ta mau mengalah dan ta mau disalahkan, iya itulah gambaran seorang Tesa!
" apa! kau bodoh ya? kau punya tangan!"
" tapi aku malas mengambilnya untuk apa ada nenek dan alona disini jika hanya jadi benalu saja menumpang makan."
" Atau... satu.. dua.. ti..
" iya iya oke aku ambil sendiri ish ribet amat si"
Tara membuang napasnya gusar lalu pergi keluar rumah. mungkin dia akan menghilangkan kejengkelan nya pada saudarinya itu dengan bermain.
di rumah salma
setelah sampai rumah, kini salma tengah termenung memikirkan tentang keadaan sahabat barunya itu.
salma berdoa seperti yang di ajarkan gurunya disekolah. kita sebagai manusia harus saling mendo'a kan untuk keselamatan dan kesehatan orang yang kita sayangi.
" sayang ko ngelamun belom ganti baju na"
ucap mama mira pada salma yang hampir menutupkan kedua matanya
" oh iya mah salma lupa, yaudah yah mah salma ke kamar dulu mau mandi trus bobo"
ucap salma sambil meraih tangan mamahnya dan menciumnya
" loh sayang ga makan dulu na"
ucap mama mirna hawatir dan bingung ta biasanya salma tidur sebelum makan
" Nantimah kalo udh bobo"
" kalo udah bobo? ih tu anak kalo ngomong ngelantur deh kalo udah bobo yah berarti tidur masa mau makan sambil tidur, makan siang di mimpi kali ah mana kenyang."
setelah memasuki kamarnya salma pun mulai membereskan peralatan sekolahnya lalu bergegas untuk membersihkan badan.
setelah selesai mandi salma mengganti bajunya dengan piama kesayangannya.
" loh mamah ko di kamar salma"
tanya salma yang kebingungan melihat mamah nya yang terduduk di kasur imut nya.
" Nih minum dulu susu nya sebelum tidur biar ga aus sayang nya mamah "
ucap mama mirna sambil merangkul sang anak dan mendudukan salma di sampingnya.
__ADS_1
" mah..."
" kenapa sayang"