Story Si Jutek Tomboy

Story Si Jutek Tomboy
BAB 13


__ADS_3

tapi sayang rumah ini terlalu megah dan mewah saking megahnya banyak penghuni yang lebih memilih tinggal terpisah dan hanya saat - saat tertentu saja bisa berkumpul layaknya keluarga.


Dengan berat hati, kupaksakan kaki ini melangkah mengetuk pintu dengan ukiran yang amat mewah dan terkesan elegan di hadapanku ini telah terpampang jelas.


Tak lama pintu terbuka secara otomatis. Yang pertama kulihat adalah ruangan yang bernuansa putih abu serta peria dewasa yang duduk santai disinggah sananya.


Mewah... itulah kesan pertama yang kulihat. Haha.. aku seperti orang asing yang baru pertama kali memasuki rumah besar dan bertingkah seperti rakyat.


Padahal aku adalah satu satu nya pewaris sah atas semua kekayaan ini.  Lah ko bisa? Nanti kuceritakan.


Ku langkahkan kaki masuk kedalam dan mengucapkan salam " Assalamualaikum.... " ucapku 


" Hmm.. duduk " jawabnya  mempersilahkan aku untuk duduk di sofa yang bergradasi putih itu


" Gimana kabar kamu? Menyenangkan? Atau sebaliknya? " tanya ayah dengan wajah datar. Ruangan ini begitu dingin, ku rasa ac yang dinyalakan terlalu tinggi mungkin pikirku.


" baik! Gausah basa basi yah langsung aja ada apa? "


"Haha... anak pintar, tidak salah pilih memang kakekmu itu. " ucapnya sambil berdiri dan perlahan mendekat padaku


" sebentar lagi kamu akan menjadi anak SMA kakek mu meminta agar kamu melanjutkan sekolahmu di Belanda, sambil belajar tentang tata cara mengurus perusahaan disana. karna sebagai pewaris keluarga pratama kamu harus mengikuti semua aturan yang telah dibuat! Kamu mengerti? "


Sejenak aku terdiam dan berfikir apa ini? Aku tidak mau, jika aku pindah maka aku akan jauh dari lona.


Seolah tau apa yang aku fikirkan ayah langsung melanjutkan kembali kata katanya. " sisa waktu yang kamu punya hanya tinggal 6 bulan setelah lulus, mau tidak mau kamu harus pindah ke Belanda. Maka dari itu pergunakan sisa waktu mu itu dan jangan sampai aku mendengar penolakan darimu hanya karna gadis miskin itu. Dan jika kamu melakukannya, jangan salahkan aku bila wanita itu tiada ditanganku! "


Apa? Ayah tau? Siapa yang memberi tau? Bodoh aku lupa dia bisa melakukan Apapun. Bahkan untuk memantauku selama 24 jam.


Iya orang yang saat ini bicara denganku adalah papaku yang kupanggil dengan sebutan Ayah. Apa cocok? Tidak tau!.


"Apa tidak ada lagi yang ingin di bicarakan? " tanyaku datar


" Tidak ada " jawab ayah singkat lalu kembali ke singgah sana nya  " Tunggu satu lagi, jangan coba coba kabur saat waktunya telah tiba karna kamu tau persis siapa yang akan menjadi sasarannya Alvaro! "


" Aku pergi " ucapku lalu Kuberi salam dan keluar dari ruangan itu tanpa menunggu apapun lagi.


" Pak Tiyo... pak tiyo... " panggilku pada supir pribadiku dulu saat aku masih kecil. Dia sangat baik padaku diapun selalu membelaku dihadapan ayah. Dan ahirnya dialah yang kena imbas dari ulahku nantinya.

__ADS_1


" saya disini tuan muda "


" Antar saya kembali " ucapku sambil berjalan menuju mobil  BMW X6 berwarna hitam legam di luar parkiran


" Baik. Mari tuan muda "


Setelah menaiki mobil tak lama pak tiyo pun melesat menuju kota yang saat ini menjadi pelarianku, lama terduduk dan melamun mataku mulai berat rasanya. Saat sudah tak bisa kutahan kututup mataku perlahan dan akhirnya akupun terlelap.


Hingga tak terasa 2jam telah berlalu, pak tiyo membangunkanku saat telah sampai di depan rumah. Kurasa ini sudah malam rasanya tidak tenang bila harus membiarkan pak tiyo pulang.


Ku ajak saja dia masuk sekalian temani aku tidur untuk malam ini.


" Yuk pak masuk! " ajakku sembari membuka pintu mobil namun masih tetap duduk di jok mobil


" Tidak apa tuan muda lebih baik saya kembali sekarang saya takut tuan besar marah jika saya pulang terlambat " jawabnya beralasan


" Saya yang ijinin. Udah ayo lagian pak tiyo juga  butuh istirahat loh, tidur disini aja dulu sebentar lagi juga pagi ko nanti pak tiyo bisa langsung pulang kalo udah pagi" rayuku pada pak tiyo


Dan terbukti sekarang pak tiyo terdiam. Mungkin sedang mempertimbangkan tawaranku. Ah sebelum dia berubah pikiran kupotong lagi kata kata nya


" udah jangan banyak aleusan. ayo pak! Nanti saya yang bilang ke ayah. Kalo pak tiyo saya suruh nemeni  saya " ucapku dengan nada khas orang bangun tidur.


" pak tiyo tidur dikamar tamu ya. Kalo mau makan kedapur aja tapi cuma ada telor sama mie instan, oh iyh satu lagi masak sendiri yah jangan manja hehe, saya mau istirahat dulu " kulangkahkan kakiku menuju kamar kesayanganku.


Kurebahkan badan yang terasa remuk ini  lalu memejamkan mataku dengan perlahan tapi ketika mataku sudah terpejam aku ingat dengat kata kata ayah.


Aku tidak mungkin meninggalkan lona, aku belum menjadikannya milikku. Bahkan aku tidak tau dia menyukaiku juga atau bahkan tidak sama sekali.


Apakah dia akan merasa kehilangan saat aku tidak ada di sampingnya lagi? Atau bahkan dia akan baik baik saja saat aku pergi? 


Tapi jika aku menyatakan perasaanku sekarang, aku takut dia akan marah dan malah menjauhiku. Rasa rasanya aku tidak sanggup untuk menerima kenyataan itu. Tapi jika aku tidak mengatakannya! ini ............


Sakit Sekali Everybodyhhhh...


Lama merenung dan tak kunjung tidur akhirnya aku memutuskan untuk membersihkan diri dan mengganti baju. Setelah selesai ku lihat jam di dinding menunjukan pukul satu dini hari.


Kuhempaskan badan dan akhirnya lama kelamaan  terlelap hingga pagi.

__ADS_1


ALVARO POV AND }


♧♧♧♧ 


" Mandi udah, makan udah, belajar juga udah waktunya tidurr cuss, etssss tapi tunggu dulu aku blom ngunci pintu " ucap wanita cantik itu dibalik kamarnya


" nah kalo udah beres semua tinggal tidur gak boleh begadang besok sekolah besok masih harus kerja semangatt" ocehnya dalam sela sela kesunyiaan


Cuaca yang dingin membuat wanita cantik itu semakin terlelap dalam tidurnya.


Hingga tak terasa pagi telah tiba. Bukan sinar surya yang menemani kali ini tapi ternyata hujan. Hujan belum mau berhenti pagi ini, nampaknya hujan rintik rintik begitu setia  menemani para manusia yang beraktivitas.


Rasa dingin yang menyeruak membuat seorang wanita cantik itu semakin enggan untuk meninggalkan kasur dan selimutnya yang begitu hangat saat ini.


Dengan susah payah lona berusaha mengangkat tubuhnya agar mau bangkit dari posisi tengkurepnya itu.


Tak butuh waktu lama lona sudah siap dengan seragam sekolahnya. Sebelum berangkat seperti biasa lona akan menyiapkan sarapannya lalu meminum susu yang telah ia buat sendiri.  Dilihatnya jam di dinding menunjukkan pukul 06 : 05 ini saat nya lona berangkat.


Lona bergegas memakai sepatunya lalu mengunci pintu dan setelah itu pergi.


Varo? Ya.. hari ini varo tidak menjemput lona seperti biasaanya, varo pun sudah memberi kabar sejak semalam varo mengirim lona pesan bahwa besok lona tidak perlu menunggunya karna varo beralasan sedang sakit dan tidak bisa mengikuti pelajaran untuk hari ini.


Tak masalah bagi lona jika harus berangkat sekolah sendirian. berhubung jarak rumah dan sekolahnya lumayan jauh, dan hari ini kelas lona ada ulangan harian maka lona memutuskan untuk menaiki angkutan umum.


Beruntung lona berangkat lebih pagi, jadi penumpang bus tidak terlalu ramai pagi ini. Bisa dibayangkan jika bus ramai maka di dalam bus lona akan berdesakan dengan penumpang lain dan membuat bajunya kusut seketika.


Duduk tenang diatas kursi, tangan diatas meja, pulpen dalam genggaman dan mata terpokus pada selembar kertas yang diberikan pak Kumis 30 menit yang lalu.


Ekspresi lona hanya datar datar saja saat memandang kertas itu dan mengisi jawabannya seolah olah tidak ada masalah dengan deretan pertanyaan yang tertulis disitu, berbeda sekali dengan teman teman nya yang lain. Justru mereka malah sibuk saling melirik dan berbisik.


Sementara di kelas lain. Tepatnya dikelas salma saat ini ia sedang tidak bisa pokus karna fikirannya terbagi dua antara pelajaran dan... seseorang.


Saat ini salma tengah melamun di dalam kelas sampai di tak sadar bahwa kini buguru serta anak anak kelasnya sedang memandang ke arah nya. Bagai mana bisa? Jelas saja sedari tadi salma dipanggil buguru unyuk menjawab pertanyaan di papan tulis tapi salma sama sekali tak bergeming sedikitpun padahal matanya terpokus kedepan.


" salma... Salma... SALMA!" Panggil buguru pada salma


Satu.. dua... hingga tiga kali buguru memanggil salma dengan lembut, namun tetap taada respon. Entah ada inisiatif dari mana satu kelas kompak meneriaki namanya barulah salma bebas dari lamunan panjangnya itu.

__ADS_1


Kini semua umat yang ada dalam ruangan menatap sebal padanya.  Bagaimana tidak ekspressi mukanya saat ini malah amat datar sedatar jalan tol. Ya... memang tidak harus kaget atau marah marah tapi ya, setidaknya gitu yakan senyumke gituh atau minimal nanyalah biar gak. Ah au deh othor juga jadi ikutan sebel deh.


__ADS_2