
" beruntung aku cepat menemukannya jika tidak, aku tidak tau lagi apa yang akan terjadi " kata Mira sambil menghela nafas berat nya.
" kapan salma akan sadar? " tanya Boy pada sang istri
" aku juga tidak tau, dari tadi dia belum sadarkan diri. pah aku tidak mau kehilangan anak kita satu-satu nya! " kata mira sambil merengek memeluk suaminya. "
sudahla tenangkan dirimu tidak akan terjadi apa-apa pada Salma. apa dia ada cerita sesuatu padamu? hingga depresinya kambuh seperti ini? " lalu menghampiri tubuh putrinya itu dan mengelus sayang wajah pucatnya yang terbaring lemah.
" itu dia, aku belum sempat bertanya padanya. tadi pagi aku ingin mengajaknya berlibur karna ini hari minggu. tapi saat aku mengetuk kamarnya ternyata tak ada jawaban dari dalam, aku sudah curiga dan ternyata benar dia melakukan itu lagi. aku pikir setelah bertahun-tahun tidak terjadi apa-apa itu artinya dia sudah sembuh, ternyata belum. " Mira bercerita sambil sesegukan. mereka memang tak pernah menduga ini akan terjadi lagi, bila dulu Salma selalu mau bercerita tentang apa yang dirasa sekarang Salma sudah dewasa semua serba tertutup dan dipendamnya sendiri, itu lah yang membuat sikisnya kembali memburuk.
" Hallo Rob, aku butuh bantuan mu lagi sekarang. bisakah kamu datang ke rumah ku? "
" ada apa Boy? sepertinya aku tidak bisa, aku sedang merawat pasien ku di negara Y aku tidak bisa meningalkannya terlalu lama. "
" tidak papa biar aku yang menyusulmu kesana, ini sangat penting aku tidak bisa menundanya! "
" yasudah kalo begitu nanti akan ku kirim tempatnya. " panggilan pun berakir.
" bagaimana pah? " tanya Mira mendekati suaminya.
" bersiaplah kita berangkat ke negara Y sekarang juga! "
" tapi bagaimana dengan Salma? dia belum sadar juga"
" kamu tidak perlu memikirkan itu, biar aku yang mengurus semuanya. sekarang siapkan saja apa yang perlu dibawa. aku pergi dulu, nanti aku akan menelpon mu "
" baiklah hati-hati "
......... tok ... tok ... tok ..
" siapa? " sahut dari dalam rumah
" paket nih mba "
" hah paket? perasaan gak pernah pesen apa-apa, nyasar kali yah? " gerutu Alona pelan sambil berjalan mendekati pintu, berniat membukanya.
" PAKEEETT! ... " teriak pria itu sambil menyodorkan kotak coklat saat pintu terbuka.
" eh ayam!!!
" prang.. prang... , suara panci yang terjatuh dari genggaman Alona. beruntung panci tersebut tidak berisi air panas, jika iya maka tamatlah wajah mereka. tetapi tetap saja lantainya jadi berantakan karna sabun dan busa yang berserakan dimana-mana. Alona sedang mencuci piring, dan lupa menaruh panci yang sedang di gosoknya, akhirnya panci itu malah ikut dengan nya melihat siapa yang datang. dan ternyata yang datang itu adalah Ananda Alvaro Pratama! pria paling menyebalkan yang pernah Alona temui. Alona berkacak pinggang melihat lantainnya yang sudah dipel dan dibersihkan sekarang malah kotor kembali hanya karna ulah manusia satu ini.
__ADS_1
" Alvaro?... "
" hehe ... pis " jawab Alvaro sambil mengangkat tangannya dan menunjukan kedua jarinya membentuk huruf V senyum yang mengembang dan gigi putih yang terpam-pang jelas tidak merubah mood Alona.
" apa kau tau hukumannya apa Ananda Alvaro? " ucap Alona menyeringai
" hehe ... ya, yah aku tau bahkan sudah sangat hafal. tapi untuk kali ini lupakan dulu hukuman dan buka lah kota ini lalu pakai barang yang ada di dalamnya. aku tunggu yah, sambil menunggu aku akan membereskan lantainya aku janji "
Alvaro membalikkan badan Alona mendorongnya pelan ke arah kamar, agar Alona segera melakukan apa yang diperintah kannya. tentu saja Alona hanya menurut. setelah selesai memakai baran yang di berikan Alvaro, Alona keluar dari kamarnya menunjukan pakaiannya.
" apa ini? "
" hei bodoh. apa kau tidak tau ini namanya baju dan itu artinya, aku membelikannya untukmu dan untuk kau pakai. apa kau mengerti? harus! " ucap Alvaro tanpa jeda.
" baiklah karna aku sudah mengepel ulang lantainya dan kau juga sudah siap mari kita cus " lanjut Alvaro menarik tangan Alona.
" eh tunggu-tunggu mau kemana? "
" jalan-jalan la ini kan hari libur apa lagi? "
" sama Salma gak? ajak Salma yah kita main bareng, pasti seru " ucap Alona berbinar.
" Salma tidak bisa ikut Alona, dia sedang berlibur ke negara Y bersama orang tuanya tadi aku sudah ke rumahnya dan art nya berkata seperti itu. "
setelah berdebat merekapun pergi bersama. Alvaro mengajak Alona berkeliling di mall terdekat. mall itu termasuk mall yang besar.
tidak - tidak, Alvaro tidak membeli apa-apa hanya berkeliling saja. karna tidak mungkin jika Alvaro mengajak Alona ketempat bermain atau membelikan sesuatu untuknya itu bisa menimbulkan kecurigaan besar bagi Alona, tentang siapa sebernarnya Alvaro.
mereka berjalan seperti sepasang kekasih yang serasi. Alvaro membeli baju cople sebelumnya dan tadi itu Alvaro menyuruh Alona memakainnya. warna baju mereka terlihat sangat cocok dengan suasana nuansa abu tua dan hitam.
sepanjang perjalanan Alvaro terus sajah mengoceh kadang memberikan pertanyaan, megajak bermain tebak-tebakan, menggombal dan lain sebagainya itu membuat Alona sangat pusing dengan tingkah sahabatnya yang satu ini selalu saja bertingkah aneh.
kadang Alona berfikir seperti apa sifat orang tua Alvaro hingga menghasilkan anak yang begitu proaktif.
" hei lihat tangan ku. aku bisa melakukan trik sulap, perhatikan dengan serius oke jangan berkedip oke aku hitung satu, dua, tiga. " ucap Alvaro lalu memutar telapak tangannya membentuk hati dengan menaruh ibu jari di atas telunjuk.
Alona membulatkan matanya kaget. menyesal dia telah menganggap sulapnya itu nyata. dengan tangannya, Alona melakukan gerakan mengambil ujung tangan Alvaro yang membentuk hati dan seolah melemparkannya ke lantai lalu menghentak-hentakkan kaki seolah sedang menginjak-injak sesuatu.
setelah melakukan itu Alona bersidekap dada sambil melirik ke arah Alvaro. Alvaro memajukan bibir nya memegang dada nya dengan satu tangan lalu membentuk sebuah simbol hati lagi tapi kini simbol hatinya ia buat dengan kedua tangannya. lalu menjauhkan tanggannya seolah menunjukan bahwa hatinya hancur.
dengan gerakan badan yang menjauhi Alona, sontak saja itu membuat Alona merasa bersalah, takut Alvaro salah paham dengan apa yang dilakukannya tadi.
__ADS_1
" aaaaaa... mau kemana? jangan ninggalin " ucap alona menahan satu lengan Alvaro
" mau pulang "
" ikuuut ... "
" hmm enggak, pulang aja sendiri "
" yah jangan marah dong kan cuma bercanda "
" siapa yang marah engga ko aku cuma ngantuk aja. jadi mau pulang "
" yaudah aku ikut pulang yah? "
" gak mau! "
" jahat banget " ucap Alona memajukan bibir nya meniru Alvaro
" loh kok jadi kamu yang marah? "
" oh iya lupa " saut Alona lagi sambil menepuk jidatnya dengan kecepatan kilat yang spontan Alona merangkul pundak Alvaro dengan sedikit menariknya ke bawah, dan ...
cup ..
satu kecupan berhasil mendarat di pipi Alvaro, sontak saja itu membuat Alvaro kaget sekaligus senang bukan kepalang.
" lagi dong, lagi dong, lagi dong " ucap Alvaro memohon pada Alona yang belum menyadari perbuatannya barusan
" gamau ah .. "
" yaudah deh gak usah ikut pulang " " eh iya iya "
Sebelum Alona mendaratkan bibirnya di pipi Alvaro, Alvaro malah terjatuh untung saja Alona masih kuat menopang beban tubuh Alvaro jika tidak mungkin saja kepalanya sudah membentur lantai Mall.
" e eh ... kenapa? " tanya Alona panik
" lemes .. " jawab Alvaro sambil tersenyum kecil menunjukan deretan gigi putihnya dan tangan yang memgang pipi
__ADS_1
" ish kirain kenapa, udah cepet bangun berat " lalu Alona menarik tubuh Alvaro untuk bangun