
Sementara itu di sisi lain
" permisi tuan muda saya pamit. Tuan besar sudah memberi saya tugas baru. jaga diri anda baik baik, saya pergi. " ucap pak tiyo seraya membungkukkan badan lalu pergi menaiki mobil bmw hitam yang dibawanya semalam.
" Baiklah kaupun hati hati. " jawab alvaro singkat padat dan jelas. Tak disangka beberapa detik kemudian varo menghentikan langkah besar tiyo. Varo mendekat dan membisikkan sesuatu.
" baik tuan muda akan saya usahakan semampu saya " sarkas tiyo lalu bergegas memundurkan mobil dan pergi. Kembali menuju ke kota.
Alvaro kembali masuk kedalam rumah lalau pergi ke dapur, kamar, kamar mandi, ruang tengah, lalu kembali lagi ke teras.
" hey sedang apa aku ini? " tanya varo pada dirinya sendiri sambil menggaruk tengkuk yang tak gatal. Kemudian Mata tajam nya melirik jam di dinding.
" oh shitt hari ini aku belum memperlihatkan muka tampan ku ini pada alona, yasudah sekalian saja jemput dia sekarang. Pasti sekarang alona sudah selesai bekerja." Lirih varo dan pergi berlari ke belakang mengambil sepeda kesayangan nya.
Akhirnya alvaro pun sampai di depan coffe ka ririn.
Saat mereka bertemu ekpresi alona tidak sesuai dengan yang diinginkan alvaro. Bahkan alona juga tidak menanyakan kemana pergina alvaro pagi tadi.
Kesal tentu saja alvaro sangat kesal tapi bukan alvaro namanya jika langsung menyerah begitu saja. Alvaro bertekad memutarbalikan keadaan sehingga alona lah yang nantinya tak akan bisa jauh jauh darinya.
" lihat lah dirimu begitu tampan mapan rupawan dan hartawan " ucap pria ini dengan bangganya menatap pantulan diri dalam cermin.
" hey alona grizella mayasari aku yakin kamu tidak bisa menolak pesonaku ini. Tapi sayang waktuku hanya tinggal sedikit lagi, aku tidak boleh menyia-nyiakan itu aku akan menciptakan kenangan yang indah bersamamu hingga saat kepergianku tiba, aku bisa membawa hatimu ikut pergi bersamaku. Kamu hanyalah milikku dan hanya akau tidak boleh ada yang lain. " Ucap nya menyunggingkan bibir. Setelah tersadar cepat cepat ia menyambar tas sekolahnya dan bergegas pergi.
__ADS_1
Nampak para siswa siswi sudah banyak yang berkeliaran disekitaran sekolah beberapa menit lagi bel sekolah akan berbunyi.
"Alona... " panggil seseorang dari kejauhan
Alona celingukan mencari sumber suara yang memanggilnya.
" Hey tidak kah kau merasa rindu padaku? Hm." Tanya salma pada alona. Tanpa permisi pun salma langsung mendudukan diri tepat dihadapan alona.
salma yang selalu Ceria membuat bidup salma berubah salma menebar senyum di kehidupan hampa alona. seiring berjalannya waktu alona mulai sedikit terbuka tapi baru hanya pada salma saja.
"Berhentilah berbasa-basi denganku kamu punya hutang penjelasn padaku. Beberapa hari ini kamu sungguh terlihat aneh kamu seperti sedang menjauhi ku apa tebakan ku benar?" ucap alona to the point.
Deg..
Rasanya seakan jantung salma berhenti, bagai mana bisa alona menebak dengan begitu tepat.
Lama tak ada jawaban dari salma, alona mengangkat kepalanya perlahan berusaha menatap orang yang diajak nya bicara. jari jari alona yang semula mengaduk ngaduk jus alpukatnya kini telah berhenti. Fokusnya beralih pada salma yang menatapnya dengan senyum mengembang.
" ya tebakan mu benar, aku sengaja melakukan itu. karena mood ku sedang tidak baik waktu itu. jadi aku ingin melampiaskannya pada musik dan hal hal lain yang aku suka tanpa membuat onar. Jadi aku tidak mau ada yang mengganggu termasuk kamu." Jawab salma dengan santai lalu meneguk minuman yang telah dipesannya tadi.
Perlahan alona mengangguk - nganggukan kepala tanda bahwa ia menerima alasan dari salma " lalu tentang hukuman mu di lapangan?" tanya alona lagi.
"Hahahaha... kau tau?" Salma tertawa terbahak bahak mengingat kejadian kemarin. Bodoh! ya dia merasa sangat bodoh dengan hal itu.
__ADS_1
"Ada apa? Apa pertanyaaku salah?" Tanya alona polos.
"Tidak! Apa Kau tau? kemarin aku sangat sial. aku dikeluarkan dari kelas dihukum mengelilingi lapangan dan akhirnya aku bertemu dengan pria aneh lalu berakhir dengan aku pulang diantar pria itu" fikiran salma menerawang jauh mengingat kembali kejadian kemarin.
"Kau tau? Aku tidak mengetahui siapa nama pria itu. Pria itu sangat aneh. tapi jujur... dia sangat tampan dan perhatian. Namun sangat di sayangkan. aku tidak menyukainya!" lanjut salma tersenyum miris.
Alona mendekatkan wajahnya dengan tersenyum manis sambil menopang dagu dengan kedua tangannya.
" ah ternyata sahabat tercinta ku ini sudah memiliki tambatan hati rupanya. Apa kau akan menyembunyikannya dariku? Cepat katakan siapa orangnya. Siapa yang berhasil meluluhlantakan benteng seorang Salma." Ucap alona diakhiri dengan kekehan renyah.
Mereka berada di kantin sekolah saat ini menikmati santapan siang sambil berbincang dan melepas rindu. Walaupun mereka jarang bertemu karna berbeda kelas tapi mereka akan menyempatkan waktu untuk bertemu.
Alona sangat sibuk dengan pekerjaan juga beberapa olimpiade yang ia ikuti dan juga kejuaraan serta perlombaan yang menantinya tapi dia berusaha tenang dan mengatur waktunya dengan baik. Alona tidak begitu unggul dalam bidang akademik tapi dia bukan berarti dia jadi tidak mau mempelajarinya dengan tekun.
Salma berbeda dari alona dia pintar meskipun hanya membaca sekilas dia akan ingat sampai kapanpun jika alona tekun maka dia adalah kebalikannya dia pemalas tapi bisa jadi juara umum aneh bukan.
" Dorr..." ucap alvaro sambil menoel bebarengan pipi kedua gadis yang tengah berbincang hangat itu.
Yang di toel hanya melirik kompak sekilas, lalu kembali mengobrol seakan tak terjadi apa-apa.
" Yah kok gitu si..." ucap Alvaro memanyunkan bibir. Berpura pura merajuk karna tak ditanggapi lalu bersidekap dada dengan posisi duduk.
" Siapa?" tanya Salma
__ADS_1
" kan tadi ak..." jawab Alvaro
"Yang nanya!" Potong Alona