
*Kau Berada Disampingku Saja Sudah Cukup Banyak Membantu~.
○○○○
kini di ruang tengah yang biasanya sunyi menjadi ramai, ramai dengan suara tangisan tesa teriakan nek asih dan amarah Deri. Deri kesini ingin bertemu wening karna ingin meminta uang sebab uangnya habis.
Deri datang dengan keadaan yang mengenaskan. dengan jas yang diseret seret tangan kirinya kemeja yang dipakaipun sangat lusuh muka pucat pasi badannya pun berbau alkohol entah berapa tegukan botol yang deri habiskan hingga membuatnya seperti orang gila.
kini ia sedang mengamuk pada kedua anak nya.
dan ta henti hentinya berteriak memanggil nama wening, keributan dan kebisingan yang terjadi bukann ta didengar warga sekitar hanya saja taada yang berani menghampiri karna, siapapun yang ikut campur urusan deri habislah mereka babak belur. bukan karna deri yang menghadapi mereka sendirian tapi selalu ada teman bayaran deri yang membantu dan jumlahnya tak main main banyaknya.
nek asih datang dari arah dapur seketika nek asih tersentak kaget melihat deri yang amat sangat murka dan memaksa anak anak nya untuk ikut dengannya. karna wening ta kunjung datang, deri berinisiatif untuk menjadikan anak anak nya pengemis jalanan mencarikan uang untuk kesenangannya. huff sungguh inisiatif yang buruk dan tidak patut ditiru.
jelas saja tara dan tesa menolak ditambah lagi dengan tampang seram deri yang bertato itu. sontak tangisan keduanya pun tak terbendung lagi mereka menjerit jerit dan memohon agar tidak dibawa pergi, namun sayang usahanya sia sia
nek asih pun tak henti hentinya berteriak dan memberi nasehat pada menantunya itu namun bukannya luluh emosi deri malah semakin tak terkendalikan.
"cukup nak cukup kasihan anak anak mu, lihatlah mereka sangat ketakutan" ucap nek asih sambil memegangin tangan tesa dan tara yang berusaha ditarik deri. tangan tesa dan tara pun ta melepaskan pegangan sang nenek mereka eratkan pegangan itu
" Halah aku tak peduli. mereka harus menuruti kemauanku apakah kalian ingin menjadi anak DURHAKA HAH!" ucap deri lantang mendekatkan wajahnya pada kedua putra putrinya
deri duduk bersimpuh dihadapan keduanya dia berusaha mensejajarkan tingginya dengan mereka tangan kanan nya mengusap air mata tara dan tangan kirinya mengusap air mata tesa dalam hitungan detik usapan itu berubah menjadi cengkraman yang menyakitkan untuk keduanya, semakin lama rasa sakitnya semakin menusuk dipipi tesa dan tara
"Dengarkan aku baik baik, menurutlah dan jangan membantah! mengerti?" ucap deri dengan penuh penekanan disetiap kata kata nya. dengan amat sangat terpaksa tara dan tesa mengangguk tanda pasrah. deri menghempaskan kedua pipi lembut itu dengan kasar kesembarang arah untunglah kepala mereka tidak terlepas dari tempatnya.
Deri kembali menyeret mereka menuju jalan raya. namun sebelum deri berhasil membawa mereka, dari arah berlawanan terlihat seseorang berjalan mendekatinya dengan tergesa gesa dan...
plakkk.. plakk
dua tamparan berhasil mendarat dipipi kanan dan kiri deri. namun baginya itu ta terasa sama sekali, senyum miring tersungging di bibirnya nampak sangat jelas bahwa ia sangat meremehkan tamparan itu.
" haha.. akhirnya pulang juga lo, tapi sayang lo terlambat. awas gue mau bawa anak anak gue pergi dari sini" ucap nya sambil diiringi tawa. tak menyerah sosok wanita yang menamparnya mengambil alih anak anak nya dari genggaman Deri.
" enggak ini anak ku bukan anak mu! ingat itu. mereka tidak akan pergi kemana mana, rumah mereka disini! dan satu lagi mereka tidak punya ayah sepertimu" ucapnya dengan penuh penekanan. tesa dan tara pun memegang erat lengan ibunya siapa lagi kalo bukan bi wening.
" yaudah gue juga kagak mau punya anak yang gak guna kaya mereka!. oke gue ga bakal bawa anak lu tapi bagi gua duit mana" seru deri sambil merebut tas istrinya itu, bi wening hendak mencegahnya namun apalah daya jika tenaga deri lebih besar dari wening.
" wow ternyata banyak juga yah duit loh haha... ngelacur dimana lo. tapi bagus lah sering sering yah" seru deri mengambil alih seluruh uang yang ada di dompet bi wening. hanya tersisa beberapa lembar uang pecahan 10 dan 20 ribu saja sisanya ludes dibawa deri. kejam! yah memang akal sehat yang dimiliki deri sepertinya sudah lenyap dimangsa ego.
setelah kepergian deri. bi wening memeluk kedua anaknya erat seolah taingin melepas sampai kapanpun. soal uang memang bisa di cari tapi anaknya tida bisa diganti.
kini bi wening menangus dengan pilu yang membuat tangisnya pilu bukanlah karna uangnya yang di ambil tapi kata kata deri yang begitu menusuk.
umur deri dan bi wening memanglah masih muda deri sekitar 25 tahunan dan bi wening 27 tahunan hanya selisih 2 tahun saja. namun entah mengapa nafsu birahi deri tapernah cukup hanya pada satu wanita. entah memang sudah menjadi takdir atau mungkin faktor kejiwaan.
•••🥀🥀🥀•••
Tak terasa 3 tahun Telah terlewatkan berbagai cobaan,Rintangan kesulitan dan kebahagian telah dilewati dengan baik oleh masing masing insan.
Matahari telah terbit tanda cahayanya telah siap mengiringi setiap aktivitas makhluk bumi. kendaraan sudah berlalu lalang di jalan, bunga bunga nampak bermekaran penuh gembira.
sosok wanita cantik yang kini berada tepat di hadapan cermin. sedang menyisir rambutnya yang terurai dan diambah sedikit poni, berbalutkan seragam SMP dengan rok selutut yang dipadupadankan dengan sepatu sneaker hitam putih diatas mata kaki serta kaos kaki hitam selutut yang dikenanakanya terlihat sangat manis ditubuhnya. mungkin dia tengah bersiap siap menuju sekolahnya.
__ADS_1
drt... drt... drt...
suara dering telpon yang masuk dari "Alvaro pratama. yah itulah yang pertama tertertulis di layarnya.
Setelah Lona mengangkat telphone nya suara lembut nan merdu terdengar dari balik telphone.
"Hallo embul udah siap? koko di depan yah" ucap varo lembut di balik telphone. yah itu adalah panggilan varo untuk lona selama dua tahun terkahir. tapi sampai sekarang hubungan mereka hanya sebatas sahabat. saya ulangi hanya sebatas s-a-h-a-b-a-t! tidak lebih dari sekedar itu.
tak menunggu lama lona keluar dari kontrakan kecilnya dan menghampiri varo
" pagi koko... " sapa lona dengan senyuman yang paling manis yang dimilikinya. lalu menaiki sepeda varo talupa pegangannya adalah pundak varo.
" pagi juga embul, ah manisnya senyum mu sering sering ya. soalnya itu sarapan pagi koko haha.." goda varo pada lona sambil terkekeh geli dengan ucapannya sendiri. blush seketika pipilona memerah, untung saja varo tak melihatnya jika varo melihat itu maka varo akan menjutkan aksi menggodanya sampai lona tak sanggup menahan malu karna godaannya.
kini lona tinggal di sebuah kontrakan. dia tinggal sendiri disanah karna dulu bi wening sempat mengusirnya dari rumah. sejak saat itu lona mulai menata masa depannya lona berjuang sendirian kala itu. sampai pada saat lona bertemu dengan seseorang yang membantu lona dalam segi keuangan hingga kini lona masih bekerja padanya meskipun upah yang diberikan tak seberapa, tapi cukup untuk makan sehari hari. lona memang belajar sambil bekerja, namun situasi itu tak pernah membuatnya putus asa apalagi sampai menyerah justru lona makin bersemangat menjalani hari harinya.
Beruntunglah ada Varo dan salma yang setia menemaninya baik dalam keadaan senang maupun sedih. sejak saat itu varo selalu berangkat dan pulang bersama lona
menggunakan sepeda nya. Mengikuti kemanapun lona pergi, dan mengantar lona kemanapun lona minta. itu adalah salah satu hal kecil yang sudah biasa vari lakukan pada lona dan hanya pada lona.
tanpa sadar mereka menggoreskan luka pada hati seseorang yang bahkan merekapun tak tau jika ia terluka. sungguh hanya karna ikatan persahabatannya yang membuatnya bungkam tak berkata dan ta bertindak apapun saat ini dia hanya mampu menahan dan menutupi rasa sakitnya itu agar persahabatannya tetap baik baik saja!.
•••♧•••
Gerbang sekolah masih terbuka dengan lebar waktu menunjukan pukul tujuh lewat duapuluh sembilan.
Alvaro tengah menyimpan speda kesayangannya dengan rapi di parkiran sekolah.
Varo melingkarkan sebelah tangannya di pundak lona, berjalan melewati gerbang lapangan dan koridor hingga sampai di kelas [9.5] sontak saja itu membuat seluruh siswa siswi yang melihatnya iri takaruan.
Lona belum mengetahui latar belakang varo seperti, siapa varo darimana asalnya siapa orang tuanya dimana ia tinggal dan seperti apa kehidupannya. Varo benar benar merahasiakannya entah untuk apa lona pun tak pernah menanyakannya karna takut menyinggung perasaan varo.
Lona, varo dan salma masuk di smp vaporit kalo salma dan varo jelas mereka masuk dengan jalur prestasi varo di bidang olahraga dan salma di bidang akademik sedangakan lona masuk dengan jalur 100 persen beasiswa gratis tak berbayar selama menjalani 3 tahun pendididkan di smp karna memang kepintaran lona sudah tidak diragukan lagi.
Bagi lona Beasiswanya saat ini sangat membantu kehidupannya yang sekarang.
•••
" Hey lona... ko tumben si lama banget datengnya biasanya juga paling pagi huff, ampe kurus kering aku nunggu kamu dateng, kirain kamu ga masuk sekolah" ucap salma menghadang lona yang masih di ambang pintu masuk. Raut wajah yang susah diartikan ini membuat lona mengerutkan alisnya "Lebay" itu varo yang bilang tapi dalam hati hehe gak berani dia takut dijambak abis sama si salma haha.
"Ah salma kebiasaan deh suruh masuk dulu ke kasih aer dulu gituh baru dateng juga. haha berasa seleb dadakan aku jadinya" saut lona terkekeh merangkul varo dan salma menuju ke meja paling belakang meja pavorite ketiganya
"Biasalah!." Teriak varo dihadapan salma. Daaan 1..2..3
Plakk...
" Gila... anak manusia lo hah. Jantung gue tuhan. untunglah ini ciptaan mu jika bukan mungkin sudah tidak berada ditempatnya lagi sekarang" cerocos salma sambil mengelus ngelus dadanya. Tamparan salma mendarat dengan mulus di pipi kanan varo. Lona yang menyaksikan hanya menahan tawa sekuat tenaga kedua temannya ini memang sudah kelewat abserd.
Salma yang tadinya duduk di atas meja melonjak berdiri dari tempatnya karna teriakan dadakan dari varo. Hmm mereka klo udah berantem dikasih waktu 24 jam kurang kayanya yah.
" Tega banget lo sal ama gua huaaaa. Embul si salma jahat banget sama koko tolongin " varo memelas menunjukan muka sok imutnya pada lona up sorry ralat memang kelewat imut!.
" lu cowo? Beraninya ngadu mulu sapenya lona luh anak nye hah? Udah lon jangan di belain lon emang kangen siksaan gue ni anak sini loh" omel salma yang ngelantur kemana mana
__ADS_1
" apaansi apaan lo ngomong sama siapa, emang ada yang ngajakin lo ngomong?" Ledek varo yang sedang bersantai menyandarkan tubuhnya pada meja
"Aaaawwww.. awww. Aw.. sakit kampret" ucap varo mengaduh kesakitan merasakan jeweran salma
" Rasain nih rasaiiiiin enak kan enak hah enak mau lagi nih gue tambahin eeuuuh rasain loh" ucap salma menguatkan jewerannya sekuat tenaga. Hingga telinga varo hampir copot dibuatnya. Kalau saja pak iwan tidak menghentikan pertengkaran itu mungkin besok pagi baru selesai.
" ehem salma! Alvaro! kalian jangan pacaran terus... kembali ketempat duduk kalian kita mulai pelajaran bapa" ucap pak iwan yang diiringi tawa seisikelas.
"Huuuuwwww" suara sorak sorai seisikelas
"pepet trus varr..." ucap beberapa murid laki-laki dibarisan depan
"Berisik. kangen jeweran gue hah" ucap salma ngegas. entah kenapa tiba tiba sekarang mukanya memerah menahan malu. hahmalu? malu kenapa sal acie cie salma.udah dieum ah lanjut lanjut
•••••••
seorang insan kinih tengah terduduk diantara dua sujudnya menunaikan kewajibannya pada sang pencipta. memanjatkan doa serta memohon apun dan meminta petunjuk pada yang maha kuasa atas segala permasalah dunia yang fana ini.
derasnya hujan seolah mendukung suasana pilu di dalam kamarnya saat ini.
"hari-hariku bergelimang dosa, semoga tuhan tetap sudi mengampuninya.
segala penyesalan ini kuserahkan kepadamu tuhanku, engkau yang memiliki segalanya, aku sungguh tak punya kuasa.
kulampiaskan seluruh penyesalan ini pada doaku, tempatku berserah pada hidup, dimana Tuhan telah mengatur semua baik dan buruknya.Aku telah membiarkan diriku larut pada dosa, hukum aku tuhan, aku akan menerimanya.Tak bisa kutahan lagi tangis ini, penyesalanku pada kesalahan, penyesalanku pada segala nikmat yang telah tuhan berikanTerkadang harus kupandangi baris gunung dan hamparan luas lautan, agar terbentang luas juga penyesalanku atas segala karunia yang telah tuhan ciptakan.Matahari tak pernah menyesal telah menyinari bumi, sebab ia bermakna, setidaknya aku juga harus memberi arti juga kepada sesama dan kepada yang maha pencipta.Aku berserah padamu tuhanku dari semua salah dan kealpaan ini, aku pendosa dan Engkau maha pengampun segalanya.
Sesalku kepada tuhan adalah yang senantiasa aku doakan, semoga alam semesta ini pun juga ikut mengaminkan.
Penyesalanku dalam hidup ini jika dalam beribadah masih ada setitik niat yang itu tidak kutujukan padamu." pintanya pada yang maha Esa dengan diiringi sesegukan penyesalannya tapernah hillang sampai sekarang meskipun semua sudah berllalu bertahun tahun. entah kesalahan apa yang membuatnya begitu terpukul tangisan yang pilu ikut terlarut dalam derasnya hujan.
panggilan seorang anak perempuan meleburkan lamunanya. segera ia rapihkan sajadah dan mukenanya lalu bergegas menghampiri sumber suara itu.
" mah... mamah dimana salma pulang." ucap salma menaruh tas di kursi lalu pergi menuju dapur mengambilkan minum
" iyah sayang sebentar mamah di kamar " teriak mamanya dari dalam kamar
" Eh ada alvaro, sama alona tante kangen loh sama kalian udah lama kalian gak maen maen lagi kesini" ucap mamah salma pada varo dan lona
entah apa yang diperbincangkan tapi hampir saja mereka kebablasan karna saking serunya bercerita untung saja salma mengingatkan mereka akan tujuan awal mereka kesini ya.. bukannya apa apa si tapi kalo ga diingetin nanti si lona ngamuk kan berabe tu anak kan paling disiplin huff.
.
.
.
.
Hai readers maap ya aku telat up baru isi kuota soalnya. nih aku bawa chapter 8 yang panjang banget semoga puas ya sama ceritanya. ya walaupun ini cerita receh dan gj hehe
aku mau ngucapin makasih nih buat yang udah like comen sama vote dan kasih aku dukungan makasih banget aku seneng banget sama respon kalian atas cerita aku😍😁
makasih juga buat yang setia baca dan nungguin kelanjutan dari cerita ini pokonya thanks banget.
__ADS_1
samapai ketemu di chapter selanjutnya...