
Di rooftop
" huh... capek banget. Padahal tu anak pake rok tapi ko cepet banget larinya? gila, untung gue sering fitnes. ah berguna juga ternyata." Ucap Alvaro sambil berjalan ke ujung rooftop mengatur nafas.
" jadi.. lo suka sama yang mana? " ucap seseorang dibelakang Alvaro.
Alvaro menoleh ke belakang memastikan siapa orang yang berada di belakangnya.
" maksud loe? "
" gue yakin loe cukup pintar buat ngerti kata - kata gue barusan " ucap pria itu mengangkat kedua alis tebalnya.
Alvaro memutar kembali kepalanya menghadap ke depan membelakangi lawan bicaranya.
" to the point bisa kan? Males mikir " ucap Alvaro
" Salma! " ucap pria itu santai
" Gue suka Sama Salma " lanjutnya lagi.
Sejurus kemudian Alvaro membalik kembali posisinya menjadi menghadap lawan bicaranya. Alvaro merasa tertarik dengan arah pembicaraan ini. Alvaro mulai mengerti maksud dari pria ini.
" Kalo gue suka sama kedua duanya gimana? "
" Gue rebut salah satunya. Dan orang yang gue rebut haruslah orang yang paling loe sayang biar impas, Sama sama hancur. Benar? "
" Tapi sebelum itu terjadi loe bakal tewas duluan gimana? "
" Kita buktiin ucapan siapa yang nyata!"
" Hahaha.. Bagus bagus gue suka gaya loe " kekeh Alvaro pelan lalu menepuk pundak pria itu.
" Perjuangin Salma, gue titip dia sama loe, Gue percaya sama loe. Tapi jangan Alona, dia urusan gua, dia punya gua kalo ada yang nyentuh dia seujung kuku pun. Jangan harap bisa pulang ke rumah dengan selamat. "
" Semoga berhasil gua duluan. " lanjut Alvaro menepuk pundak Bima lalu meninggalkan Bima disana.
" Sal mau pulang bareng gak? " ucap santy
" Oh engga dulu deh gue Sama Alona. loe duluan aja! "
__ADS_1
" Oh oke deh. Gue duluan yah "
" iya hati - hati di jalan sant "
" siap " ucap santy mengacungkan jempol.
Salma mengayunkan langkahnya perlahan menuju kelas Alona yang terletak di langai bawah depan lapangan. Dari kejauhan Salma melihat siluet Alona yang baru saja keluar dari kelas nya Salma memutuskan untuk berlari kecil agar cepat sampai di hadapan Alon.
Tinggal beberapa langkah lagi Salma sampai di depan Alona tapi langkah nya terhenti kala seorang pria yang lebih dulu sampai di hadapan Alona dan memeluknya erat.
Sakit.
Ya. itu yang Salma rasakan saat ini.
Tubuhnya bergetar menahan air matanya agar tidak keluar dari tempatnya menatap dua orang yang dia sayangi begitu dekat dan mesra. Salma segera membalik tubuhnya dan berlari ke arah pintu gerbang.
Kenapa? Kenapa yang jadi saingannya haruslah Alona? Apakah tidak ada yang lain selain sahabatnya?.
" Hey untuk apa kau memeluk ku? " tanya Alona tanpa memberontak sedikitpun dari pelukan Alvaro.
" Aku merindukanmu mbul. Kau jahat! apa kau tidak merindukan ku juga? " tanya Alvaro yang mulai melepas pelukannya
" Tidak "
Tangan Alona bergerak mendekati rambut Alvaro dan perlahan merapikan helaian demi helaian rambut yang sedikit berantakan itu. Alona menatap lekat pria yang ada di hadapannya saat ini. Gemas ya Alona sangat gemas melihat Alvaro yang selalu merajuk.
" Oke. hari ini aku ingin membawamu ke suatu tempat. " ucap alvaro mengambil alih tangan alona. Sekarang tangan alona sudah bearda di dalam genggaman Alvaro.
" tap.. " ucapan alona terpotong oleh Alvaro
" Tidak ada penolakan lagi Alona. Aku tau hari ini kau tidak bekerja dan jangan membuat alasan lagi! Kau mengerti?. "
" baiklah - baiklah aku mengerti. Jadi sekarang kau mau membawaku kemana? " ucap Alona sambil tersenyum sangat manis.
Alvaro menuntun tangan Alona membawanya ke area parkiran bawah. Alona sedikit kebingungan namun dia masih diam dan mengikuti kemanapun Alvaro membawanya saat ini.
Sampai Alvaro menyuruhnya untuk segera menaiki speda motor yang kini sudah ditumpangi oleh Alvaro.
" loh, ini motor siapa Co? " tanya Alona yang masih bingung dan terus saja memperhatikan motor itu. Motornya tidak baru karna terlihat dari body motor yang sudah banyak goresan kecil.
__ADS_1
" Kamu ngapain si pake sewa - sewa motor segala? Udalah kita naik speda kamu aja yu lebih irit tau." Ucap Alona memberikan saran pada Alvaro dengan polosnya.
Alvaro hanya memberikan kekehan kecil untuk Alona dan mau tak mau Alvaro harus memaksa Alona naik terlebih dahulu baru nanti bercerita.
Akhirnya setelah diberikan pengertian Alona mau menaiki speda motor yang ditumpangi Alvaro itu.
Alona melingkarkan tangannya di perut Alvaro tentu saja atas titah sang pemilik tubuh. Perlahan Alvaro menceritakan bagaimana cara dia mendapatkan motornya itu, walaupun tidak baru tapi itu lumayan untuk menghemat waktu saat ingin berangkat kesekolah.
Sepanjang perjalanan pun Alona hanya mengangguk ngangguk kan kepala tanda bahwa dia mendengarkan semua yang Alvaro ucapkan padanya.
Sepanjang perjalanan pul senyuman pun tak lepas dari wajah keduanya. Mereka tampak memikmati perjalanan. setiap hal yang mereka lewati pasti membuat tawa keduanya pecah.
" wow keren banget pemandangannya " Alona begitu antusias melihat hamparan pasir dan air yang begitu menggoda mata. Saking senangnya Alona meninggalkan Alvaro di parkiran dan berlarian kecil menghampiri pinggiran dermaga.
" Ayo " ucap Alvaro yang entah sejak kapan sudah berada di belakang Alona.
" Kemana? "
" Naik itu " tunjuk Alvaro pada perahu kecil yang sudah di siapkan di depan mereka.
Awalnya Alona ragu - ragu, akan tetapi Alvaro sangat memaksa sekali akhirnya Alona pun mengikuti keinginan Alvaro untuk menaiki perahunya.
" kamu suka? " tanya Alvaro pada Alona yang sibuk memandang laut lepas.
Kini mereka berada di tengah laut dengan beberapa orang yang mengendalikan perahu kecil itu.
" yah aku sangatt suka" jawab Alona tersenyum manis.
" Cantik! "
" ya pemandangannya sangat Cantik " jawab alona lagi tanpa menoleh pada Alvaro yang kini sedang menatapnya begitu lekat.
" Bukan! "
Baru Alona menoleh pada Alvaro karna bingung dengan jawaban Alvaro
" Bukan. yang Cantik bukan pemandangannya tapi Kamu." Lanjut Alvaro lagi. beberapa detik tatapan mereka bertemu jantung Alona serasa ingin melompat dari tempatnya.
Blush
__ADS_1
Pipi Alona memerah seketika
" Setelah ini apa kita akan menemukan Makanan? aku merasa sangat lapar."