
" Setelah ini apa kita akan menemukan Makanan? aku merasa sangat lapar."
Alona berusaha memecah kecanggungan yang ada. Alvaro bersimrik melihat pipi Alona yang memerah dia tau Alona sedang merasa malu.
" Kau pandai menghindar ternyata. Baiklah baiklah aku akan mentraktirmu juga hari ini, dan bersiaplah untuk hari hari berikutnya karna aku punya misi rahasia..."
" Tapi sekarang kita naik perahu itu dulu oke! " Alona tidak begitu menanggapi perkataan Alvaro barusan. Dia terlalu fokus menetralkan debaran jantungnya. Alona hanya mengikuti langkah Alvaro dengan patuh dari belakang.
" Apa kau takut? " tanya Alvaro. Kini mereka duduk berhadapan di atas perahu kecil yang dinaikinya.
" Tidak " jawab Alona cepat sambil berpegangan pada bagian perahu.
Tentu saja itu membuat Alvaro terkekeh kecil. Alona sangat lucu kenapa dia harus berbohong padahal dari raut wajah nya saja sudah terlihat kalau dia sedang waspada.
Alvaro berdiri melangkahkan kakinya ke ujung perahu sontak saja itu membuat perahu bergoyang karna ada pergerakan
" Varo! " teriak Alona mengelurkan tatapan sangarnya karna merasa kaget dengan guncangan perahu kayunya.
Lama - kelaman perlahan Alona mengikuti arahan dari Alvaro, Alona mulai berani memegang air saat perahu berjalan. Mereka terus tertawa dan bercanda tak jarang Alvaro mengeluarkan kata - kata manisnya untuk membuat pipi Alona memerah.
" Alona coba lihat sini aku akan memotret mu "
" akh tidak mau, pasti sangat jelek "
anggap saja itu hasilnya :v
" tidak ini bagus ayolah, sekali lagi! "
Dua jam telah berlalu...
Alvaro menarik tangan Alona lembut menaiki motor membawanya menembus jalanan kota yang sangat padat. Mereka berada disebuah lestoran yang cukup mahal. Alona dan Alvaro masih menggunakan seragam Sekolahnya.
" Varo apa kau serius? Makanan disini sangat mahal - mahal Alvaro aku tidak mau makan disini aku takut tidak bisa membayarnya kita pergi saja yu, kita cari makanan pinggir jalan saja..." ucap Alona berbisik pada Alvaro sambil menutup samping kirinya dengan buku menu.
" Haha... tenang saja Alona aku yang akan membayarnya. Kau tinggal menikmatinya saja dan pesan apapun yang kamu inginkan aku traktir."
" Tapi ini sangat mahal Alvaro nanti uangmu habis bagaimana? Aku tidak mungkin menggantinya."
" Kau mau pesan atau tidak?"
" Tidak mau kita pergi saja! Ayo"
" Baiklah "
__ADS_1
Alvaro melambaikan tangannya pada pelayan di restoran. Tak lama salah satu pelayan menghampiri mereka.
" ada yang bisa saya bantu mas, mbak? "
" mbak saya pesen Tenderloin nya dua, jus alpukat satu, jus mangga nya satu, sama satu lagi tolong bungkusin Rib eye nya satu yah. Terima kasih mbak"
" Baik ditunggu sebentar ya pesanannya " ucap pelayan itu dengan ramah. Setelah mencatat pesanan pelayan itu bergegas pergi menyiapkan makanan yang dipesan.
Alona tidak bodoh walaupun dia blum pernah makan di lestoran atau pun mencicipi daging stek Alona tau harga dari stek yang dipesan Alvaro walaupun tanpa melihat buku menu.
" Alvaro kamu apa - apaan sih katanya tadi Ayo. Ko malah pesen makanan sih? Mana kamu pesen yang mahal lagi "
" iya maksud aku Ayo tu Ayo makan. Bukan ayo pulang. Udah kamu tenang aja aku gak bakal bikin kamu cuci piring di dapur ini ko. Kan aku udah bilang biar aku yang bayar." Ucap Alvaro sambil ter kekeh kecil.
" iya tapi kamu dapet uang dari mana? Mending uangnya ditabung aja. Daripada dipake buat hura hura kaya gitu " ucap Alona mulai merendahkan suaranya.
" iya.. iya maaf, sekali ini aja ko janji deh gak akan hambur - hamburin uang lagi beneran deh piss yah? ..." jawab Alvaro mengangkat kedua jarinya membentuk huruf v dengan senyum yang mengembang seakan Alvaro tau dengan suasana hati Alona yang mulai berubah.
Setengah jam kemudian pelayan kembali, dan menghidangkan makanan yang dipesan.
Mau tak mau Alona harus menghabiskan itu, sayang jika hanya dibiarkan begitu saja lagi pula Alona merasa sangat lapar hari ini.
Pria di hadapan Alona itu telah menghabiskan makanannya sejak lima menit yang lalu kini pria itu sedang menatapnya dalam - dalam, dia sedang memperhatikan setiap inci dari wajah Alona.
Alona sadar dengan tatapan Alvaro itu, dia semakin memfokuskan diri agar cepat cepat menghabiskan makanannya. Sampai - sampai Alona tidak sadar bahwa kepalanya semakin mendekati makanan bahkan hidungnya pun hampir menyentuh saus, untung saja Alvaro segera menangkup pipi alona dan membuatnya kembali duduk dengan benar.
" kamu ini kenapa? Harusnya makanan yang menghampirimu bukan mulutmu yang menghampiri makanan hahahha kau sangat lucuu." ucap Alvaro masih membiarkan tangannya menangkup pipi Alona.
" Kalau aku tidak mau bagaimana? "
Bukannya melepaskan Alvaro malah mencubit kedua pipi alona hingga memerah dan membuat sang empuk meringis perih.
" arghhh sakiiitt varo! Lepaskan kau tidak melihat tanganku sedang memegang pisau? Apa kau bosan hidup aku bisa saja membunuhmu."
" Hey! Darimana kau belajar itu? "
" Kau pikir darimana memangnya? Kalau bukan darimu!"
" Kapan? "
" Hey sejak kecil jika aku diganggu orang lain maka kau akan datang dan mengatakan "aku bisa saja membunuhmu" begitu lalu mereka akan pergi. Jadi aku juga mengikutimu dan terbukti kau melepaskan aku. "
Hari ini mereka benar - benar tertawa lepas.
" Re.. Lo kenapa? Ayo, kodieum ada yang ketinggalan? "
" Ah iya gue mau ketoilet dulu yah lo tunggu di mobil aja. sebentar ko yah yah "
__ADS_1
" oke, jangan lama - lama! "
Gadis itu melangkahkan kaki jenjangnya menuju ke meja tempat Alona dan Alvaro dan ...
Byurrrr
Air berisi es itu meluncur dengan mudahnya dan mendarat dengan sempurna di baju Alona, kini seragam yang dipakainya basah kuyup. walau tidak semua, tapi itu cukup untuk membuat bagian tubuh Alona sedikit membentuk.
Alvaro membelalakan mata kala melihat kejadian barusan Alvaro tidak menduga akan ada kejadian seperti ini.
Dalam beberapa detik tidak ada yang bergerak ataupun berbicara mereka semua diam dan sibuk dengan pikirannya masing - masing.
Sayang Alvaro telah sadar dari keterkejutannya, entah dorongan dari setan mana tiba - tiba Alvaro tidak bisa mengendalikan dirinya.
Plakk
Plakkk
Tangan kekar itu menampar kedua pipi mulus gadis yang baru saja menyebabkan kencan pertamanya dengan Alona berantakan. Jelas Alvaro sangat menyimpan dendam pada gadis ini ditambah kelakuan di masalalunya yang selalu menyiksa Alona tanpa belas kasih sedikitpun.
Siapa lagi kalau bukan Tere! Tak pernah ada kata absen baginya untuk menyiksa Alona.
Karna tidak ada persiapan sama sekali tubuh tere tidak sanggup menahan tamparan Alvaro hingga dia tersungkur di lantai dan menyebabkan keributan. kini mereka menjadi pusat perhatian pengunjung restoran!
" Hey dasar brengsek bodoh kau lupa yah dengan derajatmu hah? Biar ku ingatkan dari dulu sampai sekarang, kau hanyalah anak pinggiran jalan yang selalu menguntit kemanapun si bodoh Alona mu itu pergi! Bukan begitu? " ucap tere bersimrik dengan tangan memegang pipinya yang terasa panas.
" haha ... lihat aku! Kau lah wanita Bodoh yang berbicara dengan gaya dasar sampah " ucap Alvaro memegang kuat - kuat rahang tere lalu menghempaskannya dengan kasar.
" Ayo Pergi "
Alvaro menarik tangan Alona yang sedari tadi hanya diam mematung tanpa berbicara sepatah katapun. Badanya sudah mulai menghangat karna terlalu lama memakai baju yang basah.
Sepanjang jalan tidak ada yang terjadi mereka hanya saling mendiamkan Alona tertidur memeluk pinggang Alvaro dari belakang, angin malam semakin membuatnya merasa nyaman berada di dekat Alvaro.
Sebenarnya Lestoran tadi adalah lestorannya Alvaro sendiri. maka dari itu tidak ada yang berani melerai apalagi mengusir Alvaro saat pertengkarannya dengan tere tadi.
Alvaro meminta pada semua karyawan nya jika saat Alvaro membawa Alona, maka jangan sampai Alona tau identitasnya. Para pekerja hanya bisa mengiyakan saja keinginan dari tuannya itu.
" Hey bangun " ucap Varo mengelus tangan alona yang melingkar di tubuhnya.
" hm iya sana pulang duluan aja aku masih ngantuk "
" Hahaha apa kau mau ikut pulang ke rumahku? " jawab Alvaro dengan gelak tawa kegelian karna melihat Alona yang mengigau dengan begitu imut, sontak saja Alona langsung tersadar dari tidur pulasnya.
" ish kau menertawakan ku? Sudah sana pulang ah aku ingin tidur, " ucap Alona sambil turun dari atas speda motor.
" Baiklah, jangan lupa ganti bajumu dulu bersihkan badan sehabis itu baru boleh tidur hati - hati yah aku pulang dulu " ucap Alvaro sambil mengusap pelan pucuk kepala Alona.
__ADS_1
" Apa aku terlihat masih seperti anak - anak? tidak perlu diberi tahu karna aku sudah tahu! " sahut Alona sambil melangkahkan kaki mendekatkan diri dengan pintu rumah.
tinggalin jejak yah🥺🙏