
" Tenanglah aku takan menyakiti mu, pegang ini bila kamu sedang dalam situasi yang genting hubungi saja nomer yang ter tera disana.
Sebelum pergi pria itu memberikan kartu namanya pada alona. Tak berselang lama setelah orang itu pergi meninggalkan tempat itu alona bergegas pergi meninggalkan tempat itu menyusuri jalanan menuju rumahnya.
Alona berjalan di bawah teriknya matahari dengan keadaan tatapan dingin perut kosong dan badan yang agak memar memar disebabkan kejadian beberapa saat yang lalu.
" itu cucuk ku..." teriak seorang nenek paruh baya sambil berjalan tergopoh gopoh menghampiri alona. dengan di ikuti seorang anak laki laki di belakang langkah si nenek.
Saat alona melihat neneknya menghampiri dirinya ia langsung berlari berhamburan memeluk nenek nya karna jujur alona masih merasa syok dengan kejadian yang menimpanya beberapa saat yang lalu.
Alona belum menyadari siapa orang yang bersama nenek nya itu.
" Alona apa kamu baik baik saja?" Ucap nek asih melepas pelukannya dan menggenggam tangan alona dengan lembut, nampak wajah cemas pada raut wajah nek asih.
" tidak papa nek alona baik baik saja, tadi paman mau jual alona ke om preman. alona takut nek hiks hiks " adunya pada sang nenek sambil sesegukan menahan tangis nya karna ia ta bisa membayangkan bagaimana nasibnya nanti jika tadi taada orang yang menolongnya.
"tapi nek untung saja tadi ada om baik yang nolongin aku nek tapi sekarang dia sudah pergi." ucap alona sedikit murung entah kenapa perasaannya sangat sedih saat orang itu ta bisa mengantarnya pulang.
tanpa sadar mereka telah lama mengacuhkan orang yang sedari tadi mematung dibelakang nek asih.
" ekhm..maaf kalo gitu karna cucuk nenek sudah selamat saya pamit pulang yah nek " ucap anak laki laki yang berdehem berusaha memberitahu keberadaannya yang memantung di belakang nek asih.
" ah iyah nenek lupa nak maafkan nenek yah. alona perkenalkan ini varo yang menemani nenek mencarimu sedari tadi nak varo perkenalkan ini alona cucuk yang nenek cari." ucap nek asih memperkenalkan keduanya.
" Hai namaku Alvaro "
varo menjulurkan tangannya untuk yang kedua kalinya pada alona ia mengira kali ini alona mau menjabat tangannya dan menyebutkan namanya, yaa... walaupun varo sudah tau nama alona.
Tapi lagi lagi alona tak membalas
uluran tangannya ia hanya menatap varo dengan tatapan dingin dan senyum kecut nya lalu bertrimakasih dan berpamitan membawa neneknya pulang.
__ADS_1
"oh iya Makasih"
" yuk nek kita pulang alona kan belum menyiapkan makan malam " ucap alona sambil berjalan menggandeng nenek nya meningggalkan varo yang mematung tersenyum melihat kepergian alona kala itu.
" Dasar gadis jutek, tapi lucu sih You are so cute, haha.. " ucapnya dalam hati lalu terkikik menertawakan pikirannya yang selalu dipenuhi dengan nama alona yang penuh dengan tanda tanya baginya.
•••••••
Sesampainya mereka dirumah, alona sudah disuguhi dengan berbagai pekerjaan rumah yang sudah menjadi tugas nya sehari hari. dan mereka ta peduli apapun yang terjadi pada alona yang penting bagi mereka pekerjaan rumah beres barulah alona boleh makan dan istirahat.
" pulang juga kamu akhirnya abis keluyuran kemana kamu hah gatau apa tuh kerjaan numpuk maen mulu kerjaannya" omel bi wening pada alona tangannya meremas tangan kanan alona dengan erat hingga lona meringis karna rasa sakit di area lebamnya tadi belum hilang.
" aww.. esttt sakit bii.." Ringisnya sambil menahan cairan matanya agar ta jatuh.
" maaf kan alona bi tadi pama.."
"Berani ya kamu Udah salah bukannya ngaku malah bawa bawa paman? apa kamu tidak tau bagai mana caranya berterima kasih ya. bibi dan paman sudah membantu biyaya sekolah mu dan kau masih saja tidak tau diri! dasar anak Haram!"
"Yaudah sana cepet kerjakan pekerjaan mu jangan lelet, ingeut! Beresin hari ini juga titik! jika tidak maka kamu tau akibat nya apa?" ucapnya melepaskan cengkraman dari tangan alona lalu pergi memasuki kamarnya.
" sudahlah alona kamu tidak perlu mendramatisir keadaan pake nagis nangis segala lagih cengeng banget kamu huh dasar lemah" ucap tesa mendekati tubuh alona dan menabrakkan tubuhnya dengan tubub alona hingga membuat alona terhempas kelantai, tanpa rasa bersalah sedikitpun tesa melengos pergi.
" Ayo bangun! " ucap tara menjulurkan tangannya pada alona. alona ragu dengan uluran tangan tara ia takut itu hanya prank untuk mengerjainya lagi.
" Buruan! Mau bangun ga lama banget malah bengong lagi" ucap tara membuat alona terperanjat kaget dan segera meraih uluran tangan dari tara.
" ii..i iyh ka " alona menyambut uluran tangan tara dan ternyata itu bukan prank tara benar benar membantunya bangun. alona lantas memberikan senyuman tipisnya pada tara sebagai ucapan trimakasih
" gausah senyum senyum, jangan geer kamu " ucap tara dengan muka dinginnya lalu pergi keluar rumah menyusul tesa.
Aku selalu merasa bahwa ka tara berbeda dengan tesa kadang sikapnya sangat baik padaku walau selalu terlihat sangat cuek dan dingin. dia juga tidak se usil tesa adiknya itu. kita bertiga seumuran dan untungnya disekolah kita beda kelas. jika kita satu kelas maka entahlah aku akan dibuli seperti apa.
__ADS_1
jika nenek ku dia akan bersikap baik padaku hanya saat bibi ku ta ada dan jika bibik ada nenek hanya akan diam saat melihatku dimarahi bibi ataupun paman entahlah aku ta tau apa alasannya.
Aku bergegas masuk ke kamarku yang terletak dibelakang rumah atau mungkin lebih dikenal dengan sebutan bekas gudang. gudang ini sudah aku sulap menjadi tempat yang aman, nyaman, bersih dan wangi.
Setelah aku membersihkan diri dan mengganti baju aku pergi ke dapur untuk mencuci piring, menyapu dan mengepel rumah. setelah selesai barulah aku memasak dan menghidang kan masakan ku untuk makan malam.
pukul 22.30 barulah pekerjaan ku selesai waktunya aku membaringkan tubuh ku di kasur kesayangan ku. badan ku yerasa sedikit pegal dan nyeri mataku amat berat hingga baru saja beberapa detik aku berbaring aku sudah terlelap dalam tidur ku.
barulah aku pergi ke pasar membeli bahan bahan membuat puding untuk ku bawa esok hari.
Jam menunjukan pukul 03:00 pagi
Kini, aku sedang berjalan menyusuri jalanan menuju pasar yang hendak ku datangi. ta lama kemudian terdengar kumandang azhan, aku memutuskan untuk menunaikan panggilan sholat dahulu sebelum meneruskan perjalanan.
" kek, apa kakek baik baik saja? kenapa k sendirian apa kakek sudah makan? kakek tidak pulang kerumah ke?" tanya alona pada seorang kakek kakek yang sedang duduk di depan gerbang masjid dengan keadaan yang memperihatinkan.
" ah tidak papah neng gelis kakek baik baik saja. belum kakek belum menemukan makanan, hehehe..kakek tidak punya rumah " ucap si kakek dengan suara lirih hampir ta terdengar.
" sudah berapa hari kakek tidak menemukan makanan?" tanya alona pada si kakek.
" hehe... baru dua hari " jawab si kakek dengan senyuman yang terlukis di ujung bibirnya.
Alona pergi meninggalkan si kakek tanpa berbicara apapun lagi, setelah 10 menit lamanya alona meninggalkan si kakek, ternyata alona kembali dengan kantong kecil berisi makanan untuk si kakek.
" kek, ini lona ada rezeki buat kakek dimakan ya kek maafkan alona, karna tidak bisa menemani kakek makan. alona takut kesiagan alona mau belanja buat dagangan alona besok. do'a in ya kek supaya jualan alona lancar. dan semoga alona bisa bertemu dengan kakek lagi " ucap alona bersalaman pada kakek berpamitan pergi
disepanjang jalan alona hanya melamun entah apa yang ada di pikirannya saat itu, dan...
Bruk...
mobil dengan kecepatan tinggi menyentuh bagian tubuhnya hingga alona terpental.
__ADS_1