Story Si Jutek Tomboy

Story Si Jutek Tomboy
BAB 2


__ADS_3

Tepat pukul 08:20 alona sampai di depan kelasnya, terlihat seorang perempuan cantik berseragam coklat sedang menyampaikan materi pada anak anak yang ada di hadapannya.


"Assalamualaikum bu." ucap alona yang masih setia mematung di depan pintu menunggu jawaban dari bu merry dan berharap bu merry mengijinkan nya masuk.


" Waalaikumussalam, darimana saja kamu alona! kamu itu yah selalu saja telat ibu sungguh sangat bingung sebenarnya apa yang selaluembuat mu terlambat datang ke sekolah alona? " Tanya bu merry pada alona dengan nada yang sedikit jengkel.


Sedangkan alona masih setia mematung sembari menundukan pandangannya menahan air mata yang memaksa keluar. hingga tidak mampu menjawab pertanyaan sang guru.


" mungkin dia telat bangun ibu guru"


" atau ga punya duit buat sekolah haha"


"Ahhahahaha"


" atau ngemisdulu kali liat tuh bajunya juga lusuh gitu iwww jijik oeek".


Itulah beberapa tanggapan atau lebih tepat nya ejekan untuk lona dari teman teman kelasnya.


" sudah sudah jangan saling mengejek, kalian lanjutkan tugas yang ibu berikan, dan kamu alona ikut ibu ke ruang guru" ucap bu merry sambil berjalan menuju ruangguru yang lanhsung diikuti oleh alona dari belakang.


Sesampainya di ruangguru alona tidak melihat orang lain selain dirinya dan bu merry yang ada disitu.


" Silahkan duduk alona, kamu ini suka sekali berdiri! " ucap bu merry mempersilahkan alona duduk.


" i..iya bu maaf " saut alona sambil mendudukan dirinya dan meletak kan dagangan yang di bawanya di lantai.


" Alona kamu ini anak yang pintar dan rajin tapi kenapa kamu ini selalu saja kesiangan dan kenapa setiap pengambilan rapot kamu tidak pernah membawanya kemana orang tua mu? dan setiap ada surat pemanggilan orang tua orang tua mu tidak pernah datang? " tanya bu merry tanpa jeda.


Sontak saja Alona bingung mau menjawab apa karna ia takut salah menjawab. jika itu terjadi, maka bibinya akan sangat marah padanya dan ia akan mendapatkan hukuman nantinya.


" Alonaa....." panggil bu merry dengan nada yang agak tinggi karna sedari tadi tanpa alona sadari dirinya melamun dan belum menjawab pertanyaan dari bu merry.


" i.... iya bu maaf kan alona bu, alona janji tidak akan kesiangan lagi. soal keterlambatan alona datang ke sekolah itu karna...eum... karna bibi lona dan semua orang rumah sibuk jadi tidak sempat mengantarkan lona soal ibu bapak alona.. kata nenek mereka sudah meninggal bu. saya tinggal bersama nenek dan bibi saya. " ucap alona sambil menunduk karna ta ingin gurunya tau kalo lona sedang menahan air matanya.


" Oh begitu maaf kan bu guru alona, tapi ini tetap peraturan sekolah. ibu akan tetap memberikan mu hukuman! tidak apa apa kan alona?" Ucap bu merry pada alona. kini banyak sekali pertanyaan yang ada pada hati bu merry ia merasa iba pada alona namun belum mengerti dengan apa yang terjadi pada alona takut menyinggung perasaanya dan membut pelajaran nya terganggu, akhirnya bu merry mengurungkan niatnya.


Alona menganggukan kepalanya tanda menyetujui apa yang dikatakan oleh bu merry dan sudah pasrah dengan hukuman apapun yang akan diberikan gurunya itu.


" Hai..." sapa seorang anak laki laki tampan pada alona yang sedang pokus membersihkan toilet, usianyatidak jauh berbeda dengan alona hanya terpaut 3 tahun dengan lona


Lona hanya meliriknya dengan tatapan dingin tanpa ekspresi lalu kembali pokus dengan pekerjaannya. sedangkan anak laki laki itu hanya tersenyum melihat tingkah alona yang jutek padanya.

__ADS_1


" Butuh bantuan? " Tanya anak laki laki itu seolah tak mau menyerah dan masih berusaha memancing alona agar mau berbicara dengannya. namun alona hanya meliriknya sebentar lalu menggelengkan kepalanya pertanda bahwa dia tidak butuh bantuan.


" emm baiklah..apakah kau butuh teman? atau... maukah kau menjadi temanku?" Ucap anak laki laki itu sambil menyodorkan tangan dan menunggu alona menjabat tangannya.


Alona terdiam sejenak berusaha mencerna maksud dari anak laki laki yang sedari tadi mengganggu nya itu, setelah cukup lama alona bergelut dengan pikirannya dan merasa ada yang menepuk bahunya ia tersadar dari lamunannya.


" maaf kak saya duluan " ucap lona dengan sopan namun tetap tidak ada senyuman sambil melenggang pergi meninggalkan anak laki laki itu tanpa menjawab pertanyaannya tadi


Sedangkan anak laki laki itu hanya menatap kepergian alona dengan senyuman yang sulit diartikan


Kini alona sedang berada di kantin menitipkan dagangan pada salah satu penjual yang ada di kantinnya.


" assalamualikum bu ipin..." salam alona dengan lembut pada bu ipin sang penjual tetap di kantin sekolahnya.


" waalaikumussalam...eh neng alona " ucap bu ipin yang sedang mengelap meja yang kotor sambil menengok kebelakang karna posisinya tadi membelakangi alona.


" ah iya bu, ini kaya biasa ya bu. alona mau titip puding jualan alona boleh kan bu?" ucapnya sambil tersenyum manis.


" tentu saja nak alona boleh sekali. puding buatan nak alona ini memang banyak sekali yang suka hehe..." ucap bu ipin sambil tertawa kecil, alona membalasnya dengan senyum kecil seraya pergi meninggalkan bu ipin.


"Kasian sekali anak itu tapi aku salut dia tidak pernah merasa malu dengan keadaannya ya tuhan lindungilah dia dimanapun dia berada selalu berikan dia kebahagiaan yang tak terhitung Aamiin" ucap bu ipin dalam hati sambil menatap kepergian lona dengan senyum


" eh...princess kita sudah tiba ternyata ya darimana? Ngemis dulu yah, hahahah kasian banget ututututuuu.." ejek rara pada alona sambil menghadangnya di depan pintu kelas.


" Hey Alona apa kamu bisu? atau kamu tuli?. " ucap rara kesal sambil menjambak rambut alona dan mendorongnya kasar hingga tersungkur ke lantai.


Tapi sebelum lona benar benar jatuh menyentuh lantai seorang anak laki laki yang tampan berhasil menahan tubuh lona agar tidak jatuh menyentuh lantai.


" e... eh ka varo " ucap rara gelagapan


" apa apaan ini, ingeut ya dilarang melakukan bulliying di sekolah ini, masuk kelas" ucap varo pada rara dan kedua temannya yang sedari tadi hanya berdiam diri dibelakang rara.


" Baiklah ka, maaf kan aku aku tak sengaja mendorongnya tadi itu hanya kesalah pahaman saja. " ucap rara memelas berusaha membalikan keadaan.


yah nama anak laki laki itu adalah


Ananda Alvaro Pratama seorang anak yang barusaja pindah sekolah dari Belanda. jika kalian bertanya mengapa langsung lancar bahasa indonesia? Sebenernya dia asli dari indonesia tapi karna waktu itu ibunya mengalami depresi berat jadi dia dikirim ayah nya ke belanda dan dititipKan pada nenek nya, tetapi varo hanya tinggal satu tahun disana karna varo tidak ingin jauh dari sang mamah.


Entahlah apa yang ada di pikiran seorang alona ia tidak mengatakan sepatah katapun bahkan ucapan terimakasih pun tidak.seolah ia tidak melihat siapapun disana ia langsung berlalu meninggalkan varo masuk ke kelasnya.


Lagi lagi varo hanya tersenyum melihat alona bertingkah seperti itu padanya.

__ADS_1


" ada ada saja anak itu lagi puasa bicara mungkin yah haha tapi lucu sih." kekeh varo dalam hati sambil berlalu meninggalkan halaman kelas lona.


Saat lona sedang sibuk dengan novel nya seseorang menghampiri lona dan berdiri di samping kursinya


Karna alona sadar akan keberadaan orang itu. seba dia berdiri cukup lama tanpa melakukan sesuatu ataupun mengatakan sesuatu. alona mengangkatkan kepalanya berusaha mengenali orang yang ada di hadapannya, ternyata itu adalah teman sekelasnya juga, tapi alona jarang melihatnya di kelas selain jam pelajaran.


" ada apa? Kenapa kamu hanya diam saja, apakah kamu ingin meledek ku juga? " tanya alona pada orang yang berada di hadapannya namun orang itu tak menjawab pertanyaan dari alona dengan kata kata, ia hanya menggelengkan kepalanya seolah memberikan jawaban 'tidak' .


" lalu apa mau mu?" Tanya alona lagi namun masih dengan nada yang santay lona memang tidak pernah marah bukan tidak pernah hanya saja jarang alona terbiasa menahan amarahnya.


Anak perempuan itu hanya menjulurkan tanganya, karna alona penasaran alona menjabat tangan anak perempuan itu seolah mengerti alona menyebutkan nama nya.


" Alona" ucap alona sambil menjabat tangan anak perempuan itu.


" salma " ucapnya sambil tersenyum " maukah kau menjadi sahabat ku alona" tanya salma dengan kepala yang menunduk.


Alona terdiam cukup lama ia mencerna ucapan salma dan merasakan ketulusan hati dari salma yang membuatnya mau berteman dengan salma, karna selama ini dia tidak pernah mempunyai teman ataupun sahabat


" Benarkah itu Alona? " tanya salma berusaha memastikan.


" tentu saja, lalu apakah kau hanya akan berdiri saja disitu haha..? " tanya Alona sambil sedikit terkekeh


Salma tersenyum karna baru pertama kalinya salma mendengar Alona tertawa seperti itu pada orang lain. Dan tanpa sadar salma menatap alona sambil melamun dan tersenyum.


" Hei.. apa kau menyukai ku? mengapa kau menatap ku seperti itu?." ucap alona sambil melambai lambaikan tangannya di depan muka salma, sontak saja salma langsung tersadar dari lamunan nya.


" ah iyah kenapa?" ucap nya gelagapan karna masih sedikit kaget.


" duduk lah " seru alona pada salma.


" kenapa tadi kamu hanya berdiam diri saja dan tidak mengatakan apapun padaku? Lalu mengapa kamu ingin berteman denganku? Apakah kamu tidak merasa malu? " tanya alona tanpa memberikan orang yang ditanya kesempatan untuk menjawab pertanya dari lona.


" yaampun lona ternyata kamu aslinya cerewet sekali satu satu dong aku merasa pusing menjawab nya " ucap salma sambil memegang kepalanya berusaha mengingat apa saja yang ditanyakan lona tadi.


"Ah iya maaf kan aku, yasudah cepat jawab!" seru alona dengam cengiran tanpa dosanya.


Belum sempat salma menjawab pertanyaan Alona. bel masuk sudah terdengar tanda jam pelajaran akan segera dimulai karna tempat duduk alona dan salma berjauhan jadi salma tidak bisa melanjutkan ceritanya sekarang.


Bebrapa jam kemudian jam pelajarn telah selesai kini semua murid bersiap untuk pulang.


Sebelum pulang salma mengantar alona membawa hasil dagangannya di kantin bu ipin, dikarenakan arah rumah salma dan alona arahnya hampir sama jadi salma mengajak lona ikut pulang bersamanya.

__ADS_1


Kini mereka sedang menunggu mobil jemputan salma.


Tanpa mereka sadari sejak mereka keluar dari kelas sampai menunggu di parkiran ada yang mengawasi mereka dengan lekat dan tanpa mengalihkan pandangannya.


__ADS_2