
Ludmil ingat, kala dahulu pergi merantau kerja selama dua tahun pertama, dimana awal kebersamaannya dengan Rahayu yang keblablasan.
Jemari Rahayu mencengkeram erat punggung Ludmil. ******* nafas sepasang anak manusia itu seakan berpacu dengan lenguhan dan decitan kasur yang terdengar memecah sunyinya malam. Keduanya seakan hilang akal.
Rahayu pun hanya bisa pasrah, menikmati apa yang dilakukan Ludmil. Tapi, saat libido sudah mencapai puncaknya, tiba-tiba Ludmil tersadar. Tubuhnya sudah menindih Rahayu yang half naked dengan mata terpejam.
"Rahayu..."
Rahayu menoleh ke arah Ludmil, namun segera mengalihkan pandangannya saat melihat yang tampak sungguh tampan dengan setelan jas lengkap warna biru dongker.
Tidak lagi, tidak lagi, ... Rahayu merapal dalam hati. Tidak, jangan sampai aku jatuh lagi di lubang yang sama!
"Boleh aku tanya sesuatu, Rahayu?" Tanya Ludmil lembut. Rahayu tersenyum dan mengangguk.
"Ini... Tolong jelaskan. Aku menyimpannya selama ini agar saat kamu pulang, aku bisa dapat penjelasan langsung darimu."
Mata Rahayu terbelalak. Kertas USG itu... aah Gift!! Rahayu mengambil kertas itu, melihatnya sebentar dan tersenyum ke arah Ludmil.
"Apa yang harus aku jelaskan tentang kertas ini?"
__ADS_1
"Kamu waktu itu sedang hamil kan, Rahayu? Hamil anakku? Di mana dia sekarang? Maaf, waktu itu aku menolaknya. Tapi aku menyesal Rahayu, aku sadar itu semua salah kita, salahku. Maaf..."
Rahayu terdiam, mendungakkan kepalanya untuk melihat gemintang di langit yang malam ini tampak cerah.
"Kamu lupa apa yang Mas Ku katakan padamu, Ludmil? Semua sudah jelas bukan?."
"Tidak! Kamu gak mungkin melakukan itu, Rahayu! Kamu gak mungkin menggugurkan kandunganmu!”
"Kenapa tak mungkin?"
"Karena aku tahu kamu. Kamu orang baik, berhati baik. Kamu gak akan tega menggugurkan kandunganmu. Iya kan, Rahayu?" suara Ludmil melemah. Berusaha untuk menyakinkan dirinya, Rahayu akan mempertahankan kandungannya.
Ini bukan cerita romansa biasa, tapi diperlukan kerelaan hati untuk bisa menerima ending yang luar biasa. Siapkan hati dan kudapan manis untuk menemani harimu.
Sebuah cerita mainstream yang dikemas dengan antimainstream. Ludmil, jika kamu ingin aku mengandung, kamu salah. Karena aku ingin kamu menikahiku, baru aku bisa menerima jika hamil, saat itu aku hamil karena kita terlewat batas, kebersamaan kita sering bertemu, lalu apa salahnya kamu nikahi aku selama ada disini, bukankah aku menutup mata jika kamu sudah punya anak istri di kotamu.
Ludmil terdiam, dimana ia memegang foto Ummul dan kesilapannya, di mana foto pernikahannya juga dengan Rahayu, meski secara sirih.
Tok Tok!
__ADS_1
Ludmil menyembunyikan foto pernikahan nya dengan rahayu, dan meletakkan foto pernikahannya dengan Ummul di meja, dimana salah satu putrinya datang.
"Ayah ayo kita makan!" ujar Mala, dibarengi Mila yang nampak diam menatap segan tak ingin menoleh ke arah ayahnya.
Entah apakah Mila sedang bersedih, atau ia tahu ketika Ludmil di hampiri perempuan, dimana saat itu Mila nampak melihatnya, meski mungkin tak mendengar pembicaraan mereka yang nampak sekilas jauh jaraknya.
"Ayah jika kita larut bersedih, mari doakan ibu. Mala bakal jagain Mila dan saling bersama, ayah makan dulu. Agar tidak sakit, cukup kami di tinggal ibu." ujarnya membuat Ludmil nampak dengan tatapan kosong.
"Maafkan ayah nak! ayah bersalah pada kalian, maafkan semua kesalahan ayah kelak jika kalian tahu. Ayah akan makan, nanti saja. Kalian makan lebih dulu saja ya! ayah mau shalat dulu."
"Ya udah, kalau gitu kami tunggu ayah selesai shalat. Kita tetap makan bersama, atau ayah jadi imam. Kita shalat isya berjamaah gimana?"
Ludmil mengangguk, dimana sosok putri pertamanya terlihat tegar seperti Ummul. Ludmil menyesak rasanya, akan dosanya dimana kedua anak anak dan Ummul meninggal, tidak tahu jika ia punya keluarga baru.
'Ya rabb, ampuni aku. Aku merasa bersalah pada keluarga kecil yang sudah engkau anugerah.' batin Ludmil.
Dan setelah mereka selesai berjamaah, dimana saat itu menuju meja makan. Seseorang mengetuk pintu, membuat tatapan Ludmil terdiam takut, apakah itu Rahayu yang datang.
"Biar Mala yang buka ayah." ujarnya, membuat wajah pucat Ludmil nampak.
__ADS_1
TBC.