
Benar saja, di sana ada Ludmil yang datang, dimana kampus mereka beda universitas tapi sebelahan kampusnya, menghampiri Ummul yang diam membisu.
"Kamu lapar Ummul, kita mampir resto tempat biasa ya?"
"Heuuum, kamu benar nekat ya datang ke kampus Ludmil, padahal aku sudah lelah karena kita terhalang restu."
"Biar saja, memang kenapa kamu kan bukan istri orang. Apa kamu telah bertunangan dengan Jack?"
Mendengar itu Ummul hanya terdiam mendengarkan.
"Untuk apa kamu khawatir aku sudah disini. Maaf andai aku tahu saat tadi kamu dihampiri wanita Jack, maaf aku terlambat melindungi." Ludmil menatap sang kekasih.
"Tapi, kamu tahu aku sebenarnya sakit saat wanita beberapa pekan lalu, bicara buruk padaku seperti itu. Bahkan dikampus mungkin aku akan menjadi bahan gunjingan karena wanita itu kelak masuk ke kantin dengan ramai menuduhku, gimana?"
"Tenanglah kamu ga usah khawatir ya! aku janji akan membantumu. Aku paham kamu ingin memberontak berbicara pada papa, tapi aku yakin kamu juga punya alasan dan takut jantung papa semakin buruk kan, aku rindu kamu yang kuat dan tegas."
"Terimakasih Ludmil. Aku sangat berterimakasih padamu."
Lama mereka menghabiskan waktu makan dan berbicara penuh. Ummul yang tiba disatu pantai meregangkan kedua kakinya di atas air laut, ia duduk bersama dengan Ludmil diujung jembatan, menatap air laut dan ombak memang benar menenangkan juga mendengar suara burung yang terbang dengan angin kencang.
"Kenapa kamu melamun Ummul?"
"Aku hanya mengingat Shiren, Ia sahabatku, aku lupa mengenalkanmu padanya. Dia bilang jika menatap ombak dipantai dan air laut membuat pikiran menjadi tenang. Sesulit masalah pasti akan ada jalan keluarnya bukan?"
"Mau aku antar ke tempatnya?" ujar Ludmil, tapi ia sedikit berfikir baik jika nama itu mempunyai kesamaan saja, dengan gadis yang diminta keluarganya untuk dinikahi.
"Jangan Ludmil please, aku ga mau libatkan mereka lagi, sudah cukup Ia juga mendapatkan kesulitan. Jangan biarkan ia terlibat antaranya dengan Jack. Shiren terhubung kembali. Bagaimanapun aku tak ingin merusak hubungannya karena masalah aku. Karena aku yakin sesuatu masih menyimpan dalam perasaannya. Kasian dia juga sudah mempunyai kehidupan. Jika aku menambah bebannya rasanya akan membuat masalah baru."
"Baiklah maafkan aku ya Ummul, aku janji padamu tak akan bercerita."
Ludmil pun menyentuh pipi Ummul. Setelah itu Ummul pun bersandar dipundak Ludmil sambil memainkan memercik air dikakinya.
"Ummul maafkan aku yang terlambat menyatakan padamu, Aku egois karena mencintaimu tapi aku menginginkan dirimu lebih dulu, harusnya saat di Kairo, aku tidak meninggalkanmu, jika tidak kamu tak akan terjerat seperti ini pada Jack!"
__ADS_1
"Sudahlah. Semua ini sudah terjadi, hanya satu kita harus menghadapinya dan menyelesaikannya. Aku hanya pasrah akan apa nanti yang terjadi itu saja."
Ummul merogoh ponsel nya, terkejut ketika ia salah mengambil ponsel. Lalu ia sadar harus menjenguk sang papa di rumah sakit.
"Aku harus ke rumah sakit."
"Aku antar, aku akan ikut bersamamu."
Hingga Ummul pun tak bisa menolak, karena ia kagum akan sikap Ludmil yang semakin hari membuktikan dirinya serius, untuk mendapat restu sang papa.
Tiba dirumah sakit, satu jam kemudian Ummul setia menunggu diluar, dan diantarkan oleh Ludmil. Ummul pun masuk, dan Ludmil senyum menyapa, duduk kembali ke luar. Setelah meletakkan buah.
"Kenapa kamu diantar dia, ndok.?" ucap papa.
"Pah, please papa tidak usah berfikir tak enak, Ummul membuat skripsi dan kebetulan tempat magang Ummul dekat dengan bang Ludmil. Lagi pula dia bisa membantu papa dari ranjang, Umm bereskan yang lain dulu ya."
Saat Ummul pergi ke bagian administrasi, papa tetap angkuh dan masam pada Ludmil.
Ludmil bersabar akan perlakuan papa Ummul.
"Ayo om! Ludmil bantu, cepat sehat ya om."
Ucapan Ludmil. Namun hanya mendapat balasan acuh. Sepanjang perjalanan mereka diam hingga berada di tepi rumah. Ludmil pun mengantar hingga ke kamar dan beristirahat.
"Ludmil makasih ya kamu sudah antar. Oh ia kamu pulang dulu aja sudah larut malam. Juga untuk soal tadi maafkan sikap papa ya!"
"Tak apa Ummul, aku akan sabar perlahan."
Ummul tersenyum ketika Ludmil melontarkan kata itu.
"Ludmil semangat ya berjuang ambil hati papa, bye selamat malam."
Ludmil pun tersenyum memberi balasan dan kode membulat tanda cinta pada kekasihnya itu.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan, ia merasa harus tetap berusaha mengambil hati calon mertuanya itu. Dulu kesalahan Ludmil adalah mengabaikan Ummul, karena ia terlibat masalah intern dalam keluarga. Sehingga kala Ummul meminta Ludmil datang ke rumah, mengakui dirinya adalah kekasihnya. Ludmil saat itu tak bisa datang, hingga satu pekan kembali menjelaskan. Papanya tak merestui, menganggap Ludmil pria tidak gentle dan bertanggung jawab, miskin dan benar benar akan membawa kesusahan bagi putrinya.
'Kali ini, aku akan lebih baik lagi menjagamu Ummul. Akan aku buktikan jika aku dan kamu tetap bersatu.' batin Ludmil.
***
Sementara di lain tempat, Gia merasakan hal tak biasa. Ia menghubungi Ludmil untuk tidak pulang, dikarenakan di rumah ramai kedatangan keluarga Shiren. Karena sang papa terlihat sumringah kala kedua orangtua Shiren datang, dan Gia mendengarkan jika perjodohan Shiren dan Ludmil akan tetap berlangsung.
Ludmil yang menerima pesan itu, ia tetap pulang dan akan menolak mentah mentah di depan papanya kala perlu. Karena ia tidak peduli, Bunda Hanum memang lemah. Tapi ia sedikit kesal, meninju sebuah pohon karena memutar otak, bagaimana cara menolak perjodohan. Tanpa nama baik sang papa tidak semakin rumit, yang akan membuat Bundanya masuk rumah sakit kala syok.
"Arrggggh." teriak Ludmil kesal, berfikir kawin lari bersama Ummul saja.
Esok Harinya.
Menjelang sore Ummul yang sudah membersihkan diri, ia pun mengecek ponsel. Begitu banyak panggilan Jack, vcall. Baru saja ingin membalasnya Jack pun sudah memanggil sambungan vcall.
"Hello sibuk kau gadis, kemana saja kamu?" ucap Jack,
"Maaf Jack ponsel ku tertinggal, maaf sekali lagi."
"Umm dengarkan perkataan ku sekali lagi, jangan membantah atau mengelabui saat satu jam lagi, bersiaplah aku akan menjemputmu!"
"Ta - tapi Jack papa baru sembuh."
Namun sia - sia Ummul tak dapat membantah karena ponsel telah dimatikan lebih dulu oleh Jack, tiba saja papa datang ke kamar, dan bicara jika papa sudah membaik lebih baik.
Ummul hanya menurut jika menyangkut papa, karena papa telah mengetahui obrolan pembicaraannya dengan si pria besar kepala super gila.
"Pah, sebentar lagi Ummul pergi sebentar saja, papa gak apa ditinggal."
Sang papa pun kala itu mengangguk, raut wajah terlihat senang jika mendengar seorang Jack, entah harus menjelaskan perlahan seperti apa, jika papa tahu Jack sudah akan menikah dan pernah menikah.
"Pah, kali ini Ummul akan datang, jika Jack mengajak dinner. Tapi maaf satu lagi, setelah ini tidak akan pernah lagi, apalagi sampai di nikahi nya. Maafkan Ummul pah!" ujarnya, membuat sang papa beku terdiam memegang jantung.
__ADS_1
TBC.