
BERBEDA DENGAN MILA.
Beberapa Minggu kemudian, dimana kali ini Randi berhasil menemui Mila, dan mengajaknya pulang bareng. Dimana ia amat khawatir sekali, keadaan Mila yang murung dan lebih sering menutup diri, apalagi jelas menjaga jarak.
"Jangan jaga jarak dari gue Mila." hanya tatapan balasan.
"Gue harus ambil laptop, abang lo itu dia beri gue lemburan."
"Oh laptop yang kena virus kemarin ya, ya udah gue anter."
Mila hari ini ia harus berada di rumah Evan, saat mengantar Randi yang ingin mengambil baju dan laptop Mila yang hank kena virus di benarkan oleh Evan. Untuk di bawa ke Apartemen miliknya, tapi karena hujan Mila mau tidak mau harus menginap di kamar tamu yang di sediakan Randi.
Mila yang telah mandi dan rapih, berusaha menjemur handuk agar tidak lembab.
Evan sama sekali tidak berucap apapun. Pria itu menarik semua kain Mila dan memasukkan ke dalam keranjang. Kemudian membuangnya ke bak keranjang kotor.
Setelah itu Evan keluar lagi mengambil kain milik Rendi yang tertumpuk di sudut tali jemuran. Ia menyerahkan kain itu pada asisten yang hanya diam melihatnya. Lalu meminta mengeringkan, dan jemur dimana Mila beberkan kain bersih lembabnya tadi.
"Jangan ada cucian lain, jemuran tidak boleh sembarang di pakai orang asing!" teriak Evan pada Art, lalu menatap Mila yang menunduk.
Setelah itu, Evan pergi lalu Randi menghampiri keributan yang terdengar tadi. Randi membuka tali jemuran dan memindahkannya di samping halaman sebelah. Randi yakin jika tali jemurannya dipindahkan di sana oleh abangnya, Mila pasti tidak akan mengganggu. Membuat onar bagi Evan kakak gilanya itu.
"Gak usah di ambil hati ya! Evan kalau di rumah bukan bos dia emang kaya gitu, lagian semalam karena hujan kan. Ingat fokus nanti malam acara besar kantor. Jadi gak usah pulang, ada gue yang bakal lindungin lo di rumah berhantu ini!" senyum Randi.
__ADS_1
"Heumph! Ga apa sih Rand. Cuma dia bikin emosi terus kerjanya. Minggu depan juga kakak Fumala dilamar."
"Minggu depan, bisa barengan gitu. Sama kaya kakak gue tuh si Evan sedeng." bisik Evan, yang membuat Mila tertawa.
Randi merangkul Mila usai menjemur kain. Mereka memandang kain yang tergantung di tali jemuran. Kemudian mereka menghela napas lega secara bersamaan.
"Ayo, kita pergi. Ntar keburu siang," ajak Randi.
"Tapi yakin bakal kering, gak ada sinar matahari masuk loh Rand." namun di abaikan, Mila mengekor Randi melangkah saat ini.
"Udah ayo cepetan, kita mau ke makam ibu Ummul kan, sekalian kamu bakal tahu. Aku juga mau ke makam." ujar Randi mengajak Mila.
PEMAKAMAN.
Nama Reni Sarehan tertera di batu nisan.
"Mama ...."
"Rand, sudahlah. Sabar! Aku yakin Mama kamu sudah tenang di alam sana." Mila menyemangati.
"Lo sekarang paham kan, kenapa Evan kakak gue berlaku begitu. Setelah ini kita ke makam ibu mu, beda cluster aja kan."
"Iya, gak apa apa. Tenang aja."
__ADS_1
Lama Randi terisak di sana dan pada akhirnya pulang karena cuaca tampak mendung. Tepat saat mereka tiba di rumah. Gerimis pun turun. Mila dan Randi bergegas mengambil jemuran kemudian masuk. Karena hujan kini mengguyur ibu kota. Letak makam mama Randi tak jauh dari pelataran rumah mereka sekitar sepuluh meter dari rumahnya. Di mana makam ibu Ummul bersebrangan, dan kali ini memang Mila tampak jarang pulang, karena takut ayah nya yang terlihat tidak waras di rumah menutup diri.
"Sory gue memalukan ya? Jujur gue sedih karena enggak punya mama. Gue hanya punya papa," balas Randi.
"Sama, gue juga. Kita sama sama kehilangan nyokap."
Mila akhirnya diam. Tak ingin membuat suasana hati Randi makin buruk. Mendengar cerita Randi, ia merasa bersalah tak ingin marah berkepanjangan pada sang Ayah. Meski seburuk apapun, mereka punya alasan. Buktinya Randi tegar kala ia dan Evan berbeda ibu. Ibu Evan adalah sosok istri kedua bagi keluarga terpandang.
Saat Mila memegang teh hangat, Randi masih bercerita. Seolah tatapan Evan melihat dari bilik dinding lain. Menatap Mila yang serius duduk dan dekat dengan Randi adik tirinya itu, sehingga ingatan Evan berharap wanita itu bukan dia di saat ia tengah mabuk.
Tanpa sadar, suara Evan bergema. Sehingga Randi dan Mila menoleh ke arah Evan dan seseorang yang sedang beradu mulut.
"Tuh kan, lo liat aja Mila. Evan itu unik, dia sok kejam di kantor. Tapi di rumah dia takut sama anaknya, hahaha." tawa Randi.
"Anaknya, emang ibu nya kemana?"
"Evan itu rumit sih, dia pernah hamilin seorang cewe, Evan ga tanggung jawab. Dia endingnya liat bayi di depan rumah, dengan tulisan anakmu. Di cek pun, benar darah dagingnya."
Deg.
Namun Mila merasa sesak dan sedikit mual. Ada rasa janggal kala ia ingin muntah tapi tidak jadi.
"Rand, Uueeeeeek!" menahan muntah karena sulit.
__ADS_1
"Lo mau muntah ya, kenapa? lo belum sarapan ya Mil?" ujar Randi, mengajak Mila ke tempat lain.
TBC.