Story Ummul & Ludmil

Story Ummul & Ludmil
ANGKAT KAKI


__ADS_3

Mila yang sedang bepikir untuk di jodohkan, hatinya ketar ketir dimana dirinya rindu pada kakaknya Fumala, terlebih kabar ayah Ludmil, yang hanya ia bisa lihat dari history Fumala saja.


Di Tempat Fumala


Membuatkan teh manis, Fumala yang awalnya senyum pada ibu mertua, beringsut begitu saja.


"Ga usah buat minum manis manis, gula mahal. Emang semua enggak pake dibeli apa? udah mandul, buat susah suami seret rejeki lagi. Kalau di pikir pikir, kamu tuh istri pembawa seret rejeki loh Fumala." ujar ibu mertua, membuat Fumala menelan saliva terasa pahit.


"Insyallah yang sabar ya bu, mas Evan juga bentar lagi mau interview, semoga diterima." lembut Fumala.


"Alah, lembut mau gimana. Orang tiap hari minta duit aja kerjaannya, kamu juga disini beban nyepetin mata ibu, minggir sana! biar suruh Evan cari perempuan lain, yang bisa kasih anak buat putra ibu, biasanya dia bakal lancar tuh rejekinya kalau ganti istri." oceh ibu mertua, hingga tak terlihat.


Istighfar Fumala sejak pernikahan beberapa bulan, ketahuan sikap ibu mertuanya ini padanya!!


Fumala, diam bersabar di dalam kamar menangis, hingga beberapa jam kemudian mas Evan pulang. Fumala pun menghampirinya.


"Mas udah pulang? apa mas diterima kerja, kalau diterima kita ngontrak yuk mas. Meski petak."


"Ih .. kamu ini baru juga dateng, udah ngelantur terus."


"Mas, ibu selalu salahin aku terus seperti biasanya, meski petak kecil. Kita bisa nyaman tinggal mas, aku mohon mas. Aku juga berusaha berdoa agar kita segera dikasih mongmongan."


"Fumala, mas mau berangkat lagi. Lagi pula tinggal disini enak, enggak pake bayar semua biaya. Udah anggap aja angin lalu ok! mas pamit."


Fumala menatap suaminya, benar membuatnya gila semakin lama.


Hingga dimana ia merapihkan beberapa uang lembar biru simpanannya yang nyelip ke dalam tas, mengekor tempat interview mas Evan, dimana Rendi pernah memberitahu tempatnya.


'Aku kasih semangat mas Evan aja deh.' batin Fumala.

__ADS_1


Fumala pun pamit pada ibu mertuanya, hingga dimana ia meminta sang ojek pangkalan, mengikuti taksi suaminya pergi.


'Dih mas Evan, bukannya ngirit kok malah naik taksi?' gerutu Fumala, membenarkan helm ojek.


***


"Mas, nambah! aku masih mau lagi!"


"Hey! sayang kita sudah lima kali melakukannya, kamu tidak capek?"


"Mas, katanya kita mau sesuatu untuk generasi baru. Setelah lahir, mbak Fumala aja yang rawat. Kamu janji kan, terus lahirnya caesar!"


"Tentu sayang. Lagi pula, aku sebenarnya punya anak pasti, tapi entahlah wanita itu kabur. Andai aja dia tetap ikuti perkataan aku, lagi pula nikah sama Fumala karena kasihan ibunya udah ga ada, ayahnya gila depresi." jelas Evan.


Fumala bagai tersambar petir, tubuhnya kaku meleset, seperti tercongkel benda tajam. Tumpul menusuk di hati. Fumala mendobrak pintu. Begitu terkejut dengan apa yang ia lihat saat ini, suami yang ia cintai sedang berselimut manja dengan separuh penutup kain.


Fumala! ka-mu kenapa disini? Evan terdiam, menutupi sebagian lekukan tubuh selingkuhannya.


Evan hanya santai, mengambil kaos. Lalu memakai penutup bawah diakhiri dengan perekat pinggang, dengan santainya ia berjalan mendekat ke arah Fumala.


"Jangan mendekat mas! aroma mu terlalu busuk!"


"Fumala! ingat aku ini suamimu. Kamu harus nurut sama aku. Aku dan Dian sudah nikah kontrak. Dian janji akan berikan kita keturunan. Tapi aku akan berlaku adil sampai semuanya berhasil. Demi ibuku juga, biar ga ngomel terus ke kamu."


"Apa? kamu pikir dunia itu hanya ranjang saja mas. Apa kamu lupa, sudah beri apa kamu untukku selama delapan tahun ini?" teriak Fumala masih mode emosi bercampur kecewa.


Evan dengan enteng meludah di depan wajah Fumala, dengan gaya petenteng kedua tangan bertolak pinggang. Dan menunjuk wajah Fumala.


"Kamu lupa? delapan tahun, kamu belum memberi aku apa, tangisan anak Fumala!Keluargaku sudah kebanyakan tanya! capek, aku bahkan bosan juga setiap orang dan keluarga bertanya. Yakin, kalau kamu tidak bermasalah?"

__ADS_1


"Maksud mas, aku?"


"Yah! jelas kamu mandul Fumala."


"Jadi dengan seperti ini jalannya mas?"


"Ya! kamu harus berterimakasih. Setelah Dian hamil dan melahirkan. Kita bisa bersama, kamu bisa urus fokus sama anak kita."


Mas!


Fumala tak percaya, ia sudah lelah dengan urusan keluarga seharian, bahkan sering lembur, jarang berada di rumah. Kini harus di hadapi dengan tingkah pola pikir suaminya yang tidak matang. Terus terang Fumala lah yang selama ini mengurusi seluruh kebutuhan hidup, apalagi kehilangan sang adik yang entah ada dimana.


Bahkan ibu mertua Fumala, ia tahunya jika uang bulanan delapan juta untuk menafkahi dan menyekolahkan adik suaminya itu, dari jerih payah anaknya selama ini. Padahal Fumala lah semuanya, bahkan tagihan air, listrik dan gas yang sering membludak setiap bulan. Belum lagi di rumah itu ia tinggal, dengan mertua dan adik ipar yang jaraknya sepuluh meter di batasi tembok menjulang.


Fumala terkadang sering lelah, untuk patungan seluruh tagihan di rumah ibu mertuanya, meski sedikit kadang sering gantian. Tetap saja perlakuan ibu mertua selalu menyalahkan Fumala, dan ungkit ayahnya yang gila.


"Cukup mas! kalian lanjutkan saja. Aku capek, aku perlu memutuskan semuanya." isak tangis Fumala, pergi.


Di Rumah.


Fumala masih tak bisa memikirkan hal, sepulang kerja daily. Ia tak ingin makan, hanya karena mengingat mas Evan dan ucapan yang ia bilang punya anak kemungkinan, merasa selama ini dibohongi. Tapi begitu sampai rumah, makanan yang ia beli, begitu saja basi dan tak berselera. Apalagi mas Evan ikut pulang, membawa wanita itu dan gamblang mengenalkan pada ibu mertuanya.


"Eh ini yang kamu bilang Evan, bawa ke kamar tamu aja gih!" ujar Ratih.


"Apa ini balasannya untuk aku mas. Aku mengabdi dan berusaha menjadi istri terbaik. Apa itu kurang?" lirih Fumala, ia menutup kuping karena ******* itu kembali terdengar dengan jelas di sebelah kamarnya.


Sehingga Fumala kembali teringat memori dirinya bersama Evan pertama kali bertemu. Bahkan momen manisnya sebelum pernikahan, dimana ia menjalin kasih selama di bangku kuliah terlihat manis. Tapi setelah beberapa puluh hari setelah menikah, sikap mas Evan berubah padanya, di tambah kehilangan Mila sang adik, yang berbicara akan bersekolah di luar kota dan mendapati beasiswa.


Fumala pun mengemas, ia kembali pulang ke rumah ayahnya, yang memang sehari hari ia selalu mengecek kondisi sang ayah di rumah tua. Namun mengingat kisruh rumah tangganya, Fumala berniat merawat sang ayah, dan mencari keberadaan sang adik dimana pun ia berada.

__ADS_1


"Mila, kakak butuh kamu. Apa yang sebenarnya kamu sembunyikan?" lirih Fumala yang mengemas pakaian ke dalam koper.


TBC.


__ADS_2