
"Ummul, papa sudah bilang kamu harus akhiri cinta kalian itu. Papa benar benar tidak suka! sebentar lagi, satu bulan lagi kamu harus mau menerima. Pernikahan pilihan papa. Jack lebih baik dan sayang pada keluarga kita, yang sudah pasti menyayangi kamu!"
"Pah, Ummul mohon. Ludmil sangat mencintai Ummul, ia memang tidak mempunyai pekerjaan tetap. Tapi Ummul yakin, dia sosok pria yang baik untuk imam Ummul."
"Cukup Ummul! papa berikan waktu, agar kalian benar benar putus tidak bertemu lagi. Jika tidak, papa akan berlaku kasar pada anak itu." ujar sang papa.
Beberapa Hari Kemudian.
"Ludmil! sudah cukup, aku akan kembali. Aku harus menjenguk papa, aku menyempatkan bertemu denganmu. Karena aku akan dinikahi."
"Ummul, tolonglah. Kita harus pertahankan cinta kita."
"Aku akan pergi sekarang, lepaskan aku!"
Ludmil pun menghentikan langkah tangan Ummul, tubuhnya tak bisa menolak, debaran cinta mereka memang kuat, meski ia yakin. Jika Ludmil tengah memperjuangkannya. Tapi sulit baginya semua telah terlambat. Jack sudah masuk mempengaruhi papa tersayangnya, karena keluarga mereka banyak membantu kebangkrutan sang papa.
"Ummul, aku mohon maafkan aku. Meski kita menjalani diam diam. Aku akan menunggu dan bertahan mencari jalan keluarnya. Apa kau mengerti maksudku?"
Ludmil berkali - kali memohon untuk menunggu, ingin sekali Ummul menolak, tapi rasanya sulit, tubuh dan perasaan itu tak bisa menolak jika cintanya pada Ummul amat besar. Semakin sulit untuk melepaskan, ia pun tak rela jika ditinggal kekasih hati nya yang telah mendalam begitu saja.
"Ludmil, apa kamu tahu resiko nantinya. Keadaanku berbeda dan aku takut?"
"Tidak masalah Ummul, kita akan bertemu di waktu Jack tak di sampingmu. Meski dengan sembunyi, percayalah beri aku ruang untuk memperjuangkan pada papamu, dan masalah kita nanti. Aku yakin kita bisa melewatinya, tidak dengan cara kawin lari."
Ummul pun menangis memeluk tubuh pria dihadapannya, ia tak bisa menolak. Cinta memang membuat menjadi mata terasa kabur, ia jelas paham akan resiko nanti yang ia akan dapat. Tapi entah mengapa ia seperti sanggup akan melewati badai kelak jika ia memperjuangkan hati nya bersamanya.
"Terimakasih, aku rindu sangat aku kangen suasana dulu, jangan pernah bercerita pada kedua sahabatku tentang masalahku. Apalagi Mey aku tidak ingin ia terlibat, kasian ia sudah banyak melewati badai, mungkin ini adalah ujianku untuk menempuh kebahagiaan."
"Ya Ummul, terimakasih tak menolak ku. Maafkan aku, aku janji akan memperjuangkan mu dalam keadaan apapun, situasi apapun."
Dua jam mereka menghabiskan makan, dengan gaya Ummul yang seperti mencari buronan. Pakaian jaket dan topi serta kacamata serba hitam ia keluar bersama Ludmil, dan membuka nya ketika diwaktu yang aman dan tak terlihat.
"Makasih ya Ludmil, aku masuk dulu. Juga makasih telah mengantarkan ke rumah sakit menjenguk papa meski tadi kamu ..."
__ADS_1
"Tak apa Ummul, aku paham, kita lakukan perlahan, dan ponselmu dariku itu khusus hanya ada nomorku saja. Untuk berkomunikasi dengan aman, jika kamu tak membalas aku paham ada Jack di sampingmu, tapi pastikan simpan dan gunakan dengan aman."
"Siap komandan."
Ummul pun menyambar kilat mencium pipi Ludmil dan beranjak pergi. Ia menatap masuk gerbang dan melambaikan tangan masuk ke dalam rumah.
Ludmil hanya bisa mengantar ditepi samping gerbang rumah, melihat Ummul masuk dengan selamat. Ia pun pergi.
"Sekarang aku telah berbaikan dengan Ummul, tinggal masalah Jack, aku harus mencari tahu tentangnya dan merebut hati papa Supto untuk merestui hubungan kami." lirih Ludmil, ia juga bingung karena sang papanya juga, sangat tak menyukai wanita pilihannya juga.
Sabar Ludmil, cinta memang butuh pengorbanan, semua salahku yang terlambat yang mengabaikan hubungan ini.
Esok Harinya.
Sepanjang jalan yang lelah, membuat makala'nya kembali, perasaan suasana kini benar berbunga bertemu orang yang dicinta kini telah kembali.
"Aku tidak menyangka jika Ludmil akan bersikap seperti itu. Semoga saja semua akan baik dan berjalan mulus, papa luluh dengan kebersamaan kita." ucap Ummul yang memegang pena dan memutarnya ke arah wajah dan pipi dengan lamunan, ia pun membuat makala skripsi kembali ditemani seteguk lemon tea hangat dan sepotong pizza.
"Aku harus merubahnya, jangan sampai salah menjawabnya."
Ia menatap kedua ponsel yang sama itu, merasa seperti sedang selingkuh diam- diam seperti ini. Ummul pun menjawab panggilan Jack kala ponselnya berdering.
Jack berkata , "Sedang apa kamu Ummul, kenapa lama sekali mengangkatnya?"
"Aku sedang membuat makala Jack, kenapa? dan maaf tadi ponsel ku di silent."
"Baiklah cepat sambungkan videocall, aku akan melihatmu dari jauh. Meski aku sibuk di ruangan ku, jangan pernah mematikannya!"
Terlihat malas Ummul berdebat, jika pria itu memerintah membuatnya takut.
Ummul hanya menatap ponsel dengan kesal, ingin rasanya mengamuk, mencakar- cakar. Tapi ia tak bisa, karena percuma dicakar hanya sebuah kaca ponsel yang didalamnya memang ada seorang nama Jack.
Kini ia merasa bagai peliharaan dan pria ini selalu membuat tak nyaman. Jack benar benar menjadi satpam kehidupan yang abadi. Rasanya sangat tidak nyaman di ikuti setiap nafas dengan pria datar seram besar sepertimu Jack, pikiran Ummul adalah pergi bersama Ludmil, apakah ia akan sanggup hidup tanpa sepeserpun.
__ADS_1
Sementara Ludmil seperti surga jika aku bertemu dengannya, tapi Jack bagai nerakaku tapi entahlah siapa yang akan menjadi surga kehidupanku kelak yang menjadi bagian imamku.
"Aku seperti ada di dalam dua pilihan antara surga dan neraka." lirih Ummul dalam hati.
Lama Jack menemani Ummul, hingga ia terlihat di ponsel layarnya, meski sedang sibuk memandu segala film layar lebar. Ia adalah orang sibuk dan penting dalam bidang perfilman.
Tak terasa Jack memperhatikan Ummul dan berkata.
"Dasar gadis bodoh, membuat makala selalu tertidur dimeja seperti itu, bagaimana jika teh di gelas itu tumpah mengenai tangannya ketika ia bangun tak sadar."
Jack pun mengakhiri panggilan videonya karena akan meeting.
Jack pun tak tahu, kenapa begitu memperhatikan Ummul seperti ini. Awalnya ia jatuh hati pada sahabat Ummul, tapi ia telah mati akibat kecelakaan. Seiringnya waktu ia mencoba mendekati Ummul, agar dapat masuk kedalam ruang privasi.
Berkali - kali ia masuk tapi seorang pria yang kuat, dan terlebih mengetahui jika keluarganya orang kuat, sahabat dari kedua orangtuanya. Sehingga Jack mengakhiri dan melampiaskan pada Ummul yang membuatnya menyukai.
Meski ia tak ingin menjadikan Ummul istri pertamanya. Tapi entahlah ia hanya pria yang bisa memperlakukan berbeda ketika ini adalah hal yang membuatnya senang. Ia sadar akan segera menikah, tapi tak akan melepaskan Ummul begitu saja.
Sudah banyak ia korbankan untuk keluarganya. Bukankah pria berkecukupan pantas melakukan apa saja. Senyum tertarik licik dibibir Jack.
***
Sementara Ludmil yang tersulut kesal akan kedua orangtuanya yang tetap akan menikahinya dengan wanita pilihan keluarga. Membuat Ludmil terdiam di kolam renang.
"Kak, kakak sayang banget ya sama Ummul?"
"Kenapa kamu tanya? kau tidak mengerti perasaan aku Gia."
"Aku paham, tapi cobalah mengerti bicara pada papa! mungkin karena market papa tersandung kasus, keluarga mereka licik. Aku juga sebenarnya tidak rela, jika Shiren menjadi bagian keluarga kita. Tapi aku yakin Shiren wanita yang baik. Hanya saja keluarga mereka licik, membuat market papa down. Setidaknya bantu papa! menikahlah setahun dengan Siren, lalu bercerai nikahi Ummul." ujar Gia, pada Ludmil.
"Dasar bocah, setelah menikah tidak bisa main cerai begitu saja, kakak tidak berniat melakukan kontak fisik selain Ummul." ujarnya dan pergi.
Tbc.
__ADS_1