Story Ummul & Ludmil

Story Ummul & Ludmil
PERNAH LABIL


__ADS_3

"Kak jangan keras kepala, bukankah terlihat deal dan keren. Semua jadi adil kala kakak menyetujui permintaan papa, dan kakak juga menikahi Ummul. Ayolah kakak jangan keras kepala?"


"Tidak mudah Gia. Ide mu terlalu jelek." ujarnya, membuat Ludmil menutup kuping, sementara tangannya meraih ponsel mencari nomor Ummul.


"Bagaimana jika terima perjanjian pernikahan Shiren. Bukankah dengan membalas dendam orangtuanya, kakak bisa merusak gadisnya. Sama seperti keluarganya yang licik menjebak kasus market papa dulu." sambar Gia tak menyerah.


"Gia, kau yakin keluarga Shiren yang membuat papa bangkrut. Aku tidak mau salah orang membalaskan."


"Percayalah! aku saudara kandungmu, saudara kembarmu. Tidak mungkin aku menyesatkan. Lagi pula kita buat bangga Bunda dan Papa, jika kita bisa membalas dendam bukan?"


Ide Gia, membuat Ludmil berfikir dua kali. Benar jika ia harus melamar Ummul dengan kekuatan uang. Tapi ia harus melangkahi pernikahan keluarga Shiren, dan membuatnya tersiksa lalu menceraikan. Setelah itu, ia bisa melamar Ummul dengan bangga. Om Supto pasti tidak akan menolaknya, kala ia juga setara dengan kekayaan Jack.


"Baiklah, apa rencanamu?" ujar Ludmil, menatap Gia.


Hingga Gia berbisik, pada saudara kembarnya itu. Lalu Ludmil menatap serius, mengrenyitkan salah satu alisnya.


'Apa itu tidak berlebihan?' batin Ludmil. Ia pun menghubungi nomor Ummul, mengajaknya pertemuan esok pagi di kampus.

__ADS_1


***


Ke Esokan Harinya.


Saat Ummul terbangun, "Aaaakh .... aku tertidur lagi gadis bodoh, bagus tugasku tak terkena tinta atau lemon fresh di gelas ini! Tapi ini apa, haah mungkin cairan yang mengeces dari bibirku."


"Tak apalah hanya sedikit. Dosen pasti tak akan mencium lembar tugasku bukan?"


Ummul tertawa kecil menatap tugasnya, lalu segera bersiap siap untuk ke kampus, dengan setelan jeans yang menggulung robek dibagian paha dan lutut menggaris kecil. Serta kemeja bergaris ketat serta topi dan kacamata hitam nya yang melingkar di rambut.


"Okee .... perfect sudahlah biarkan seperti ini."


Ummul menatap cermin gaya casual, lagi pula hari ini kan tidak sibuk hanya mengumpulkan dan pulang. Setelah ke kampus, setelah itu aku kemana ya? Rasanya tak ada Shiren dan Mey aku kesepian dikota padat ini. Ah dua sahabatku yang aku rindukan.


"Mmmm! sudahlah ga usah dipikirkan sepertinya aku akan ketempat Shiren, ya pantai tempat biasa. Shiren bilang jika penat full. Kita bisa gunakan menatap ombak dan berfikir jernih, ide briliant akan hadir disana dan pemandangan bule pasti antri di pantai."


Ummul pun membayangkan hal bodoh, ia pun segera berangkat dan tersenyum, lalu mencoba menarik nafas agar harinya kini lebih ringan.

__ADS_1


Setibanya dikampus, mereka bergabung bersama, teman satu kampus dan jurusan, ia makan bersama. Setelah itu Ummul mengajak pulang pergi namun mereka ada acara.


"Baiklah aku sendiri lagi." lirih Ummul.


Tak lama dari kejauhan di jam makan ada sebuah kegaduhan.


"Ada apa sih Um, rame banget?" ujar seseorang di sampingnya yang ingin keluar kampus.


Tapi Ummul, menggelengkan kepala karena ia benar benar tidak tahu.


"Woy .. ada apa sih disana rame bener." ucap seseorang di depan meja kantin.


"Ya nih, apa kampus kita lagi ada antrian kupon sembako ya, seru pasti aku antri duluan lah buat emak dirumah." teriak mereka.


Ummul terdiam, dengan rasa penasarannya itu ia maju melangkah, menatap kerumunan di tengah lapangan kampus.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2