Story Ummul & Ludmil

Story Ummul & Ludmil
HANG OUT


__ADS_3

“Mila .. sini .. !” pekik seorang gadis muda sembari melambai-lambaikan tangannya.


Mila yang baru saja memasuki restoran langsung berjalan menuju meja yang berada di pojokan, di sana Sheila dan Marsha sudah menunggunya sedari tadi.


“Hai!” Mila, meletakkan tasnya ke atas meja sembari mencari posisi nyaman untuk duduk.


“Lama banget sih, dari mana aja lu?” celutuk Sheila.


“Dari rumah.”


Mila, Sheila dan Marsha sudah berteman sejak mereka masih duduk di bangku sekolah menengah atas, karena merasa se-frekuensi akhirnya mereka pun menjadi sahabat yang tidak terpisahkan. Tapi meskipun begitu Sheila dan Marsha sama sekali tidak mengetahui bahwa saat ini Mila sudah menjadi istri orang, apalagi terpisah dari keluarganya.


“Kayaknya rumah kamu deket dari sini kok bisa lama sih Mila?” sambung Marsha bertanya, gadis manis berkacamata bulat itu juga terlihat meminum jus mangga yang baru saja ia pesan, pasalnya ketiga temannya tahu jika Mila, tinggal bersama ibu Asiyah dimana pernah jadi guru les mereka.


“I—itu gue kan sekarang uda pindah rumah makanya jauh,” jawab Mila.


Marsha dan Sheila saling menatap satu sama lain.


“Pindah? kenapa?” seolah tiada henti Sheila terus melontarkan banyak pertanyaan pada Mila.


“Yah, mau mulai kehidupan yang baru aja gitu karena kalau di rumah lama gue sering kebayang-bayang sama ibu Ummul terus bu Asiyah beli rumah baru, uda ah gak usah di bahas,” ucap Mila sembari berusaha mengalihkan pembicaraan.


Untuk saat ini Sheila dan Marsha sama sekali tak menaruh curiga pada wanita cantik itu.


“Oh iya gue punya gosip terbaru nih,” sahut Sheila yang terlihat meraih ponselnya. Sheila mengulurkan ponsel tersebut seolah ingin memperlihatkan sesuatu pada Mila dan juga Marsha.


“Ini si Salsa mantan anak IPS dulu baru aja posting di instagram pakai handphone keluaran terbaru, gila ini harga handphonenya waktu gue cek itu sekitar belasan juta, kok bisa sih dia pakai handphone semahal itu?” ucap Sheila.


Mila seketika langsung merampas ponsel milik Sheila, Mila melihat foto dari balik layar datar tersebut dengan teliti.


Benar saja, Salsa—musuh bebuyutannya baru saja memposting handphone seri terbaru, jiwa-jiwa iri dengki dan sirik. Mila seketika meradang.


Mila mendengus kesal, “Ini gak bisa dibiarin nih, masa gue kalah saing sama dia.”


“Benar Mil, lagian setahu gue yah si Salsa itu gak kaya-kaya banget deh, tapi kok bisa sih dia punya handphone dengan harga puluh ratusan juta,” ucap Sheila.


“Apa mungkin si Salsa punya sugar Daddy?” sahut Marsha dengan polosnya


“Pasti sih, paling dia juga cuma jadi simpenan om-om!” jawab Mila, sembari melipat kedua tangannya.

__ADS_1


“Tapi ya udah sih gak usah kita pikirin, mungkin aja emang si Salsa nya lagi beruntung bisa beli handphone semahal itu. Sekarang mending kita pikirin aja, kita ini mau lanjut kuliah di Universitas mana,” sambung Marsha.


“Ck, tapi tetap aja, gue bakal terus kepikiran sama si Salsa yang pakai handphone seri terbaru. Sementara gue, masih pakai handphone keluaran tiga tahun yang lalu. Ahhhhh, gue gak mau! pasti nih ya si Salsa bakal ngeledekin gue dia bakal bilang gini, katanya anak dosen, properti orang tuanya di mana-mana masa kalah saing, ihhhh nyebelin!” keluh Mila.


“Yah pastilah si Salsa bakal ngeledekin lo. Lo tahukan mulutnya dia itu pedes banget, sepedes cabe rawit,” sambung Sheila sembari tertawa kecil.


“Liatin aja, gue juga bakal ganti handphone dengan seri terbaru!” tegas Mila.


Sheila dan Marsha kembali saling menatap, melihat sikap ambisius sang sahabat hanya bisa membuat mereka berdua geleng-geleng kepala.


“Heh, lo jangan ngadi-ngadi itu handphone harganya puluhan dan ada juga yang ratusan juta, mahal!”


“Biarin aja, gue tinggal minta sama ibu!”


“Emang bakal dikasih?” tanya Sheila dengan raut wajah tak yakin.


Mila menghela nafas, “Kayaknya sih enggak, soalnya ibu itu beda, waktu ayah masih ada semua keinginan gue diturutin meski sekarang .." terdiam Mila tak lanjut, pasalnya teman teman mereka tidak tahu, jika ayahnya sakit jiwa yang asli.


“Nah itu dia Mila, lagian uda deh kasihan juga tante Citra. Dia sekarang kan ngurusin perusahaan ayah lo sendirian, kalau lo minta macem-macem yang ada cuma nambahin beban pikirannya aja, kecuali.....” ucap Sheila terjeda.


“Kecuali apa?”


Sheila tertawa lepas, tawanya menular ke Marsha, namun tidak pada Mila. Mila justru terdiam dalam beberapa detik.


“Gimana mau punya suami, pacar aja ghoib alias kagak ada,” sambung Marsha meledek Mila, yang saat itu hanya diam.


Tawa mereka berdua terlihat begitu renyah, bahkan Sheila saja sampai memegangi perutnya.


***


Di sisi lain, saat ini Faza tampak berada di ruangan kerjanya, pria tampan tersebut terlihat tengah fokus membaca rekam medis salah satu pasiennya.


Hingga suara pintu terbuka berhasil mengalihkan pandangan Faza.


“Dokter Naila?” sapa Faza, saat melihat seorang wanita cantik berjas dokter yang baru saja memasuki ruangannya.


Naila—wanita manis sekaligus teman semasa kuliah Faza itu tampak mengulas senyuman, hingga pada akhirnya ia berjalan mendekat kearah meja kerja Faza.


“Dokter Faza sedang sibuk?” tanya Naila.

__ADS_1


Faza mengedikkan kedua bahunya, “Tidak terlalu, memangnya ada apa Naila?”


Naila menghela nafas, ia tak langsung menjawab pertanyaan Faza.


“Kamu baik-baik saja kan?” sambung Faza saat melihat raut wajah Naila seolah menyiratkan kegelisahan.


“Ya, aku kemari hanya ingin mengatakan sesuatu.....aku memutuskan untuk pindah tugas ke Swedia” jelasnya.


Faza terdiam dalam beberapa saat, sampai akhirnya lelaki tampan itu mulai menatap serius kearah Naila.


“Kemauan kamu sendiri atau ini perintah dari rumah sakit?”


“Ini semua atas dasar kemauan aku sendiri, Faza.”


“Why?”


“Tidak ada alasannya, aku hanya—”


“Naila, aku sangat mengenal kamu, dari dulu kamu selalu ingin bertugas di rumah sakit pusat, dan saat keinginan kamu sudah tercapai kenapa kamu justru ingin pindah ke luar kota? ayolah Naila, kamu harus pikirkan matang-matang.”


“Aku sudah memikirkannya dengan matang Faza, surat resign ku di rumah sakit ini juga sudah diterima, jadi aku datang kemari hanya ingin mengucapkan salam perpisahan sama kamu,” ungkap Naila.


Sorot mata Naila menggambarkan kesenduan. Sementara Faza, lelaki tampan itu sama sekali tak menduga jika Naila akan mengambil keputusan sebesar ini.


“Naila, jujurlah. Aku yakin kamu pasti punya alasan, kamu tidak mungkin memutuskan suatu hal tanpa sebab yang jelas, aku sangat mengenal bagaimana kamu, kita sudah berteman selama bertahun-tahun.”


Naila terdiam, pandangannya beralih menatap ke lain tempat. Dan tanpa ia sadari, bulir air mata menetes jatuh membasahi wajahnya.


“Aku tidak sanggup jika harus terus berada dekat dengan kamu Faza, sementara aku tahu bahwa saat ini kamu sudah menjadi milik orang lain, aku sudah berusaha untuk menepiskan perasaanku, tapi aku tidak bisa, jalan satu-satunya aku mungkin harus pergi, tapi jika suatu hari nanti aku sudah bisa berdamai dengan kenyataan, maka aku akan kembali lagi,” ungkap Naila.


Yang berhasil membuat Faza syok dan tertegun.


“Aku permisi,” sambung Naila yang kemudian pergi meninggalkan ruangan kerja Faza.


Kembali teringat oleh Faza kejadian beberapa tahun silam, saat pesta kelulusan, saat itu Naila menyatakan perasaannya pada Faza dengan begitu berani, namun entah mengapa Faza tak pernah memiliki perasaan lebih dari sekedar teman dengan Naila. Dan ia menikahi mendiang sahabatnya, istrinya yang kini sudah menjadi bidadari surga. Hingga mendapati Faza menikah lagi dengan wanita bernama Fu Mila.


Faza menolak Naila secara halus, bertahun-tahun berlalu, Faza pikir perasaan Naila padanya sudah memudar, tapi ternyata Faza salah, wanita itu masih saja mencintainya, dan kabar pernikahan Faza tentu saja sangat menyakiti perasaannya.


‘Maafkan aku Naila, Aku tidak bisa membalas perasaan kamu, dan mungkin tidak akan pernah bisa’ gumam Faza dalam hati.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2