Story Ummul & Ludmil

Story Ummul & Ludmil
DETIK ROMANTIS


__ADS_3

Selepas kembali berganti pakaian dan membersihkan diri, Mila memakai parfum dimana ia duduk disebelah Faza, yang kini ia juga baru selesai dari kamar kecil, dan mendekati Mila


“Tapi saya belum siap!” tolak Mila.


Mila langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Sementara itu, Faza yang mendapatkan penolakan seketika terdiam, Faza menghela nafas panjang.


“Mila, aku hanya ingin meruntuhkan jarak dan kecanggungan diantara kita berdua, aku—”


“Kumohon mengerti lah. Aku benar-benar tidak bisa, ini semua terlalu cepat beri aku waktu dan aku akan menuruti semua perkataan anda tapi tidak untuk yang satu ini maaf,” ucap Mila.


Yang akhirnya berhasil membuat Faza mengangguk paham.


“Baiklah, kali ini aku tidak akan memaksa kamu. Tapi kamu harus segera menyiapkan diri, karena aku tidak ingin menunggu dalam waktu yang lama mengerti?”


“Ya dan satu lagi, apa bisa kita tidurnya terpisah saja? jujur aku benar-benar tidak terbiasa tidur satu ranjang dengan orang asing,” pinta Mila.


Namun hal tersebut berhasil membuat Faza mendengus kesal.


“Untuk itu tidak bisa. Kita harus tetap tidur bersama dan kamu harus ingat, aku ini bukan orang asing, aku adalah suamimu!” jawab Faza.


Faza kemudian berbaring, menarik selimut dengan kasar sembari mematikan lampu tidur.


“Faza tapi—”


“Tidurlah, jangan bicara lagi!” tegas Faza.


Membuat Mila tak enak, akhirnya pasrah dan ikut berbaring tepat di samping lelaki tampan itu.


***


Keesokan paginya, Mila terlihat menggeliat saat ia merasakan sinar mentari menembus masuk melalui celah-celah jendela kamar.


Mila, membuka matanya perlahan, ia menoleh kearah samping dan saat itu pula Mila tak menemukan keberadaan Faza.


“Dimana dia, apa sudah bangun duluan?” ucap Mila, entah pada siapa.


Wanita cantik berparas manis itu kemudian beranjak turun dari atas ranjang, ia melangkah menuju kearah bilik kecil yang masih berada di dalam kamar tersebut.


Setelah membersihkan diri kurang lebih setengah jam lamanya, Mila pun kemudian bergegas turun ke lantai dasar.


Mila melangkah menuju ruang makan, dan di saat yang bersamaan Mila melihat kehadiran Faza yang duduk di salah satu kursi meja makan sembari menyeruput kopi dan juga membaca surat kabar.


“Akhirnya bangun juga kamu,” ucap Faza dingin. Bahkan ia sama sekali tak menoleh kearah Mila, tatapan lelaki tampan itu begitu fokus kearah koran yang sedang ia baca.


“Hum,” gumam Mila.


Mila lalu mencari posisi nyaman untuk duduk. Di atas meja makan sudah terhidang beberapa menu sarapan pagi.


Tapi tunggu dulu, mengapa hanya ada nasi telur, olahan ikan, sayuran, buah dan susu. Ini bukanlah sarapan yang biasa Mila makan.

__ADS_1


“Bibi Ar..!!!!” panggil Mila.


Yang berhasil membuat sang pelayan rumah langsung datang menghampirinya.


“Iya nona Mila ada apa?”


“Bi, tolong buatkan saya mie instant,” ucap Mila.


Namun Ar.. hanya terdiam, sementara itu, Faza sendiri terlihat mulai melipat surat kabar yang sedari tadi ia baca, pandangan Faza kemudian tertuju kearah Mila.


“Tidak ada mie instan, makanlah makanan yang sudah tersaji di hadapan kamu,” sambung Faza.


Mila mengerutkan dahinya, ia juga tampak menarik nafas panjang.


“Tapi aku gak suka makan telur, ikan atau sayuran, aku gak terbiasa sarapan dengan semua makanan ini, aku sukanya mie instan Faza, mie level pedas." ucap Mila.


“Dulu mungkin kamu tidak terbiasa, tapi sekarang kamu harus mulai membiasakan diri untuk mengatur pola makan yang sehat, mengerti?”


“Faza ayolah, pokoknya aku gak mau makan telur atau sayuran, aku maunya mie instan, kalau kamu tetap larang aku, ya sudah aku tidak usah sarapan saja sekalian!” ancam Mila sembari melipat kedua tangannya ke bawah.


“Mila dengar telur itu mengandung lutein dan zeaxanthin, selain itu telur juga merupakan salah satu sumber kolin terbaik, nutrisi yang sangat penting untuk kesehatan otak dan hati. Bukan hanya telur saja, sayuran juga—”


“Uda cukup pak dokter! Aku ini lagi mau sarapan bukan mau konsultasi gizi jadi jangan berlebihan, aku tahu kamu seorang dokter tapi ya gak gini juga kali, masa iya kamu juga atur-atur makanan aku,” keluh Mila memotong ucapan Faza.


“Mila, saya hanya ingin kamu sehat dan kamu tidak boleh lupa bahwa kamu harus menuruti semua perintah saya, termasuk makanan-makanan yang sehat, mengerti!"


“Aku tetap gak mau!”


“Oh ya sudah kalau kamu tidak mau makan tidak masalah, paling kamu yang lapar dan yang rugi juga kamu,” ungkap Faza yang kemudian beranjak dari tempat duduknya dan berjalan pergi meninggalkan ruang makan.


“Lama-lama bisa mati jadi istri dia.”


Kembali lagi pada Faza, kini ia terlihat sudah rapi dengan setelan jas dokternya, sepertinya pagi ini lelaki tampan itu ingin segera berangkat menuju rumah sakit.


“Kamu mau kerja?” sapa Mila yang tiba-tiba saja sudah berada di belakangnya.


Faza hanya menoleh kilas, “Ya aku akan ke klinik."


“Baguslah kalau begitu, aku juga mau keluar ketemuan sama temen-temenku,” ucap Mila.


Seketika Faza menatap serius kearah sang istri.


“Teman yang mana?” tanya Faza.


“Kalau aku bilang kamu juga gak bakal kenal.”


“Memangnya kamu mau kemana?”


“Ke restoran tempat biasa aku sama temen-temen ku ngumpul.”


“Ya sudah kalau begitu biar aku antar!”

__ADS_1


“Jangan-jangan!” tolak Mila dengan cepat.


“Kenapa?”


“Aku gak mau ya kalau sampai temen-temenku tahu aku uda nikah.”


“Apa salahnya kalau temen-temen kamu tahu kalau kamu sudah menikah?”


“Yah pokoknya aku gak mau, titik!”


“Oke, aku gak akan antar kamu tapi kamu harus share lokasi tempat kamu nanti ketemuan sama temen-temen kamu.”


“Ribet banget sih!”


“Mau atau tidak? kalau kamu tidak mau. Kamu gak usah pergi, di rumah saja.”


“Ya sudah oke deh, nanti aku share lokasinya!” jawab Mila pasrah.


“Bagus, kalau gitu aku pergi duluan, oh iya satu lagi kamu harus pulang sebelum jam empat sore. Mengerti!"


“Iya-iya.”


“Dan pastikan ponsel kamu selalu hidup.”


“Iya.”


“Baiklah, kemari!” sambung Faza yang berhasil membuat Mila mengerutkan dahinya.


“Kenapa diam, kemarilah mendekat denganku,” ungkap Faza.


Membuat Mila akhirnya melangkah maju mendekati lelaki tampan itu, dan tiba-tiba.


Cup!


Satu kecupan kilas berhasil mendarat di bibir Mila, bahkan Faza dengan begitu berani menyentuh bibir Mila.


“Sampai jumpa.”


“Sa—sampai jumpa.”


Faza kemudian berjalan mendahului Mila dan perlahan punggung belakang Faza menghilang dari pandangan Mila.


Sementara itu, Mila sendiri terlihat masih terdiam membeku, ia juga tampak menyentuh bibirnya.


Tidak pernah ada lelaki yang pernah mengecup bibir Mila, Faza lah menjadi yang pertama.


Sungguh ini membuat jantung Mila rasanya ingin lepas dari sarangnya.


“Tidak! Tidak! kenapa aku jadi baper, inget Mila kamu gak cinta sama dia dan kamu harus bersikap biasa aja, oke!” ucap Mila pada dirinya sendiri.


Oh astaga dasar Mila, bahkan ia berusaha untuk menyembunyikan debaran perasaan dalam dirinya. Entah kenapa saat kiss pertama, membuatnya bergetar melangkah dan mengingat inilah yang pertama.

__ADS_1


Astaga, apakah Faza membuat aku jatuh cinta?! batin Mila.


Tbc.


__ADS_2