
Pergulatan yang manis, membawa Mila dalam masalah besar, ketika ia berbicara menunda mongmongan, dimana saat itu dirinya merasa syok, Faza marah dan pergi dengan kata yang tidak pantas mengungkit masalahnya dahulu sebelum menikah.
Ah, sakit hingga ia bekerja saat ini bertemu direktur dimana itu adalah masa lalunya, lunch bersama yang ketika di ajak, ia ikut.
Sore harinya, tepat pada jam pulang kantor Mila bertemu Bima tak sengaja dan Mila memutuskan untuk singgah terlebih dahulu ke salah satu mall elit kawasan kota. Seperti yang Bima katakan sebelumnya, ia sangat ingin jalan bersama dengan Mila seperti dahulu.
Mereka berdua sangat menikmati hari yang singkat itu, Bima mengajak Mila menonton salah satu film romansa-comedy.
Mereka saling tertawa satu sama lain, bahkan saat ini Mila nampak melupakan sejenak masalah yang terjadi di hidupnya. Hadirnya Bima, mampu membuat suasana hati Mila membaik.
“Mila, film tadi lucu banget yah!” ucap Bima sesaat setelah mereka keluar dari dalam gedung bioskop.
“Iya lucu, tapi romantis juga.”
“Tapi yah aku perhatikan kisah film tadi itu mirip banget loh sama kisah kita dulu, iyakan?”
“Perasaan kamu aja kali.”
“Aku serius Mila, si cowoknya trouble dan ceweknya feminim. Cara si cowok untuk dapetin perhatian ceweknya sama seperti yang dulu aku lakukan waktu sama kamu. Ckk, masa kamu gak inget sih Mila!” ungkap Bima.
“Kan sudah lama Bima, wajar kalau aku lupa!”
__ADS_1
“Oh, jadi kamu udah lupain masa lalu kita ya,” raut wajah Bima seketika berubah menjadi sendu.
Mila, yang melihatnya seketika mengerutkan dahi. Mila menyenggol sikut Bima.
“Apaan sih, kok baper!”
“Yah gimana gak baper, aku aja sampai sekarang masih ingat masa-masa indah yang pernah kita lewati, eh kamunya sendiri malah lupa.”
“Astaga bapak direktur ini kenapa jadi sensitif banget yah.....uda ah, aku laper mending cari makan. Ayo!” Mila menarik lengan Bima.
Mereka berdua pun akhirnya mencari restoran yang nyaman untuk makan bersama, selama berada di restoran Mila maupun Bima terus berbincang, mereka seolah tak pernah kehabisan topik pembicaraan. Sesekali keduanya saling melemparkan guyonan.
Hingga tanpa disadari jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, bahkan mall saja sudah ingin tutup, Mila dan Bima memutuskan tidak langsung pulang, mereka memilih untuk berjalan-jalan di taman yang berada tak jauh dari sana.
Bima dan Mila tengah berjalan santai di taman yang penuh dengan lelampuan indah.
“Oh iya Mila, aku sebenarnya ingin bertanya sesuatu sama kamu,” sambung Bima yang seketika memberhentikan langkahnya.
Bima menatap serius wajah Mila. “Apa itu?” tanya Mila penasaran.
“Gimana perasaan kamu saat ini sama aku Mila?”
__ADS_1
“Perasaan, maksudnya?”
“Ah gini, dulu kita kan pernah punya hubungan spesial di sekolah, kita juga pernah berpisah dalam waktu yang lama, dan ketika kita kembali dipertemuan, apa yang kamu rasakan Mila?”
“Tentu saja aku bahagia, sangat bahagia,” jawab Mila dengan tatapan yang begitu tulus.
“Sungguh?”
“Yaa.....Bima kalau aku boleh jujur, sebenarnya saat ini aku lagi punya masalah yang menurutku cukup berat, tapi aku bersyukur bisa kembali bertemu dengan kamu, kamu membuat aku melupakan sejenak masalahku,” ungkap Mila.
Dalam beberapa detik Bima terlihat diam, ia menatap lekat wajah Mila, tatapan yang begitu tulus.
“Maafin aku ya Mila." ucap Bima.
“Loh, kenapa kamu tiba-tiba minta maaf?”
“Maaf karena aku sudah pernah meninggalkan kamu. Mila, kalau boleh aku berkata jujur, selama jauh dari kamu, aku benar-benar merasa terpuruk Mila, aku cari kakakmu Fu mala dia enggan memberitahu karena tidak tahu sekarang kamu tinggal dimana, aku merindukan senyuman mu sepanjang waktu, aku bahkan tidak pernah menjalin hubungan dengan wanita manapun, karena sampai detik ini, kamu masih satu-satunya wanita yang aku cintai!”
Dep!
Fu Mila merasa tak enak, hingga sampai saat ini ia belum memberitahu Bima, jika ia sudah menikah.
__ADS_1
TBC.