
Mila, terlihat merapikan rambutnya di depan meja rias. Dengan gaun selutut berwarna hitam, wanita cantik itu tampak begitu berkilau.
Mila berjalan menuju lantai dasar. Suara heels yang Mila kenakan menggema ke seluruh ruangan rumah.
“Bagaimana Bibi, apa semuanya sudah siap?” tanya Mila pada sang pelayan.
Bibi Ar, tersenyum manis.“Sudah Nyonya.”
“Bagus, kalau begitu aku akan menunggu Faza di ruang makan,” ungkap Mila sembari melanjutkan langkahnya.
Di ruang makan, banyak hidangan yang tersaji dan beberapa lilin di atas meja menambah kesan yang romantis.
Derup suara langkah kaki terdengar mendekat. Dapat Mila, duga pasti itu adalah Faza, Mila langsung beranjak berdiri, menyambut kedatangan Faza dengan senyuman manisnya.
Faza terpanah, lelaki yang baru saja pulang kerja itu menatap tak percaya apa yang kini ada di hadapannya.
“Hai, akhirnya kamu pulang juga!” ucap Mila melangkah mendekat ke arah Faza.
Gleuuk! Menelan saliva.
Mila, meraih koper kerja Faza dan juga jas dokter yang sedari tadi lelaki tampan itu pegang.
“Kamu pasti capek banget ya, sekarang kita makan yuk!” sambung Mila.
Faza masih terdiam, ia tak menduga jika Mila akan menyambut kepulangannya dengan begitu manis.
__ADS_1
“Faza kamu kok diem, ayo kita makan malam.”
“Ah, iya ayo!” jawab Faza.
Mereka berdua kemudian berjalan mendekati meja makan, Mila tampak sigap mengambilkan piring beserta nasi dan juga lauk pauknya.
“Ini semua kamu yang siapkan?” tanya Faza ragu-ragu. Bagaimana tidak, Faza merasa saat ini sifat Mila begitu berbanding terbalik dengan sebelumnya.
“Kalau makanannya sih, Bibi Ar .. yang masak, tapi yang request beberapa menu makanannya itu aku, sekaligus aku juga yang minta di tambahin lilin-lilin, biar kesannya romantis, kamu suka kan?”
“Ya tentu, tapi kenapa?” Faza mengangkat kedua alisnya.
“Kenapa apanya ..?”
“Yah kenapa tiba-tiba kamu jadi bersikap manis seperti ini?”
“Aku kan istri kamu, dan sebagai istri aku harus melayani suamiku sebaik mungkin, yah anggap aja ini first dinner kita.”
“Aku senang sekali, akhirnya kamu sudah mulai belajar untuk menerima pernikahan kita. Aku sayang sama kamu Mila,” Faza tampak meraih telapak tangan Mila, sembari mengusapnya dengan begitu lembut.
Makan malam berjalan dengan sangat lancar, Faza terlihat begitu bahagia, ia bahkan menyantap habis semua menu yang dihidangkan.
“Kamu kelihatannya laper banget ya,” gurau Mila.
Faza tertawa kecil mendengarnya, “Iya nih, kayaknya berat badan aku bakal nambah deh.”
__ADS_1
“Gak apa-apa sih, kamu juga bakal tetap ganteng.”
“Ini kamu kenapa jadi jago gombal? kamu lagi baik-baik aja kan?”
“Ya iyalah aku baik-baik aja, kamu pikir aku kenapa ..?”
“Ya gak biasanya aja kamu bersikap kayak gini sama aku.”
“Faza, aku kan uda bilang aku itu cuma mau belajar jadi istri yang baik buat kamu.”
“Aku seneng dengernya sayang, oh ya aku mau kasih sesuatu untuk kamu,” Faza terlihat merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah dompet dan meraih satu kartu berwarna hitam dari dalam sana.
“Ini sayang kamu ambil kartu ini, kamu bisa pakai untuk kebutuhan kamu,” jelas Faza.
‘Astaga Faza peka banget sih, yes berarti rencana aku berhasil’ batin Mila.
Mila dengan cepat langsung menerima kartu pemberian dari suaminya itu.
“Kamu baik banget sih.”
“Kalau kamu butuh sesuatu kamu bisa pakai kartu itu, gak perlu khawatir, kartunya unlimited.”
“Unlimited? gak ada batasnya?”
“Iya sayang.”
__ADS_1
TBC.