
Mila kini berada dalam sebuah kebingungan di butik Weeding, dengan rasa mual yang tak bisa ia bayangkan saat ini. Ia merasa gaun itu tidak mungkin ia kenakan, entah mengapa rasa perasaannya saat ini untuk menerima dirinya menjadi dayang pengantin sang kakak bernama Fumala bersama Evan adalah hal yang salah.
"Enggak, aku harus buat keputusan. Pernikahan ini gak boleh terjadi." Mila kembali berdiri dan menoleh.
"Kamu bilang apa? tidak boleh terjadi. Bagaimana bisa, kamu membiarkan reputasi ku hancur?" bisik Evan, dimana ia tahu malam itu adalah wanita yang harusnya jadi adik ipar, ia hamili.
"Evan. Bukan begitu, aku rasa kita tidak seharusnya bersama kamu dan kakakku sementara aku ... Tidak adil."
"Dan tidak adil, bagiku untuk menyianyiakan hidup wanita yang telah hancur. Maka aku harus menikahi mu, kita bicara dengan Fumala. Ayo jangan buang waktu, aku ingin kamu mengenakan sesuai gaun yang pelayan ini berikan!"
"Jangan, nanti kakak Fumala akan kecewa."
"Aku nikahi kamu sebagai tanggung jawab, kita remuk apa yang harus kita lakukan. Aku mencintai Fumala, bukan kamu. Tapi dia hadir dalam perutmu karena kesalahanku."
Mila mau tidak mau harus menurut, namun saat ia melihat Evan menunggu diluar. Ia merasa sangat mual tak terhingga. Beberapa kali pelayan butik keluar masuk, membuat tatapan Evan melihat saat ia sedang membaca buku model.
"Ada apa?"
"Maaf Tuan! Nona di dalam sepertinya sedang sakit. Saya sudah mengambil beberapa minyak angin. Tapi nona di sana seperti tidak sehat, apa masih ingin di lanjut?"
Evan segera merapihkan jasnya. Hingga dimana ia membuka tirai, dan meminta pelayan keluar meninggalkan mereka berdua.
__ADS_1
Uhuuk! Anda kenapa masuk, ruangan ini. Mila menoleh dan tak terasa mendapat pelukan. Terlihat Mila merasa diam, tidak mual dan benar benar nyaman. Hal itu ia rasakan dengan benar benar tidak masuk akal.
"Apa yang kamu rasakan Mila, aku bingung untuk katakan pada Fumala, tapi aku pria yang bertanggung jawab?"
"A-aku tadi sedikit mual. Tidak bisa muntah, tapi saat ini kenapa bisa tidak ingin? aku rasa kamu nikahi saja kakak Fumala, biarkan aku dengan semua ini dan aku akan pergi jauh." lirih Mila.
"Apa kamu terlambat bulan, sejak sebulan lebih lalu kejadian itu. Bagaimana jika .."
"Maksud kamu, aku sedang ...?"
Evan kembali memeluk, mengelus perut Mila. Ia yakin jika Mila kini sedang mengandung anaknya. Ia sungguh mengharapakan jika Mila benar benar anak pertama baginya.
"Kamu berlebihan, dia tidak akan senang pastinya. Apalagi, saat kemarin dia sangat murung padaku dengan tatapan aneh."
"Pertama, bukankah Elos juga anak pertamamu dengan gadis sma?"
"Haah. Sudahlah jangan dipikirkan lelucon itu, kelak sudah jadi istri kamu akan mengetahuinya, kita buat perjanjian kontrak bagaimana. Ayo aku bantu mencoba gaun. Aku akan meresletingnya!" ungkap Evan.
"Tapi Evan! Tunggu, aku merasa tidak nyaman. Lebih baik kamu tunggu diluar!"
"Dan menunggu waktu semakin lama, kamu akan kembali mual bukan? Sudah aku bantu, aku juga menyuruh Rendi menjemput Fumala agar cepat sampai!"
__ADS_1
Pesan pun tiba, dimana Fumala dan Rendi terjebak macet dan meminta jadwal ulang ke butik. Bahkan Mila terasa sakit, kala Fumala tidak tahu ia ke butik bersama calon suaminya ini. Ah, benar benar tidak ada ibu Ummul membuat Mila kehilangan arah, apa yang harus ia lakukan.
Evan kembali memakai Seatbelt agar Mila duduk safety. Sehingga tatapan Mila kembali menatap dan berterimakasih.
"Jangan banyak memikirkan hal lain, aku pastikan aku tidak akan pernah membuat kamu menangis Mila, setelah aku nikahi kamu akan ada di tempat aman."
"Tapi setelah kita dirumah, bagaimana dengan Rendi. Apa aku boleh berbicara beberapa saat pada Rendi?"
"Yap! Rendi malam ini pulang dari singapore setelah meeting proyek minggu lalu. Tapi aku membiarkan kamu bersama Rendi berbicara hanya malam ini. Setelah menjadi istri, kamu harus menjaga jarak. Agar tidak ada rumor aneh Mila, aku pastikan setelah anak itu lahir kamu bisa bebas, dan maaf aku harus menikahi Fumala juga, semata anak itu lahir dengan jelas!"
"Lalu bagaimana setelah aku lahir?"
"Kita pikirkan nanti, anak itu akan aku rawat. Dan anggap dia keponakanmu, bukan Anak kita." ujar Evan, membuat Mila terdiam.
Mila pun terdiam, ia manggut mencoba mengerti dan mencerna. Setelah dari rumah Evan, sore ini ia harus kerumahnya. Entah rasa apa, yang harus Mila bersikap.
Jujur saja, kerinduan Mila pada ibu Ummul sangatlah dalam. Adanya Evan membuat Mila bisa memberanikan diri pulang ke rumahnya. Namun Mila kembali terkejut, ketika Evan tak jadi menuju arah jalan pulang ke rumahnya, terkait pria itu yang tadinya membenci ingat karena malam itu mereka melakukan kesalahan, dimana Mila pun tidak ingat. Akan tetapi si Evan mempunyai bukti, sehingga hubungan mereka diam diam.
'Kak Fumala, maafkan Mila. Harus merebut calon suami kakak, karena Mila hamil. Ini hanya kontrak, sebatas anak saja. Mila harap, kakak jaga ayah.' batin berderu.
"Mas Evan. Kenapa kita ke kiri?" kaget Mila.
__ADS_1
TBC.