
Fumala dan Mila, sebagai kedua anak membawa dirinya pada belenggu, dimana sang ayah selalu menutup diri dan mengurung setelah kepergian sang ibunda.
"Kak, aku kuliah dulu ya. Jaga Ayah! Mila harus selesai skripsi soalnya dalam waktu cepat."
"Iy, kamu baik baik ya!" ujar Fumala yang meminta adiknya menjaga diri.
Dimana Fumala sudah berganti posisi sebagai Ummul, seorang kakak yang menjadi penguat ibunya, mengurus adik dan ayahnya yang kini terlihat depresi.
"Ayah, makan dulu ya! Fumala udah masak nih."
"Enggak .. Enggak. Kamu makan aja, ayah ga laper."
Fumala sendiri syok, menatap jendela kala sang ayah kini duduk memojok, menatap foto Ummul dan kini terlihat benar benar depresi. Fumala menghubungi seseorang, dimana ia meminta bantuan agar kejiwaan ayahnya benar benar tertolong.
Di Kampus.
Percintaan Mila dimana sang ibu telah tiada, membuat diri Mila tanpa arah. Bahkan tali percintaannya tidak diketahui ayah, dimana ayah nya saja sudah bingung mengurus diri sendiri, sementara sang kakak sibuk dengan banyak hal.
“Mila, kamu kok tadi dibonceng si Randi tadi pagi?” Dewi bertanya dengan nada kebingungan, pasalnya tidak biasa Mila mau.
“Iy, aku gak apa apa lagi malas naik motor sendiri.” Mila menjawab apa adanya.
“Jangan sering sering memberi kesempatan berdua, Kalau ga mau, suka atau ga suka!”
Dewi masih saja mengoceh meskipun mulutnya penuh nasi.
"Aku bersih bersih dulu ya!"
"Ya, is oke. Gak apa, lagian dari gudang belum di kirim. Kalau udah delapan ratus pcs kamu wajib bantu. Kemarin dua ratusan lebih aja, sumpah kita bersepuluh di bantu kurir loh!"
"Sory ya." senyum Mila.
Dimana Mila setelah kuliah, ia bekerja menjadi sortir paket bagian gudang bersama teman baiknya.
Tak lupa Mila berterimakasih pada Randi. Lalu setelah masuk, Mila berahli ke kamar mandi. Ia menangis tersedu sedu, mengingat dirinya tidak sedang baik baik saja. Mila merasa malu dan kotor. Entah harus dari mana ia harus mendapat perlakuan tidak menyenangkan, kehilangan sosok ibu Ummul membuat Mila sulit terarah.
Sementara Mila mengabaikan dering ponsel yang terlihat jelas dari kekasihnya itu. Sudah delapan belas kali, akhirnya Mila memblokir sementara. Lalu dengan terlihat jelas, sebuah pesan dari sang kakak.
__ADS_1
[ Adik, kita sudah lama tak bertemu. Apa kamu punya waktu? kita bicara, kenapa kamu bekerja diam diam dari kakak? ] pesan Fumala.
Mila terdiam peluh, hingga di mana Mila menatap nomor keluarga yang tak pernah ia bayangkan sekian lama, sejujurnya perlakuan sang ibu dan kakak benar beda, membuat Mila hilang tujuan kariernya. Bodohnya kesalahan Mila yang pingsan di tempat salah, membuat ia takut bertemu sang kakak jika ia bicara terus terang, apa yang terjadi akan melukai hati sang kakak.
***
Saat jam pulang tiba, Eri kembali menawarkan untuk mengantar Fumala, dimana Eri adalah kekasih Fumala. Namun, kali ini ajakannya tidak berhasil, karena Fumala terlihat menyembunyikan sesuatu, ia khawatir dengan keadaan Mila.
“Mas, Aku mau ada perlu ke toko buku. Mbak Balqis sudah janji mau ngantar aku besok, dan janji adalah hutang.”
"Sayang, kamu jadi mengantar mbak balqis. Benar jadi usaha kue?"
"Ya mas, itupun jika mas Eri ga keberatan. Jujur saja, Fumala bosan dengan rutinitas."
"Baiklah, izin sama ayah. Malam ini kedua orangtua mas Eri, bakal lamar kamu. Mungkin dengan kita berkeluarga, ayah akan baik dan bahagia."
"Iya makasih, tapi kesehatan ayah semenjak di tinggal ibu. Fumala gak yakin, apakah Mila baik baik saja. Anak itu kuliah sambil bekerja, apa tidak apa nanti keluargamu bilang aku ini .., aku takut jadi beban kamu mas."
"Kamu calon istriku Fumala, keadaan keluargamu itu keluargaku juga." imbuhnya membuat Fumala menetapkan hati pada kekasihnya yang telah terjalin lima tahun terakhir.
BERBEDA HAL DENGAN KANTOR.
"Mila udah datang belum Sar?"
"Belum deh, tapi kalau ga salah ada info Mila sakit. Izin ga masuk beberapa hari ini."
"Owh. Oke deh, thanks infonya ya!"
Hingga di mana Randi menghubungi Mila, dan masih saja ponselnya tak bisa di hubungi. Ia pun menghubungi Dewi, dan menanyakan keadaan Mila saat ini. Benar saja, ia merasa ingin sekali ikut libur, dan segera mengambil jasnya dan kunci mobilnya. Dimana rekan kerja Mila, tidak ada yang tahu keberadaan Mila dimana. Randi sangat khawatir, sebagai sahabat yang cinta mati pada Mila, ia khawatir pada gadis itu terkait dirinya bersumpah pada ibu Ummul, untuk jaga Mila selalu.
"Mau kemana kau Randi?" tegas Eri.
"Kak, aku. Aku mau .. mau jenguk keadaan Mila." terdiam.
"Untuk apa, hanya seorang karyawan. Jika dia tidak sakit pasti akan masuk, lebih baik kau pergi ke tempat kerjamu. Jangan keluar sebelum tugas berakhir!" ungkap Eri dan berlalu pergi dengan angkuh.
Randi mencebik. Kak Eri kenapa jadi over protektif banget? Embuhnya.
__ADS_1
Sementara Eri, terlihat penasaran nama Mila wanita pujaan adiknya, dimana ia ingat adik kekasihnya juga sama. Ah! pasti hanya kebetulan saja.
"Tidak masuk di akal jika Mila mengatakan sedih, karena rindu ingat kedua orangtuanya."
“Ran, kenapa kamu diem aja?” tanya Sari menyenggol.
“Aku ngomong kok, Mbak sari. Cuma kamu aja yang nggak denger?” pergi Randi karena tak ingin terlihat, seperti pria yang banyak masalah. Hanya karena memikirkan Mila seharian penuh.
“Serius kamu, masak iya sih, kupingku bolot?” ucap Sari sambil menggosok gosok kedua telinga. Dan merapihkan meja custumer service.
“Iya, serius. Aku ngomong dalam hati,” ujar Randi berteriak, disusul tawa Sari yang pecah.
Sampai bahunya berguncang karena terlihat Randi aneh mengelak, padahal jelas Sari melihat wajah Randi mencari keberadaan Mila yang izin cuti berapa hari ini.
Di Kontrakan Petak.
Mila masih ingat, Lelaki itu mengerjap ngerjap saat wajah kami begitu dekat. Benar terasa naik turun. Baru sekarang aku sedekat ini dengan pak Eri dan sadar itu adalah kesalahan.
Tapi jika itu aku bayangkan saat sesekali meeting, hanya saja kejadian suatu malam membuat Mila merasa jijik. Ia melihat tubuhnya. Tubuh yang di raup paksa tak bisa menoleh, hingga ia hampir pingsan dan sadar dengan tubuh yang membulat sama sama polos. Masih mode menangis, Eri hanya bisa terlelap dan masih membuka mata tanpa rasa bersalah.
"Pria itu telah merusak masa depanku, ketakutanku kenapa harus dengan Eri. Kenapa dengan cara seperti ini. Huhuhu." tangis Mila pecah, padahal ia tahu jika pria itu adalah tunangan sang kakak.
TOOK .. TOOK.
"Mila, ini gue. Lo gak apa apa kan? Gue boleh masuk, tumben kamar di kunci?" teriak Dewi.
Mila mengelap wajahnya yang merah basah, mengusap dengan kain kecil sehingga menghentikan rasa tangisan yang begitu sesak. Baginya dengan cara kesibukan, mungkin akan bisa melupakan kejadian malam yang begitu hangat dan fresh di pikirannya.
KREK.
"Gue gak apa, udah mau mulai ya. Barang udah datang ya Dew?" tanya Mila.
"Mila, mata lo bengkak. Habis nangis, jujur sama gue. Gue ga bisa diem aja, siapa yang bikin lo nangis Mila, seharian Randi cari lo? gue ga kasih tahu kalau lo ada di kontrakan ini, jujur sama gue ada apa?"
Tingnong!! Bell rumah berbunyi.
Mila dan Dewi kembali penasaran dengan arah gerbang, siapa tamu yang datang di saat momen tidak tepat.
__ADS_1
TBC.