Story Ummul & Ludmil

Story Ummul & Ludmil
KABUR 1 TAHUN


__ADS_3

Mila yang enggak menerima Evan, ia pergi di bantu Rendi. Setelah menceritakan semuanya, dimana Mila meninggalkan Ayah Ludmil dan kakak Fumala sampai saatnya tiba.


Tinggal Mila dengan bunda Asiyah, dimana tetangga Ummul yang anggap Mila sebagai putrinya, apalagi menolongnya terkait apa yang telah terjadi antara kedua putri Ummul.


Beberapa bulan kemudian.


"Apa maksud ibu, aku nikah sama dia?"


"Iy nak, dia baik kok." ucap bunda Asiyah.


“Menikah dengan mantan dokter?”


“Iya Mila, itu adalah wasiat terakhir Ibu Ummul sebelum dia berpulang.”


Mila termangu dalam beberapa detik wanita manis dengan kulit seputih susu itu terkejut bukan kepalang mendengar perkataan ibu angkatnya.


Menikah? dan desusnya itu dengan dokter sang duda yang sakit jiwa, oh tidak! Mila bahkan tak pernah membayangkan hal ini sebelumnya.


Bahkan Mila saja tidak cukup mengenal bagaimana Faza yang Mila ketahui, lelaki itu hanyalah seorang dokter yang merawat ayahnya sewaktu sakit dahulu, selebihnya Mila tak tahu apapun tentang dia, lalu bagaimana bisa saat ini Mila harus menikah dengannya?


“Tidak bu, Fu Mila tidak mau!”


Asiyah, sang ibu menghela nafas, wanita parubaya itu sudah menduga bahwa putrinya pasti tidak akan mudah setuju dengan perjodohan ini.


“Mila, jika kamu tidak menuruti wasiat terakhir Ummul ibumu, kasihan nak, beliau pasti tidak akan merasa tenang di alam sana.”


“Bu, Mila tidak terlalu mengenal dokter itu kan saat ini sakit. Mila tidak bisa menikah dengannya!”


“Mila, Faza itu lelaki yang baik, selama dua tahun belakangan ini dia yang telah merawat ayahmu, mana bisa di katakan sakit jiwa. Ibu yakin dia bisa menjadi suami yang baik untuk kamu nak. Apalagi ia saat ini berprofesi intel hukum selain membuka klinik. Bahkan kondisimu yang pernah keguguran, ibu telah berterus terang padanya semua tentangmu."


Mila mengusap kasar wajahnya dengan kedua telapak tangan, Mila bingung dan dilema, apa yang harus dia lakukan? menyetujui perjodohan ini sama saja akan membuat hidup Mila hancur, apakah ke depannya akan menjadi bahan ungkitan.


Sampai akhirnya, redup suara langkah kaki terdengar mendekati Mila dan juga ibu Asiyah yang saat ini berada di ruang tengah.


Mila mendongak, saat itu pula ia melihat kehadiran Faza, pria yang baru saja mereka bicarakan.

__ADS_1


“Nak Faza sudah datang,” sapa Asiyah sembari beranjak dari tempat duduknya.


Faza mengulas senyum pada wanita parubaya itu.


“Ya tante, baru saja.”


“Tante sudah bicara sama Mila, sekarang tinggal kamu yang meyakinkannya, kalau begitu tante tinggalkan kalian berdua dulu ya,” sambungnya.


Yang berhasil membuat Mila terperanjat.


“Ibu mau kemana, di sini saja!” cegah Mila.


“Mila, kamu perlu bicara berdua dengan nak Faza, ibu permisi dulu,”


Di saat yang bersamaan, Faza terlihat mencari posisi nyaman untuk duduk tepat di samping Mila.


Entah kenapa, Mila mendadak menjadi sangat canggung dan begitu gelisah terlebih lagi tatapan Faza yang begitu intens padanya, membuat darah Mila rasanya seperti naik turun.


“Saya tahu kamu pasti merasa terkejut dengan wasiat terakhir ibumu, dan ayahmu yang dalam perawatan. Tapi memang itu lah kenyataannya, mendiang ibu Ummul ingin saya menikahi kamu Mila, saat melihat fotomu aku juga kagum akan wajah dan sifat baik penurut mu. Dan aku tidak melihat masa lalu kamu."


“Kamu masih bisa tetap kuliah meskipun nanti kamu sudah menjadi istri saya, dan kita juga bisa saling mengenal satu sama lain seiring berjalan waktu.”


“Tapi saya merasa gak mungkin untuk menikah dengan anda, usia kita juga beda jauh banget kan, dan saya juga gak mau menjalani pernikahan atas dasar paksaan,” ucap Mila yang kali ini menatap wajah Faza.


“Tentang usia itu bukanlah sebuah permasalahan, selagi saya masih sendiri, saya sah-sah saja menikah dengan wanita mana pun, sekali pun itu pada anak kecil seperti kamu, dan tentang menjalani pernikahan berdasarkan paksaan, saya merasa tidak terpaksa sama sekali.”


“Yakin pak gak merasa ke paksa nikah sama saya?” Mila mengangkat kedua alisnya.


“Ya saya yakin.”


“Tapi saya yang merasa terpaksa, dan saya gak mau nikah sama anda, gimana dong?” ucap Mila.


“Kalau kamu memang tidak ingin menjalani pernikahan ini, ya sudah tidak masalah, mungkin kita memang tidak berjodoh, saya juga tidak ingin menikahi wanita yang bahkan tidak mau menerima saya sebagai suaminya,” jelas Faza.


Mila kembali termangu, ia benar-benar berada dalam dilema, Mila begitu menyayangi ayahnya, dan jika Mila tidak setuju dengan wasiat terakhir sang ayah, itu sama saja Mila membuat ayahnya tidak tenang di alam sana.

__ADS_1


Namun di sisi lain, Mila juga gak mau menikahi pria yang tidak dia cintai oh astaga Mila sangat bingung! apalagi dirinya pernah dihamili oleh kekasih sang kakak.


“Bagaimana Mila, apakah kamu tetap menolak perjodohan ini?” sambung Faza.


Mila tak langsung menjawab pertanyaan dari pria tampan itu, Mila lagi-lagi hanya diam, sampai akhirnya bayangan wajah sang ayah tiba-tiba saja terlintas dalam benak Mila.


Kasih sayang yang sang ayah berikan pada Mila sedari kecil begitu tulus, ayahnya selalu memperlakukan bak seorang putri raja, membuat ia merasa tak sanggup jika harus menolak permintaan terakhir dari ayahnya.


Dengan satu helaan nafas, Mila pun akhirnya menjawab.


“Baiklah, saya mau menikah dengan anda pak." ucap Mila berubah pikiran.


“Oke, kalau begitu kamu mulai lah bersiap, karena saya akan menjemput orang tua saya dan juga penghulu yang akan menikahkan kita.”


“Eh tunggu dulu, maksud anda pak kita nikah hari ini?”


“Ya!”


“Tapi kan—”


“Bukannya tadi kamu sudah setuju?”


“Ya saya memang setuju, tapi masa iya hari ini, gak bisa nunggu sampai bulan depan gitu? atau mungkin tahun depan?”


“Mila, saya tipe orang yang paling tidak suka membuang waktu, jika kamu memang sudah menyetujui perjodohan ini, saya rasa kita tidak perlu mengulur waktu lebih lama lagi, jika kita bisa menikah hari ini mengapa tidak?”


“Ya sudah baiklah, tapi anda pak harus janji ya sama saya, anda harus bisa jadi suami yang baik untuk saya dan memperlakukan saya dengan baik pula! dan tidak ungkit masa lalu saya yang ..” ucap Mila.


Mila seolah takut jika Faza tak bisa menjadi suami yang baik untuk dirinya. Dan Mila juga takut akan dirinya tidak bisa menjadi istri yang baik juga.


Faza terlihat mengangkat sudut bibirnya.


“Mila, sifat dan karakter saya itu tergantung bagaimana seseorang memperlakukan saya, jika kamu memperlakukan saya dengan baik dan penuh kasih sayang, maka saya juga akan memperlakukan kamu dengan baik pula, tapi jika sebaliknya, kamu tidak bisa memperlakukan saya dengan baik, yah kamu lihat sendiri saja bagaimana sifat saya nanti ke kamu,” jelas Faza sembari mengedipkan sebelah matanya


Mila memutar malas bola matanya, bahkan belum jadi suami saja ucapan Faza sudah terdengar menyebalkan, oh ya ampun bagaimana ini! apa jadinya jika Mila menghabiskan sisa hidupnya bersama pria ini.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2