
Esoknya Mila dan Andra sudah berangkat ke Bandung, di perjalanan Mila benar-benar tidak mau bicara bahkan tidak mau melihat ke arah Andra.
"Kenapa sih? Masih marah soal yang kemarin?" tanya Andra.
"Menurut loh?" Mila melipat kedua tangannya di dada dan menatap ke arah jendela mobil.
"Ya udah minta maaf, lu juga semalam-"
"Semalam gue ngapain? Hah apa?"
"Eh semalam lu ngigo yah."
Mila segera menatap Andra, "Gue semalam ngigo apa?"
"Dih kepo," Andra menggoda Mila sambil cengengesan.
"Dih cengengesan lagi, apaan sih? Cepetan semalam gue ngomong apa?" Mila takut dirinya bicara yang aneh-aneh.
Bukannya langsung jawab Andra malah ketawa-ketawa, "Pokoknya lu semalam galau deh, segala cinta-cinta di bahas. Lu suka sama siapa sih?"
Mila sedikit lega karena ia tidak menyebut nama, "Dih kepo loh, kenapa lu mau tau gue suka sama siapa? Itu privasi."
"Dih privasi kata lu, entar juga gue tau siapa."
"Ya udah kalau gitu."
Sementara itu di kantor sebelum rapat Rian dan Queen menemui Manajer keuangan baru mereka, "Ini Bu."
"Baik siapa namamu?" tanya Queen.
"Nama saya Selly Bu."
Queen membaca CV yang di berikan Selly padanya, "Kerjaan kamu di sini sudah di jelaskan apa saja?" tanya Queen menatap Selly dengan tatapan dinginnya.
"Sudah Bu."
"Baik, kamu boleh mulai bekerja sekarang. Jian Antarkan dia ke ruangannya sambil kamu beri beberapa aturan kerja di sini," Queen menutup CV tersebut lalu ia berikan lagi pada Jian.
"Baik Bu," Jian langsung mengantarkan Selly ke ruangannya.
"Kita rapat sekarang," ujar Rian yang memegang jadwal Queen sekarang.
"Kamu gak papah jadi asistenku dulu? Aku takut kamu gak enak? Kalau kamu gak enak aku bisa minta Jian buat jadi asistenku sementara."
Rian mengelus rambut Queen, "Hey gak papah, aku beneran gak papah. Aku seneng malah akhirnya setelah sekian lama aku bisa kerja bareng sama kamu, ngabisin waktu sepanjang hari sama kamu."
"Beneran?"
__ADS_1
Rian mengangguk, "Udah kita rapat sekarang, jangan pikirkan apapun lagi aku akan lakukan yang terbaik buat kamu."
"Tapi-"
"Udah gak usah kebanyakan tapi, yuk pergi udah di tungguin di ruang rapat tuh."
Mereka berdua segera pergi ke ruang rapat, benar saja di sana sudah terdapat banyak orang yang menunggunya. Rian telah siap mencatat beberapa hal penting dalam rapat ini, rapat ini di adakan karena akan ada perancangan restoran baru yang hendak di buka di bandung.
"Kami sudah membawakan beberapa pilihan gambaran mengenai restoran baru kita," ujar Mico yang melakukan presentasi.
Jadi perusahaan yang di miliki Queen bergerak di bidang makanan, hotel, restoran dan juga penerbangan.
"Tempat yang sedang di kunjungi oleh Andra dan Mila juga cukup strategis untuk pembuatan Restoran kita," di layar Mico menampilkan beberapa foto tempat yang akan di jadikan restoran. Foto itu di kirim oleh Andra tadi.
"Baik jadi kita akan memilih restoran yang seperti apa?" tanya Mico menatap Queen. Yang lain juga menatap ke arah Queen karena Queen lah yang dapat mengambil keputusannya.
"Coba kau jelaskan semua kekurangan dan ke lebihan setiap restoran yang kau tunjukan itu," ujar Queen.
"Baik saya jelaskan dari gambar pertama."
Beberapa saat kemudian, selesai rapat Queen kembali ke ruangannya dengan kepala yang sedikit pusing.
"Tolong ambilkan saya air," Queen menelpon OB untuk mengantarkan air minum ke ruangannya.
"Pusing?" tanya Rian yang melihat Queen pucat.
"Iya, tapi gak papah kok cuman dikit doang pusingnya."
"Iya bu," orang itu kembali pergi.
"Mau ke dokter?" tanya Rian.
"Gak usah aku beneran gak papah kok, cuman tadi kebanyakan berdiri jadi agak pusing dikit."
"Besok aja pertemuan kantor mau datang?" tanya Rian.
"Ya iyalah soalnya banyak tamu dari luar negeri juga, para investor."
"Makannya sekarang jaga diri baik-baik, nanti jangan pulang kemalaman. Kalau ada kerjaan biar aku yang kerjain aku bisa kerjainnya."
"Makasih yah," Queen tersenyum menatap Rian.
"Ini udah jadi kewajiban aku."
Sementara itu di bandung selesai mengurus beberapa berkas, Mila dan Andra pergi membeli beberapa jajanan yang ada di jalanan. Mila sudah sedari lama ingin ke bandung dan menikmati keindahan kota bandung, kini keduanya sedang duduk di kursi yang ada di pinggir jalan sambil menikmati makanan yang tadi mereka beli.
"Lu tau gak istilah kota bandung di ciptakan saat Tuhan sedang tersenyum?" tanya Mila tanpa menatap Andra, ia fokus memakan telor gulungnya.
__ADS_1
"Maksudnya?"
"Iya pokoknya kata orang kalau ada orang yang jatuh cinta di bandung maka cintanya akan abadi, karena kota ini di cintakan dengan perasaan bahagia."
"Apaan sih gak ngerti ah."
"Tau ah lu mah gak asik, sebel banget deh."
"Mau gak?" Mila menyodorkan makanan yang ia pegang.
"Gak bersih gak mau."
"Dih sok bersih lu, cobain dulu enak tau," Mila memaksa Andra untuk mencobanya.
"Ya udah iya," Andra pun dengan terpaksa memakan itu.
Tapi nampaknya Andra menyukai telor gulung tersebut bahkan ia sampai minta lagi pada Mila, tidak hanya telur gulung Mila membeli batagor, dan seblak juga. Tidak lupa dengan es cendolnya, selesai makan-makan Mila meminta Andra untuk memfoto dirinya.
"Bukan asisten lu," walaupun sambil ngedumel Andra tetap melakukannya.
"Ayolah kali-kali aja."
"Sering lu nyusahin gue tuh sering."
"Ya ampun perhitungan banget sih, ya udah lu mau gue fotoin juga gak?"
"Gak makasih."
Setelah Mendapatkan beberapa foto yang bagus, dengan diam-diam Mila memfoto Andra yang tengah memainkan ponsel, Mila senyum-senyum sendiri melihat foto Andra yang begitu tampan menurutnya.
"Ke hotel yuk, ngantuk," ajak Andra.
Mila tidak menggubris ajakan Andra ia malah asik senyum-senyum sendiri.
"Eh senyum-senyum sendiri gila lu?" Andra menepak lengan Mila sampai hendak membuat ponsel Mila terjatuh.
"Sialan, nanti kalau jatoh gimana?"
"Gue ganti."
"Bukan masalah itu nya, tapi data-data dalam ponselnya kalau ilang gimana?"
"Ah udah ayok ngantuk," Andra menarik tangan Mila karena Mila terlalu banyak bicara.
Mila kesenangan mendapati tangannya di genggam oleh Andra, "Masuk," titah Andra.
"Iya sabar," Mila masuk ke mobil tersebut, mobil itu mereka sewa untuk di sana.
__ADS_1
Sesampainya di hotel Andra memilih untuk mandi, mereka memesan dua kamar hotel yang berbeda untuk tidur, tapi Mila kebanyakan menghabiskan waktu di kamar Andra karena katanya takut jika sendirian di kamarnya.
Mila sedang menatap indahnya kota bandung dari jendela, mereka berada di lantai 43.