Suamiku Berhianat

Suamiku Berhianat
Kematian Benarkah?


__ADS_3

Sampailah Queen dan Rian di kantor, sesampainya di sana Queen segera memberikan berkas kemarin pada Nico untuk segera di proses. Queen sudah memilih seperti apa bentuk restoran di bandung yang akan ia bangun, setelah itu kini Queen terfokus pada layar komputernya.


Rian datang membawakan teh hangat untuk Queen, "Ini jangan lupa diminum."


"Makasih yah."


"Oke," Rian kembali ke kursinya ia harus mengatur jadwal Queen agar tidak bentrok atau agar Queen setidaknya bisa istirahat sebentar.


Tiba-tiba ibunya Queen datang ke kantor, "Queen nya tidak sedang sibuk kan?" tanyanya pada Rian.


"Tidak, Queen bisa di temui kok. Mari," Rian mengantarkan ibunya Queen ke ruangan Queen.


"Mama, ada apa ma?" tanya Queen saat melihat ibunya datang.


"Saya permisi dulu," Rian keluar dari sana tidak mau menanggung mereka.


Queen menghampiri Mama nya dan mereka duduk di sofa, "Ada apa Mama ke sini?" tanya nya.


"Kamu masih mau mempertahankan Rian?" tanyanya.


Queen tersenyum, "Ma, mama gak usah mikirin itu. Aku tau apa yang aku pilih."


"Mama cuman gak mau kamu di sakiti lagi, mama sakit kalau liat kamu juga sakit."


"Hey, Mama tenang aja gak usah mikirin ini. Aku memang kasih Rian kesempatan lagi tapi ini adalah kesempatan terakhir, di lihat-lihat Rian memang benar-benar ingin memperbaiki semuanya, dia bahkan rela jadi sekertaris aku Ma. Padahal menurutku pasti kebanyakan orang bakalan malu jadi sekertaris istrinya sendiri."


"Ya udah Mama percaya deh sama kamu, ini buat kamu. Nanti malam kita ketemu lagi," karena ibunya tau pasti Queen sedang sibuk jadi ia memutuskan untuk pergi lagi saja.


__________


Siangnya Queen dan Rian pergi ke villa yang mereka sewa untuk nanti malam, semua dekorasi sudah rapih di sana juga terdapat Jian yang tengah mengurus persiapannya.


"Makanan udah siap kan?" tanya Queen pada Jian.


"Sudah Bu, nanti sore semua makanan akan di kirim sesuai jumlah yang ibu pesan."


"Baik makasih kalau begitu," Queen mengajak Rian untuk berkeliling.


"Nanti malam datang sebagai suami aku, jangan sebagai sekertaris," ujar Queen.


"Iya sayang."


"Jangan telat lagi kayak biasanya, ini pertemuan penting tau."


"Sayang," Rian memegang kedua tangan Queen. "Mana mungkin telah kan sekarang aku udah sama kamu terus, gimana sih?"

__ADS_1


"Yah siapa tau aja nanti tiba-tiba kemana gitu."


Saat sedang asik ngobrol berdua tiba-tiba Rian dapat telpon dari seseorang, "Siapa?" tanya Queen.


"Gak tau, aku gak simpen nomornya. Gak kenal lagi nomor siapa ini, aku angkat yah?"


"Iya."


Rian mengangkat telpon tersebut, "Halo dengan siapa yah?"


"Rian Angel meninggal, kemarin dia kecelakaan," ujar seseorang di sebrang telpon.


"Hah? Ini siapa yah?" tanya Rian lagi.


"Ini saya ibunya Angel, kamu gak ada niatan buat ngeliat dia untuk yang terakhir kalinya?"


"Kenapa?" tanya Queen penasaran karena Rian menampilkan wajah kagetnya.


"Angel meninggal karena kecelakaan," jelas Rian.


"Apa? Itu bukan orang iseng kan?" Queen sedikit tidak percaya dengan apa yang di ucapkan Rian.


"Gak tau," Rian menggelengkan kepalanya.


Seseorang yang mengaku ibunya itu memberikan alamat dimana Angel sekarang yaitu di rumahnya, setelah itu Rian langsung mematikan telponnya.


"Sekarang kita gimana?" tanya Rian.


"Kalau kamu mau liat atau berkunjung aku gak papah kok, tapi aku gak bisa pergi soalnya aku ada kerjaan abis ini yang gak bisa aku tinggal. Maaf yah."


"Kamu beneran gak papah aku ke sana?"


"Gak papah beneran, nanti aku minta Jian anterin aku ke kantor lagi aja kalau kamu mau pergi mah."


"Oke aku pergi sekarang yah," Rian pergi dari sana untuk segera menemui Angel.


Queen berjalan ke arah Jian, "Jian bisa antarkan saya ke kantor?"


"Baik Bu mari ke mobil."


_________


Sampailah Queen di kantor sebelum mulai kerja ia menyempatkan makan di kantin sedari pagi ia belum makan sama sekali, jika tidak makan takutnya ia kelelahan dan pingsan nanti. Selesai makan ia langsung pergi ke ruangannya ada beberapa berkas yang harus ia cek lagi takutnya ada kesalahan di dalam berkas itu.


"Bu maaf, tuan besar ingin bertemu ibu," ujar Nico yang masuk ke ruangan Queen.

__ADS_1


"Baik saya ke sana."


Queen pergi ke ruangan ayahnya, "Iya ada apa?" tanya Queen sesampainya di sana.


"Duduk," ayahnya meminta Queen duduk di sofa.


Queen lalu duduk di sofa, ayahnya datang menghampiri Queen dan ikut duduk di sebelah Queen, "Kerja yang bagus, tapi kamu harus ingat akan kesehatanmu jangan terlalu keras."


"Tenang aja Pa, aku tau sampai mana kesanggupan aku."


"Baiklah, ini berkas kemarin Papa sudah selesai memeriksanya. Semuanya sudah bagus tidak ada yang perlu di perbaiki, Papa akan pulang sekarang karena ada beberapa hal yang harus Papa kerjakan di rumah."


"Oke Pa."


__________


Sorenya Queen hendak pulang untuk bersiap menghadiri pesta malam ini. Ia mencoba menghubungi Rian tetapi Rian tidak mengangkat telponnya sama sekali, "Kemana sih dia?" Queen hari ini tidak bawa mobil jadi harus menunggu Rian.


"Apa pulang naik taksi aja, takut telat buat acara nanti malam. Apa belum selesai juga yah acara pemakamannya? Lama banget perasaan," gumamnya sembari terus melihat arlojinya.


Akhirnya karena takut terlambat ia langsung mencari taksi saja, sayangnya tidak ada taksi lewat. Mobil Jian berhenti di depannya, Jian turun dari mobil menghampiri Queen, "Ibu sedang menunggu taksi? Bagaimana kalau saya antarkan saja?" tawarnya sambil membukakan pintu belakang mobilnya untuk Queen masuk.


"Baiklah terimakasih," Karena sudah terlalu lama menunggu akhirnya ia memutuskan untuk pulang bersama Jian saja.


Di perjalanan Queen mencoba terus menghubungi Rian, pria itu membuatnya khawatir.


"Jian kamu tau berita tentang meninggalnya Angel?" tanya Queen.


"Angel siapa yah Bu?" Jian tampak tidak tau dengan Angel.


"Selingkuhan suami saya."


"Oh, maaf Bu tapi saya tidak tau akan berita itu."


"Baiklah kalau tidak tau."


Di tempat lain Andra dan Mila sedang bersiap, mereka hendak ke pasar malam untuk jalan-jalan di hari terakhir mereka di bandung. Besok keduanya harus segera pulang karena ada beberapa masalah di kantor, "Udah siap belum?" Andra mengetuk pintu kamar hotel Mila.


"Bentar lagi keluar," Mila masih sibuk menatap dirinya di cermin, ia tidak mau kalau ada yang terlihat aneh.


Selesai bersiap ia langsung keluar dari kamar, ia tersenyum manis pada Andra yang sudah menunggunya di sana.


"Yuk jalan," Andra jalan mendahului Mila.


Mila mengikuti pria itu dari belakang, sejujurnya ia ingin sekali menggenggam tangan Andra saat ini. Layaknya pasangan pada umumnya, mereka sudah dalam mobil menuju pasar malam, di perjalanan tiba-tiba Andra mendapatkan telpon dari Queen.

__ADS_1


__ADS_2