Suamiku Ternyata Penguasa [ Vero Destin ]

Suamiku Ternyata Penguasa [ Vero Destin ]
Tuan Muda Destin!


__ADS_3

"Miranda? Apa maksudmu? Jangan bilang kau kenal Nona Miranda dari Racon City? Bagaimana mungkin?" Marley menatap Vero panik.


Marley menyipitkan matanya dan melirik Vero lagi. Dia tidak mengerti kenapa Vero tetap tenang dalam situasi seperti ini.


Bukankah Vero hanyalah menantu dari keluarga kelas dua di Kota Liberio? Dari mana dia mendapatkan keberanian seperti itu?


"Tidak tau diri. Nama Nona Danuarta, apakah itu sesuatu yang bisa kamu teriakan dari mulut kotormu? Kamu benar-benar mencari mati!" Steven menatap sinis Vero.


Steven tidak tau bagaimana Vero mengenal nama Nona Miranda dari Racon City.


Dia bahkan tidak mengerti bagaimana Miranda, seorang Nona muda setingkat Miranda, akan terlibat dengan laki-laki seperti Vero.


Vero benar-benar tidak layak mengenal Nona Miranda. Dia bahkan bicara seolah mengenal baik Nona Miranda.


Bahkan dengan status dirinya sebagai Tuan Muda dari Kota Liberio, akan sangat beruntung bisa melakukan sesuatu untuk Miranda, apalagi berteman dengan Nona Miranda. Namun dia tidak berani berpikir sampai kesana.


"Kamu benar-benar bocah tak tahu malu! Dalam situasi seperti ini, kamu berani menyebut Miranda? Kamu bangga pernah selingkuh dengan wanita liar itu!?" Ujar Zane Davis berkata dengan kesal dan menatap Vero penuh emosi.


"Apakah kamu pikir kamu bisa menakut-nakuti siapa pun dengan nama wanita liar itu? Wanita itu memang terlihat kaya dan memiliki koneksi di Racon City. Di Provinsi Laut Timur, bisakah dia dibandingkan dengan tuan muda Steven?" Zane Davis berkata dengan angkuh.


Miranda hanyalah orang kaya dari Racon City. Setidaknya itulah yang Zane Davis tau, Zane Davis tidak tahu status Miranda yang sebenarnya.


"Hah..." Steven tertegun, dia menatap Zane Davis terkejut dan tidak percaya apa yang dia dengar.


Keluarga Lewis bukan apa-apa di depan Miranda. Miranda adalah pendukung Steven, nyonya di belakangnya. Saat dia mendengar apa yang dikatakan Zane Davis, dia merasa hidupnya dalam masalah.


"Bibi, apakah tidak salah? Bagaimana mungkin orang seperti Vero bisa berhubungan dengan Nona Miranda?" Steven menatap lekat Zane Davis dan berbicara dengan serius.


"Aku tidak salah. Vero pernah berselingkuh dengan Miranda! Wanita jal*ng itu juga pernah datang ke rumah kami beberapa kali untuk membuat masalah." Jawab Zane serius.


Mendengarnya, wajah Steven menjadi semakin pucat. Dia melirik Vero tak percaya. Dia langsung memiliki firasat buruk.


"Bagaimana mungkin seorang Nona seperti Miranda menjalin hubungan dengan Vero?" Pikirnya dalam hati.


Mungkinkah Vero memiliki latar belakang yang tersembunyi?


Steven bukanlah orang bodoh, dia merasa ada sesuatu yang tidak beres.

__ADS_1


"Saat Nona Miranda memintaku untuk menikahi Alisa, mungkinkah masalah ini ada hubungannya dengan Vero?" Batinnya memikirkan sesuatu.


Marley sudah mengambil ponselnya dari sakunya dan menghubungi nomor kontak di ponselnya.


Setelah beberapa saat panggilan mendapat respon.


"Halo, Nona Miranda. Halo, saya Marley. Apakah Anda sedang sibuk? Saya punya masalah kecil untuk dilaporkan kepada Anda." Marley memegang ponselnya sedikit erat dan berkata dengan hati-hati.


"Seperti ini. Saya bertemu seorang pria yang menyebut dirinya Vero Gibson di sini. Dia..."


"Ahk! Nona Miranda, maafkan saya. Saya mengerti situasinya." Ucap Marley sambil menganggukkan kepala hormat, seolah sedang bicara bertatap muka.


Wajah Marley perlahan-lahan memucat. Matanya terpejam menahan rasa takut dan tubuhnya gemetaran.


Untuk sesaat, dia menatap Vero. Dia sangat hormat seperti menghadap kaisar, dia lalu menundukkan kepalanya lagi, dia tidak berani memandangnya lebih lama.


"Ada apa? Tuan Marley, mengapa wajah Anda terlihat pucat?" Tanya seorang pemuda tak jauh dari tempat Marley duduk.


"Tuan Marley, apa Nona Miranda mengatakan sesuatu? Sudah kuduga. Vero benar-benar tidak tahu apa yang baik untuknya." Ujar tamu undangan lainnya.


"Itu benar. Aku pikir orang seperti ini cocoknya menjadi artis dengan peran pembual. Apakah dia pikir dia orang hebat? Bertingkah sok di depan Tuan Marley." Ucap pemuda disebelahnya sembari menatap Vero sinis.


Mereka sudah muak dengan kehadiran Vero. Bocah yang tidak tau situasi dan dengan percaya diri membual didepan pebisnis seperti mereka. Mereka bukan hanya sekedar kaya. Tapi mereka juga butuh ketenangan, mereka tidak akan bisa mendapat manfaat datang kesini dan bertemu banyak pebisnis jika pemuda yang menyebalkan itu tidak kunjung pergi.


"Diam.!" Tangan Marley bergetar tidak beraturan. Dia menyeka keringat di dahinya


Wajahnya pucat. Dia tiba-tiba berdiri dan menatap Vero takut.


"Tuan, Tuan Muda Destin. Maaf..." Ucap Marley seraya membungkuk.


"Saya benar-benar buta tidak bisa mengenali Tuan Muda, Tuan Muda, saya dengan tulus meminta maaf kepada Anda. Saya harap Anda memaafkan saya." Ucapnya lagi.


Marley menundukkan kepalanya dan membungkuk di depan Vero. Dia belum menarik tubuhnya berdiri. Dia menunggu Vero menjawab atau sekedar merespon ucapannya.


Vero diam tidak peduli. Jadi Marley tidak berani mengangkat kepalanya.


"Ini? Tuan, kenapa anda tiba-tiba meminta maaf padanya?" Tanya sekertaris disampingnya. Sekertaris pribadi Marley terkejut dengan reaksi Tuanya.

__ADS_1


Para tamu juga tidak mengerti mengapa Marley, yang memiliki kekuatan dan pengaruh besar di Kota Liberio, tiba-tiba menundukkan kepala meminta maaf dan mengaku salah terhadap Vero.? Itu terlalu sulit dipercaya.


"Tuan Marley! Ada apa denganmu?" Steven menatap Marley dengan kaget.


Steven tidak tahu apa yang sedang terjadi saat ini.


"Hahh" Marley menghela nafas. Dia tidak pernah berpikir kalau Kota Liberio yang kecil ini akan menjadi tempat persembunyian Tuan Muda Vero Destin!


Siapa yang mengira kalau menantu tidak berguna Vero, yang telah dikenal sebagai orang yang tidak berguna di Kota Liberio selama bertahun-tahun, adalah tuan Muda Destin dari Kota Kekaisaran Racon City?


"Tuan muda Vero, Destin ..." Marley menundukkan kepalanya dan bergumam pelan.


"Apa?" Steven lansung tertegun.


Lutut Steven lansung terasa lemas mendengar kata-kata Marley.


Tiba-tiba, wajah Steven menjadi pucat, dan seluruh tubuhnya mulai gemetaran.


Matanya melirik Vero dengan ngeri. Dia merasakan jantungnya seperti akan copot dan seluruh tubuhnya menjadi tidak berdaya.


Vero yang sedari tadi duduk dengan santai, namun matanya menatap kedua orang didepannya dengan acuh tak acuh.


Itulah yang membuat Steven merasa seolah-olah ajalnya sudah tiba.


"Tuan Muda ... Tuan Muda Destin?" Mulut Steven seakan berat menyebut nama Vero Destin. Namun, dia berharap dia bisa menampar mulutnya sendiri.


Marley sudah berbicara dengan Nona Miranda. Tentu saja, identitas Vero benar apa adanya.


Dia akhirnya mengerti, kenapa Vero dengan acuh mengatakan akan menghapus nama Keluarga Lewis.


Steven juga pernah menjadi bagian dari Racon City. Ibukota Negara Lugo, Tuan Muda Destin! Dia tahu apa arti ketiga kata ini di Racon City.


Tiga kata itu menjadi bayangan ketakutan Keluarga yang ingin mencapai puncak di Racon City! Karena kekuatan Vero Destin di Racon City tidak mungkin ada yang menyamainya sepanjang masa, apalagi melewati kemampuan yang sudah ditorehkan oleh Tuan Muda Vero Destin.


Wajah Steven menjadi tidak nyaman dipandang, membual dan mempermalukan Tuan Muda Destin. Dia bahkan mengadakan pesta untuk merebut istri Tuan Muda Destin, Alisa Glover. Nyonya Destin, tamat. Benar-benar sudah berakhir.


Bruk!

__ADS_1


Steven tidak kuat menahan ketakutannya. Dia berlutut dengan kedua lututnya di depan Vero.


"Vero, ah. Tuan. Tuan Muda, saya salah!" Ucapnya memohon ampunan.


__ADS_2