![Suamiku Ternyata Penguasa [ Vero Destin ]](https://asset.asean.biz.id/suamiku-ternyata-penguasa---vero-destin--.webp)
Berita dari Yuda Bastian telah membuat hati Vero sedikit kalut.
Dalam kehidupannya saat ini, keluarganya hanya kakeknya yang tersisa.
Kakeknya tiba-tiba jatuh sakit. Dia tidak tahu apakah seseorang telah berkolusi untuk membuat masalah lagi.?
Dia tidak akan pernah membiarkan siapa pun menyakiti keluarga satu-satunya itu.
"Yuda, ada apa sebenarnya?" Tanya Vero terdengar suaranya sangat khawatir.
"Tuan Muda, Racon City belum lama ini terjadi masalah. Keluarga Dominic berulah lagi. Sepertinya mereka masih belum puas dengan apa yang terjadi terakhir kali." Jawab Yuda Bastian hormat.
"Tuan Besar sudah sebelumnya sudah sehat. Namun dia tiba-tiba drop. Rumah sakit masih belum menemukan gejala apa pun untuk sementara waktu. Saya pikir ada sesuatu yang mencurigakan tentang itu." Jawabnya lagi.
"Selain itu, ada beberapa kekacauan di Distrik Selatan. Beberapa pengawal saya tewas. Saya curiga itu juga dilakukan oleh Keluarga Dominic. Saya sudah memerintahkan Arnol untuk mengurusnya, jadi untuk saat ini. Saya belum tau persis situasinya." Lapor Yuda mengenai situasi Distrik Selatan.
Vero merasa sangat geram setelah mendengar laporan Yuda. Sepertinya telah terjadi sesuatu di Racon City.
Keluarga Dominic. Apakah mereka memandang rendah statusnya di Racon City...
"Keluarga Dominic.." Gumam Vero dengan seringai kejam...
"Apakah Orang-orang Jepang dan Grup Bintang Korea yang saya minta untuk kamu awasi terakhir kali sudah membuat gerakan?" Tanya Vero datar.
"Tuan Muda, seperti yang Anda duga. Perusahaan Jepang dan Korea benar-benar melakukan sesuatu. Jepang tiba-tiba memperluas bisnis mereka di Racon City, dan Korea bahkan membuat perusahaan pusat cabang di Racon City. Markas besar di Korea juga ternyata sudah menempatkan orang Korea di Racon City sejak lama." Yuda Bastian melaporkan.
"Cih..!" Vero mendecih jijik.
Grup Bintang Korea masih belum bisa menerima kenyataan. Kang Nam kyung, turun bahkan tangan untuk membantu putranya membalas dendam.
Racon City harus bertindak tegas. Jika tidak, mereka akan benar-benar berpikir Vero Destin hanya memiliki nama besar.
"Yuda, cepat perintahkan orang untuk menjaga rumah sakit tempat Kakekku di rawat. Awasi pergerakan Keluarga Dominic. Aku akan kembali ke Racon City hari ini." Perintahkan Vero serius.
"Baik!" Jawab Yuda cepat.
Setelah memutuskan panggilan, Vero melihat kedalam Vila dengan tatapan bimbang. Dia harus pergi dengan tidak tenang.
"Lisa, semuanya memang salah paham, namun aku belum bisa menjelaskannya. Kakek jatuh sakit. Jadi aku akan pulang untuk menemuinya. Tunggu aku kembali dan menjelaskannya secara gamblang." Ucap Vero yang terdengar sangat jelas.
Alisa mendengar, namun dia memilih diam dan naik ke atas menuju kamarnya...
★ ★ ★
"Roman, kita pergi ke bandara." Ucap Vero dengan langkah gontai.
Hendi membuka pintu mobil untuk Vero...
__ADS_1
Roman langsung melajukan mobilnya pergi dari Vila Dataran Salju.
Di kamar di lantai dua vila, gorden dibuka. Alisa berdiri melihat mobil yang sudah keluar dari halaman Vila..
Dia menatap nanar kepergian Vero dan meneteskan air matanya yang sudah tidak terbendung lagi.
"Vero..." Ucapnya dengan suara tercekat...
Didalam mobil Vero sedang berperang dengan pikirannya sendiri. Kondisi kakeknya itu terlalu mendadak, jadi dia harus menemuinya secepatnya.
Ini benar-benar merusak rencananya untuk bertemu Alisa. Dia pergi bahkan sebelum menjelaskan apapun kepada Alisa. Tapi Vero yakin jika Alisa akan mengerti dengan situasinya.
Vero mengambil ponselnya dan terlihat menghubungi seseorang.
"Hendi, susul dan ikut kembali ke Racon City. Kakek membutuhkan seseorang untuk menjaganya." Ucap Vero setelah panggilan diterima.
"Tuan muda, aku akan mendengarkan perintah Anda. Pelayan tua ini juga ingin kembali ke Racon City untuk menemui Tuan Besar." Ucapnya dengan suara tak kalah datar.
Vero langsung memutuskan panggilan.
"Roman, kamu urus masalah di Kota Liberio dengan baik." Setelah beberapa saat Vero berucap kepada Roman yang sedang mengemudi.
"Kamu dan Ardy harus menjaga Kota Liberio. Prioritas kamu yang utama tetap Alisa, jangan biarkan sesuatu terjadi pada Alisa." Ucap Vero menekankan.
"Tuan Gibson, jangan khawatir, Anda bisa pergi ke Racon City dengan tenang. Saya dan Ardy pasti akan menyelesaikan semuanya." Jawab Roman serius.
Setelah beberapa saat panggilan tersambung.
"Tuan Muda Destin, apakah Anda punya perintah?" Suara hormat Boby terdengar dari ujung telpon.
Setelah Vero membantunya menjadi Kepala Keluarga Gravis, Boby benar-benar semakin menaruh hormat kepada Vero. Tidaklah berlebihan jika dia lebih hormat terhadap Vero daripada kepada paman pamannya.
"Bagaimana Keluarga Gravis setelah ditangani olehmu?" Tanya Vero terdengar sangat tenang.
"Dengan pengaruh Anda, tidak ada seorang pun di Keluarga Gravis yang berani menentangku. Bisnis Keluarga Gravis juga mengalami kemajuan dengan sangat pesat." Jawabnya hormat..
"Itu bagus. Sekarang, aku minta bantuan kamu. Kirimkan pengawal rahasia Keluarga Gravis untuk memeriksa apakah ada yang salah dengan sakitnya Kakekku. Cari tau siapa yang melakukannya? Selidiki tanpa ada yang terlewat," Ucap Vero memberi perintah.
"Baik! Saya akan segera mengirim seseorang untuk menyelidikinya!" Jawab Boby semangat.
Tuan Besar Destin sakit parah.? Berita itu memang belum menyebar. Boby belum mendengar apapun tentang sakit Very Destin.
Seseorang berani menyerang Tuan Besar Very Destin. Bisa di simpulkan kali ini akan datang badai besar di Racon City.
Setelah menutup telpon, Vero memejamkan matanya. Pikirannya dipenuhi dengan berbagai masalah.
Kali ini, dia kembali ke Racon City. Pasti banyak waktu luang terbuang sia-sia, dia benar-benar merindukan Alisa, apalagi ia meninggalkan Liberio saat urusannya dengan Alisa belum beres.
__ADS_1
Namun dia memiliki tanggung jawab berat di pundaknya, ia harus mempersiapkan diri kapan saja.
Dia juga belum membalas dendam untuk Keluarga Destin.
Raja Naga Hitam juga pasti sedang memilih waktu untuk bergerak, dia tentunya tidak akan membuang waktu lagi.
Saat ini, Vero memang terlihat sangat berkuasa. Dia memiliki Roman dan Ardy di Provinsi Laut Timur, Chris dan Hadiz di Hong Kong, dan Yuda Bastian dan Boby di Racon City untuk mengurus semuanya.
Sepertinya kekayaannya hampir mencapai puncaknya.
Namun, Vero mengetahuinya dengan sangat baik.
Menghadapi musuh di tingkat Raja Naga Hitam, semua yang terlihat ini benar-benar rentan.
Jika dia ingin mengambil kembali Seni beladiri lampau, dia tidak hanya harus berurusan dengan Raja Naga Hitam, dia juga harus melawan kekuatan yang selalu bersembunyi dibalik layar.
Tidak sampai satu jam, Roman sudah memarkirkan mobilnya di Bandara Internasional Liberio.
★★★
Pada saat yang sama, Racon City. Distrik Selatan.
Di salah satu Hotel bintang di distrik selatan.
Koridor terpapar karpet merah menuju aula dan pengawal berjas berdiri tegap dengan ekspresi datar.
Seorang pria sekitar empat puluh tahun berjaket hitam dan beberapa pengawal berjalan melewati koridor tiba di depan pintu sebuah kamar pribadi.
"Tuan Ernest, Tuan Helbert menunggumu di dalam."
Seorang pengawal yang menjaga pintu berkata dengan nada datar dan mengangkat tangannya menarik handle pintu.
"Ernest.." Arnold mencoba mengingat-ingat.. Dia sedikit mengernyit dan mendengus kasar, dia tidak mengingat siapa Ernest. Tidak membuang waktu Arnold masuk bersama bawahannya.
Arnol membawa pengawal inti sesuai arahan Yuda Bastian untuk datang ke di Distrik Selatan.
Itu karena Helbert, yang sudah hampir mati oleh Tuan Destin, tiba-tiba berulah lagi. Dia bahkan membuat banyak masalah di Distrik Selatan dan mengambil alih bisnis bawah tanah yang sudah lama tidak membuat kekacauan.
Hari ini, Helbert bahkan mengundangnya untuk membahas masalah District selatan.
Ketika Arnol masuk. Helbert sedang menghisap rokok, mata menyipit ketika melihat Arnold masuk.
"Helbert, apakah kamu tidak sadar sudah memperpendek umur? Terakhir kali, Tuan Muda Destin sudah mengampuni kamu. Bahkan Keluarga Dominic tidak berani berbuat banyak. Apakah kamu masih berharap ada pengampunan dari Tuan Muda Destin lagi, atau memang kamu mencari kematian?" Ucap Arnold, begitu dia masuk dia langsung menunjukkan rasa tidak puasnya terhadap Helbert.
"Arnol, Arnol, apakah menurutmu Keluarga Dominic akan membiarkan masalah itu berlalu begitu saja? Tuan Mudamu sudah keterlaluan!" Sudut mulut Helbert menyeringai dengan senyum sinis.
Tak lama, seorang pria paruh baya muncul dari sudut ruangan.
__ADS_1
"Ini yang namanya Arnol, bawahan Vero? Halo, namaku Ernest." Ucapnya dengan nada yang dibuat seramah mungkin.