Suamiku Ternyata Penguasa [ Vero Destin ]

Suamiku Ternyata Penguasa [ Vero Destin ]
Kamu tidak pantas.


__ADS_3

Setelah Steven berlutut, semua orang tercengang, mulut mereka menganga terbuka lebar.


Wajah Zane dan David Glover terlihat sangat terkejut melihat apa yang ada di depan matanya, mereka tidak bisa mempercayai apa yang mereka lihat, ya. Itu karena Vero adalah benalu untuk putrinya beberapa tahun terakhir. Bagaimana mungkin Tuan Muda Steven berlutut begitu saja.


Tuan muda Steven Lewis yang merupakan sosok yang sangat berkuasa di Kota Liberio saat ini, dengan tidak menghiraukan para tamu undangan yang hadir berlutut kepada Vero.


Apalagi ini adalah wilayah kekuasaan Keluarga Lewis. Ini adalah perjamuan yang diadakan oleh Keluarga Lewis untuk mengadakan acara pertunangan.


Hari ini Tuan Muda Steven dan Alisa bertunangan, apakah Steven berlutut didepan Vero untuk meminta restunya?


Momen ini mungkin menjadi sesuatu yang tidak akan pernah dilupakan oleh semua orang selama sisa hidup mereka.


Itu benar-benar membuat mereka meragukan akal sehatnya, mereka semua bertanya-tanya, siapa sebenarnya Vero ini? Dengan mudahnya membuat Tuan Muda Steven dan mantan Bupati Liberio berlutut.


"Minta maaf? Apakah kamu melakukan kesalahan?" Jawab Vero dengan wajah datar.


Vero masih menatap Steven dengan ekspresi datar dan tersenyum sinis.


Dipandang seperti itu membuat jantung Steven berdegup kencang dan tubuhnya gemetaran, bahkan menelan ludahnya dengan susah payah.


Steven lansung menundukkan kepalanya dan tidak berani menatap mata Vero. Mulutnya ingin berucap tetapi masih mencoba mengumpulkan keberaniannya, dia benar-benar tidak bisa mengendalikan kepanikannya.


Identitas Vero adalah Tuan Muda Destin dari Racon City, itu cukup mudah untuk membuatnya mati tanpa kuburan.


Dan lagi. Aura Vero saat ini membuatnya merasa lebih putus asa.


Jika dia sudah menyinggung orang seperti itu, apakah dia akan mendapatkan akhir yang baik?


"Tuan Muda Destin, saya, saya salah karena saya seharusnya tidak menantang Anda di depan umum. Saya salah karena saya seharusnya tidak menunjukkan kebodohan saya untuk bertunangan dengan Alisa." Steven bicara tergagap.


"Aku bersujud padamu! Tolong biarkan aku pergi, maafkan kebodohan saya, dan biarkan Keluarga Lewis hidup!" Ucapnya lagi.


Dak,!


Dak,!


Sebelum Vero menjawabnya, Steven sudah membenturkan dahinya kelantai.


Dengan identitas dan kekuasaan Vero, memusnahkan Keluarga Lewis hanya dengan menjentikkan jarinya. Hanya dengan perintah dan tanpa Vero secara pribadi melakukanya, akan ada banyak orang yang akan memusnahkan Keluarga Lewis.


Tuan Muda Nomor satu dari Racon City bukanlah sesuatu yang bisa seseorang hadapi dengan mudah.


Itu adalah kekuatan mutlak sebagai Tuan Muda di Negara Lugo!

__ADS_1


Tuan muda nomor satu dari generasi saat ini di Negara Lugo!


Steven sangat menyesal mengikuti perintah Miranda. Namun dia juga tidak mungkin bisa menolak karena itu perintah dari Nona Muda Keluarga Danuarta. Mungkin memang nasibnya. Maju kena, mundur pun kena. Yang dia tidak mengerti kenapa Tuan Muda Destin bisa bersembunyi di tempat kecil seperti Kota Liberio!


Jika dia tau kalau Vero adalah Tuan Muda Destin, dia tidak akan berani memprovokasi Vero, bahkan jika Miranda memaksanya. Steven tidak akan berani bertindak sebagai Tuan Muda yang sombong untuk mendapatkan Alisa.


Bruk!


Marley juga tiba-tiba berlutut di depan Vero. Dengan wajah tuanya yang sudah pucat.


"Tuan Muda Destin, tolong maafkan saya. Saya benar-benar tidak tahu bahwa orang mulia seperti Anda ada di Kota Liberio yang kecil ini! Jika saya tahu itu Anda, saya tidak akan berani bertindak bodoh di depan Anda, bahkan jika saya memiliki seratus nyawa." Marley meminta maaf dengan tubuhnya yang gemetaran.


"Tolong berikan saya sekali lagi kesempatan! Saya bersedia untuk bersujud dan meminta maaf kepada Anda. Saya akan lakukan apapun." Ucapnya lagi.


Marley terus memohon. Dia benar-benar kehilangan sikap sombongnya sebelumnya.


Lagipula, Marley hanyalah pensiunan pemimpin Kota Liberio. Tidak peduli seberapa berpengaruh dia, tidak peduli seberapa berkuasa dia, dia hanya memiliki pengaruh dan kekuasaan di tempat kecil seperti Kota Liberio. Bagaimana dia bisa dibandingkan dengan Tuan Muda seperti Vero yang berasal dari Racon City?


Bahkan sebelum dia pensiun, dia tidak berani menantang Vero.


Status Vero sudah jelas. Dia bisa mengambil posisinya hanya dengan satu kata.


"Haha, sekarang kamu sadar sudah melakukan kesalahan, apakah menurutmu tidak terlambat?" Ucap Vero sambil menggelengkan kepalanya.


"Marley, jangan pernah menunjukkan wajahmu di Provinsi Laut Timur lagi. Kedepannya, Keluarga Lewis juga tidak akan ada lagi di tiga keluarga besar di Laut Timur. Aku tidak ingin mendengar berita apapun tentangnya. Selama kamu dan Keluarga Lewis berada di Negara Lugo, kamu dan Keluarga Lewis tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk bangkit," Ucap Vero santai.


Ucapannya sama saja dengan menghukum mati Marley dan seluruh Keluarga Lewis.


Selama mereka berada di Negara Lugo, tidak akan ada kesempatan bagi mereka untuk bangkit masuk dalam jajaran keluarga terhormat lagi.


Mendengar ucapan Vero. Wajah Steven dan Marley langsung menjadi pucat.


Keduanya diam membeku, seolah-olah mereka sudah kehilangan jiwa mereka.


Mereka paham kata-kata Vero, itu menyatakan hidup mereka sudah berakhir.


Kedepannya, uang, kekuasaan, kekayaan, semuanya tidak ada hubungannya dengan mereka berdua. Mereka bisa hidup tapi tanpa semuanya, namun apa gunanya.


Ucapan Vero sudah cukup untuk mengubah takdir mereka.


Ini sama seperti titah kaisar, tidak bisa dibantah dan tidak ada yang berani membantahnya.


"Tuan Muda Destin? Apa yang terjadi? Tuan Muda Steven, mengapa Anda bersujud kepada Vero?" Ucap Zane Davis.

__ADS_1


"Benar, apa yang terjadi? Tuan Marley, Tuan Muda Steven, apakah kalian melakukan kesalahan? Mengapa Anda meminta maaf kepada Vero?" Ucap David ikut menimpali.


Zane Davis dan David Glover bingung. Mereka segera sadar dan bertanya.


Kedua orang itu tidak bisa memahami mengapa Steven dan Marley yang merupakan tokoh kuat di Kota Liberio, bersujud kepada Vero.


Mereka bahkan memohon belas kasihan seperti tidak memiliki rasa malu?


Vero lebih pantas berlutut kepada mereka berdua! Ini benar-benar terbalik!


"Ini..." Steven bergumam lirih.


Mendengar pertanyaan Zane Davis dan suaminya, wajah Steven dan Marley menjadi semakin pucat. Mereka sama sekali tidak berani berbicara dengan mereka berdua.


Zane Davis dan suaminya adalah ayah mertua dan ibu mertua Tuan Muda Destin, dan mereka memandang rendah menantu yang begitu mulia! Apakah itu juga bisa disebut kebodohan.


Vero tersenyum miring dan menggelengkan kepalanya. Dia tidak mengatakan apa-apa.


Dia tidak mau repot-repot menjelaskan kepada Zane Davis dan suaminya.


Mereka tidak akan percaya bahkan jika dia mengatakannya. Dia tidak akan mengerti bahkan jika dia mengatakannya.


Di mata mereka, hanya ada uang. Mereka berdua harus tau pribahasa tidak boleh menilai buku dari sampulnya.


"Tuan Muda Destin, tolong selamatkan Keluarga Lewis kami! Saya bersedia menjadi pelayan Anda, bahkan jika saya harus mati untuk menebus dosa, saya bersedia melakukan apa saja! Saya hanya meminta Anda tidak menghapus nama Keluarga Lewis." Pintanya dengan kepala yang masih terus menunduk.


"Tolong. Tuan Destin, kasihanilah! Saya melakukan ini karena saya buta. Itu juga karena instruksi Nona Miranda. Jika tidak, saya tidak akan menentang Anda sama sekali." Ucap Steven lagi.


Steven menatap Vero penuh harapan, berharap Vero akan melepaskannya.


Dia terbiasa dengan kehidupan keluarga kaya. Namun dia juga harus bertanggung jawab, biarlah dia mati asal keluarga Lewis tidak musnah. Dia tidak bisa membiarkan keluarga Lewis hilang, tidak peduli seberapa angkuh dan sombongnya. Dia tidak berharap kerja keras Kakeknya hilang karena kebodohannya.


Namun jika diberi kesempatan, dia tidak ingin mati atau kehilangan semua yang dimilikinya sekarang. Mobil, rumah besar, bisnis, dan koneksi. Jika tidak ada semuanya tapi diberikan hidup, ia ingin menjadi orang biasa. Itu bahkan lebih baik daripada mati atau Keluarga Lewis musnah.


Wajah Vero terlihat sinis. Melihat apa yang dilakukan Steven, dia merasa itu sangat konyol.


"Tuan Muda Destin, sepatumu kotor. Biarkan aku membersihkannya. Kedepannya, aku bersedia menjadi budak Anda. Selama anda tidak keberatan, saya bisa melakukan apa saja." Ucap Steven sambil merangkak kebawah kaki Vero.


Sambil tersenyum dia ingin membersihkan debu dari sepatu Vero.


Buagh!


Vero menendangnya dengan keras. Dia berguling-guling dan membentur beberapa meja lalu memuntahkan darah.

__ADS_1


"Cih... Kamu tidak berhak menyentuh sepatuku." Vero mendecih sinis dengan rahang mengeras emosi.


__ADS_2