
Hari berganti perlahan Mei Ling terus tinggal dalam keluarga Zhang dengan patuh walaupun ia tidak melihat Zhang Xifeng selama satu bulan penuh, Mei Ling tidak mengeluh sedikitpun dan hanya membantu Qiao Li melakukan pekerjaannya.
Mei Ling sangat sadar diri, tidak peduli betapa ia merindukan Jendral iblis itu, ia masih dapat memahami, bahwa Dunia saat ini tengah berada di titik balik kehancurannya akibat serangan Raja Zombie yang akan datang.
Kedatangan kembali Mei Ling di kamp ini juga sudah di ketahui semua orang. Mei Ling merasa sangat kewalahan harus menyapa mereka satu-persatu. Namun, tidak dapat di hindari bahwa Mei Ling merasa sangat hangat di dalam hatinya atas perlakuan ramah semua orang di Keluarga Zhang padanya.
Saat Mei Ling tengah sibuk membantu Qiao Li untuk menyiapkan sarapan, seorang prajurit pria berusia sekitar 25 tahun datang mendekat kearah Mei Ling dan Qiao Li berada.
Prajurit itu memberikan hormat sebelum berbicara "Mayor Jendral Zhang meminta saya untuk menjemput Tuan Muda Ye Ling dan membawanya ke kantornya. Tolong ikuti saya!"
Mei Ling tertegun sejenak sebelum mengangguk, ia mengucapkan beberapa kata pada Qiao Li dan berjalan mengikuti Prajurit itu di belakangnya.
Saat sampai di halaman, sebuah mobil terparkir menunggu kedatangan Mei Ling dan prajurit itu, tanpa mengatakan apapun dan hanya mengangguk ringan, Mei Ling memasuki Mobil. Mobil itu melaju perlahan meninggalkan kediaman keluarga Zhang untuk ke kantor Zhang Xifeng.
Tidak dapat di pungkiri, Mei Ling kini tengah mengalami kegugupan Ekstrim. Sudah hampir 1 bulan Mei Ling tidak melihat Zhang Xifeng, sekarang secara tiba-tiba Jendral iblis itu menjemputnya untuk menemuinya. Mei Ling tidak siap secara mental tapi, dia cukup bersemangat dan sangat senang karena dapat bertemu dengan orang yang sangat ia rindukan.
Setalah Mobil melaju untuk beberapa waktu, Mobil itu terhenti di sebuah bagunan yang tidak terlalu besar. Namun, pemandangan di sekitar bangunan itu bukanlah sesuatu yang dapat Mei Ling abaikan.
Banyak sekali manusia super atau prajurit yang berlalu lalang atau sekedar membandingkan skor.
__ADS_1
"Tolong ikuti saya!" Prajurit yang membawa Mei Ling kembali berbicara menyadarkan gadis yang memandang sekitarnya dengan bodoh.
Mereka berdua berjalan beriringan, banyak pasang mata prajurit yang menatap kearah Mei Ling dengan penasaran dan ingin tahu. Entah kenapa Mei Ling merasa gugup akan pandangan mereka. Mungkin itu karena, mereka adalah anak buah Zhang Xifeng, dan Mei Ling yang menyembunyikan identitasnya takut saat mungkin saja salah satu dari mereka menyadari.
Untung saja prajurit di depan Mei Ling berjalan cukup cepat dan mengabaikan semua orang. Hal ini membuat Mei Ling bernafas lega.
Tok tok tok..
Prajurit dihadapan Mei Ling mengetuk sebuah Pintu, pintu yang Mei Ling yakini sebagai kantor Zhang Xifeng. Setelah hening sesaat suara datar dan dingin terdengar dari dalam ruangan.
"Masuk!"
Mei Ling yang merasa gugup hanya diam disamping prajurit itu seperti patung dan bahkan jika memungkinkan ia tidak akan bernafas. -_-
"Kau bisa pergi sekarang!"
Prajurit itu hanya mengangguk ringan mendengarkan ucapan Zhang Xifeng dan berlalu meninggalkan kedua orang yang sama terdiam dalam hening.
Zhang Xifeng mendesah lirih melihat kearah bocah di hadapannya yang tidak bergerak sedikitpun. Wajah datarnya menampakkan sedikit senyuman disudut bibirnya. Ia merindukan bocah ini, tapi karena terlalu sibuk. Ia hanya dengan menyesal tidak dapat menemuinya begitu lama. Dan sekarang setelah ia dapat menemuinya, bocah itu malah merasa malu dan gugup untuk menatap kearahnya.
__ADS_1
Zhang Xifeng merasa gemas hingga tidak dapat menahan diri untuk memakannya. Tapi, ia masih tidak dapat melakukan itu. Zhang Xiglfeng masih harus tetap bersabar sampai bocah ini benar-benar jujur padanya.
Tubuh Zhang Xifeng beranjak dari kursi, ia berjalan mendekat kearah Mei Ling yang hanya terdiam. Setelah cukup dekat dengannya, Zhang Xifeng menarik salah satu kursi kayu dan duduk tegap dengan kedua kaki yang sedikit terbuka.
Mei Ling memandang Zhang Xifeng dengan aneh, namun, saat kedua tangan Zhang Xifeng terentang lebar seraya tersenyum kearahnya. Pipi di wajah Mei Ling merona malu.
"Kemarilah!" Zhang Xifeng merentangkan tangannya meminta Mei Ling untuk mendekat. Mei Ling dengan patuh mendekat kearahnya tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Tangan kekar Zhang Xifeng merangkul erat pinggang Mei Ling dan mengapit kaki kecil Mei Ling dengan kakinya sendiri.
Zhang Xifeng membenamkan Wajahnya tepat di dalam pelukan Mei Ling posisi perutnya seraya bergumam lirih "Ini sangat hangat dan menenangkan!"
Mei Ling yang hanya terdiam merasakan wajahnya telah terbakar panas dan berwarna merah merona sekarang.
Dengan gugupnya tangan Mei Ling terangkat dan mengusap rambut di kepala Zhang Xifeng lembut.
Zhang Xifeng tersenyum merasa lebih bahagia, ia mempererat pelukannya pada tubuh Mei Ling dan menekan wajahnya dalam-dalam di perutnya, mencoba untuk menghirup semua aroma di tubuh Mei Ling yang membuatnya tenang dan nyaman.
"Mari seperti ini untuk beberapa saat!" Zhang Xifeng bersuara serak mencoba menahan hasrat yang meletup di dalam tubuhnya.
__ADS_1
-end of chapter