SYSTEM SUPREME IMORTAL GOD (DEWA ABADI TERTINGGI)

SYSTEM SUPREME IMORTAL GOD (DEWA ABADI TERTINGGI)
CHAPTER 2. PENYERANGAN PARTAI HANTU TENGKORAK


__ADS_3

Ada seorang pemuda yang begitu tampan bernama juli, dia merupakan 'Sang Kaisar Langit dan Bumi' yang terdampar setelah memasuki 'Portal Ruang dan Waktu', tiba-tiba saja muncul sebuah cahaya keemasan di balik awan gelap yang membuat seluruh dunia dapat melihat cahaya tersebut dan cahaya tersebut mulai masuk ke dalam tubuhnya juli.


Setelah cahaya tersebut sudah masuk ke dalam tubuhnya, seketika juli merasakan hawa sangat panas pada seluruh sekujur tubuhnya, setelah hawa panas yang ada di tubuhnya mulai menghilang, juli mulai membuka mata secara perlahan-lahan.


Juli yang mendapati kalau tubuhnya sedang tergeletak di tanah, juli juga mulai terkejut saat melihat kobaran api yang begitu besar disekelilingnya.


Juli mulai memperhatikan disekelilingnya dengan cara seksama, juli juga telah menyadari bahwa dia telah berada di masa lalu, dia pun mulai terkejut dan mulai bangkit untuk posisi duduk sambil memperhatikan tangan, kaki, tubuhnya yang kecil dan kurus serta tidak memiliki tenaga dalam sama sekali.


'Ini.. bukankah ini waktu saat umur aku masih Tujuh tahun' Gumam juli.


"Wah.. berarti aku sudah berhasil dong! Syukurlah kalau tuhan masih menyayangi ku, tapi sekarang aku lagi ada dimanakah ini? Bukankah ini sudah sangat jauh aku diantar dengan menggunakan portal ruang dan waktu" Kata juli yang sangat senang sambil memeriksa tubuhnya.


Juli pun mulai berdiri dan melihat area disekelilingnya, diarea sekelilingnya terdapat banyak sekali mayat yang bergelimpangan berada disekelilingnya, di area luar terdengar suara seseorang yang sedang bertarung dengan sengitnya, ada juga suara pedang yang sedang beradu yang bisa didengar di segala penjuru dan ada juga suara teriakan para pendekar yang sedang meminta bantuan dengan suara yang melengking.


Lalu juli mulai mencoba untuk mengingat kembali secara perlahan-lahan apa yang sedang terjadi dan pada akhirnya juli bisa mengingat semuanya dengan baik tentang peristiwa yang dia alami sekarang ini.


"Benar! Kalau aku tidak salah ingat kalau ini adalah serangan yang dilakukan oleh 'Anggota Partai Hantu Tengkorak'" Kata juli sambil memijat keningnya.


"Terima kasih ya tuhan, karena engkau telah mengembalikan ku tentang penyerangan yang dilakukan oleh anggota 'Partai Hantu Tengkorak' sebelum terlambat" Kata juli sambil tersenyum.


"Di kehidupan ku sebelumnya, partai hantu tengkorak ini hampir berhasil membunuh seluruh warga desa dan guruku juga menderita luka dalam yang sangat serius pada kejadian malam ini, maka sekarang saatnya aku akan mencoba untuk memperbaiki semuanya" Kata Juli dengan bersemangatnya.


Dulu di kehidupan Juli sebelumnya, Juli adalah seorang anak yatim-piatu, dan tinggal di sebuah kota bernama Pantai Merah, tidak mendapatkan warisan keluarga apapun, ibunya meninggal saat melahirkan Juli, ayahnya juga meninggal ditiga tahun kemudian, selanjutnya diapun diasuh oleh neneknya yang sudah berusia renta, pada waktu Juli berumur Enam tahun neneknya juga meninggal karena terkena sakit-sakitan, setelah itu Juli pun mulai menjadi gelandangan, dari situlah Juli mulai bertemu dengan gurunya setahun yang lalu.


Setelah itu, akhirnya Juli diasuh oleh seorang pendekar pemuda buta yang bernama Amin masih berusia 20 tahun, pendekar buta inilah yang akan menjadi gurunya. Sehari yang lalu, guru Amin membawa Juli ke suatu tempat yang bernama Lembah Teratai, setelah Juli dan gurunya seharian di Lembah Teratai, setelah Juli dan gurunya keluar dari Lembah Teratai mereka pun mulai diserang oleh Anggota Partai Hantu Tengkorak.


Partai Hantu Tengkorak adalah sebuah organisasi yang menjalankan atau menerima sebagai pembunuh bayaran dan perampok terbesar di Kekaisaran, setiap wajah Anggota dari Partai Hantu Tengkorak mereka harus diwajibkan untuk memakai topeng tengkorak sehingga membuat mereka terkesan sangat menyeramkan dan mudah dikenali oleh Anggota Partai Hantu Tengkorak lainnya.


Apabila mereka tidak mendapatkan sebuah misi maka mereka akan melakukan pembunuhan dan penculikan pada rakyat biasa disebuah pedesaan, sebagian warga yang mereka culik akan dijadikan sebagai penjual belikan untuk dijadikan sebagai budak, Partai Hantu Tengkorak juga adalah sekumpulan pembunuh yang sudah terlatih dan sangat keji dalam pembunuhan, dan juga mereka tidak berasal dari Kerajaan maupun Kekaisaran manapun, mereka juga adalah sebuah organisasi yang kawasan bebas yang berada dibawah asuhan dari Partai Iblis.


Juli mulai berdiri duduknya dan tiba-tiba tertegun saat melihat sesosok orang pemuda buta dengan sebilah tongkat yang ada di tangannya sebagai alat bantunya untuk berjalan, pemuda buta mulai berjalan kearahnya, pemuda buta yang berjalan dengan menggunakan tongkatnya dengan sangat tergesa-gesa kearah tumpukan puing-puing bangunan yang sudah hancur akibat dari pertempuran.


Jalan dari pemuda tersebut dipercepat sembari dengan memanggil-manggil nama Juli, terlihat dari raut wajah pemuda tersebut ada rasa kekhawatirannya yang luar biasa kepada muridnya, di kehidupan Juli sebelumnya tidak pernah memperhatikannya dikarenakan Juli terlalu takut untuk bertarung, tapi sekarang setelah ribuan pertarungan hidup dan mati yang sudah Juli jalani, tentu saja itu tidak akan membuat Juli takut ataupun gugup sedikitpun.


"Juli.. Juli..kamu ada dimana nak.." Dipanggil oleh seorang pemuda buta yang sedang meraba-raba dengan menggunakan tongkatnya.


Ada suara yang teramat sangat akrab terdengar di telinganya Juli, suara gurunya yang teramat merindukannya, dia adalah seorang pendekar buta, di dunia persilatan ini gurunya memang tidak pernah dianggap oleh orang lain, tidak terkenal, namun didalam hatinya Juli dia adalah sesosok Pendekar Sejati.


"Guru, saya tidak apa-apa" Jawab Juli yang tiba-tiba suaranya agak terisak oleh tangisannya.


Betapa tidak ada kenangan yang teringat lagi dipikirkannya bersama gurunya yang selama ini Juli mengikutinya di kehidupan sebelumnya, seorang Pendekar Buta yang sering merasakan kelaparan karena terkadang makanan yang gurunya dapatkan hanya cukup untuk satu orang saja, gurunya juga sering mengikat perutnya menggunakan tali supaya perutnya agar tidak kelaparan, gurunya juga sering memperlakukan muridnya dengan sangat baik seperti seorang ayah memperlakukan anak kandungnya sendiri.


Guru Amin adalah seorang pendekar yang jujur, ia tidak akan pernah mau mencuri atau mengambil punya orang lain yang bukan haknya, gurunya juga selalu memberikan nasehat-nasehatnya sepanjang berjalannya waktu.


Momen yang paling membuat sedih dalam ingatannya Juli ketika waktu kematian gurunya, badan gurunya yang kurus itu harus bertarung mati-matian dengan para siluman rubah untuk melindunginya, gurunya juga dikepung dengan ratusan siluman rubah sehingga bajunya tercabik-cabik dari serangan siluman rubah, gurunya bisa mengusir para siluman rubah itu hanya ada satu-satunya cara adalah dengan jurus yang miliki, setelah gurunya mengusir semua siluman rubah, barulah gurunya pun meninggal.


Juli baru tau bahwa rupanya gurunya sudah berminggu-minggu hanya minum air saja, Juli hanya kalau gurunya yang buta itu perutnya diikat dengan sangat kencang untuk menahan rasa laparnya saja, seketika gurunya yang buta itu harus menghembuskan nafas terakhirnya, gurunya masih saja sempat-sempatnya untuk menasehati Juli agar Juli selalu berada dijalan yang benar dan yang sudah diajarkan kepadanya, yaitu Jalan Pendekar Sejati.


Guru Amin memang tidaklah kuat ataupun hebat seperti yang lainnya, dia hanya berada diTingkat Pejuang Bintang 5 guru Amin tidak dapat menerobos ke Tingkat Kayu selama bertahun-tahun dikarenakan tidak adanya Sumber Daya untuk membantunya naik Tingkat, namun gurunya tidak kan pernah putus asa walaupun tidak ada Sumber Daya, ia akan terus berjuang demi membela kebenaran dan keadilan, ia akan selalu berada digaris terdepan dalam menegakkan suatu keadilan.


Suara guru Amin yang selalu terngiang-ngiang didalam pikiran Juli saat dalam bertarung adalah...


"Tenaga Dalam Bidadari, Pukulan Ganda."


Jurus bodoh tersebut yang dapat digunakan olehnya dalam bertarung, namun dengan keteguhan hatinya lah gurunya dapat melawan ribuan Serigala Api sendirian, sehingga Serigala Api harus mundur saat bertarung dengannya, walaupun Budidaya guru Amin masih tertahan diTingkatkan Pejuang Bintang Lima.

__ADS_1


Dalam dunia pendekar, tingkat budidaya tenaga dalam itu terdiri dari besar kecilnya suatu Wadah Induk Tenaga Dalam nya:


Orang Biasa;


Tingkat Pejuang,


Tingkat Kayu,


Tingkat Batu,


Tingkat Timah,


Tingkat Besi,


Tingkat Perunggu,


Tingkat Perak,


Tingkat Emas,


Tingkat Platinum,


Tingkat Berlian,


Tingkat Raja,


Tingkat Kaisar,


Tingkat Legenda,


Dan masih ada lagi tingkatan yang lebih tinggi dari Tingkat Keajaiban.


Tiap Tingkatan dalam suatu Wadah Induk Tenaga Dalam terdiri dari 5 bintang kepadatan, dan Tiap Tingkatan Tenaga Dalam memiliki ukuran Wadah Induk Tenaga Dalam yang berbeda-beda, semakin besar tingkat budidayanya, semakin besar pula Wadah Induk Tenaga Dalam.


Namun ada Faktor-faktor lain yang membuat seseorang dapat lebih kuat dari yang lain seperti:



Kepadatan Tenaga Dalam yang spesial,


Memiliki Cabang Wadah Induk Tenaga Dalam,


Memiliki Tingkat Kepadatan Tubuh atau susunan khusus,


Mengisi Wadah Induk Tenaga Dalam dengan Elemen,


Mengisi Wadah Induk Tenaga Dalam dengan Jiwa Mahkluk Ghaib,


Menguasai Teknik-teknik Budidaya Tertentu,


Dan Ras.



Tiap-tiap Ras memiliki susunan Wadah Induk Tenaga Dalam yang berbeda-beda, walaupun Wadah Induk Tenaga Dalam sama namun untuk Kepadatan nya berbeda-beda.

__ADS_1


Selain itu untuk menentukan kemenangan, tentunya juga harus dipengaruhi oleh faktor lainnya juga, seperti Jurus Beladiri dan Pengalaman juga tentunya.


Guru Amin memiliki pendengaran yang sangat tajam walaupun guru Amin dalam keadaan buta, sehingga dia dapat mendengarkan suara dengan baik suara Isak Tangisan Juli, diantara reruntuhan Kayu.


"Sini nak jangan takut, kamu jalan dibelakang guru yaa.. guru akan melindungi mu" Kata Guru Amin yang sambil maju meraba-raba dengan menggunakan tongkatnya.


Lima anggota dari Partai Hantu Tengkorak yang melihat ada seorang pemuda buta dengan seorang bocah berumur Tujuh tahun, membuat mereka tertawa, ada seorang anggota dari Partai Hantu Tengkorak yang memakai topeng berwarna Hitam sementara untuk keempat anggota lainnya dari Partai Hantu Tengkorak memakai topeng berwarna putih sebagai anak buahnya.


Anggota dari Partai Hantu Tengkorak yang memakai topeng berwarna hitam itu berbicara dengan lantang, "Hei Buta! Kamu ingin kabur dari kami ya, jangan bermimpi, kalian berempat bunuh mereka!"


"Siap!"


Mereka berempat pun mulai maju bersamaan menyerang guru Amin, guru Amin bersiap-siap dengan tongkatnya untuk segala kemungkinan.


Juli pun tersenyum membatin, 'Heh, jangan harap di kehidupan ku kali ini, kalian dapat membunuh kami dengan mudah, di kehidupan ku sebelumnya guru sibuk dengan dengan melindungi ku sehingga guru Amin selalu terkena serangan dari musuh..


'Kini aku bisa melihat 4 orang anak buah bertopeng dengan Tingkat Pejuang untuk sementara yang memakai topeng tengkorak Hitam dengan Tingkat Kayu, sekarang aku baru sadar kalau rupanya guru telah dikeroyok oleh lawan yang lebih tinggi darinya, dikehidupan ku sebelumnya guru masih bisa menang tipis, namun mereka masih bisa selamat' Batin Juli.


"Juli berdirilah dibelakang guru" Kata Guru Amin memerintah Juli untuk berdiri dibelakang nya.


"Baik Guru!" Jawab Juli dengan santainya yang dapat dirasakan oleh Guru Amin.


'Kenapa Juli seperti tidak merasakan takut sedikitpun dari nada bicaranya,' Batin Guru Amin yang membuatnya jadi tenang.


"Bagus, sepertinya bocah ini sudah terbiasa denganku jadi dia sudah tidak terlalu takut lagi, sekarang aku dapat secara leluasa menyerang Partai komplotan ini" Kata Guru Amin datar.


Guru Amin maju menerjang dengan tongkat yang ada ditangannya, guru Amin berteriak sembari menghajar keempat musuh-musuhnya yang menyerangnya.


"Tenaga Dalam Bidadari, Pukulan Ganda!"


BOM.. BOM.. TOK TOK


Keempat orang dari anggota Partai Hantu Tengkorak bertopeng Putih, sekarang bagai tak berdaya sekarang melawan guru Amin, hal itu membuat jengkel anggota Partai Hantu Tengkorak topeng Hitam, seketika itu Partai Hantu Tengkorak topeng Hitam mulai mendekat dan menarik pedangnya yang sekarang tidak lagi menonton, melihat itu keempat anak buah nya pun mulai mundur ke belakangnya.


"Kalian berempat membunuh seorang pemuda buta saja kalian tidak becus" Bentak Hantu Tengkorak topeng Hitam sambil menerjang maju.


Juli yang seorang bocah berumur Tujuh tahun yang badannya sangat kurus, tidak memiliki senjata apa-apa, namun bagi seorang yang dijuluki Dewa Pengetahuan, membuat senjata dari apa saja itu bukanlah hal yang mustahil baginya.


Juli mulai menggambar Manuskrip atau Pola Tulisan Kuno di telapak tangannya, setelah Pola Tulisan Kuno selesai digambar, Juli pun mulai menggigit jarinya hingga berdarah lalu meneteskan darahnya di atas Pola Tulisan Kuno tersebut, seketika di telapak tangannya mengeluarkan cahaya yang sangat terang, setelah cahayanya meredup langsung berubah menjadi Jarum Roh, Jarum ini tidak memiliki wujud seperti Jarum biasanya, Jarum ini diciptakan dari tenaga dalam, namun dikarenakan tenaga dalamnya Juli hanya Tingkat Satu saja jadi ia hanya bisa menciptakan 20 Jarum Roh saja.


Kejadian itu tentunya tidak diketahui oleh Gurunya, namun untuk kelima orang dari Partai Hantu Tengkorak tentu saja melihat ada yang janggal dari telapak tangannya Juli.


Melihat keanehan yang ada ditangannya Juli, membuat Hantu Tengkorak topeng Hitam memberikan isyarat kepada anak buahnya untuk membunuh Juli secara bersamaan yang kelihatannya sangat berbahaya.


Keempat anggota dari Partai Hantu Tengkorak langsung menerjang kebelakang guru Amin untuk menyerang Juli, menyadari kejadian itu membuat konsentrasi guru Amin terpecah dalam pertarungannya.


Guru Amin pun mulai membalikkan arah menyerangnya ke arah keempat orang yang mau menyerang muridnya, tanpa memperdulikan Hantu Tengkorak topeng Hitam yang berada dibelakangnya yang sedang menusukkan pedangnya kearahnya.


Guru Amin bergumam dalam hati, 'Nyawa murid ku lebih berharga daripada nyawaku."


"Tenaga Dalam Bidadari, Pukulan Ganda."


Tongkatnya pun terus melajukan serangannya sambil menahan serangan dari keempat Hantu Tengkorak topeng Putih, sementara pedang Hantu Tengkorak topeng Hitam terus melajukan serangannya dari belakang punggungnya.


Sementara diberbagai tempat lain di Pedesaan juga terjadi pertarungan antara Partai Hantu Tengkorak dengan Pendekar terus berlangsung, dan korban jiwa pun terus berjatuhan.

__ADS_1


__ADS_2