
setelah perdebatan yg cukup panjang dan menguras emosi membuat Arkan terpaksa menerima perjodohan ini.
" baiklah, aku menerima perjodohan ini " pasrah dengan ancaman sang papi padanya.
" papi dan mami senang mendengarnya nak" jawab nyonya Rena dengan perasaan bahagia.
" Karin apa kamu mau menikah dengan Arkan putra pertama kami" tanya papi Williams pada Karin dengan penuh harapan.
" ia, pi, Karin mau menikah dengan Arkan meskipun perjodohan ini berdasarkan wasiat dari mommy dan daddy ".
" apa kamu yakin menerimanya meskipun perjodohan ini hanya terpaksa " keraguan di wajah Celin pada adiknya.
" ia kak, Karin yakin karna jodoh yg telah mommy sama daddy dan mami juga papi adalah yg terbaik buat Karin".
" kakak ngak mau dek kalau kamu menikah dengan orang yg sama skali kamu ngak cintai" kesedihan di wajah Celin.
" Insya Allah kak, Karin yakin dan percaya kalau Karin bisa belajar mencintai Arkan begitupun sebaliknya jadi kakak jangan cemas ya" mencoba menghibur kakaknya.
" cihhh, jangan mimpi cewek sialan!!! sampai kapan pun aku ngak akan pernah memberikanmu cinta karna cintaku hanya buat Celin seorang " gumam dalam hati dan mengepal kedua tangannya kearah Karin.
" dek, kakak ngak yakin kalau Arkan balik mencintaimu " ucap Kevin yg ragu pada Arkan.
" kak Kevin jangan khawatir Karin yakin kok dengan ketulusan cinta Karin akan membuat Arkan balik mencintaiku " dengan mencoba tersenyum meskipun dalam hatinya ngak yakin.
" ia nak, ok ibu percaya kok kamu bisa membuat nak, Arkan cinta sama kamu" tersenyum hangat pada Karin.
" makasih ya bu" memeluk bu, Saras dengan bahagia.
" hmm, kalau semuanya sudah setuju gimana kalau lamaran akan diadakan tiga hari lagi, apa kalian ngak keberatan kan? " tanya tuan Williams .
" mami setuju pi, lebih cepat lebih bagus ya kan sayang" memeluk Karin dengan sangat bahagia.
__ADS_1
" kalau kamu Arkan gimana apa kamu setuju dengan keputusan papi atau tidak" jawab tuan Williams pada putranya yg keras kepala.
" aku terserah papi saja, lagian kalau aku menolak ujung- ujungnya akan di paksa juga" ucap Arkan dengan perasaan tak senang meskipun berusaha menolak papinya dengan keras akan terus memaksanya.
" baguslah kalau kamu sadar juga" ucap tuan Williams dengan tegas pada Arkan.
" kalau gitu kami pamit pulang dulu ya " ucap nyonya Rena.
" ayo mi, papi juga ada meeting di kantor" jawab tuan Williams beranjak dari tempat duduknya.
" Celin dan Karin, mami sama papi pulang dulu ya nanti mami sama papi akan datang kesini lagi melamar kamu nak" memeluk Karin.
" ia mi" ucap Karin melepas pelukan dari nyonya Rena.
" ayo pi, Ardi, Arkan kita pulang" mengajak sang suami dan anaknya pulang.
" mami, papi dan Ardi duluan aja dulu aku ada urusan sama Celin dan Karin".
" ia pi".
tuan Williams bersama sang istri dan anak bungsunya keluar dari Mansion tuan Roberts menuju ke mobilnya lalu pulang ke tujuan masing-masing. sedangkan di ruang tamu Arkan, Celin , Karin, Kevin dan bu, Saras masih tetap stay duduk di sofa.
" Celin, Karin boleh bicara bertiga sebentar? " ucap Arkan yg tak pernah luput melihat kearah Celin.
" ok" jawab Celin dengan dinginnya pada Arkan.
" maaf, bisakah kalian berdua tinggalkan kami karna saya cuma mau bicara penting sama Celin dan Karin" ucap Arkan pada Kevin dan bu, Saras.
" baiklah nak, ayo nak kevin ikut ibu" menarik tangan sang anak.
" tapi bu, Kevin takut laki- laki brengsek kayak dia akan membuat ngak- ngak sama Celin dan Karin " cemas dengan kedua adiknya.
__ADS_1
" anda tak perlu khawatir karna saya bukan laki-laki brengsek yg menodai wanita, saya cuma mau bicara hal penting pada mereka berdua " jawab Arkan tak Terima di tuduh menodai wanita.
" maaf ya nak Arkan, nak kevin ngak bermaksud bicara seperti itu, ayo nak ikut ibu skarang" menarik tangan kevin kebelakang rumah.
" awas ya kalau sampai kamu buat yg ngak- ngak sama mereka berdua, aku ngak segan- segan membunuhmu!! " ucap Kevin mengancam Arkan lalu pergi mengikuti sang ibu. di ruang tamu tinggallah mereka bertiga. dimana Arkan mulai mendekati Celin.
# at. ruang tamu#.
" Cel, aku boleh bertanya sesuatu? " jawab Arkan memegang tangan Celin penuh harap.
" maaf, bisakah anda melepaskan tangan saya" ucap Celin tegas pada Arkan.
" ngak bisa karna aku suka dengan posisi ini".
" Arkan tolong kamu hargai Karin gimana pun juga Karin adalah calon istrimu nanti" berusaha melepaskan genggaman tangannya dari Arkan tapi nihil karna Arkan menggenggamnya sangat erat.
" ngak Cel, yg akan menjadi istriku itu cuma kamu bukan dia" ucap Arkan menunjuk pada Karin. Karin yg mendengar perkataan Arkan sangat sedih namun sebisa mungkin dia mencoba untuk tetap tersenyum.
" kamu salah Arkan , aku ngak pernah mau menjadi istrimu karna aku ngak pernah mencintaimu ".
" cinta bisa datang saat setelah kita menikah" ucapan Arkan pada Celin.
" itu ngak akan pernah terjadi karna aku cuma mencintai kekasihku" kemarahan Celin.
" aku ngak akan pernah membiarkanmu hidup bahagia bersama laki-laki lain cukup kamu bahagia bersamaku karna kamu cuma milikku, milik Arkan Williams seorang camkan itu!!! penuh ketegasan pada Celin.
" tapi sayang aku ngak mau hidup bahagia sama laki-laki brengsek kayak kamu".
" kalau kamu menolakku aku akan habisi laki-laki itu dan aku akan membawa mu pergi keluar negeri dan disana kita akan menikah, memiliki anak dan hidup bahagia selamanya" tersenyum hangat pada Celin.
" cukup ARKAN WILLIAMS...!!! sampai kapan pun aku CELIN ISABELLA ngak akan pernah mau menikah dengan anda lebih baik saya mati dari pada menikah dengan anda!! " ucap Celin emosi dan menghempaskan tangan Arkan dari tangannya.
__ADS_1