Takdirku Bersama Denganmu

Takdirku Bersama Denganmu
Bab 1


__ADS_3

Bab 1


Dinda Pov


Bunyi alarm membangunkanku dari tidur nyenyakku, mata ini masih terasa mengantuk karena tidak cukup tidur, lalu aku meraih benda pipih yang ada di atas nakas dan mematikan alarm tersebut.


Tak beberapa lama pintu kamarku terbuka dan muncul sosok Mamaku yang masuk ke dalam kamar.


"Ayo bangun sekarang Dinda atau kamu akan terlambat untuk masuk kerja." Mama Elsa berkata sambil membuka gorden jendela, membiarkan sinar matahari masuk ke ruangan.


"Tidak bisakah aku tidur sebentat lagi Ma, hanya beberapa menit saja." Aku memohon pada Mama yang masih saja membangunkanku, lalu aku menarik selimutku lagi agar bisa tertidur


"Berhentilah menjadi malas dan ayo cepat bangun, tidakkah kamu kemarin malam mengatakan bahwa kamu memiliki pressntasi penting hari ini?" Mama Elsa bertanya sekaligus mengingatkan aku akan rapat hari ini dan benar saja ucapan Mama itu membuatku seketika membuka mata dan bangun beranjak dari tempat tidur.


"Oh, tidak! presentasinya diadakan pagi ini, aku tidak boleh terlambat masuk kerja" ucapku ketika aku berlari ke kamar mandi untuk mandi.


Teman - teman kantor dan aku telah bekerja keras untuk mengerjakan materi rapat ini selama berhari -hari jadi aku tidal boleh terlambat.


Aku sering datang terlambat masuk kerja hanya karena untuk lembur mengerjakan materi itu dan sekarang setelah hari ini tiba akhirnya materi itu sudah siap ada di laptopku.


aku harus bangun dan tidak boleh terlambat, pikirku dalam hati


Setelah selesai mandi dan aku buru - buru untuk mengenakan pakaianku dan tak lupa aku langsung menyambar sepatuku dan memakainya sambil sedikit berlari lurus ke bawah tangga agar tidak terlambat.


"Kenapa kamu terburu -buru sekali sayang?" Papa Putra bertanya ketika aku bergegas menelan jus buah yang dibuat oleh Mama untukku.


"Dia bangun terlambat dan hari ini adalah hari untuk presentasinya di tempat kerja," sahut sang Mama ketika melihat tingkahku yang terburu - buru.


"Selamat tinggal Mama, selamat tinggal Papa" ujarku ketika aku melambaikan tangan kepada mereka berdua dan kemudian aku berlalu meninggalkan rumah.


Karna tidak mampu menunggu bus jadi aku memutuskan untuk naik taksi saja.


Kemarin aku mungkin bisa untuk datang bekerja terlambat tetapi untuk sekarang, aku harus bisa datang dan masuk bekerja lebih awal.


Taxi yang di kendarai Dinda melaju membelah di jalan -jalan yang sibuk di Surabaya.


Sementara menunggu di taxi aku pun mengecek pekerjaanku kemarin, aku mengeluarkan laptopku dari dalam tas dan mulai mengecek satu persatu materi yang ada di laptop tersebut.


"Kami sudah sampai Nona," ucap sang sopir taxi padaku saat sudah sampai di lobby kantor lalu dengan cepat aku membayar taxi dan keluar dari taxi itu.


Seolah -olah telah terlambat, aku berlari dengan cepat masuk ke dalam gedung, karena tergesa - gesa aku tidak sengaja menabrak seseorang yang berjalan dari arah berlawanan dan hal itu membuat laptopku terjatuh di lantai.


"Oh, tidak! laptopku!" ujarku ketika aku langsung berlutut untuk mengambil laptop yang sudah rusak dan tergeletak di lantai.


Aku mencoba untuk menyalakannya hanya untuk melihat bahwa benda itu masih menyala atau tidak dan jika laptop ini rusak maka akan muncul banyak masalah untukku, dan jika itu terjadi maka presentasi ini harus ditunda karena semua file pekerjaan ada di dalam laptop itu.


"Apakah kamu baik -baik saja," Pria yang aku tabrak bertanya.


"Aku tidak apa - apa! Tapi laptopku yang menjadi" balasku sambil menunjuk ke arah laptop yang telah rusak.


"Aku tidak bermaksud menabrakmu dan kamu seharusnya melihat ke depan ketika kamu berjalan" katanya lagi untuk menyalahkan aku dan hal itu membuatku merasa ingin sekali untuk meninju wajahnya yang sok tampan itu.

__ADS_1


"Aku keluar dari taxi dan kamu berjalan di jalan yang luas, bukankah aku punya hak untuk marah padamu!" Aku berteriak padanya karena telah emosi di buatnya.


"Lihatlah nona, aku harus segera membuat janji dan kamu melakukan ini akan menunda pekerjaanku," katanya lagi sambil menatap arlojinya.


"Mengapa kami tidak melakukan damai saja! Aku akan memberikan nomor ponselku, dan kamu dapat menghubungiku nanti dan mengajukan keluhan tentang laptop kamu dan aku akan menanggung biayanya tetapi sekarang aku harus mendapatkan janji temu itu," tambahnya setelah dia meletakkan kartu nama di tanganku lalu dia langsung berbalik dan hendak pergi. Dengan gerakan cepat aku menghalangi jalannya membuatnya berhenti.


"Nona!" Dia memanggil dengan nada yang sedikit di tekan.


"Tuan! Saya tidak melakukan semua ini untuk mendapatkan uang bodoh Anda atau menelepon Anda, seperti yang harus Anda ketahui, saya juga akan pergi ke pertemuan yang sangat penting dan semua yang saya miliki ada di laptop ini dan ........ ... "


"Oke kamu butuh uang untuk memperbaikinya tunggu sebentar disini!" ucap pria itu lalu dia mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya dan kemudian dia mengambil tanganku dan menekan uang itu ke dalam tanganku.


"Ini semua yang saya miliki, jika Anda menelepon saya nanti, saya akan memberi Anda lebih dari ini, jadi sekarang biarkan saya untuk pergi agar saya tidak mendapatkan hukuman dari atasan saya," ujarnya ketika dia bergerak melewatiku lagi.


Dengan marah aku mengejarnya dan ketika aku sampai di depannya, aku mendorongnya begitu keras sehingga dia kehilangan keseimbangan dan jatuh di lantai.


"Apakah kamu sudah gila Nona!" Pria itu bertanya terlihat sangat geram.


"Anda pikir uang sialan Anda benar -benar berguna! Maaf jika saya menerima uang itu maka Anda akan terus menjadi sombong, seberapa banyak uang yang Anda berikan kepada saya maka saya akan menolaknya," balasku dengan perasaan sangat marah


"Uang Anda tidak akan mengembalikan laptop saya ini Tuan! Jadi saya pikir Anda lebih membutuhkannya dari pada saya, untuk membantu membersihkan kesombongan Anda," tambahku ketika aku melemparkan kembali uang yang ada di tanganku.


"Beraninya kamu?" teriaknya padaku


"Mengapa tidak berani? memangnya kamu itu siapa! Aku juga tak tahu siapa kamu, bagiku kamu itu hanyalah pria brengsek yang tidak punya sopan santun, apa orang tuamu tidak mengajarimu dengan benar"


"Perhatikan ucapan Anda .........."


"Kamu belum diajari sopan santun sebelumnya! Yah anggap saja aku baru saja mengajarimu, itu akan memberimu sesuatu untuk dipikirkan sebelum kamu bertindak sesuatu, kamu memang brengsek," ucapku memotong perkataannya lalu aku meninggalkannya yang masih duduk di lantai.


"Dinda kenapa kamu tadi lama saat masuk kesini" tanya Gita ketika kami semua mulai pergi ke ruang rapat.


"Ada sesuatu yang terjadi di lobby tadi Git" balasku ketika aku meletakkan laptopku di atas meja dan terhubung ke pengisi daya untuk membuatnya menyala dan untungnya itu terjadi


"Dinda kenapa kamu terlihat khawatir sekali? Apakah ada yang salah dengan materi yang kita buat" Miko yang juga bagian dari kita bertanya.


"Tadi aku kebetulan menabrak orang bodoh yang sombong di lobby depan tetapi tidak terjadi apa - apa jadi rapat hari ini semuanya sudah siap, semua hanya tinggal menunggu bos untuk melihatnya," ujarku.


"Apakah Adinda Saputri Rahardja di sini?" Bos kami bertanya ketika dia berjalan ke ruang rapat. Dan hal itu membuat semua orang yang ada di ruangan itu menoleh dan menatap ke arahku.


"Ya, saya disini bos," jawabku dan dengan cepat, lalu dia berjalan ke arahku lalu berdiri di sisiku.


"Kenapa kamu terlambat! Apakah niatmu untuk kehilangan kontrak ini?" Bos bertanya sedikit tidak sabar dan menahan kesal.


"Bukan seperti itu bos tadi saya ada sedikit masalah dengan seseorang," balasku santai.


"Saya tidak ingin tahu masalah apa yang kamu miliki, yang saya tahu adalah bahwa saya ingin kamu memberikan yang terbaik untuk rapat kali ini, kita harus mendapatkan kontrak itu, itu sesuatu yang terbesar yang pernah dimiliki agensi ini, saya tidak boleh kehilangan kesempatan itu dan aku tidak ingin menerima kesalahan apa pun! " ucap bos dengan tegas dan kami semua mengangguk.


"Sudahkah bos melihat profilnya, bos tahu bahwa untuk membuat iklan untuk perusahaannya, kita perlu menunjukkan kepadanya bahwa kita tahu lebih banyak tentang dia," katanya kepada Gita.


"Yah saya memang mencoba memeriksanya secara online tetapi tidak ada yang datang, yang kita tahu adalah bahwa dia adalah miliarder yang kaya dan tidak lebih, sepertinya dia ingin menjaga hidupnya sebagai misteri," jawab Gita.

__ADS_1


"Kamu tidak melakukan pekerjaanmu dengan benar Gita, aku telah memberitahumu untuk mencari tahu tentang dia!" Bos berteriak marak pada Gita.


"Tetapi saya .........."


"Cukup! Kalian semua akan membuatku tua dan keriput sebelum ulang tahunku yang ke -50, saya lebih baik pergi dan beristirahat, Dinda yang akan mengambil alih presentasi kali ini" ucap bos memotong perkataan Gita lalu dia pergi meninggalkan ruangan itu.


"Kalian semua akan membuatku tua dan keriput sebelum ulang tahunku yang ke -50," Gita menirukan ucapan si bos saat dia berjalan pergi.


"Dia masih menyebut dirinya muda ketika dia akan menjadi yang ke -49 tahun ini," tambah Miko.


"Kamu akan menjadi sangat tua dan keriput sehingga tidak ada pria yang akan menikah denganmu," tambah Gita dan aku tertawa saat mendengar itu.


Bos kami Rosa Devina Kuswoyo selalu kasar dan suka memerintah seenaknya, tetapi ketika mendekati hari gajian kami, ia sangat murah hati.


Beberapa kali dia mengomel sepanjang waktu dan beberapa kali dia bercanda dengan kita.


Setiap orang gelisah karena rapat ini.


Agen periklanan kami hanyalah seorang pemula, jika kami bisa mendapatkan kontrak di perusahaan Baskara Corp maka kami akan terkenal dan itu akan membuka banyak pintu bagi kami untuk menuju kesuksesan.


Itulah mengapa kita semua gelisah, jika Rafa Arya Baskara ini tidak menyetujui proposal yang kita buat maka kita akan kehilangan kontrak yang sangat besar dan itulah yang kita takuti.


"Dinda apakah kamu sudah mempersiapkan dirimu untuk bagian terakhir dari presentasi" tanya Miko dengan cemas


"Di bagian mana yang akan aku kerjakan?" tanyaku pada Gita.


"Kamu seharusnya sudah tahu bukan, itu suatu keharusan untuk kami tunjukkan kepadanya bagian penting itu," tambah Gita


"Tentu, aku menyiapkan bagian itu sendiri dan jadi aku akan melakukan bagianku" ujarku menenangkan.


"Teman -teman! Teman -teman! Teman -teman, mereka ada di sini, mereka ada di sini," kata Marsa seorang resepsionis yang bekerja di gedung ini juga, dia berlari menuju ke arah kami.


Sementara Gita dan Miko pergi untuk menyambut tamu.


Aku selesai menyiapkan ruang presentasi, kabel dilepaskan di lantai dan sementara aku membungkuk untuk mengambilnya, aku bisa mendengar Gita mengarahkan tamu tersebut.


"Mari masuk Tuan?" Ucap Gita ramah


"Ini lebih baik untuk sementara waktu." aku mendengar suara itu yang sedikit familiar di telingaku, aku yakin pernah mendengar suara itu tapi di mana ya.


"Dinda!" Teriak Gita membuyarkan lamunanku.


Aku berdiri dan betapa terkejutnya aku ketika melihat orang yang berdiri di depannya.


Itu adalah pria brengsek tadi yang menabrakku kan tanya Dinda di dalam hatinya.


"Ka - Kamu..." ucapku terbata - bata dengan mata yang membulat sempurna.


"Dinda apa kamu sebelumnya penah bertemu dengan Tuan Rafa Arya Baskara, pemilik Perusahaan Baskara Corp." tanya Gita dengan ekspresi bingung saat melihatku gugup dan mulutku terbuka lebar setelah mengetahui hal tersebut.


T b c

__ADS_1


Apa yang akan dilakukan Dinda selanjutnya setelah mengetahui siapa pria itu yaa 🙄🙄🙄


yuk ikuti kelanjutannya


__ADS_2