
Episode 63
Dinda POV
Kini aku sudah berpakaian lengkap untuk ke pesta, aku berdiri di depan cermin dan kupandangi diriku di cermin tersebut.
Aku tampak seperti seorang dewi dan aku juga terlihat seperti artis tetapi itu bukan masalahku, aku masih merasa aneh tentang pesta itu.
Aku masih tidak tahu apa maksud ucapan Lita saat aku tidak sengaja bertemu dengannya di butik tadi dan itu membuatku merasa khawatir.
Saat itu pintu terbuka dan Rafa berjalan ke ruangan, terlihat tampan juga gagah dengan tuksedo putih.
"Apakah kamu sudah siap untuk pesta?" Rafa bertanya dengan lembut.
"Ya," jawabku dan dia mengulurkan tangannya, aku menerima ulura tangan Rafa dan bersama -sama kita pergi menuju tempat pesta.
Pesta itu berjalan lancar saat kita sampai di sana, aku dan Rafa memjadi pusat perhatian dan Rafa memperkenalkan aku kepada banyak tamu yang sudah hadir di pesta ini.
Orang -orang dari perusahaan, orang yang kami kenal dari kota dan beberapa temannya
Sementara ibu dan ayah Rafa berbaur di antara tamu, Rafa dan aku pergi berdansa.
"Kamu bisa menghentikan dansa ini dengan mengatakan kalau kamu sakit kepala, itu bukan keharusan kamu berdansa denganku," ucap Rafa lirih.
"Berhentilah berbicara dan fokuslah berdansa," gerutuku dan menariknya lebih dekat denganku.
Jika ini akan menjadi yang terakhir kalinya aku berada di sini, aku lebih baik menikmati kebersamaanku dengan Rafa, pikirku saat aku berada di pelukannya.
Ketika acara dansa telah selesai, Rafa pergi dengan beberapa pekerja perusahaan dan aku sedang menuju ke kamar kecil ketika aku bertemu Tante Bella di jalan.
"Kamu masih ingat rencananya kan?"
Tante Bella bertanya memberiku senyuman lebar.
"Ya, aku masih ingat dan akan aku lakukan," jawabku kembali.
"Ingat! Jangan sampai ada kesalahan, oke!" balas Tante Bella mengingatkanku dan dia berjalan pergi.
Aku pergi ke kamar kecil dengan perasaan agak aneh, mengapa aku merasa aneh tentang hal ini, mengapa aku merasa seperti sesuatu yang besar akan terjadi.
Aku sempat bermimpi Rafa meninggal tadi tetapi itu seharusnya hanya sebuah mimpi saja bukan? pikirku.
"Ini hanya mimpi, Rafa tidak akan pernah mati," aku bergumam lirih.
Rafa POV
Aku berkeliling mencari Dinda! Dimana dia bisa tidak terlihat? pikirku saat aku mulai menuju ke rumah.
Aku bertemu Mama Bella di jalan, dia adalah orang terakhir, aku ingin bertanya dengannya sekarang, pikirku saat aku berjalan ke arahnya.
"Apakah kamu sedang mencari istrimu?" Mama Bella bertanya.
"Kenapa kamu bertanya?"
"Itu karena aku melihatnya menuju ke kamar kecil," jawab Mama Bella.
"Baiklah, aku akan pergi menemuinya?" balasku.
"Apakah kamu benar -benar mencintainya?" Mama Bella bertanya dengan tiba - tiba dan itu menghentikan langkahku.
"Kenapa Mama tiba -tiba menanyakan itu?" aku balik bertanya dengan mata memicing.
__ADS_1
"Mama hanya ingin tahu bagaimana perasaan kamu saat kamu tidak bisa melihatnya lagi," ujar Mama Bella disertai senyum.
"Maksud Mama apa?" Aku bertanya dengan bingung, dan aku pun berjalan ke arahnya untuk menuntut penjelasannya.
"Aku hanya ingin tahu bagaimana perasaan kamu ketika kamu tidak bisa melihatnya lagi," Mama Bella mengulang pertanyaannya lagi.
"Apa yang ingin kamu katakan Mama?" sungutku.
"Tidak ada! Kamu bilang kamu mencintainya tapi aku bertanya -tanya bagaimana perasaanmu ketika kamu tidak bisa melihatnya lagi," lagi - lagi Mama hanya bertanya itu dan berjalan pergi.
Dengan cepat aku pergi ke kamar kecil dan tidak peduli jika ada wanita lain di sana, aku langsung masuk begitu saja dan aku melihat Dinda keluar dari toilet.
"Apa yang kamu lakukan di sini Dinda!" Dinda bertanya dengan bingung dan dengan cepat aku berjalan ke arahnya dan memeluknya erat -erat.
"Mulai sekarang, tetaplah berada di dekatku, jangan berani -berani pergi sendiri," ujarku saat Dinda membalas dengan memelukku erat juga.
"Tapi Rafa ......."
"Dengarkan aku sekali ini saja oke, setidaknya sampai aku melakukan apa yang ingin aku lakukan malam ini," selaku cepat dan tanganku menangkup kedua pipinya.
"Baik, aku akan melakukan apa yang kamu katakan," balas Dinda dengan pasrah.
Dinda POV
Aku berdiri di luar dengan Rafa dan setiap orang, sudah waktunya untuk menghidupkan kembang api dan segera aku akan pergi.
Aku tidak tahu mengapa Rafa berperilaku seperti itu sebelumnya tetapi itu pasti karena dia mengkhawatirkan aku, pikirku dalam hati.
Acara kembang api dimulai dan setiap orang fokus padanya. Melalui kerumunan aku melihat seorang pria mendekati Rafa dan aku lihat dia juga sedang menarik Rafa untuk mengambil perhatiannya.
Aku berdiri diam, merenungkan apakah aku tidak boleh meninggalkannya, beberapa saat mataku bersirobok dengan Tante Bella.
"Pergi," mulut Tante Bella berucap ke arahku tanpa suara dan dengan cepat aku meninggalkan kerumunan dan menuju ke lapangan di mana akan ada orang yang sudah menungguku.
"Dinda!" aku mendengar panggilan Rafa.
"Kenapa kamu di sini dan tidak di pesta itu," katanya berjalan ke arahku.
"Aku baru saja datang ke ..........." Aku tidak bisa menyelesaikan kata -kataku karena kami mendengar tembakan senjata.
Itu ditembakkan ke arah kami tetapi beberapa hal itu terlewatkan, Rafa dengan cepat berlari ke arahku dan dia memelukku dengan menggunakan tubuhnya untuk menutupiku dan kemudian ada tembakan senjata lain.
Beberapa tembakan muncul aku bisa mendengar orang -orang berteriak dan mungkin penembak mungkin juga mendengarnya karena tidak ada tembakan senjata lagi.
"Apakah kamu baik-baik saja?" Rafa bertanya padaku dan aku mengangguk dengan lemah.
"Bagaimana denganmu?" Aku bertanya dan Rafa mengangguk juga.
"Ayo keluar dari sini," ajaknya.
Aku merangkulnya dan mulai berjalan tetapi kemudian aku berhenti ketika aku merasakan sesuatu di tanganku. Aku melihat tanganku untuk melihat darah di atasnya.
"Ra - Rafa...!" Aku memanggil dengan lembut dan dia menatapku tampak pucat.
"Rafa kamu telah ditembak!" aku berteriak dan Rafa sudah jatuh di lantai.
"Rafa! Rafa! Rafa!" Aku memanggilnya saat aku menatapnya.
"Seseorang tolong bantu kami! Bantu kami!" Aku berteriak histeris.
"Jangan panik ...... Kamu harus memanggil siapa pun," kata Rafa dengan lirih.
__ADS_1
"Tapi aku harus apa, kamu telah ditembak!" Aku berkata sambil menangis.
"Ini ...... adalah apa yang pantas aku dapatkan .... apa yang aku lakukan kepadamu ..... Aku ingin memberi ..... untuk memberimu kedamaian yang kamu minta ..... Aku ingin mendapatkan hukuman yang pantas aku dapatkan dengan masuk penjara ..... tapi sepertinya aku tidak bisa melakukannya sekarang .... "
"Jangan katakan itu! Jangan katakan itu Rafa! Tolong.... Tolong bantu kami!" Aku berteriak lagi tapi Rafa memegang tanganku dan aku menatapnya.
"Jangan! .... Aku .... Aku akan mati dengan cara apa pun .... tapi sebelum aku melakukannya ..... Aku ingin memberi tahu kamu jika ..... Aku sangat menyesal dengan apa yang telah terjadi ..... jika aku bisa memutar waktu kembali ..... Aku tidak akan menyakitimu Dinda," Rafa berbisik ringan karena kondisinya yang mulai melemah akibat kehilangan banyak darah.
"Berhenti bicara Rafa, kamu kehilangan kekuatanmu, bertahanlah untuk baik -baik saja! Tunggu sampai bantuan datang," ucapku di sela tangisku.
"Kamu tahu aku tidak bisa melakukan itu ..... kita berdua tahu jika ini adalah akhirnya .... itu yang pantas untuk aku dapatkan," ucap Rafa lahi yang sudah tampak sangat pucat.
"Tidak Rafa! Bukan masalah apa yang pantas kamu dapatkan! Kamu tidak akan mati oke! Aku tidak ingin kamu mati!" Aku berteriak histeris.
"Aku .... Aku mencintaimu Dinda, aku sangat mencintaimu!" ucap Rafa dan setelahnya dia menutup matanya.
"Tidak.... Rafa! Tidak, kamu tidak bisa mati! Kamu tidak bisa meninggalkan aku sendiri!" Aku kembali berteriak.
"Apa yang terjadi? Apa yang terjadi?" Tante Bella bertanya ketika dia berlari ke arah kami.
"Dia ditembak! Tolong selamatkan dia," pintaku.
"Panggilkan bantuan cepat!" Tante Bella berteriak pada tamu yang berdiri melihat.
"Rafa tidak akan bisa diselamatkam, kita perlu melakukan sesuatu dengan cepat, dia tidak akan berhasil jika tidak kita tangani dengan cepat," Kata David saat dia berjalan ke arah kami.
"Apakah kamu seorang dokter?" Tante Bella berteriak padanya.
"Aku bukan dokter tetapi sebelum ambulans sampai di sini, Rafa tidak akan selamat," jawab David.
"Tolong bantu saya mengangkatnya," lanjut David meminta bantuan dan dua pria berjalan ke arah kami dan mereka membantu mengangkat Rafa.
Saat melihat jas berdarahnya, aku terkesiap kaget, mimpi yang kumiliki adalah firasat, itu memberitahuku jika ada sesuatu akan terjadi tetapi aku tidak memperhatikannya, ini semua salahku, jika sesuatu yang buruk harus terjadi dengan Rafa maka itu semua salahku. Dia dibawa ke kamar kami dan dengan bantuan David dan dua pria, mereka melepas jasnya.
"Kita harus mengeluarkan peluru, setiap orang harus pergi kecuali kedua pria itu yang akan membantuku," titah David.
"Apakah kamu gila! Apakah menurutmu aku akan mempercayakan keselamatan anakku di tanganmu, apa yang kamu tahu?" Tante Bella bertanya dengan garang.
"Entah kamu biarkan aku melakukan ini atau Rafa akan mati," jawab David tak kalah sengit.
"Tante biarkan dia melakukannya?" ucapku menarik tangan Tante Bella tapi dia menarik diri.
"Lepaskan aku, ini semua salahmu, Rafa yang terluka adalah salahmu!" Tante Bella berteriak padaku.
"Ini bukan......."
"Jika sesuatu harus terjadi pada Rafa, aku akan membuatmu menyesalinya, aku bersumpah!" Tante Bella masih berteriak padaku.
"Kamu seharusnya tidak menyalahkan Dinda, kamu melihat jika pistol itu ditembak pada mereka berdua," kata David membelaku.
"Tutup mulutmu dan ambil urusanmu!" Teriak Tante Bella pada David.
"Ini tidak akan terjadi, semakin banyak waktu yang kita sia -sia, hidup Rafa akan dalam bahaya, jadi berhenti saja bertindak seperti ini dan tinggalkan ruangan," David berteriak pada Tante Bella dan Tante Bella tidak punya pilihan selain dia meninggalkan ruangan.
"Apakah kamu tidak akan pergi juga?" David bertanya padaku juga.
"Tolong lakukan semua yang kamu bisa untuk menyelamatkan Rafa, tolong David!" pintaku sebelum aku meninggalkan kamar.
T b c 👇
Kenapa Rafa bisa seperti itu 🙄
__ADS_1
Menurut kalian apa yang akan terjadi selanjutnya yaa, akankah Rafa selamat 🤔