Takdirku Bersama Denganmu

Takdirku Bersama Denganmu
Bab 19


__ADS_3

Episode 19


Rafa POV


Aku melihat Dita berjalan tertatih -tatih ke arah David yang masih terkejut melihat kami di dapur.


"Kamu disini!" ucap David dengan senyum cerah.


"Aku tidak bisa berterima kasih dengan benar atas apa yang sudah kamu lakukan kemarin," jawab Dinda.


"Oh, tidak, tidak apa -apa, aku melakukannya dengan tulus," balas David melirikku.


"Aku meragukannya, aku tidak melihatmu seperti orang yang akan membantu seseorang dengan tulus," sahut Dinda.


"Ahhhhhhh ........ Jadi seperti apa penampilanku?" Tanya David dan disertai senyuman yang melengkung di bibirnya, aku tahu David menikmati percakapan antara mereka berdua dan hal itu membuatku marah.


"Kamu lebih mirip seperti musuh bagi mereka sehingga kamu tidak akan menolongnya," kata Dinda dan dia tersenyum.


"Tapi aku senang kalau kamu memutuskan untuk menolongku, bahkan sudah dua kali, izinkan aku berterima kasih dengan memberimu sesuatu untuk dimakan untukmu sarapan," kata Dinda.


"Yah, aku tidak yakin, aku tidak berpikir kalau Tuan Rafa akan mengizinkanmu berbagi makanan yang sudah kamu buat," ujar David sambil menatapku.


"Rafa, aku hanya ingin mengucapkan rasa terima kasihku padanya," ucap Dinda lembut dan saat aku melihat wajah Dinda yang sedih membuatku merasa tidak tega padanya.


"Baik dia bisa bergabung dengan kita," jawabku dengan enggan


"Bagus kalau begitu, kamu bisa duduk dulu sementara aku akan menyelesaikan masakanku secepatnya," ucap Dinda pada David yang pergi untuk duduk di kursi dengan meja makan kecil di depannya.


"Kenapa kamu tidak bergabung dengannya, kamu telah berdiri untuk waktu yang lama," ucap Dinda padaku.


"Kamu harusnya mengkhawatirkan dirimu sendiri, kamu tidak seharusnya berjalan dengan kakimu yang masih belum sembuh sepenuhnya," jawabku sambil aku melangkah ke arah Dinda.


"Aku akan baik -baik saja Rafa, kamu duduklah dan tunggulah sebentar lagi," titah Dinda dan dengan enggan aku pergi duduk di kursi kosong di dekat meja.


"Sepertinya kamu beruntung punya istri yang cantik, pintar dan juga dia juga bisa memasak," sahut David dengan lembut.


"Ya, aku sangat beruntung bisa memilikinya," jawabku dengan penuh penekanan.


"Apakah dia tahu jika kita bersahabat," David menanyakannya, tapi Rafa tak kunjung menjawabnya.


"Lupakan aku menanyakannya sendiri pada Dinda jika dia tahu, dia tidak akan memintaku untuk bergabung denganmu untuk sarapan," timpal David.


"Makan saja dan setelah itu segera pergi dari sini," sahutku dingin.


"Kenapa? Sudah begitu lama sejak kita bertemu satu sama lain," balas David.


"Aku tidak punya masalah lagi denganmu dan aku minta mulai sekarang kamu menjauhlah dari istriku, kamu tidak boleh mendekatinya, karena dia sudah jadi milikku" tekanku sekali lagi.

__ADS_1


"Kenapa aku tidak boleh dekat dengan Dinda?" David masih bertanya.


"Aku sudah memberimu peringatam David, menjauhlah dari istriku jika kamu masih ingin tinggal disini," ancamku dengan penuh penekanan.


"Kamu tidak bisa melakukan ini padaku Rafa, mengapa aku harus mendengarkan perintahmu," David terang - terangan melawanku.


"Apakah kita berbicara tentang Ivanka di sini?"


"Kamu sangat tahu jika aku menyukainya, aku mencintainya, tapi tetap saja kamu bertunangan dengannya dan memberinya harapan" sungut David.


"Tapi saat itu aku pergi dan kamu punya kesempatan untuk mendekatinya namun kamu tetap saja diam seperti seorang pengecut," sahutku cepat.


"Aku memang mengejarnya tapi dia tidak menginginkan kehadiranku, mimpinya satu -satunya adalah menunggumu kembali, namun ketika kamu kembali, kamu membawanya ke sini," sambar David menatap kearah Dinda.


"Aku jatuh cinta padanya dan aku tidak pernah mengharapkan siapa pun berada disisiku selain Dinda, Ivanka tahu betul jika aku tidak pernah mencintainya," sambungku lagi.


"Tapi kamu bertunangan dengan Ivanka, kamu seharusnya tetap berpegang pada kata -katamu tetapi kamu bertunangan dan kemudian mengecewakannya, bukankah itu egois, kamu selalu egois," seru David dengan emosi yang menggebu - gebu.


"Dan bagaimana denganmu, jika aku egois, maka aku harus menyebutmu apa? teman yang tega menikan temannya sendiri dari belakang seperti dirimu" aku meluapkan segala yang ada di dalam hatiku.


"Apa ............" David tidak bisa menyelesaikan kata -katanya karena Dinda datang menuju kearah kami dan meletakkan makanan di atas meja.


"Apa kalian lama menungguku," ujar Dinda kepada kita berdua. Dinda membawa makanan yang telah dia masak sedari tadi.


Dengan melihat David yang begitu lahap memakan masakan Dinda seperti itu, aku menjadi kehilangan nafsu makanku dan tidak ingin Dinda merasa kecewa dengan sikapku, maka aku mulai makan dengan enggan.


"Ini sungguh sangat enak, iya kan Tuan," David bertanya seraya menayapku.


"Ya, aku sudah lama bekerja disini, kamu bisa lihat kalau aku dan bosku sudah berteman sejak kita masih kecil, kita pergi ke sekolah menengah yang sama dan jika aku memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikanku, kita akan belajar di perguruan tinggi yang sama juga" balas David dengan bersemangat saat menceritakan.


"Aku belum pernah melihat persahabatan yang bertahan selama itu," jawab Dinda dengan mengerutkan dahi.


"Kita bukan lagi teman," selaku memotong ucapan David.


"Benarkah?" Tanya Dinda cukup terkejut


"Aku kebetulan melihat keburukannya sehingga aku tahu siapa temanku sebenarnya dan aku tidak menyukainya," jawabku tanpa basa - basi membuat suasananya menjadi canggung.


"Kamu seharusnya tidak memberi tahu istrimu Tuan," seru David tampak marah dengan perkataanku, padahal itu adalah fakta yang nyata.


"Ayo lanjutkan makan lagi," potong Dinda berusaha menghentikan perdebatanku dan David mencoba meredam situasinya agar tidak memanas.


"Dan kita bisa berbicara tentang hal lain, misalnya saat aku sedang berkeliling rumah aku melihat sebuah bangunan yang memiliki banyak ruang, bangunan apa itu?" tambah Dinda lagi mengalihkan pembicaraan kita.


Aku senang setidaknya Dinda tidak bertanya tentang rumah tua yang buruk itu.


"Itu adalah hotel," jawabku singkat.

__ADS_1


"Hotel? Mengapa ditutup," Dinda bertanya lagi.


"Saat itu mansion dan sekitarnya selalu kosong dan ayah tidak suka itu, jadi dia memutuskan untuk membuat bagian yang kosong itu menjadi hotel untuk para turis yang berlibur kesini tetapi seiring berjalannya waktu hotel tidak berjalan dengan baik jadi ayah menutupnya " jawabku menjelaskan.


"Mengapa harus ditutup?" tanya Dinda lagi.


"Aku pikir hanya bos yang bisa menjawab pertanyaanmu itu karena kesalahannnya maka hotel itu ditutup," timpal David.


"Apa yang terjadi Rafa? Mengapa hotel itu ditutup," tanya Dinda mendesakku untuk menjawabnya.


"Aku tidak terlalu tertarik, jadi mari kita bahas yang lainnya ," potongku sebelum Dinda semakin banyak bertanya.


"Tetapi aku......."


"Maaf apakah kami telah mengganggu Anda tetapi masih ada masakan yang belum nyonya selesaikan dan Anda mengatakan kepada kami untuk tidak menyentuh masakan Anda," kata pelayan memandang ke arah dapur.


"Iya maaf aku lupa, aku akan menyelesaikannya," jawab Dinda.


"Wow, satu hal yang tidak pernah bisa aku ragukan kalau kamu tidak pernah gagal dalam memilih wanita, lihat saja lekuk tubuhnya," ujar David memandangi Dinda saat dia berjalan pergi menuju ke dapur.


"Aku sudah memberitahumu untuk tidak mengganggu istriku," geramku memukul meja dengan sangat marah.


"Maaf, tapi apa yang baru saja aku katakan hanyalah memberi istrimu pujian" David masih berusaha membuatku emosi.


"Simpan pujianmu untuk orang lain" seruku masih dengan emosi yang membara.


"Mengapa kamu tidak memberitahunya alasan sebenarnya soal hotel ditutup," tanya David lagi.


"Ini bukan urusanmu," jawabku ketus.


"Benar! Lagipula, kamu tidak ingin dia tahu kamu itu pria seperti apa dan apa yang terjadi bertahun -tahun yang lalu, jangan takut, aku tidak akan memberitahunya apa -apa, setelah semua aku telah membuat janji kepada ayahmu , sekarang aku akan kembali ke pekerjaanku," ujar David memberiku senyum mengejek sebelum dia pergi meninggalkan dapur.


"Di mana David?" Dita bertanya ketika dia berjalan tertatih -tatih kembali ke meja makan.


"Dia telah kembali bekerja, mengapa kita tidak kembali ke kamar kita juga?" jawabku menatap tubuhnya melalui baju tidur yang dia kenakan.


"Tetapi aku......"


"Sudah ayo kita kembali ke kamar?" selaku saat aku menarik tangannya.


"Apa yang kamu lakukan," dia bertanya saat dia menarikku.


"Membawamu ke kamar, aku tidak ingin kamu mengenakan baju seperti ini lagi, baju ini terlalu tidak cocok untukmu," ujarku sambil menarik tangannya.


Aku tidak tahu mengapa aku merasa begitu posesif pada Dinda. Padahal kemarin aku tidak peduli sama sekali, tetapi sekarang aku sangat cemburu dan ingin melindunginya.


Kenapa aku merasa seperti ini? pikirku saat aku dan Dinda menuju ke kamar.

__ADS_1


T b c


Mengapa Rafa merasa seperti itu, apakah dia mulai jatuh cinta dengan Dinda.


__ADS_2