Takdirku Bersama Denganmu

Takdirku Bersama Denganmu
Bab 6


__ADS_3

Episode 6


Dinda Pov


"Beri aku jawaban Dinda," ucap Rafa lembut


"Dengar, Tuan Rafa, aku tidak bisa. Aku tidak bisa berpura -pura menjadi istrimu. Aku adalah seseorang yang tidak pandai berbohong, aku ragu bahwa aku akan bisa mengikuti sandiwaramu." Rafa berjalan mendekatiku.


"Apa yang akan kamu lakukan setelah di usir dari rumah ini? Di mana kamu akan mendapatkan uang untuk menyewa kontrakan lahi?" Rafa bertanya saat sudah berada di depanku.


"Aku akan menemukan jalan keluarnya yang pasti dengan cara yang benar," jawabku tegas. Saat itu Santi, tetangga kami memanggil namaku.


"Untung kamu ada di sini Dinda, Mama kamu ......... Mama kamu Dinda....." seru Santi dengan terengah -engah.


"Apa yang terjadi dengan Mamaku?" Tanyaku langsung pada Santi.


"Dia pingsan tepat di luar rumahmu," ujar Santi selesai mendengarnya, aku berlari langsung kembali ke rumahku.


Saat aku sudah sampai di depan pagar rumah terlihat sudah banyak tetangga yang datang, hanya untuk melihat kondisi Mama Elda yang sudah terbaring di atas lantai.


"Ma !!!!" aku berteriak ketika aku melihat Mama, lalu aku berlari ke arahnya dan memegang tubuhnya yang tidak sadar.


"Ma aku sudah ada di sini! Tolong buka matamu," aku memohon dan aku mulai menangis.


"Permisi" saat mendengar suara berat seorang pria yang akrab itu, aku langsung berbalik dan melihat Rafa sudah ada di belakangku. Dia berlutut di depan Mama Esa dan memegang tangannya untuk memeriksa denyut nadi Mama Elsa.


"Denyut nadinya masih ada, apakah kamu sudah menelepon ambulans?" Rafa mengingatkanku untuk menelpon ambulans.


"Saya tadi sudah memanggil ambulans kemari, mungkin sebentar lagi datang," jawab tetangga depan rumah.


"Sudah sejak tadi memanggil? Dan mereka belum sampai disini, ini sudah terlalu lama" Rafa langsung membawa Mama menuju mobilnya.


"Cepat masuk, kita bawa Mama kamu ke rumah sakit sekarang. Aku akan mengantarnya dan kamu terus periksa denyut nadinya, usahakan untuk tidak membiarkannya banyak bergerak," titah Rafa padaku dan aku melakukan apa yang dia katakan.


Aku terus memeriksa denyut nadi Mama Elsa dan aku juga memastikan Mama Elsa tidak banyak bergerak.


Hanya melihat Mama Elsa seperti ini saja sudah membuatku merasa sangat takut.


Aku belum ingin kehilangan Mama Elsa, karna aku belum siap untuk ditinggal oleh Mama Elsa, aku berpikir dengan air mata yang terus berjatuhan membasahi wajahku.


"Mama kamu pasti akan baik - baik saja Dinda, jadi kamu jangan khawatir," Rafa mencoba untuk menghiburku dengan suara yang lembut dan aku mencoba percaya dengan apa yang dia katakan.


Setelah kita sampai di rumah sakit, para dokter dan perawat segera menghampiri kita dan langsung membawanya Mama Elsa ke ruang gawat darurat.


Rafa dan aku berdiri di ruang tunggu menunggu hasil pemeriksaan dokter tentang penyakit Mama Elsa.


"Apakah Papa kamu tahu tentang Mama kamu yang jatuh pingsan," Rafa memulai pembicaraan setelah hening beberapa saat.


"Aku belum memberitahu Papa, aku takut jika Papa khawatir, saat tahu apa penyakit Mama baru aku akan memberi tahu Papa, karna Papa tidak bisa menerima berita yang akan membuatnya terkejut itu tidak bagus untuk kesehatannya" aku menjawab pertanyaannya dan dia hanya mengangguk saja, dia menghormati alasanku.


Hingga dokter keluar terlihat khawatir, dengan cepat aku pergi menemuinya, aku berharap kondisi Mama Elsa baik - baik saja dan semoga tidak terjadi apa - apa dengan Mama Elsa.


"Bagaimana keadaan Mama saya dokter?" Tanyaku langsung.


"Kondisi ibu Anda lebih buruk dari yang kemarin?" jawabnya dengan raut wajah sedih.


"Apa yang Anda maksud dengan lebih buruk Dok?" aku bertanya lebih detail.


"Mama kamu menderita tumor otak dan jika dia tidak dioperasi sesegera mungkin, dia mungkin tidak akan bertahan lama," jelasnya padaku.

__ADS_1


"Tidak, itu tidak mungkin dokter dia tidak bisa meninggal secepat ini, lakukan yang terbaik untuk membuatnya tetap hidup Dokter," ucapku tanpa memikirkan yang lainnya.


"Operasi dapat dilakukan secepatnya tetapi tolong kamu harus melakukan deposit pembayarannya jika kamu ingin kami segera memulai operasinya," ucap Dokter menyarankan.


"Aku bilang aku akan membayar, mulailah operasinya sekarang juga Dokter" aku berteriak Dokter itu.


"Betapa kasihannya Mama kamu, dia pernah di rawat dsini sebelumnya dan karena dia tidak bisa membayar, dia tidak menggunakan obat apa pun, dia juga tidak ingin dioperasi," jelas Dokter lagi.


"Jadi Anda mengatakan Anda tidak akan melakukan operasi sampai saya membayar deposit itu?" Tanyaku memastikan.


"Kami minta maaf tapi itu sudah menjadi aturan di sini?" balas Dokter tidak berdaya.


"Aku akan mendapatkan segera uang itu," ujarku mulai beranjak untuk keluar, tapi segera dihentikan oleh Rafa.


"Di mana kamu akan mendapatkan uang sebanyak itu?" Rafa bertanya.


"Aku memiliki tabungan.sendiri, itu cukup untuk membayar pendaftaran," jawabku.


"Itu tidak akan cukup Dinda? biarkan aku yang akan membayar ........"


"Tidak, jangan membayarnya, aku tidak ingin berhutang budi kepada kamu, aku akan membayar biaya operasinya sendiri, jadi jangan repot -repot, kamu sudah banyak membantuku" ucapku lalu aku meninggalkan rumah sakit untuk mengambil uang tabunganku.


Saat aku sampai di bank terdekat dan aku segera menarik semua tabunganku. aku telah membuat rencana untuk membayar hutang pada Rosa tetapi rencana itu harus aku ubah, hidup Mama lebih penting, jadi aku akan membayar biaya Mama Elsa dulu.


Lalu aku kembali ke rumah sakit dan saat akan masuk ke rumah sakit, aku mendapat telepon dari nomor yang tidak diketahui.


"Halo?" Kataku ke penerima


"Ini Papa Nak" kata Papa Putra di sebrang telepon.


"Apa yang terjadi dengan Papa? Di mana kamu Pa dan mengapa suaramu terdengar seperti itu Pa?" Tanyaku mulai cemas.


"Papa di culik seseorang Nak" Papa Putra menjawab.


"Aku meminjam uang dari rentenit dan hari ini adalah tanggal jatuh tempo, Papa tidak dapat membayarnya kembali dan anak buahnya telah membawaku sebagai jaminan" Papa Putra menjelaskan masalahnya.


'"Kenapa Papa harus meminjam uang ke rentenir" aku bertanya dengan penasaran.


"Papa perlu memberi makan kamu dan Mama kamu, Papa tidak bisa membiarkanmu mengambil semua tanggung jawab Papa Nak" balas Papa Putra merasa bersalah.


"Tapi Papa malah membuat masalah yang baru muncul, apakah Papa tahu apa yang terjadi sekarang?" ucapku geram.


"Memang apayang terjadi ........." Papa Putra tidak bisa menyelesaikan ucapannya karena telepon sudah diambil paksa darinya.


"Bawakan kami uang yang sudah di pinjam oleh Papa kamu atau kami akan membunuhnya dan menjual organ -organ tubuhnya untuk melunasi semua hutang - hutang yang telah dia pinjam padaku" Sebuah suara yang tidak dikenal dan kemudian dia memutus panggilan itu.


Aku masih berdiri di dekat pintu masuk rumah sakit, aku bingung harus melakukan apa kali ini.


Saat itu ada orang yang mengendarai sepeda melewatiku dan menyambar dompet yang ada di tanganku,dompet itu berisi uang untuk operasi Mama Elsa.


"Hei !! itu dompetku, tolong copet... copet... ada copet... tolong..." aku berteriak lalu aku berlari mengejar pencopet itu tapi motornya sudah melaju jauh dan ketika bantuan tiba tapi sudah terlambat, pencopet itu sudah tak terlihat lagi.


Aku kembali pergi ke rumah sakit dengan perasaan kacau, Mama Elsa membutuhkan biaya untuk operasi, Papa putra akan dibunuh jika aku tidak membawa uang yang dia pinjam pada rentenir gila dan satu -satunya harapanku juga telah diambil, mengapa hidup begitu kejam?


"Dinda" Aku mendongak dan melihat Rafa berjalan ke arahku.


"Apakah kamu sudah mendapatkan uangnya?" Dia bertanya dan aku hanya bisa menggelengkan kepalaku sambil menunduk.


"Ada apa? kenapa kamu menangis?" Dia bertanya ketika dia melihatku menunduk dan menangis lalu dia menhapus air mataku dengan ibu jarinya dari wajahku.

__ADS_1


"Aku tidak punya uang, itu telah copet waktu mau kembali kesini" kataku dengan sesegukan.


"Apa?"


"Bukan hanya itu saja, Papaku juga diculik oleh rentenir karena tidak bisa membayarnyadan jika aku tidak membayar uang mereka maka mereka akan membunuhnya," jelasku kepadanya lalu air mata ini mulai mengalir lagi.


"Apa kamu mau membantuku, bisakah aku minta bantuanmu?" Tanyaku dengan wajah memelas.


"Kamu tahu aku bisa saja membantumu tapa ada syaratnya" katanya dan aku menatapnya.


"Apa itu?"


"Terima kesepakatan denganku kemarin dan aku akan membantu kamu membayar semua biaya yang kamu butuhkan," jawabnya santai.


"Apa kamu menggunakan situasiku saat ini untuk membuatku menyetujui kesepakatan itu, kamu benar -benar jahat!"


"Jika itu akan membuat kamu menjadi istri palsuku, maka aku tidak peduli, terima saja Dinda dan aku akan membuat semua masalah kamu terselesaikan" ungkapnya dengan sedikit memaksa.


Tawarannya terlalu menggiurkan dan aku tahu bahwa begitu akumenerima, tidak akan ada jalan untuk kembali tetapi aku harus melakukan ini demi kedua orang tuaku selamat dari kesulitan.


"Baik kamu menang, aku menerima kesepakatan itu dan bereskan semua masalahku seperti yang telah kamu janjikan," ucapku.


"Tentu saja," Rafa berkata lalu segera menuju ke kasir untuk membayar semua tagihan Mama Elsa supaya operasi Mama Elsa cepat dimulai, setelah itu Rafa pergi dengan polisi untuk membawa pulang Papaku.


Aku pergi ke musholla untuk berdoa dan saat aku kembali ke ruang tunggu, aku sudah melihat Papa Putra dan juga Rafa sudah berada disana.


"Papa," Aku berseru lalu aku memeluknya erat.


"Maafkan Papa Nak," Papa Putra terlihat merasa bersalah.


"Mengapa Papa harus meminjam uang pada rentenir Pa, Papa bisa bertanya kepadaku kalau membutuhkan sesuatu, aku ada sedikit uang dan aku bisa memberikannya kepada Papa," ujarku dengan sedih


"Aku tidak ingin menjadi Papa yang tidak bertanggung jawab dengan membiarkan kamu menanggung kehidupan Papa dan Mama Nak," balas Papa Putra merasa tak enak


"Aku lebih suka jika Papa meminta uang padaku dari pada meminjam uang pada rentenir itu," ucapku kesal.


"Maafkan Papa Nak, Papa telah belajar dari kesalahan hari ini, besok lagi Papa tidak akan mengulanginya," Papa Putra berjanji padaku.


"Aku harap begitu Pa," jawabku.


Dokter datang dan memberi kami kabar baik bahwa Mama sekarang baik -baik saja, tumor telah diangkat dan dengan perawatan yang rutin, Mama Elsa akan kembali pulih kembali.


"Kita harus berbicara Dinda," kata Rafa kepadaku.


Aku sudah menghindari pembahasan ini, aku juga terus berharap bahwa sesuatu tidak akan terjadi dan itu akan membuat aku keluar dari kekacauan yang telah jatuh ke dalamnya tetapi tidak ada perubahan yang terjadi.


Kita keluar bersama dari rumah sakit untuk berbicara secara pribadi.


"Aku sudah menepati janjiku padamu," Rafa mulai bersuara dan aku hanya bisa mengangguk


"Sudah waktunya bagi kamu untuk membantuku untuk masalahku," tambah Rafa lagi.


"Tuan Rafa..........."


"Bukan Tuan Rafa tapi Rafa, setelah semua hubungan palsu kita telah dimulai, yang harus kamu lakukan hanyalah memainkan peran dengan sempurna dan kita tidak akan memiliki masalah," jelasnya padaku.


"Dan bagaimana cara memainkan peran itu agar terlihat nyata?" Tanyaku dengan ragu - ragu dan saat aku menilai raut wajah Raditya yang berbinar, aku tahu aku seharusnya tidak menanyakan pertanyaan konyol itu kepadanya. Lalu dia mendekat ke arahku, Rafa menarikku masuk ke dalam pelukannya.


"Seperti ini" dia berbisik ketika dia hendak menciumku ..............

__ADS_1


T B C.......


Apa yang akan terjadi selanjutnya


__ADS_2