
Episode 8
Dinda Pov
Aku sangat terkejut saat melihat Bara yang berdiri di depan pintu, seletah sekian lama dia pergi entah kemana namun kini dia kembali lagi dan muncul di hadapanku lagi. Hal ini membuatku berdiri kaku menatap kedatangannya yang tidak di sangka - sangka.
Sudah setahun lamanya, setahun sejak dia meninggalkan aku untuk gadis lain yang berasal dari seorang putri dari orang terpandang yang ada di kota ini.
Kenapa dia sekarang ada di sini? Dan apa yang dia harapkan dari datang kembali ke dalam hidupku, aku berpikir sambil terus menatapnya.
"Cintaku," ucap Bara saat aku masih bergeming menatapnya kosong, dan sebelum aku bisa kembali pada kesadaranku dia sudah menciumku lagi.
Aku mencoba menarik diri darinya dengan sekuat tenaga akan tetapi cengkeramannya terlalu kuat hingga aku tidak bisa melepaskan diri darinya.
Dia melepaskanku saat aku tak lagi memberontak dan dengan cepat dia mengambil kedua tanganku di genggamnya dengan begitu erat.
"Aku telah merindukan dirimu, kamu tidak tahu betapa aku sangat merindukanmu," ucap Bara tanpa ada rasa bersalah dan aku merasa sangat marah dengan cara dia menciumku dengan tiba - tiba, aku mendorongnya supaya dia pergi.
"Keluar dari sini sebelum aku melakukan sesuatu yang buruk padamu Bara," ucapku dengan sangat kesal karena dia sudah lancang menciumku.
"Kamu tidak akan bisa marah terlalu lama padaku Dita, aku terpaksa meninggalkanmu untuk mencari uang untuk kamu," Bara menjawab dengan santai.
"Dan apakah kamu sudah mendapatkan uang itu?" balasku ketus.
"Ya, aku sudah mendapatkannya, aku sekarang sudah mendapat banyak uang," Bara berkata dengan bangga.
"Sungguh? Jika benar - benar sudah dapat banyak uang maka berikan uang itu untuk orang lain yang kamu sukai, karena aku tidak berminat lagi kembali dengamu begitu pun juga dengan uang harammu itu," ucapku sinis menatapnya.
"Tolong Dinda, kamu adalah satu -satunya gadis yang pernah aku cintai, tidak ada seseorang pun yang bisa menggantikan dirimu di hatiku," Bara berucap dengan nada yang mengiba dan aku menjadi sangat marah sehingga aku menampar wajahnya untuk mengurangi rasa kesalku padanya.
"Keluar dari sini sebelum aku melakukan sesuatu yang lebih buruk padamu," aku berteriak padanya dan aku menutup pintu, tetapi dia tidak akan melepaskanku begitu saja saat pintu yang akan aku tutup di tahan oleh Bara. Dan Bara membuka paksa pintu itu supaya terbuka lebar, begitu pintu terbuka lebar aku berlari mejauh darinya, tetapi dengan cepat Bara mengejarku dan memelukku dengan begitu erat saat aku berhasil dia tangkap.
"Lepaskan aku brengsek!" aku berteriak ketika dia enggan untuk melepaskan pelukannya.
"Tidak akan Dinda, aku sangat mencintaimu dan aku tidak akan membiarkanmu pergi dari hidupku, aku telah menyadari kesalahanku Dita dan aku ingin kamu kembali lagi bersamaku," desaknya memohon.
Saat itu rasa trauma datang untuk menghantui perasaanku, aku melihat kilasan masa lalu yang begitu menyakitkan untuk aku ingat berkelebat di dalam ingatanku. Ketika aku masih remaja aku mendapatkan kejadian yang tidak terduga, aku berteriak minta tolong sementara seorang pria yang mengenakan topeng merobek pakaianku hendak memperkosaku dan dia ........ dia ........ ..
Aku tidak bisa mengingatnya lagi apa yang pria itu lakukan karena pintu terbuka membuyarkan lamunanku saat aku mengingat kembali kejadian menyakitkan itu dan pintu yang telah terbuka di ikuti sosok Rafa yang muncul di ambang pintu.
"Apa yang sedang terjadi disini?" ucap Rafa terlihat sangat marah.
Wajah marah Rafa adalah hal terakhir yang aku lihat sebelum aku jatuh pingsan.
*******************************************
Saat aku terbangun aku sudah berada di ruang yang tidak aku kenal, apa yang telah terjadi tadi dan mengapa aku bisa ada di sini?
__ADS_1
Saat aku duduk, aku menemukan Rafa di dekat jendela sedang menatapku juga.
"Apa yang sudah terjadi dan di mana aku sekarang," aku bertanya kepada Rafa tetapi dia tidak menjawab sama sekali dan dia terus menatapku dengan tatapan marah.
"Siapa itu Bara Kusuma Mahesa?" Tanya Rafa tiba -tiba dan aku jadi tahu semua yang terjadi tadi saat di rumah.
"Bara?" ucapku lirih.
"Ya, Bara! Pria yang aku lihat saat kamu berada di pelukannya," teriak Rafa padaku.
"Itu salah paham, bukan itu yang kamu bayangkan, dengar dulu penjelasanku," kataku seperti sedang ketahuan selingkuh.
"Cepat ceritakan!" perintah Rafa lalu dia duduk di satu -satunya sofa di kamar ini.
"Bara adalah mantan kekasihku dulu, dia meninggalkanku untuk seorang wanita kaya setahun yang lalu, aku belum pernah melihat atau mendengar kabarnya lagi sampai hari ini dan hari ini dia tiba - tiba datang lagi menemuiku lagi," aku menjelaskan intinya saja.
"Kenapa aku mendapat cerita yang berbeda dari Bara," sanggah Rafa yang tidak percaya dengan ucapanku.
"Dan itu adalah?"
"Kalian berdua tidak pernah putus dan kamu juga yang telah memberinya persetujuan untuk menikah dengan orang lain dan Bara juga mengatakan jika dalam jangka waktu setahun dia akan kembali lagi kepada kamu," papar Rafa sinis.
"Apa! Itu bohong itu tidak benar, mana mungkin aku bicara begitu padanya," aku segera menyangkalnya.
"Aku tidak yakin tentang itu, apakah dia alasannya mengapa kamu ragu -ragu saat aku memberikanmu sebuah kesepakatan kemarin itu?" Rafa mulai meragukannya.
"Benarkah? Apakah kamu yakin" Rafa masih tidak mempercayai ucapanku.
"Jika kamu tidak percaya itu terserah kamu! Dan tolong keluar dari sini, aku tidak ingin memiliki kesepakatan dengan seorang pria yang tidak mempercayai ucapanku," aku semakin muak dengan pria yang ada di hadapanku ini.
Ya Tuhan berikan aku kesabaran, keluhku dalam hati
"Itu tidak mungkin sayang, aku percaya dengan ucapanmu" jawab Rafa lembut.
"Apa yang kamu maksud dengan mengatakan hal itu?" aku sungguh bingung di buatnya.
"Kamu telah setuju untuk berpura -pura menjadi istriku dan aku akan melihat bahwa kamu bersungguh - sungguh saat menjelaskannya," ujar Rafa lalu dia beranjak pergi untuk membuka pintu.
Seorang pria dengan tas kerja berjalan memberiku senyum mengembang.
"Siapa dia?" Tanyaku pada Rafa
"Dia adalah pengacaraku, Tuan Jatmika ini adalah orang yang saya ceritakan kemarin dia Adinda," ucapnya memperkenalkan kami
"Mengapa harus ada pengacara di sini?" aku bertanya lagi.
"Dia membawa kontrak kita Dinda"
__ADS_1
"Kontrak apa?"
"Kontrak yang kita buat kemarin itu antara kamu dan aku yang akan hidup bersama," Rafa menjelaskan intinya.
"Kontrak kita? Kupikir kamu kemarin bilang itu semua hanya berpura - pura saja tapi kenapa harus memakai kontrak segala?" aku bertanya dengan tidak senang.
"Itu akan kulakukan agar tidak sda lagi kejadian seperti tadi, sebenarnya aku juga tidak begitu suka terikat dengan seorang wanita tapi mau bagaimana lagi ini untuk mengantisipasi hal - hal yang tidak aku inginkan" ucap Rafa acuh tak acuh.
"Lalu apa saja isi kontrak ini?" Tanyaku langsung pada isi kontrak itu dengan marah.
"Ini adalah kontrak yang akan melegalkan kesepakatan yang kita buat, kontrak yang akan memiliki konsekuensi jika ada di antara kita yang melanggarnya," ujar Rafa dan aku menatapnya dengan tatapan yang rumit.
"Terus apa konsekuensinya jika melanggar kontrak ini?" Tanyaku dengan dada yang berdebar.
"Untuk kepentingan kalian berdua, Tuan Rafa telah memutuskan untuk melakukan kontrak dan inilah yang di tulis di kontrak itu" pengacara mulai menjelaskan.
"Poin pertama: pihak pertama yaitu Tuan Rafa Arya Baskara, dan pihak kedua yaitu anda Nona Adinda Saputri Rahardja tidak boleh melanggar kata -kata yang anda uccapkan setelah menyetujui kontrak ini, anda harus melakukan sebagai pengantin perempuannya seperti yang dikatakan Tuan Rafa Arya Baskara".
"Poin kedua: pihak kedua tidak boleh menolak permintaan pihak pertama, jadi anda harus memainkan perannya dengan patuh dan dalam keadaan apa pun anda tidak perlu mempertanyakan ataupun mengeluh mengenai pesta yang akan pihak pertama adakan di luar kesepakatan mereka"
"Itu tidak adil untukku?" Aku berteriak padanya
"Biarkan dia selesai membacakannya" Rafa memperingati untuk aku diam.
"Poin ketiga: pihak kedua tidak boleh berinteraksi dengan pria lain selain pihak pertama, jika pihak kedua melanggarnya, Pihak pertama akan membatalkan semua kontrak ini dan mendapatkan kembali uang yang pihak kedua pinjam dan jika Pihak kedua tidak dapat mengembalikannya kembali, maka akan di selesaikan di jalur hukum" sang Pengacara selesai mengucapkan isi kontrak itu lalu menatap Rafa untuk memberikan putusan akhirnya.
"Sekarang saatnya kamu menandatangani," ucap Rafa santai.
"Aku tidak akan menandatangani, itu bukan kontrak, itu pemaksaan," balasku ketus.
"Sebut saja apapun yang kamu inginkan tetapi yang aku butuhkan dari kamu hanya untuk menandatangani kotrak itu," ujar membawa kertas itu ke hadapanku.
"Aku tidak akan menandatanganinya!" seruku geram.
"Lalu kau akan meninggalkanku tanpa pilihan lain, Jatmika akan menghentikan semua bantuan keuangan yang aku berikan pada Mama kamu Dinda dan melemparkan Papa kamu ke penjara, dengan alasan putrinya telah berutang banyak uang dan sekarang dia sakit dan dia tidak bisa membayar hutang itu,"ucap Rafa dengan senyum smirk di wajahnya.
"Apa yang masih Anda tunggu lagi Tuan Jatmika, pergi dan lakukan apa yang saya tanyakan padamu," Rafa berteriak pada Jatmika dan Jatmika mulai berjalan pergi meninggalkan ruangan.
Merasa benar -benar tidak ada jalan lain lagi, aku berteriak pada Jatmika untuk berhenti.
"Anda menang Tuan Rafa Arya Baskara, saya akan menandatangani surat kontrak itu," ujarku sinis dan setelah itu kontraknya segera dibawa kepada hadapanku dan aku pun dengan enggan untuk menandatanganinya.
"Sekarang yang harus kita lakukan adalah pergi ke pulau dan mulai dengan sandiwara ini," ucapnya memulai rencananya dan memberiku senyuman di akhir kalimat yang di ucapkannya.
Aku memberinya tatapan marah dan aku tahu bahwa hidupku tidak akan pernah sama setelah sandiwara ini dimulai.
T b c
__ADS_1
Akankah hidup Dinda tidak pernah sama setelah ini???