
Episode 7
Dinda Pov
Aku tidak percaya dengan apa yang di lakukan oleh Rafa! Aku dicium oleh orang asing yang baru saja aku kenal beberapa hari kemarin, aku tidak habis pikir dengan tingkah Raka. Saat aku mencoba untuk menarik diri darinya, Tapi dia terus saja menarikku kembali agar tidak melepaskan ciumannya dan terus memperdalam ciuman itu.
Aku mencoba memikirkan sesuatu agar bisa lepas dari Rafa, sesuatu yang bisa mengalihkan perhatian Rafa agar mau melepasku, sesuatu yang dapat menghentikannya untuk menghetikan ciumannya tetapi aku tidak menemukan satu cara apa pun dan ketika aku akan membalas ciuman itu, Raka menarik dirinya dariku.
Aku mencoba melepaskan diri dari dekapannya tetapi dia masih saja menahanku.
"Jangan bergerak dulu, saat ini para reporter sedang mengambil foto kita berdua," ucapnya pelan nyaris berbisik di telingaku.
Setelah Rafa menyebut wartawan aku baru menyadari bahwa dia mencium aku hanya untuk menunjukkan jika kita sedang menjalin kedekatan.
"Mereka sudah pergi," ujar Rafa memberitahuku dan membiarkaku lepas dari dekapannya. Aku berusaha tetap tenang dan dapat mengendalikan diriku.
"Kamu tidak punya hak untuk menciumku," dengusku kesal dengan tindakan Rafa yang aku rasa sudah berlebihan.
"Aku harus menjaga reputasiku yang harus aku pertaruhkan dalam menjalani sandiwara bersamamu," jawabnya santai.
"Wow kamu masih memikirkan reputasimu?," Kataku dengan sinis.
"Lihat kita berdua telah memutuskan untuk memainkan sandiwara kira lalu menikah, kita harus mulai dari hal terkecil dulu" ucap Rafa sambil berlalu menjauh dari hadapanku.
"Tunggu! Kamu hanya memberitahuku bahwa aku harus berpura -pura, kamu tidak memberitahuku bahwa kamu harus melakukan hal - hal konyol seperti tadi" cecarku dengan menahan kesal.
"Kamu tidak bisa berpura -pura tanpa saling menyentuh, itu akan menimbulkan kecurigaan bukan," balas Rafa tidak mau kalah.
"Tapi aku tidak ingin kamu menyentuhku tanpa seizinku," aku berteriak padanya.
"Kamu tidak punya pilihan lain Dinda, kita harus menjadi pasangan yang menikah atas dasar cinta dan juga kita juga harus terlihat bahagia, mereka harus melihat bahwa kita bahagia atas pernikahan ini" Rafa menjelaskan.
"Kita bisa melakukannya tanpa saling menyentuh," ucapku mencona menawar.
"Itu tidak mungkin Dinda," jawabnya.
"Kamu mesum, seharusnya aku tidak menyetujui kesepakatan konyol itu, apa yang kupikirkan ketika aku setuju untuk menyetujui ini," ucapku merasa bingung dengan semua yang terjadi baru - baru ini dalam hidupku.
"Tapi sayangnya kamu telah setuju dan tidak ada yang dapat kamu lakukan untuk mengubah semua yang telah terjadi Dinda," balasnya mencoba mengingatkanku.
"Sungguh! Apakah menurutmu aku tidak bisa berbuat apa -apa?" Aku bertanya memberinya senyum penuh arti.
Dia menarikku masuk ke dalam pelukannya lagi, tiba -tiba aku tidak dapat memberonyak saat berada di dekapannya.
__ADS_1
"Dengarkan aku Dinda kamu sudah sepakat untuk ini, tidak ada jalan untuk kembali sekarang," ucapnya tegas.
"Ada Tuan Rafa dan aku akan mengambil jalan itu, sepertinya aku tidak bisa mempercayai kata - kata anda yang tidak akan menyentuhku"
"Apa salah jika aku menyentuhmu, apakah aku terlihat begitu buruk di matamu?" Rafa bertanya dengan serius.
"Pria brengsek seperti kamu sungguh membuatku muak dan aku akan lebih suka jika kita mengakhiri sandiwara palsu ini sebelum kita mengambilnya lebih jauh, aku akan menemukan cara untuk membayar uang yang telah kamu pinjamkan padaku dan .............. ... "Aku tidak bisa menyelesaikan kata -kataku karena Rafa tiba - tiba saja mendorongku ke dinding dengan marah yang berkilat di matanya yang menatapku dengan tajam.
"Kita sudah membuat kesepakatan Dinda, dan kamu juga telah menyetujuinya. Jadi mulai sekarang kamu adalah milikku!" Dia berteriak padaku dengan penuh penekanan.
"Aku tidak mau! Aku benci jika harus berbohong kepada orang yang tidak bersalah"
"Kamu tidak akan melakukannya sendirian, aku yang akan memikirkan semuanya maka kamu hanya mengikuti saja apa yang aku lakukan, jadi berhenti menguji kesabaranku Dinda, kamu tidak akan ingin melihatku menggila disini bukan, yang kamu lakukan hanya cukup patuh dan turuti semua ucapanku. Aku akan menjemputmu jam sepuluh besok, bersiap -siaplah sebelum aku tiba," ucapnya penuh perintah dan aku hanya bisa mengangguk saja.
Aku berdiri di sana, mencoba menenangkan diri, aku berpikir bahwa kesepakatan ini hanya untukku berpura -pura saja, aku tidak pernah berpikir bahwa Raka menginginkan lebih dari ini. Apa yang harus aku lakukan? Kekacauan apa yang telah aku lakukan, aku kembali memikirkan apa yang baru saja yang terjadi, lalu aku melangkahkan kaki ini kembali ke ruang tunggu.
Rafa POV
"Tapi mengapa harus dia, Anda bisa memilih wanita lain yang lenih cantik dari dia dan juga yang bersedia dengan suka rela melakukan apapun untuk Anda Tuan," tanya Rosa bos Dinda saat kita berdiri di lobi kantornya.
"Karena dia adalah satu - satunya gadis yang belum mencoba merayuku dengan tubuhnya, dan dia juga tidak terpikat dengan pesonaku juga hanya dia yang berani terang - terangan menolakku," jawabku menerawang jauh ke depan
"Dan apa yang membuatmu berpikir bahwa dia tidak akan melakukan hal itu, mungkin dia hanya belum memikirkannya saja" Rose berkata ingin menghancurkan reputasi Dinda di depanku.
"Ketika waktu itu datang aku tahu bagaimana cara menanganinya, ini adalah uang yang aku janjikan untuk pembelian rumah yang di kontrak oleh Dinda," ucapku dan Joe langsung melanjutkan mengurusnya rencana yang telah aku buat, dan menyerahkan cek dengan nominal yang mengiurkan.
"Aku tahu, aku hanya memberimu pekerjaan mudah dengan imbalan yang besar," Joec. langsung menjawabnya.
"Oh, terima kasih Tuan Rafa, terima kasih atas pekerjaan ini," katanya saat dia mengambil kasus singkat.
"Tunggu! kamu harus ingat kalau kamu tidak boleh menberitahu ini kepada siapapun tentang hal ini, terutama Dinda, jika hal ini sampai di ketahui oleh Dinda siap - siap terima akibatnya," aku sedikit menggertak Rosa agar dia tutup mulut atas rencanaku ini dan dia langsung mengangguk dalam penegasan.
"Saya jamin Dinda tidak akan tahu rencana bahwa Anda yang telah membayar saya untuk membeli rumahnya dan menekannya," kata Rose dengan penuh keyakinan.
"Aku harap begitu, Anda tenang saja saya akan menjaga dan menutup rahasia ini rapat - rapat," tambah Rosa kembali meyakinkan.
"Jangan khawatir saya sudah tahu betapa kejamnya Anda dan saya tidak ingin menjadi korban kekejaman Anda selanjutnya Tuan," Rosa kembali berucap.
Setelah semuanya seleaai, Aku dan sekretarisku pergi meninggalkan kantor Rosa.
"Kemana kita akan pergi selanjutnya?" Tanyaku pada Joe.
"Melihat pria yang Anda sewa untuk mencopet uang Nona Dinda Tuan," jawab sekretarisku.
__ADS_1
"Kita harus terburu -buru, aku harus berada di tempat itu secepatnya" kataku ketika aku sedikit santai di dalam mobil.
Aku tidak percaya bahwa untuk mendapatkan seorang gadis, aku harus menggunakan kekuatan dan kekayaanku.
Jika itu gadis yang biasa aku lihat di bar, itu tidak akan sesulit, aku akan mendapatkan apa yang aku inginkan mereka tetapi Dinda adalah seorang gadis yang berbeda dari mereka - mereka di luaran sana.
Dia adalah wanita pertama yang tidak berminat oleh kekayaanku atau seberapa kuat kekuatan bisnisku.
Gadis -gadis lain akan bersukacita untuk menjadi pengantinku yang berpura -pura tapi tidak dengan Dita, dia selalu saja menolak dan dia juga tidak tertarik untuk menjadi pengantin wanitaku.
"Tuan kita sudah sampai," suara Joe menyadarkanku dari lamunan, dan aku bersiap turun dari mobil lalu melangkahkan kaki ke depan sebuah gedung.
Seorang pria berjalan mendekat dan berdiri di hadapanku dengan menundukkan kepalanya.
"Ini dompetnya Tuan uang dan kartu penting yang lainnya masih utuh ada di dalam Tuan," ucap pria itu dan aku mengambil dompet Dinda dari tangan pria itu.
"Beri dia imbalannya," kataku dan segera Joe memberinya sebuah cek yang berisi nilai yang fantastis.
"Aku akan menggandakannya selama kamu melakukan tugasmu dengan benar," ucapku lagi
"Ya, Tuan, dia tidak akan pernah tahu," jawab pria itu ketika dia akan meninggalkan aku.
"Kami akan menuju ke rumah kontrakan Nona Dinda sekarang Tuan," kata sekretarisku lagi.
Adinda! Nama yang cukup cantik untuk seorang gadis cantik juga. Aku bertanya -tanya betapa terkejutnya Mamaku saat dia melihat aku yang telah membawa pulang gadis yang seharusnya kucintai.
Dia akan terkejut pada awalnya dan aku yakin bahwa seiring waktu mereka akan menyerah supaya aku menikahi Ivanka dan aku yakin bahwa aku tidak akan di paksa oleh mereka lagi, aku baru saja akan mengakhiri hubunganku dengan Dinda jika aku sudah berakhir di tempat tidur bersama Dinda.
Dinda Pov
Sementara Papa Putra yang saat ini menunggu dan menunggu Mama Elsa di rumah sakit, kini aku meninggalkan rumah sakit dan kembali ke rumah untuk mandi juga bersiap - siap untuk bertemu dengan Rafa, sesuai janjiku kemarin.
Jika aku dapat mengendalikan semua keadaan ini, aku ingin sekali mengakhiri semuanya dengan segera tetapi aku tidak bisa melakukan hal itu.
Salah satumya karena aku berutang pada Rafa dan yang kedua karena aku takut dengan apa yang mungkin Rafa lakukan untuk membuat aku membayar denda jika aku melanggar kesepakatan kita.
Aku telah siap dengan tampilan yang maksimal, ketika bel pintu berbunyi. Aku mengambil napas dalam -dalam, dan aku melangkah untuk membuka pintu hanya untuk melihat siapa yang datang. Saat aku membuka pintu betapa terkejutnya saat aku melihat Bara yang kini berdiri di depan.
"Apa yang kamu lakukan di sini Bara?" Tanyaku dengan lirih.
"Aku kembali untukmu cintaku, aku kembali untuk menjemputmu," balas Bara dengan senyum yang tersungging di bibirnya. Tanpa aba - aba Bara menarikku masuk ke dalam pelukannya dan menciumku dengan lembut.
T b c
__ADS_1
Siapa bara ini?
Dan apa hubungannya dengan Dinda?