
Episode 25
Dinda Pov
Aku mencoba berjalan, berjalan masuk ke dalam mansion tetapi aku berhenti kembali dengan rasa takut melihat mansion dan pada Mama Bella yang berdiri di sana yang masih menatapku.
"Di mana Rafa?" Tanya Mama Bella saat dia berjalan ke arahku dan karena takut aku mengulurkan tanganku untuk menghentikan langkahnya.
"Jangan mendekat!" Teriakku dan dia berhenti untuk menatapku.
"Ada apa denganmu? Aku hanya ingin tahu di mana anakku" ucap Mama Bella saat dia berjalan ke arahku lagi.
"Aku bilang kamu seharusnya tidak mendekat !!!" Teriakku dan aku terjatuh di lantai yang masih menatapnya.
"Apakah kamu baik -baik saja?" Mama Bella bertanya lagi ketika dia mencoba untuk menyentuhku tetapi dengan cepat aku pindah tempat dalam ketakutan.
Kenangan itu masih terus berkelebat di benakku dan entah bagaimana rasanya begitu mengerikan.
"Dinda apa kamu baik ............" Mama Bella memanggil namaku dan aku berteriak keras, aku masih terduduk di lantai lalu Raka berlari mendekat ke arahku.
"Ada apa Dinda?" Rafa bertanya saat dia berlutut di depanku memegang pipiku
Aku menatapnya dan melihat ekspresi khawatir di wajahnya.
"Apa yang Mama lakukan padanya?" Rafa berteriak pada Mama Bella.
"Aku tidak melakukan apa -apa, aku hanya bertanya di mana kamu berada dan dia menjadi gila dan mulai berteriak," Aku mendengar Mama Bella menjawab Rafa.
"Dinda tatap mataku!" seru Rafa dan aku menatapnya.
"Tidak apa -apa, aku ada di sini bersamamu," tambahnya lalu tanpa aba - aba, dia mengangkatku dari lantai dan membawaku ke kamar.
Merasa malu dengan apa yang terjadi, aku menyembunyikan wajahku di dada Rafa sementara dia membawaku melewati para pekerja yang semuanya berdiri untuk melihat apa yang terjadi. Rafa membawaku langsung ke kamar kita dan membaringkanku di tempat tidur.
"Apakah kamu baik -baik saja sekarang," Rafa bertanya dan aku mengangguk dengan pelan.
"Apa yang terjadi? Kenapa kamu seperti itu,?" Tanyanya saat dia menatapku dengan kebingungan.
"A - aku....... aku juga tidak tahu," jawabku dengan lirih.
"Aku akan membawamu ke rumah sakit," sela Rafa tetapi dengan cepat aku menarik dirinya.
"Jangan pergi, tetaplah bersamaku, tolong" aku memohon dan perlahan -lahan dia naik ke tempat tidur dan memelukku.
"Kamu akan baik -baik saja, oke," gumamnya perlahan dan aku mengangguk lalu aku meletakkan tanganku di perutnya dan menikmati waktu berada di pelukannya.
Rafa POV
Aku memeluk Dinda di sampingku dan perlahan -lahan aku menatapnya. Aku tidak tahu mengapa aku selalu menganggapnya cantik setiap kali dia tidur. Perlahan aku memindai wajahnya dengan tanganku, menyentuh setiap kontur di wajahnya.
Haruskah aku mencuri ciuman lagi, pikirku dan saat itu seseorang mengetuk pintu membawaku kembali ke kenyataan. Aku pergi untuk membukanya dan menemukan Mama Bella di sana.
"Apa yang kamu inginkan Mama?" tanyaku langsung pada poinnya.
__ADS_1
"Untuk melihatnya apakah dia baik -baik saja, dia menjadi gila ketika aku bertanya kepadanya tentang keberadaanmu," jawab Mama Bella dengan keheranan.
"Apakah kamu yakin tidak melakukan apa pun padanya?" Tanyaku menyelidik.
"Apakah aku terlihat seperti monster, aku tidak menyentuhnya juga tidak mengatakan apa -apa" sanggahnya.
"Baiklah, dia baik -baik saja dan dia sedang tidur sekarang, aku tidak akan membangunkannya untuk makan siang atau biarkan dia istirahat dulu," sahutku.
"Tapi sesuatu terus mengganggu pikiranku," sela Mama Bella menghentikan langkahku.
"Apa ?"
"Saat itu, hal yang sama terjadi dengan gadis itu, aku bisa ingat bahwa aku berdiri di dekat pintu ketika dia datang menemuimu tetapi aku menyuruhnya pergi dan dia juga menjadi gila, memberitahuku untuk tidak mendekat juga menyentuhnya, hari ini kejadian ini mengingatkanku pada gadis itu," Mama Bella mencoba mengingat - ingat kejadian yang sudah lampau.
"Bukan apa -apa, Dinda hanya merasa stres," potongku memberi alasan.
"Yah, kuharap itu hanya stres dan tidak ada yang lain, aku tidak mau ........ lupakan saja, aku akan menuju ke kamarku sekarang," ujar Mama Bella saat dia berjalan pergi meninggalkan kamarku.
Untuk sementara aku masih berdiri di dekat pintu memikirkan apa yang Mama katakan. Bagaimana bisa kejadian hari ini terkait dengan apa yang terjadi bertahun -tahun yang lalu?
Mungkin Mama hanya paranoid, pikirku saat aku kembali masuk ke kamar. Apa yang terjadi bertahun -tahun yang lalu bisa terjadi lagi
Mama sudah memastikan itu, dia memastikan tidak ada yang bisa mengatakan apa pun dengan membunuh mereka semua yang mengetahui kejadian itu
Jika pun ada, aku akan menghentikannya tetapi karena takut, aku pergi. Aku tidak ingin merasa bersalah setiap kali aku melihat gadis itu.
Aku telah menjadi remaja yang bodoh saat itu, seorang remaja yang tidak peduli dengan apa pun selama keinginannya dilakukan, seorang remaja yang hidup dalam kemewahan dan dimanjakan dengan itu, seorang remaja yang menghancurkan kehidupan seorang gadis yang tidak bersalah yang miskin.
Aku membuka pintu yang mengarah ke balkon dan meskipun aku mencoba melawan keinginan itu. Kenangan yang aku lupakan kembali berkelebat menghampiriku.
(Flash Back On )
"Selamat datang di rumah anakku!" Sapa Mama Bella saat aku berjalan ke mansion.
"Bagaimana ini! Rasanya tidak ada di sana selama setahun, aku hanya pergi untuk belajar lebih banyak bahasa, berhenti untuk menanyaiku Mama," jawabku saat aku keluar dari pelukannya.
"Tapi kamu sudah sangat dirindukan," kata Ivanka saat dia datang untuk memelukku juga.
"Dan aku kembali sekarang, tidak dengan pelukan, itu membuatku jengkel," balasku saat aku menarik diri dari pelukan Ivanka.
"Dimana Ayah?" Tanyaku.
"Di hotel, kamu tahu dia selalu menyibukkan diri di tempat itu," jawab Mama Bella dengan kesal.
"Ketika aku sudah tidak capek, aku akan pergi ke sana untuk menemuinya," balasku untuk menenangkan hati Mama yang sedang kesal.
"Kita bisa pergi bersama Rafa" Ivanka mengajakku untuk pergi bersama.
"Jangan, kamu punya tugas yang harus dilakukan, maku sarankan kamu pergi dan melakukannya sebelum kamu dihukum untuk itu," potongku saat aku mulai menuju ke kamarku.
"Bagaimana dengan tasmu?" Tanya Mama Bella.
"Itu sebabnya kita harus punya orang yang bekerja untuk kita, biarkan mereka membawanya ke kamarku," jawabku.
__ADS_1
"Kamu benar -benar anak manja!" Teriak Mama Bella setelah aku sampai di atas tangga.
"Aku hanya bercanda Mama," aku kembali dan naik ke tangga lagi.
Aku mandi dan berganti pakaian, lalu aku menuju ke hotel. Sejak ayah kandungku meninggal dan Mama Bella menikah dengan ayah Ivanka, kami telah tinggal di Pulau Kain.
Dan menjadi satu -satunya putra yang pernah dimiliki ayah tiriku, dia merawatku dengan baik. Tidak pernah kekurangan apa pun dan aku selalu mendapatkan apa yang aku inginkan darinya.
Mungkin itu sebabnya aku menjadi manja dan aku tidak peduli. Aku Rafa Arya Baskara dan aku selalu mendapatkan apa yang aku inginkan darinya. Apa saja yang aku inginkan pasti bisa terwujud.
Para tamu di hotel semuanya berjalan -jalan dan itu membuat hotel itu hidup. Aku melewati beberapa gadis dan mereka menggodaku. Aku ingin sekali membalasnya dan memberi mereka sedikit perhatianku tetapi aku harus menemui ayahku terlebih dahulu.
Aku tersesat saat berjalan menuju ke tempat ayah lalu aku mengambil jalan lain, dan jalan itu membawaku ke rumah kecil yang selalu ada di sana. Dan aku terkejut melihat seseorang keluar dari rumah itu.
Dan yang lebih mengejutkanku adalah saat melihat sesosok gadis cantik yang keluar dari rumah itu. Dia mengenakan gaun putih dan dia terlihat sangat cantik.
Dadanya terbentuk dengan sempurna, cocok untuk tangan pria atau lebih baik untuk tanganku dan bukan hanya ukuran yang aku ingin lihat di tubuh gadis itu. Tubuhnya begitu menggoda membuatku ingin tahu lebih banyak dan melihatnya lebih banyak.
Aku bisa merasakan diriku mulai terangsang tetapi kemudian aku menenangkannya.
Aku bahkan tidak mengenalnya dan sebelum aku pergi, tidak ada orang yang tinggal di sana, hanya siapa dewi cantik itu, pikirku saat aku mulai pergi mendekat. Tidak lama aku melihat seorang wanita yang lebih tua keluar dari rumah itu juga.
Mereka berdua mirip, apakah dia itu ibunya? pikirku saat aku terus menatap kedua wanita yang berada jauh di hadapanku.
"Ini dia !!!" kata David sambil menarik leherku.
"Kapan kamu kembali! Kamu bahkan tidak bisa datang untuk menyapa temanmu!" timpal David lagi sambil terus menarik leherku.
"Aku akan memberitahumu segalanya tapi lepaskan aku lebih dulu," balasku dan David melepaskan leherku.
"Sudah lama aku merindukanmu teman," kata David saat dia memelukku.
"Sama aku juga," jawabku ketika aku memeluknya juga.
"Baru saja kembali sekarang, aku ingin melihat ayah dulu lalu datang menemuimu," jawabku.
"Kalau begitu mari kita pergi bersama, kita memiliki banyak hal untuk mengejar ketinggalan," kata David tapi aku menghentikannya.
"Siapa orang -orang itu dan mengapa mereka tinggal di sana, dari apa yang aku tidak tahu, tidak ada yang tinggal di sana saat aku pergi?" aku bertanya sambil menatap dewi cantik dan ibunya.
"Yah, aku tidak tahu banyak tentang mereka tapi yang aku tahu hanyalah mereka dibawa ke sana oleh ayahmu," jawab Rafa.
"Ayah membawa mereka ke sini?" Tanyaku memastikan.
"Yah seperti itu" jawab David acuh tak acuh.
"Tapi kenapa? aku tidak pernah tahu dia memiliki kerabat lain selain dari Ivanka yang merupakan putrinya," tanyaku lagi.
"Hanya ayahmu yang bisa menjawabnya, mengapa kita tidak pergi kepadanya, kamu bisa bertanya kepadanya siapa orang -orang ini" kata David saat dia menarikku.
Aku berbalik untuk melihat dewi yang cantik dan kali ini dia juga menatapku. Aku memberinya senyuman dan berjalan pergi, sepertinya ayah telah membawa permainan baru untukku.
Flash Back Off.
__ADS_1
T b c 👇
Siapa ya dewi cantik yang di maksud Rafa 🤔🤔🤔