
Episode 5
Dinda Pov
Aku terbangun dengan perasaan yang kacau. Aku tidur larut malam karena aku terus memikirkan apa yang harus dilakukan agar bisa membayar hutang nanti pada Rosa.
Ketika Mama Elsa masuk ke rumah sakit, aku membutuhkan biaya besar untuk operasi Mama Elsa, aku tidak tahu harus pergi kemana untuk meminta bantuan.
Tetapi Rosa datang menawariku bantuan dan dia telah menjelaskan kepadaku bahwa dia tidak akan memaksaku untuk segera mengembalikan uang itu.
Jika aku tdak membayar tagihan rumah dan yang lainnya, aku tidak akan berada dalam kesulitan ini.
Tapi sekarang aku harus membaya uang Rosa karna aku sudah berutang padanya. Rosa bisa sangat menakutkan dalam hal menagih uangnya dari seseorang.
Aku sudah pernah melihatnya kejam kepada seseorang hanya karena orang itu tidak bisa membayar hutangnya kembali.
Tidak akan ada pengecualian pada siapa pun orang itu yang telah berhutang padanya termasuk aku, aku mengusap kasar wajahku lalu menutupnya dengan kedua telapak tanganku.
Saat itu pintu terbuka dan Mama Elsa bergegas masuk ke dalam kamarku.
"Dinda kamu harus melihat ini sayang," seru Mama Elsa saat dia memberiku selembar kertas.
Aku pun mengambilnya dan ketika aku membacanya, aku menatapnya lagi.
"Pemberitahuan untuk pindah? Tapi kenapa Ma?" aku bertanya dan tidak percaya pada apa yang sudah aku baca.
"Itulah yang ingin Mama tanyakan juga pada kamu sayang, bukankah kamu telah membayar tagihan rumah ini Nak?" Mama Elsa juga kembali menanyakannya.
"Tentu saja aku sudah membayarnya Ma! Aku baru saja membayarnya bulan lalu," jawabku.
"Kita harus menemui pemilik rumah ini sayang, kenapa ada pemberitahuan untuk pindah yang tiba -tiba ini?" seru Mama Elsa dengan marah
"Tidak Mama tidak boleh kemana - mana! Aku yang akan pergi menanyakan padanya sendiri Ma, biarkan aku berbicara dengannya sendiri Mama," balasku dengan lembut.
"Tapi kenapa kamu tidak ingin Mama ikut denganmu Nak?" ujar Mama Elsa terlihat begitu cemas.
"Aku harus berbicara dengannya sendirian Mama, biarkan aku menghadapinya sendiri saja. Mama istirahat di rumah saja yaa" ujarku menenangkan Mama, lalu aku bergegas bangun dari tempat tidur dan segera masuk ke kamar mandi.
Dengan cepat aku mandi dan berpakaian. aku memakai celana jeans pendek dan baju atasannya oranye. Mengikat rambutku yang berantakan, aku meninggalkan rumah dan pergi ke rumah pemilik kontrakan yang aku tinggali saat ini. Karna rumahnya tidak terlalu jauh dari rumah yang aku kontrak itu, tak lama aku sampai di rumah pemilik kontrakan dengan cepat. Lalu aku mengetuk pintunya sebelum akhirnya si pemilik kontrakan menjawab dari dalam.
"Oh! jadi kamu yang datang?" seru si pemilik kontrakan.
"Ya ini aku? Apa maksud dari pemberitahuan pemindahan ini?" balasku cepat.
"Memangnya kenapa? aku ingin kamu keluar dari rumahku sesegera mungkin," sahutnya ketus.
"Tapi itu tidak bisa, aku tidak pernah menunggak membayar uang sewa rumah itu dan kamu tidak bisa mengusir aku dan keluargaku tanpa alasan yang jelas!" paparku dengan kesal.
"Yah, aku akan memberimu alasan yang jelas saat ini, maka aku memberimu waktu dua hari untuk pergi dan mengosongkan kontrakanku. Karena rumah itu sudah aku jual dan di beli oleh seseorang yang dermawan karna membelinya 3x lipat dari harga aslinya" ucap si pemilik kontrakan menjelaskan alasan yang menurutku tidak masuk akal.
"Kami tidak akan pergi dari rumah itu, aku akan membayarnya setiap bulan dengan tepat waktu, dan aku tidak akan pernah berutang padamu satu sen pun dalam hidupku, jadi kamu tidak memiliki hak untuk mengusir kami begitu saja " ucapku lantang.
"Nah, jika kamu memilih untuk tidak pergi maka tunggulah si pemilik baru rumah itu datang, tapi begitu pemilik rumah baru itu tiba, mungkin kamu dan keluargamu pasti akan langsung di usir," jawab si pemilik kontrakan dengan sinis.
"Apa? Kamu menjual rumah yang kami sewa?" Tanyaku cukup terkejut dengan ucapannya.
__ADS_1
"Ya saya menjualnya dan pemiliknya ingin rumah itu segera di kosongkan" tambah si pemilik kontrakan.
"Siapa yang membeli rumah itu, berikan aku nomornya dan biarkan aku berbicara dengan mereka," kataku mengiba.
"Apakah kamu benar -benar berpikir aku akan melakukan itu? maaf, aku tidak akan memberimu nomor," katanya dengan angkuh.
"Nyonya Nina! Kamu tidak bisa melakukan ini pada kami, kamu tidak bisa mengusir kami," kataku dengan frustrasi.
"Kenapa tidak bisa melakukannya, Nyonya Rosa telah memberikanku uang yang banyak dan aku harus melakukan sesuatu ..........." si pemilik kontrakan berhenti berucap ketika dia menyadari kesalahannya.
"Nyonya Rosa?" Tanyaku memastikan
"Bukan itu yang ingin aku katakan," dia menyangkal dengan cepat
"Bosku yang telah membeli rumah itu?" Tanyaku lagi.
"Dengar, yang bisa kamu lakukan sekarang hanyalah mengosongkan segera rumah itu atau kamu akan menyesalinya," pesan si pemilik kontrakan dan kembali masuk ke dalam rumahnya.
Aku merasa sedih dengan apa yang baru saja terjadi, aku mulai melangkah kembali pulang. Rosa telah membeli rumah itu, bagiku itu hanya sebuah alasannya saja agar aku mau membantunya mendapatkan kontrak kerjasama dari Tuan Rafa atau mengembalikan uangnya yang telah aku pinjam.
Aku lebih baik mati daripada kembali ke pria yang mengerikan itu, pikirku bergidik ngeri saat membayangkannya.
Beralih ke jalan lain, aku pergi ke mesin ATM terdekat dan menarik semua tabunganku.
Meskipun tidak cukup untuk membayar semua uang yang aku pinjam pada Rosa, tapi setidaknya aku akan memberinya ini dulu dan memintanya untuk memberikan aku lebih banyak waktu lagi, saya pikir ketika saya pulang ke rumah.
"Mama aku sudah pulang," kataku ketika aku membuka pintu dengan kunciku sendiri dan berjalan ke rumah kontrakan.
.
"Kamu ada tamu sayang," dia memanggil lagi dan aku tahu itu pasti Gita atau Miko.
Mereka adalah satu -satunya teman yang aku miliki di kota ini, kami bertiga kuliah bersama dan kami juga mendapat pekerjaan di perusahaan yang sama tetapi itu akan berakhir sekarang karena aku berencana untuk mengundurkan diri dari Rosa Company.
Aku berjalan menuju ke ruang tamu dan aku berhenti lebih jauh hanya untuk melihat siapa yang datang. Dan tamu itu tidak lain adalah Raditya Raka Baskara, betapa terkejutnya aku hingga mata ini terbelalak.
"Ini tamu kamu anakku, dia bilang dia adalah temanmu yang sangat baik, itulah sebabnya aku membiarkannya masuk," kata Mama Elsa saat dia menyajikan teh untuk Rafa.
"Sungguh benar - benar mengejutkan melihatmu di sini, Tuan Rafa," kataku ketika aku berjalan untuk duduk di salah satu kursi yang masih kosong.
"Aku harus datang menemuimu, kita masih harus berbicara tentang percakapan yang kita lakukan kemarin," katanya
"Tapi aku sudah selesai mendiskusikannya denganmu kemarin," kataku
"Tapi aku belum menyerah, aku datang ke sini untuk membahasnya lagi," kata Rafa
"Mama akan meninggalkan kalian berdua, begitu kamu selesai beri tahu Mama apa yang terjadi dengan pemberitahuan pemindahan itu," ujar Mama Elsa saat dia pergi menuju ke kamarnya.
"Pemindahan? Apakah mereka mengusirmu!" Rafa bertanya untuk memastikan.
"Itu bukan urusanmu, kita akan berbicara di tempat lain," seruku lalu aku menarik tangannya dan pergi ke luar bersamanya. Segera setelah aku keluar dari rumah, aku menjatuhkan tangannya dan memberinya tatapan marah.
"Kenapa kamu di sini?"
"Mengunjungimu!"
__ADS_1
"Mengapa?"
"Untuk mengetahui apakah kamu telah berubah pikiran"
"Dengarini baik - baik Tuan Rafa, aku sudah katakan keputusanku kemarin dan aku tidak akan berubah pikiran"
"Bahkan saat kamu diusir juga?"
"Sudah kubilang itu bukan urusanmu," dengusku kesal.
"Tapi aku dapat membantu kamu Dinda, hanya menerima kesepakatan kemarin dan apa pun yang kamu inginkan akan menjadi milikmu" ucap Rafa meyakinkanku.
"Tidak, Tuan Rafa, aku tidak akan menerimanya," balasku dengan suara meninggi.
"Kenapa? Kenapa kamu ingin sekali aku menerimanya, aku tidak sebanding dengan wanita berambut cokelat yang kamu temui kemarin, tidak bisakah kamu memilihnya saja," aku berteriak padanya.
"Itu karena aku menemukan sesuatu yang menarik di diri kamu, kamu adalah satu -satunya gadis yang tidak terpesona dengan ketampananku dan juga kamu tidak tertarik dengan semua uangku, kamu adalah calon pengantin yang sempurna untuk aku pilih" ucap Rafa dengan yakin.
"Terima kesepakatanku Dinda maka semua masalah kamu akan bisa di selesaikan dengan cepat dan mudah, aku berjanji kepadamu!" tambahnya lagi.
"Aku tidak bisa melakukanya, itu bertentangan dengan prinsipku, kamu berbohong kepada orang tuamu adalah sesuatu yang mudah bagi kamu, tetapi aku tidak akan bisa melihat wajah mereka dan berpura -pura" balasku dengan sedih.
"Saya tidak meminta Anda untuk melakukan ini seumur hidupmu Dinda, hanya untuk beberapa waktu saja saat aku akan kembali ke pulau itu," ujar Rafa.
"kamu tidak cocok untukku dan aku juga pasti tidak cocok akan untuk bersanding denganmu meski hanya berpura - pura bagaimana bisa kita akan membuat orang tua kamu percaya dengan kebohongan yang kita lakukan jika kita tidak bisa saling mengenal"
"Kita bisa mulai dari awal Dinda, kita bisa mulai dengan saling mengenal dulu dan aku yakin bahwa kita bisa melakukannya bersama," Rafa terus meyakinkanku.
"Tuan Rafa ........"
"Panggil saja aku Rafa, aku sudah berbicara denganmu dengan nama pendekmu, tidak bisakah kamu melakukan hal yang sama denganku," dia bertanya dengan kesal.
"Kita tidak sedekat itu Tuan, bagiku tidak sopan jika aku memanggil kamu dengan nama saja" jawabku sungkan.
"Tapi kita bisa melakukannya jika kita sama - sama setuju," balas Rafa tak mau kalah.
"Bukankah kamu salah satu dari pria brengsek yang melakukan hal -hal kotor dengan ........"
"Dan itulah alasan utama mengapa aku memilih kamu Dinda, aku ingin kamu menjadi pengantin wanita yang berpura -pura bersamaku, kita tidak perlu menikah, kita hanya akan berpura -pura dan setelah selesai dengan urusanku, kita akan kembali ke kota dan kamu akan memiliki kontrak kerjasama itu saat kita kembali menjalani hidup kita masing - masing".
"Bagaimana menurutmu Dinda?" Raka bertanya, menungguku memberinya jawaban.
Aku berdiri memikirkan tawarannya, aku hanya harus berpura -pura dan tidak ada yang lain, dia tidak akan pergi jauh denganku dan aku yakin dia bisa menjadi pria yang lembut jika dia memilihku untuk menjadi pendamping pura - puranya.
Dan aku harus memikirkan nasib orang tuaku yang ikut diusir, uang yang aku miliki saat ini pasti tidak akan cukup untuk menyewa kontrakan lagi tetapi aku tahu bahwa itu tidak akan bertahan lama dan itu masih akan kembali lagi sebagai ancaman dalam hidupku.
Rosa tidak akan berhenti sampai dia membuatku menderita karena aku tidak pergi dengan apa yang dia minta dan dia akan menemukan cara untuk aku mengembalikan uangnya secara menyeluruh.
Aku mencuri pandang sekilas dengan Rafa dan aku melihat dia sedang menatapku.
Haruskah saya menerima kesepakatannya, aku berikir sambil terus menatapnya .......
T b c
Apa yang aka Dinda pilih yaa...
__ADS_1