
Episode 50 (Final)
Rafa POV
Panggilan teleponku untuk kwdua orang tua Dinda terbukti sia -sia karena mereka sama sekali tidak ada di sana bersama dengan Dinda. Aku mencoba menelpon nomor Dinda lagi dan masih tidak ada jawaban dari Dinda aku menelepon kembali resepsionis untuk bertanya apakah mereka telah menelepon polisi tapi polisi itu berkata untuk lapor kembali jika sudah hilang dua puluh empat jam sebelum polisi dapat mulai mencarinya.
Merasa frustrasi, Aku pergi menuju lobby hotel untuk pergi sendiri ke polisi untuk membuat laporan tetapi aku terkejut saat melihat sekretarisku sudah ada di dekat pintu lobby hotel tersebut.
"Apa yang kamu lakukan, aku sedang terburu -buru!" Kataku pada Joe sekretarisku.
"Yah, aku hanya datang untuk memberitahu Anda tentang penerbangan istri Anda yang memesan tiket ini. ........"
"Apa yang kamu katakan?" Tanyaku dengan bingung.
"Saya bilang istri Anda memintaku untuk memesan tiket penerbangan untuk kembali ke pulau, saya pikir Anda sudah tahu tentang hal itu," jawab Leo dan dengan marah aku menarik kerah bajunya.
"Aku tidak pernah tahu dan mengapa kamu melakukan hal seperti itu tanpa menghubungi aku terlebih dahulu?" aku menggeran kesal dengan sekretarisku yang satu ini.
"Saya pikir Anda sudah tahu Tuan, Nyonya sudah menjelaskan bahwa Anda tahu tentang penerbangan Nyonya maka sebab itu saya memesan tiket pesawat," jawab Joe dengan gugup.
"Aku tidak pernah tahu dan bagaimana dia bisa pergi tanpa memberitahuku," seruku pada Joe.
"Apakah Anda ingin saya memesan tiket penerbangan untuk Anda juga Tuan?" sela Leo yang bertanya dan aku langsung mengangguk cepat.
"Lakukan itu dengan secepat mungkin, aku harus berada di pulau itu sebelum Dita pulang ke mansion," titahku saat kembali memikirkan ancaman Mama Bella yang masih terngiang - ngiang di telingaku.
Beberapa saat kemudian, aku duduk di kursi pesawat kelas satu sementara pesawat terbang langsung terbang menuju ke pulau. Aku masih terus memikirkan mengapa Dinda meninggalkan kota untuk kembali ke pulau itu.
Apakah itu karena argumen kami, Dinda seharusnya bisa untuk menunggu sehingga kita bisa membicarakannya, begitu aku melihatnya, aku akan memberinya alasan untuknya.
Segera setelah kami sampai di pulau itu, mobil itu mengantarkan aku langsung ke mansion dan aku tidak menunggu mobil parkir dengan benar sebelum berlari ke rumah untuk mencari Dita. Saat aku sudah sampai di ruang kerja berharap melihat Mama Bella atau ayah Leo akan tetapi aku terkejut melihat David juga ada di sana.
"Oh, kamu kembali!" David bertanya padaku saat melihatku masuk di ruang kerja.
"Ya, apakah kamu melihat istriku di sekitar sini?" Tanyaku pada David.
"Mengapa kamu melarikan diri dan mengapa kamu kembali atau lebih baik menunggu, izinkan aku menebak, kamu melarikan diri karena kamu tidak dapat menangani kebangkrutan perusahaan dan kemudian kamu kembali untuk istrimu?" David berkata tanpa henti.
"Aku tidak ingin mendengan ucapanmu David, apakah kamu pernah melihat istriku di sekitar sini?" Tanyaku lagi dengan datar.
"Yah, aku melihatnya menuju ke kamarmu. Sebelumnya," jawab David santai. Aku pun langsung berbalik untuk pergi tetapi David menarikku kembali dan aku menatapnya.
"Tinggalkan saja dia sendiri!" Kata David.
"Tinggalkan bagaimana?" Tanyaku kesal dengan reaksinya.
"Dia kesusahan seperti itu, aku tahu ada sesuatu yang akan terjadi baginya untuk kembali ke pulau tanpa kamu dan melihatmu seperti ini sudah membuktikan kalau pikiranku itu benar adanya," balas David dengan seringaiannya.
"Pikirkan apa pun yang kamu pikirkan, saat ini, aku harus berbicara dengan istriku," sahutku ketika aku berbalik untuk pergi lagi.
__ADS_1
"Jangan menyakiti Dinda, Rafa. Tinggalkan dia selagi bisa sekarang?" Kata David memperingatiku sambil menarik lenganku.
"Tutup mulut dan ingatlah bisnismu, apa pun yang terjadi antara istriku dan aku akan terus tinggal di antara kami berdua, jadi diamlah dan berhenti membuatku jengkel," seruku dan aku segera menarik kuat lenganku agar terlepas darinya.
Dengan cepat aku menaiki tangga lantai dua sekaligus menuju kamar tidurku dengan Dinda. Saat aku naik tangga aku melihat Ivanka dan sebelum aku bisa berjalan melewatinya, dia menarikku ke dalam pelukannya.
"Benar sekali! Apakah itu benar?" Tanya Ivanka dengan senyum mengembang.
"Apa yang benar?" Tanyaku dingin ketika aku mendorong Ivanka agar menjauh dariku.
"Kalau kamu tidak menikah dengan Dinda, dan kamu hanya membohongi kami semua kalau kamu sudah menikah," Ivanka bertanya menegaskan ketika dia mencoba untuk menahanku tetapi aku kembali menjauhinya lagi.
"Kamu salah aku ......."
"Aku senang dan bersemangat ketika Mama Bella memberi tahu aku tentang pernikahan palsu kamu dengan gadis itu, aku tidak percaya jika dia hanya berpura - pura yang kamu bawa hanya untuk membuat aku cemburu," sela Ivanka dengan penuh semangat.
"Siapa yang memberitahumu?" Tanyaku dengan kesal.
"Mama Bella yang sudah memberitahuku semua ini, kamu memang mencintaiku tapi kamu terus bertingkah seolah kamu tidak mencintaiku jadi kamu menciptakan drama ini!" Ivanka terus mendesakku.
"Tidak!" jawabku dengan cepat.
"Tidak untuk apa?" Ivanka bertanya dengan bingung.
"Aku tidak mencintaimu Ivanka, aku tidak pernah melakukannya sandiwara itu dan jika aku berpura -pura dengan Dinda itu untuk membuatmu dan orang tua kami melihat kalau tidak akan pernah ada hal di antara kami dan juga sekarang menikah dengan Dinda," jawabku saat aku bergerak melewatinya.
"Menikah dengannya?" Tanya Ivanka saat dia memegang tanganku dan tentu juga menghentikan langkahku, aku hanya menatap lurus ke depan.
"Ini nyata, aku menikahi Dinda kemarin, kami sekarang adalah pasangan suami dan istri, tidak ada lagi kepura -puraan, aku sarankan untukmu mencari seseorang yang akan membuat kamu bahagia, karna aku bukan orang yang kamu cari," ujarku tanpa menoleh ke belakang, lalu aku menarik tanganku dari cekalan tangan Ivanka dan aku kembali berjalan menuju kamarku bersama Dita akan tetapi aku tidak menemukan siapa pun di kamar ini, namun sebaliknya aku begitu terkejut menemukan Mama Bella yang ada di dalam kamar.
"Kenapa Mama di sini?" Tanyaku datar.
"Tentu saja aku sedang menunggu kamu, menurutmu siapa lagi yang aku tunggu disini?" jawab Mama Bella dengan santai.
"Dimana istriku?" Balasku.
"Bagaimana aku tahu dimana istrimu itu, aku saja tidak pernah melihat siapa pun saat Mama datang ke sini," sahut Mama Bella.
"Mama tolong berhentilah menggangguku dan tolong juga beri tahu aku di mana istriku sekarang?" pintaku mencoba menahan emosi.
"Yah, aku melihatnya di taman sekarang," jawab Mama Bella, dan aku bisa bernapas dengan lega.
"Kenapa! Apakah menurutmu aku telah menculik atau membunuhnya?" sambung Mama Bella bertanya dengan nada tidak suka.
"Mama bisa saja melakukan itu, jangan mencoba bertindak seperti orang suci," potongku lalu aku berbalik untuk pergi mencari Dita di taman.
"Kamu mau pergi kemana Rafa? Kita belum selesai berbicara," seru Mama Bella dengan nada yang meninggi.
"Baiklah aku sudah selesai denganmu Mama dan aku juga masih perlu menemukan istriku," jawabku tak kalah sengit.
__ADS_1
"Jika kamu meninggalkan kamar ini maka gadis itu akan meninggal," ancam Mama Bella dan itu membuatku menghentikan langkahku.
"Apa ?"
"Kamu sudah mendengar perkataanku dengan jelas bukan, jika kamu pergi maka aku akan membunuhnya tepat di pulau ini," Mama Bella mengulangi perkataannya.
"Mama tidak akan berani melakukan itu?"
"Coba saja kalau kamu berani, aku tidak akan rugi, jika dia mati, itu akan lebih baik bagi kita semua, terutama aku, aku melakukan sebagian besar dari itu, aku menutupi bagaimana kamu memperkosanya, aku membunuh ibu kandungnya yang sebenarnya dan aku mencoba untuk dapat menyingkirkannya juga tapi sepertinya dia tidak ingin mati secepat itu," ucap Mama Bella mengingatkanku pada kejadian sepuluh tahun yang lalu.
"Apakah kamu tidak puas sudah melakukan cukup banyak kejahatan itu Mama! Apakah Mama menyesali apa yang laku lakukan padanya, aku masih menyesalinya, tidakkah Mama merasa sangat menyesal?" Tanyaku.
"Tidak pernah, aku tidak pernah merasakan penyesalan terhadapnya atau ibunya, Rara dan ibunya adalah wanita matrealistis, mereka mencoba mencuri cinta ayahmu dariku dan juga mencoba menjadi bagian dari warisan yang seharusnya untukmu dan Ivanka, Mereka harus mati dan jika aku melakukannya lagi, jika aku memiliki kesempatan tepat di depanku, aku pasti akan melakukannya lagi," jawab Mama Bella dengan sedikit histeris.
"Kalau begitu kamu tidak punya pilihan lagi Mama, kamu harus melewatiku sebelum kamu menyentuh Dinda, aku tidak akan membiarkanmu menyakitinya lagi," Balasku sengit.
"Kata ksatria dalam baju besi yang bersinar, kamu benar -benar bodoh, tidakkah kamu tahu begitu dia ingat, itu penjara untukmu dan mati untukku," teriak Mama Bella.
"Aku tahu dan itulah sebabnya dia tidak akan pernah ingat, aku tidak akan membiarkannya untuk mengingat itu, aku akan memulai kehidupan baru dengan dia dari awal dan jauh darisini, dari tempat ini, di mana semuanya dimulai lagi," ujarku dengan tegas.
"Jangan lakukan itu Rafa, jangan membawanya jauh, alih -alih mari kita bunuh dia, mari kita selesaikan sekali lagi untuk semua, dia harus mati agar kita hidup dengan tenang," seru Mama Bella.
"Mama telah hidup dengan tenang selama sepuluh tahun terakhir, aku belum pernah, jadi itu tidak akan menjadi hal baru bagiku, aku hanya akan mengatakannya begitu Mama, jangan menyentuh Dinda, tinggalkan dia sendiri," aku memberi peringatan tegas pada Mama Bella dan aku buru - buru meninggalkan ruangan.
Saat aku sampai di taman untuk mencari Dinda dan aku tidak menemukan siapa pun di sana.
Tapi kemudian aku melihat lampu menyala di rumah tua itu dan aku tahu bahwa Dinda adalah orang ada di sana. Aku segera berlari dengan cepat ke rumah tua itu dan aku menemukan Dinda sedang duduk di kursi yang berdebu.
"Kenapa kamu di sini Dinda?" Aku bertanya dan dia menatapku untuk memberiku senyuman.
"Aku datang untuk melihat rumah ini, karena aku selalu ingin melihatnya," jawab Dinda datar.
"Ini bukan tempat yang seharusnya kamu datangi Dinda, sekarang setelah kamu memenuhi keingintahuanmu, mari kita keluar dari sini," ujarku pada Dinda dan aku pergi mendekat kearah Dinda untuk menarik Dita untuk pergi denganku tetapi dia menjauh dariku.
"Dinda?"
"Apakah ini mudah bagimu Rafa?" Tanya Dinda tiba -tiba.
"Apa yang kamu katakan, ayo pergi saja?" ucapku lagi sambil mendekat padanya tapi dia tetap menjauh dariku dengan ketakutan dan juga berteriak dengan marah ...........
"Dinda?" panggilku saat Dinda terus saja menjauhiku dan masih dengan berteriak histeris.
"Jauhi aku Rafa," seru Dinda.
"Tetapi......."
"Aku bilang menjauhlah kamu pemerkosa ................." sela Dinda berteriak dan aku menatapnya dengan terkejut.
Dia akhirnya telah mengingat kejadian itu ................ gumamku pelan saat aku masih berdiri mematung menatap Dinda dari kejauhan.
__ADS_1
T b c 👇
Dinda sekarang tahu kebenaran dan ceritanya masih berlanjut yaa guys 🤔